Su Wanqing selalu hidup sebagai orang asing di rumahnya sendiri. Namun, di tengah hujan deras yang mengguyur sore itu, ia dikejutkan oleh satu kenyataan pahit—tanpa sepengetahuannya, keluarganya telah menjodohkannya dengan seorang pria yang paling ditakuti di seluruh negeri, Jenderal Lu Jingyuan.
Dikenal sebagai pahlawan revolusi sekaligus monster di medan perang, Lu Jingyuan adalah sosok dingin yang namanya mampu membuat musuh gemetar. Di balik reputasinya yang kejam, tersembunyi luka masa lalu dan trauma perang yang mengubahnya menjadi pria yang sulit didekati dan tak pernah mengenal kebahagiaan.
Terjebak dalam pernikahan yang tidak pernah ia pilih, Su Wanqing hanya bisa pasrah menghadapi takdirnya. Namun, ketika dua jiwa yang sama-sama terluka dipersatukan oleh keadaan, akankah mereka saling menyembuhkan... atau justru semakin menghancurkan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syfaanca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kepulangan
Deru mobil yang beriringan memasuki markas militer membuat Ajudan Han segera bangkit dari tempat duduknya dan memberikan hormat sepanjang mobil-mobil itu melewati gedung perpustakaan. Wanqing mencoba mengenali satu persatu mobil yang lewat, mencari keberadaan suami yang telah pergi bertugas hampir satu Minggu dan pulang dengan kesuksesan itu.
"Nyonya, ayo kita sambut kepulangan Jenderal." Ajudan Han menarik lembut lengan mungil Wanqing dan berjalan cepat menuju tempat perkumpulan kepulangan di lapangan.
Beberapa prajurit yang sehat rapih berdiri dan berbaris di lapangan, sementara yang sakit dan terluka sedang dibawa masuk menuju gedung perawatan. Wanqing yang melihat banyaknya pasien dan kerepotan yang dialami Dokter Wen dan Dokter Chen berniat menyusulnya, hanya saja, dirinya harus memastikan suaminya dalam kondisi baik-baik saja.
Wanqing berdiri diam tak jauh dari podium, berusaha melihat keberadaan sosok suaminya lagi. Disanalah ia melihat Jenderal Lu Jingyuan turun dari mobil dan berjalan diiringi beberapa ajudannya yang memberikan laporan singkat sembari mereka berjalan. Wanqing yang melihat sosok kekar dan gagah Jingyuan tak terluka serta tetap dalam kondisi baik menghela napas lega.
Jingyuan menaiki podium perlahan sembari memegangi lengannya yang terbalut perban. Wanqing yang baru menyadari itu bergegas ingin menaiki podium untuk mencoba melihat seberapa parah luka di lengan pria itu. Namun, tiba-tiba dari arah berlawanan, sosok Bai Yueran datang sembari berlari membawa beberapa peralatan medis dan mencoba mengobati Jenderal yang telah kembali turun dari podium.
"Sudah kubilang jangan lakukan atau paksakan dirimu mengangkat senapan dulu." Bai Yueran terlihat sangat cekatan melepaskan perban di lengan Jenderal Lu Jingyuan selagi terus mengocehinya.
Melihat itu, ada sedikit rasa tidak nyaman di hati Wanqing. Ia mengepalkan kedua tangannya tanpa sadar dan akhirnya berpaling pergi. "Bangsal perawatan lebih membutuhkanku." Gumamnya.
Sosok mungil Wanqing yang baru saja berbalik pergi ternyata mendapatkan perhatian lebih dari sang Jenderal. Rupanya sedari tadi sosok istri yang ia cari-cari ada di dekatnya. Jingyuan masih mendengarkan celotehan dari Bai Yueran yang masih mengobati lukanya, namun pandangannya dan hatinya tidak bisa lepas dari sosok mungil yang berjalan pergi dengan kedua tangan terkepal kencang itu. Ada sedikit rasa sesak di dadanya, seolah dirinya sangat menginginkan wanita itu berbalik dan menyambutnya. Jingyuan menggelengkan kepalanya kuat kuat dan menghentikan gerakan Bai Yueran yang ingin mengencangkan ikatan perbannya. Ia berjalan pergi begitu saja menaiki podium tanpa terima kasih dan tanpa menghiraukan ujaran penuh kesal dari Bai Yueran di bawah podium.
Di dalam bangsal perawatan, Wanqing yang baru saja tiba langsung ikut sibuk membantu Dokter Wen menangani beberapa pasien sekaligus. Gerakannya yang sangat lihai dan cekatan itu membuat Dokter Wen yang sudah hampir seminggu meninggalkannya terkagum-kagum. "Bagaimana bisa Nyonya mengalami perkembangan sepesat ini?" Ujarnya pada Dokter Chen di kasur sebelah.
"Nyonya terus berlatih pagi sampai malam denganku di sini, dengan praktik yang memadai dan buku-buku materi yang nyonya dapatkan dari perpustakaan maupun dariku, Nyonya bahkan bisa menjahit dan membantu operasi sekarang."
Dokter Wen yang mendengar itu langsung tertegun senang. "Nyonya benar-benar sepenuh tekad itu ya ternyata." Pujinya.
