"Cinta yang seharusnya membuat Layla merasa bebas, justru menjadi rantai belenggu yang mengikat erat dirinya. Di antara kekuasaan dan luka masa lalu serta hasrat panas membara, ia terjebak di kobaran asmara yang gelap. Bayangan kelam masa lalu masih menghantuinya. Akankah ia bisa memilih melepaskan diri dari belenggu yang menyiksa batinnya atau memeluk belenggu itu selamanya?"
[DARK ROMANCE]
[OBSESI]
[CEO]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenny Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDB 23
Bennedict terbangun membuka mata, ia melihat langit-langit dengan tatapan kosong.
Kesadaranya perlahan kembali, membawa rasa sakit yang belum pernah dirasakan Bennedict sebelumnya.
Setiap jengkal otot di tubuhnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Tenggorokannya begitu kering hingga bernapas pun terasa perih.
Saat mencoba menggerakkan tangan, bunyi gemerincing besi mengejutkannya.
Kedua pergelangan tangannya telah diborgol ke sisi ranjang rumah sakit.
Di ujung ruangan, seorang detektif berdiri dengan tatapan dingin. Bennedict mencoba mengingat bagaimana dia bisa berakhir di sini.
"Aku di mana? Kenapa tangan saya diborgol, Pak?''
Suara Bennedict terdengar parau.
Detektif itu tidak menjawab. Tatapannya dingin dan mengintimidasi. Kemudian ia memutar sebuah video dari tabletnya dan meletakkannya di depan wajah Bennedict.
Di layar itu, Bennedict melihat dirinya sendiri telanjang dada, menggeram seperti binatang, dan sedang menyerang Layla dengan brutal.
Bennedict menatap layar tanpa berkedip. Napasnya semakin berat. Pria di video itu memang dirinya. Wajahnya sama. Tubuhnya sama. Namun sorot matanya... bukan miliknya.
''Tidak...tidak mungkin. Itu bukan aku."
Ben menyangkal tegas dengan suara yang parau.
Detektif itu tersenyum tipis..
"Tuan, Bennedict. Semua tersangka yang saya temui selama ini melakukan hal yang sama," kata Detektif itu.
Bennedict mencoba meyakinkan si detektif.
"Tapi saya tidak berbohong, itu bukan saya," ucap Bennedict.
Detektif itu hanya diam dengan tatapan dingin.
Bennedict menggelengkan kepala tak percaya..
"Aku...,"
"Aku tidak mungkin menyakiti Layla..."
Ingatan terakhirnya hanya sebotol minuman alkohol ringan di tangannya. Setelah itu... kosong.
Hanya ada kegelapan total.
Air matanya hampir menetes.
"Tidak mungkin...."
Si Detektif beraikap tegas.
"Semua bukti mengarah ke anda Tuan Bennedict."
Akhirnya air mata Bennedict jatuh menetes di kedua pipinya.
Ia merasa sangat bersalah kepada Layla.
Di ruang interogasi yang terasa menekan, Zhao Lee menjawab beberapa pertanyaan dari Detektif ditemani oleh pengacaranya.
Detektif Wawan memulai agendanya.
Beberapa saat suasana menjadi hening..
''Terimakasih telah memenuhi undangan kami. Bagaimana kabar anda, Tuan Zhao Lee dan Tuan Gunawan selaku pengacara saksi," tanya detektif Wawan.
''Baik'' jawab Tuan Gunawan singkat.
Zhao Lee mengangguk pelan.
"Baik, bagaimana kabar anda?" tanya Zhao Lee.
"Baik," jawab Detektif Wawan
Detektif itu duduk dan meletakan dokumen di atas meja.
Kemudian melanjutkan agendanya.
"Saya rasa cukup basa-basinya. Kita langsung saja. Apa anda kenal korban, Tuan Zhao Lee?''
Detektif Wawan menatap tajam ke arah Zhao Lee dengan aura mengintimidasi..
Zhao Lee tersenyum tipis.
Dengan tenang ia menjawab..
"Tentu, dia mantan ART saya."
Detektif Wawan mengangguk.
''Lalu apa anda mengenal pelaku?"
Zhao Lee meletakan kedua tangannya di atas meja..
Ia terlihat sangat santai saat melakukan pemeriksaan..
Atmosfer yang mengintimidasi di sekeliling Zhao Lee seakan tidak berdampak apa-apa baginya.
''Tentu kami dulu dekat, tapi semenjak bisnis gelap keluarga Bennedict terbongkar kami putus kontak."
Detektif melirik ke dokumen itu lalu kembali menatap mata Zhao Lee.
Ia bertanya..
"Gedung itu milik anda, betul?"
"Betul''
Detektif Wawan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
''Tolong ceritakan kronologi kejadian waktu itu dari sudut pandang anda sebagai saksi."
Zhao Lee diam beberapa detik sebelum menceritakan kejadian waktu itu...
"Malam itu saya ingin memberi kejutan kepada pacar saya. Saya memutuskan untuk membawa bunga dari toko itu. Tapi setelah saya turun dari mobil, ada suara teriakan minta tolong dari dalam toko. Sontak saya langsung lari dan ternyata keadaan dalam toko sudah tidak terkendali. Situasinya sangat kacau saat itu."
