"The General's Captive Lady" adalah novel fiksi romantis-militer yang penuh ketegangan politik, trauma masa lalu, dan pembalasan dendam.
Claudia, seorang putri yang terbuang dan disiksa sejak kecil oleh faksi Crimson Raven. Demi menutupi ketamakan mereka, reputasi Claudia dihancurkan di mata publik hingga ia dicap sebagai wanita glamor yang buruk. Saat faksi Raven kalah perang, ia dikorbankan menjadi sandera politik dan dikirim kepada Reymond Oliver Smith, seorang panglima perang aliansi yang terkenal dingin dan kejam.
Hubungan mereka awalnya dipenuhi kebencian dan kesalahpahaman, bahkan Claudia sempat dijebloskan ke ruang bawah tanah karena fitnah dari bapaknya. Namun, jeritan trauma masa kecil Claudia di tengah sakit parah akhirnya meruntuhkan dinding es di hati Reymond. Penyelidikan rahasia pun dimulai, membongkar asal-usul Claudia yang sebenarnya sebagai pewaris sah bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri novianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Manisnya Stroberi
Sore itu, mansion yang biasanya terasa sepi mendadak riuh oleh kepulangan Rey.
"Dimana dia?" Tanyanya pada Bibi Suri
"Sedang merajut dikamar, tuan."
Dengan langkah lebar Reymond langsung menuju kamar sebelah timur.
Brak
"Kau mengagetkanku, Rey. Tidak bisakah kau menetuk pintu terlebih dahulu?"
"Tidak bisa."
Claudia meletakkan jarum dan benang rajutnya di meja bundar yang ada di hadapannya. Kemudian ia berdiri menghampiri suaminya. Aroma rose yang khas perlahan menghampiri indra penciumannya. Namun aroma ini sangat berbeda dari biasanya. Bukan Rose yang menyengat seperti dulu.
Wangi mawar ini melekat di udara di sekelilingnya, lembut namun tegas, seperti kehadiran yang tak bisa diabaikan. Bukan sekadar bunga—aromanya lebih dalam, lebih hangat, seolah menyimpan sesuatu yang tersembunyi di balik keindahannya.
Setiap kali ia bergerak, jejak wangi itu ikut mengalir, menyentuh indra dengan cara yang perlahan namun pasti. Manisnya tidak berlebihan—justru tertahan, memberi ruang bagi kesan elegan yang tenang.
"Bersiaplah." Ujar Rey saat tangan lembut Cla ingin memyentuhnya.
"Hah?"
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan." Sorot mata Claudia langsung berbinar, ujung bibirnya terangkat sempurna.
"Benarkah?"
"Cepatlah, sebelum aku berubah pikiran."
"Iya, iya berikan aku waktu tiga puluh menit. Ah tidak, lima belas menit."
Reymond mengangguk dan keluar dari kamar Claudia.
Di luar dugaan, pria itu pulang lebih awal ternyata ingin mengajak Claudia—yang kini sudah sembuh total—untuk keluar mengelilingi kota.
***
Angin sore yang sejuk menyapu wajah Claudia saat mobil mewah Rey membelah jalanan distrik pusat yang ramai.
Tujuan mereka adalah Le Petit Jardin, sebuah kafe teh bergaya klasik yang terkenal dengan menu andalannya: Strawberry Shortcake tercantik di wilayah itu. Kue dengan krim lembut dan stroberi segar berlapis glasir merah berkilau itu kini tersaji di meja mereka.
"Cobalah," ucap Rey datar, namun matanya terus memperhatikan Claudia.
"Wah bagaimana aku bisa memakannya, ini sangat cantik."
Claudia menyuap sepotong kecil kue itu. Matanya seketika berbinar. "Enak sekali, Rey! Manisnya pas, dan stroberinya sangat segar." Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, senyum lepas terukir di wajah manisnya. Rey yang melihat itu hanya mendengus pelan, mencoba menyembunyikan secuil rasa puas di hatinya.
Namun, momen manis itu tidak bertahan lama.
Dari balik sekat tanaman merambat di dekat meja mereka, suara tawa yang dibuat-buat dan desas-desus tajam mulai terdengar. Sekelompok kecil wanita bangsawan kalangan atas dengan gaun sutra mewah dan kipas bulu sedang berkumpul, tidak menyadari bahwa orang yang mereka bicarakan duduk tepat di balik tanaman tersebut.