Wanqing yang tidak bisa mendengar percakapan apapun hanya fokus terus menjahit luka robekan di lengan prajurit yang ada di hadapannya dengan penuh hati-hati. Setelah bergumul dengan seluruh pasien yang datang dengan banyak luka dan trauma, Wanqing terduduk lelah di atas sofa ruangan dokter.
Dokter Wen datang membawakan secangkir teh hangat dan setumpuk buku. "Minumlah dulu." Wanqing langsung meneguk teh itu perlahan. "Buku-buku yang ada dihadapan Nyonya saat ini adalah buku yang menemaniku selama menjalani pendidikan kedokteran sampai kedokteran militer di luar negeri. Nyonya bisa mulai memperlajarinya kapanpun, Aku akan sangat senang mengajari beberapa hal yang mempersulit Nyonya kelak."
Wanqing yang mendengar itu dengan sangat senang langsung mengamankan buku-buku itu. Setelah dirasa hari itu sudah cukup aman dan kondusif, Wanqing keluar dari bangsal perawatan dengan tumpukan buku-buku yang tinggi menutupi pemandangannya terhadap jalanan di depannya. Wanqing yang merasa dirinya sudah hapal jalanan menuju rumah terus berjalan perlahan.
*BRAK*
Buku-buku itu terjatuh seluruhnya di lantai dan mengakibatkan Wanqing spontan menoleh ketus pada seseorang yang menabraknya.
Di hadapannya, sosok pria kekar nan tampan dengan balutan seragam tentara itu menatapnya serius. "Bagaimana bisa Kau membawa buku sebanyak ini dengan tubuh semungil itu." Ujarnya ketus sembari mengambil buku-buku yang berjatuhan dan menggenggamnya seolah tumpukan buku dalam genggamannya hanyalah tumpukan kapas.
"Jenderal?" Wanqing mencoba menyamai langkah mereka menuju kediaman.
"Kenapa Kau baru kembali ke kediaman?" Tanya Wanqing.
Pria itu tidak membalas pertanyaannya dan terus berjalan santai. "Apakah lukamu sudah baik-baik saja? Bagaimana kalau Aku lihat kondisi lukamu agar-"
Belum Wanqing selesai dengan kalimatnya, Jenderal Lu Jingyuan sudah membukakan pagar rumah dinas itu dengan satu tangan sementara satu tangannya lagi merangkul tumpukan buku itu tanpa kesulitan.
"Masuklah dulu." Ujarnya lagi.
Wanqing yang takjub dengan kekuatan suaminya hanya bisa mengangguk dan memasuki rumah dinas itu. Jingyuan membantu meletakkan buku-buku itu di atas meja. Meja yang semula kosong, kini ternyata sudah penuh dengan buku-buku yang terbuka dan buku catatan milik Wanqing dari pemberian Dokter Chen sebelumnya. Jingyuan duduk santai di atas sofa.
"Kau sebegitunya suka medis ya?" Tanyanya datar.
Wanqing yang masih membereskan meja itu menoleh, "Iya." Jawabnya singkat sambil terus membereskan meja dan langsung bergegas ke dapur. Ia dengan cekatan menyiapkan teh chamomile dan mulai memasak sedikit camilan malam yang hangat.
Wanqing langsung menyajikan Jiang Tang atau Sup Kuah Jahe dengan Lemak Babi berisikan potongan daging lemak babi yang juicy dan teh hangat yang ia buatkan di hadapan Jingyuan.
"Nikmatilah dulu Jenderal, biar Aku urus lukamu."
Jingyuan yang semula ingin menolak tawaran Wanqing kini tak bisa berkutik begitu lengan lentik Wanqing mulai dengan cekatan merobek balutan perban Jingyuan dan mengobservasi luka itu.
"Ini ada luka di jaringan dalam, kenapa tidak dijahit dulu? Pendarahan terus." Gumam Wanqing sambil bersiap dengan peralatannya.
Jingyuan terlihat sedikit gugup sembari terus mengamati Wanqing yang bersiap dengan peralatannya. Wanqing yang menyadari itu dengan ketus berkata, "Kenapa? Kau lebih percaya Bai Yueran itu Jenderal? Ingin kupanggilkan saja dokter militer pribadimu itu?!" Ujarnya ketus dengan tatapan tajam.
Jingyuan menggeleng dengan cepat. Seolah tidak ingin terlihat khawatir dan cemas dalam menantikan Wanqing yang masih bersiap untuk menjahit lukanya, Jingyuan mulai meneguk sup buatan Wanqing tadi dengan sembrono dan buru-buru.
"Wah, enak sekali." Komennya spontan. Ia menatap Wanqing yang seolah tak peduli dengan pujiannya dan masih sibuk. Hati Jingyuan yang dingin dan kaku tiba-tiba terasa hangat malam itu.
Sosok hitam itu berdiri di depan jendela samping rumah dinas yang masih terang benderang dan memperhatikan ketelitian seorang perempuan muda mungil yang sedang menjahit luka di lengan kekar pria berbalutkan seragam tentara itu. Keduanya tampak sangat serasi seolah seperti pasangan yang nyata. Sosok hitam itu terkekeh kecil, "Bertahanlah Anakku."
*BERSAMBUNG*
Maaf pembacaku tercinta sudah beberapa hari tidak update huhu, Aku sibuk dengan beberapa urusan, tapi kali ini akan balik update lagi, love u all