Detektif Wawan mendalami pernyataan Zhao Lee
''Malam itu hampir pukul 11, apa anda yakin toko yang anda maksud masih buka?"
Zhao Lee menjawab dengan tenang..
"Saya sebelumnya sudah memesan lewat telepon pemilik toko itu, namun pekerjaan membuat saya terlambat mengambilnya. Saya hanya mencoba mencari tau apakah toko itu masih buka atau tidak."
Detektif mengeryitkan dahi curiga.
"Dengan membawa banyak pengawal?,''
Zhao Lee menghela nafas..
"Beberapa hari ini saya mendapat surat ancaman dari orang yang misterius." ucap Zhao Lee.
Pernyataan Zhao Lee semakin membuat curiga..
"Kenapa anda tidak lapor tentang surat ancaman itu?"
Pengacara Gunawan menyela.
"Maaf, pertanyaan ini di luar kasus yang sedang terjadi."
Zhao Lee menoleh ke pria berusia 46 tahun di sebelahnya.
Ia tersenyum..
''Tidak apa-apa pak, kita harus bersikap kooperatif," ucap Zhao Lee.
Ia kembali menoleh ke arah detektif.
Dengan lugas ia berkata.
"Saya sendiri belum punya bukti siapa dalang di balik surat ancaman itu dan motif pelaku. Apakah dia punya dendam kepada saya atau hanya intimidasi. Karena kurangnya bukti, maka saya belum melapor. Namun keselamatan saya nomer satu, jadi saya menyewa pengawal untuk jaga-jaga."
Pernyataan Zhao Lee berhasil menurunkan kecurigaan polisi..
''Baik, kami akan bantu anda untuk mencari tau siapa orang misterius itu," ucap detektif itu.
Zhao Lee tersenyum.
''Terimakasih, Detektif."
Detektif menyodorkan hasil medis bukti temuannya.
Mimik wajahnya begitu serius saat hendak menjelaskan temuannya.
"Kami menemukan Flakka di kaleng bekas minum Bennedict. Flakka itu bahasa medis dan orang awam menyebutnya Narkoba zombi.
Efek yang di timbulkan sangat ganas dan cepat. Ia menyerang saraf dan otot-otot menjadi tegang. Suhu tubuh melonjak drastis hingga 40⁰C. Pemakainya akan mengalami fase tidak terkendali. Yang paling mengerikan ia bisa membunuh orang dengan cara menggigit titik vital seperti leher.''
Zhao Lee menunjukan mimik seolah tidak percaya.
Detektif itu tersenyum.
"Yah saya tau kalian pasti sulit percaya dan menyebut ini sebagai dongeng. Tapi di dunia kriminal itu ada. Beberapa tahun yang lalu kami hampir menggagalkan penyelundupan obat terlarang itu. Namun kartel yang di pimpin Tiger telah mengetahui lebih dulu rencana kami. Ia berhasil lolos dan sampai sekarang tidak ada tau di mana ia berada."
"Ini kasus besar. Dan ini menyangkut nyawa manusia."
Zhao Lee mengeryitkankan dahi..
Tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Apa yang akan terjadi setelahnya kepada si pemakai?" tanya Zhao Lee.
Detektif itu memejamkan matanya sejenak.
"Ia tidak ingat apa-apa. Kosong" ucap detektif.
"Namun kasus penyerangan ini harus tetap di proses secara hukum karena ini termasuk tindak kriminal yang dapat mengancam nyawa."
Zhao Lee terdiam..
Detektif Wawan menghela nafas.
"Mungkin Hari ini cukup, kasus masih bergulir. Jika kami membutuhkan anda lagi. Saya akan segera menghubungi," tambah detektif itu.
Zhao Lee bangkit dari tempat duduknya.
Ia mengulurkan tangan.
"Kami akan bersikap kooperatif pak," ucap Zhao Lee.
Detektif itu menyambut tangan Zhao Lee.
"Terimakasih." ucapnya.
Di sel Rumah Sakit...
Setelah Bennedict di rasa cukup tenang, detektif masuk lagi ke ruang bangsal kusus kriminal tempat dimana Bennedict di tahan.
"Kalau memang bukan kamu, buktikan."
Bennedict hanya menunduk. Lalu bergumam pelan. "Layla... maafkan aku..."
Detektif meninggalkan ruangan...
Bennedict memejamkan mata,
Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan.
"Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?"
Hal yang paling di ingat malam itu adalah saat ia sedang minum sekaleng bir dengan kadar alkohol ringan bersama Layla.
Ia masih ingat tawa candanya bersama Layla malam itu.
"Tidak mungkin. Kami begitu dekat," ucap Bennedict.
Ia tak menemukan jawaban setelah berpikir lama yang membuatnya semakin frustasi.
Gelap.
Kosong.
Ia tak menemukan memori yang di maksud detektif di otaknya.
Bennedict kembali meraung.
Kali ini bukan karena efek flakka namun tanda-tanda depresi berat.
...****************...
Ini novel pertama ku semoga kalian enjoy bacanya ya temen-temen.
Terimakasih yang udah dukung aku
semoga hidup kalian lancar jaya..❤️
Jangan lupa like, komen, share, gift juga boleh, kasih bintang juga boleh...☺️