"Kalian dengar kabar tentang Jenderal Rey?" bisik salah satu wanita berambut sanggul tinggi, suaranya sengaja ditekan namun tetap terdengar jelas. "Kudengar dia menikah dengan Claudia Raven"
"Benar. Kudengar dia menggunakan tubuh dan rayuan murahannya untuk menjebak Jenderal Reymond agar mau menikahinya. Sungguh tidak tahu malu. Faksi Raven memang isinya hanya orang-orang rendahan."
"Apa lagi baru-baru ini aku mendengar Claudia itu dikurung dibawah tanah oleh Tuan Reymond."
"Benarkah? Ahhahah rasakan itu."
Alih-alih terluka atau menangis, sebuah senyuman tipis yang mematikan justru terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah. Sifat penggoda dan beraninya bergejolak. Dia tidak akan membiarkan domba-domba domestik ini mengasihaninya.
Reymond yang mendengar itu sudah meletakkan garpunya, matanya menatap tajam ke arah sekat, siap memberi perintah pada pengawal untuk menyeret wanita-wanita itu. Namun, tangan lembut Claudia menahan dada bidang Reymond.
"Biar aku yang mengurus hewan peliharaanmu, Jenderal," bisik Claudia manja, namun matanya sedingin es.
Claudia bangkit berdiri. Gerakannya begitu luwes dan penuh percaya diri saat memutari sekat tanaman, langsung menginterupsi lingkaran gosip tersebut. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat ketiga wanita bangsawan itu tersentak kaku.
"Sore yang indah untuk bergosip, Ladies," sapa Claudia. Ia menyandarkan tubuhnya ke pilar kayu dengan pose yang teramat seksi namun mengintimidasi. "Kudengar kalian sedang membicarakanku? Dan... oh, tentang bagaimana aku 'menjebak' Jenderal agung kalian?"
"Nona Claudia—"
"Nona?" Claudia terkekeh, suara tawanya terdengar merdu namun mengejek. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga wanita bangsawan di depannya mundur ketakutan.
Claudia mengangkat tangan kirinya secara perlahan, mengelus pipi wanita bangsawan yang menghinanya tadi dengan ujung kuku-kukunya yang terawat, sebelum akhirnya menurunkan tangannya untuk memamerkan cincin pernikahan militer berlambang keluarga Smith di jari manisnya.
"Faksi Raven memang menyerahkanku sebagai tawanan perdamaian. Tapi lihat di mana aku berdiri sekarang," ucap Claudia, suaranya beralih menjadi bisikan menggoda yang sensual namun sarat ancaman.
"Pria yang kalian puja-puja bagai dewa, Jenderal Reymond Oliver Smith yang agung itu... nyatanya tidak bisa berkutik di bawah pesonaku. Dia menekuk lututnya, menyerahkan nama belakangnya, dan menikahiku."
Claudia menatap mereka satu per satu dengan pandangan meremehkan.
"Kalian menyebut rayuanku murahan? Tapi rayuan 'murahan' inilah yang sekarang mengendalikan pria pemegang komando militer tertinggi di negara ini. Jadi, jika aku menjadi kalian, aku akan menjaga lidahku dengan baik. Karena satu bisikan manja dariku di telinga suamiku malam ini... bisa membuat gelar bangsawan keluarga kalian lenyap besok pagi."
Tepat saat para wanita itu menahan napas karena syok dan ketakutan, sebuah lengan kokoh yang mengenakan seragam militer gelap langsung merangkul pinggang Claudia dari belakang.
Reymond Oliver Smith telah berdiri di sana. Ia menarik tubuh Claudia hingga menempel erat pada dada bidangnya, mengklaim kepemilikannya secara mutlak di depan publik.
"Apakah mereka mengganggumu, Wife?" tanya Reymond, suaranya yang berat dan dalam menggema, mengirimkan rasa ngeri instan ke seluruh ruangan. Tatapan matanya yang membunuh membuat ketiga wanita bangsawan itu gemetar, menyadari bahwa ancaman Claudia barusan bukanlah bualan belaka.
Claudia mendongak, menatap dagu tegas suaminya dengan senyum termanisnya.
"Tidak ada, Sayang. Mereka hanya sedang mengagumi betapa hebatnya istrimu ini dalam menaklukkanmu."!
Akting yang sempura " batin Claudia.
"Maafkan kami, Nona Cla."
"Tuggu apa lagi?" Tanya Cla sambil membelai pipi penggosip itu.
"Ayo pergi." Ajak salah satu ladies. Mereka beranjak pergi ketakutan.
"Selesai." Ucap Clarisa sambil menyapu tangannya. Dia melirik Reymond sebentar dan merasakan tangan kekar milik Rey masih melingkar dipingangnya.
"Kau bisa melepaskanku, mereka sudah pergi "
Rey menatap Claudia dengan penuh arti.