Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Genggaman di Batas Kesadaran
Rangga berhenti berputar karena dentuman nyaring.
Benturan itu tidak terdengar keras bagi Rangga yang terlindung di dalam kabin BMW iX yang kedap suara, namun visual yang ditangkap matanya jauh lebih brutal dari imajinasi terburuknya. Ia melihat motor itu terpental seperti mainan plastik. Dan pengemudinya—pria yang baru saja ia lihat sekilas di balik kaca—terlempar tepat ke arah kolong truk kontainer yang sedang bergerak merayap di lajur sebelah.
Krak.
Suara itu mungkin hanya ada di kepala Rangga, tapi ia bisa merasakan getaran nahas itu sampai ke kursi kulitnya.
Rangga terdiam. Napasnya tertahan di tenggorokan. Rasa pening akibat obat, mendadak hilang, digantikan oleh gelombang adrenalin yang menusuk. Dengan wajah tegang, ia perlahan menoleh sedikit ke samping.
“Ah...” hanya ini yang mampu ia ucapkan.
Onggokan tubuh berada di ban belakang truk di sampingnya. Helm hitam masih terpasang. Dan tubuh itu seakan bergerak terputus-putus.
Kejang.
Ia melihat cermin spion, orang-orang mulai berlarian, teriakan histeris mulai membelah kebisingan kawasan macet ini.
"Apa yang...?" bisiknya. Suaranya hilang ditelan sunyi kabin mobil listriknya.
Proyek triliunan itu, ambisi untuk membuktikan diri pada Ibu Shinta, cuan yang diproyeksi akan datang bertubi-tubi, pengakuan kalau ia lebih hebat dari ayahnya... semuanya mendadak terasa seperti sampah. Harga yang harus dibayar untuk ego seorang Rangga Adiwilaga pagi ini, adalah nyawa seseorang.
Rangga tidak berpikir dua kali. Ia menendang pintu mobilnya hingga terbuka. Begitu kakinya menyentuh aspal, makian dan hujatan warga langsung menghujamnya.
"Woi! Tanggung jawab lo, Jancoeg!"
"Gila ya, bawa mobil nggak pakai otak!"
Rangga tidak menghiraukan mereka. Ia tidak peduli jika sedetik kemudian sebuah batu mendarat di kepalanya atau mobil mahalnya dihancurkan massa. Matanya hanya tertuju pada kolong truk kontainer itu. Di sana, di antara debu aspal dan tumpahan oli, seseorang tergeletak dalam kondisi yang... ah! tak ada kata-kata yang pantas menggambarkannya.
Rangga menjatuhkan dirinya ke aspal yang panas dan kotor. Ia merangkak masuk ke kolong truk tanpa memedulikan kemeja mahalnya yang kini tercoreng debu aspal.
Seorang pria... sebelah tubuhnya di kolong, sebelahnya lagi di belakang ban truk. Ceceran organ memenuhi jalanan beton. Rangga tak peduli, ia harus memastikan si pria ini bisa tertolong. Walau pun kemungkinannya hanya nol koma.
Orang ini masih hidup. Matanya terbuka lebar, namun nampak kosong, menatap jauh ke langit-langit hitam dasar truk. Tubuhnya mengalami spasme, kejang-kejang kecil yang menandakan sarafnya tidak bekerja seperti yang seharusnya.
Rangga meraih tangan Ary yang terjulur padanya. Tangan itu masih terasa hangat. Namun gerakannya tak terkendali.
Tiba-tiba korbannya membalas genggaman Rangga dengan kekuatan sisa yang mengejutkan.
Dalan situasi itu, Rangga tahu ia harus bicara, mungkin ini kesempatan terakhirnya. "Mas... Mas, maafkan saya. Demi Allah, maafkan saya," Rangga terisak. Air matanya jatuh, bercampur dengan debu di pipinya.
Mulut korbannya bergerak-gerak. Suara serak dan berdesis keluar dari sela bibirnya yang memucat. Rangga mendekatkan telinganya, menempelkan kepalanya ke aspal, tepat di samping wajah pria sekarat itu. Ia mengabaikan bau karat darah yang menyengat dan deru mesin truk yang masih menyala di atas mereka.
"A...ru...mi..." bisik sang pria. Suaranya nyaris hilang, tertutup oleh gemuruh di sekitarnya. "Ja... ga... A...ru... mi..."
Rangga tidak tahu siapa itu Arumi. Apakah itu istrinya? Anaknya? Ibunya? Namun, di saat sakratul maut seperti ini, nama itu terdengar seperti sebuah wasiat suci.
"Iya, Mas. Saya janji. Saya akan jaga Arumi. Mas tenang saja, saya janji dengan nyawa saya," jawab Rangga dengan suara bergetar hebat.
Genggaman tangan si pria semakin kencang, seolah memastikan janji itu terkunci. Rangga bisa melihat betapa berat ia mencoba bernapas. Rangga tahu, waktu pria ini tidak lama lagi.
Sebagai pria yang jarang menyentuh ranah spiritual karena masa lalunya yang kelam, entah kekuatan dari mana yang membuat Rangga teringat akan tuntunan ibadah yang pernah ia dengar samar-samar dulu. Ia ingin pria ini pergi dengan damai, bukan dengan dendam padanya.
"Mas... ikuti suara saya ya, Mas. Kita pulang ya, Mas. Fokus ke suara saya," Rangga berbisik tepat di telinga korbannya. Suaranya kini mencoba setenang mungkin meski hatinya hancur.
"Ucapkan, Mas... Laa ilaha illallahi..."
Sang Pria, Ary Prambudi, mencoba mengikutinya. Bibirnya bergetar. Sebuah perjuangan hebat terlihat di otot lehernya.
"Laa..."
"Iya, Mas. Teruskan. Laa ilaha illallahi..." Rangga menuntun lagi, air matanya kini mengalir deras tanpa suara.
Genggaman tangan Ary perlahan-lahan mengendur. Mata yang tadinya tegang itu mulai nampak tenang. Sebuah embusan napas panjang keluar dari mulut Ary, membawa serta sisa-sisa kehidupan dari tubuhnya. Kepalanya terkulai pelan ke samping.
Ary Prambudi telah tiada.
Rangga masih memegang tangan itu. Ia masih berada di bawah kolong truk, bersujud di samping jasad pria yang baru saja ia bunuh sekaligus ia hantarkan ke pangkuan Sang Pencipta. Di tengah hiruk-pikuk massa yang mulai mengerumuni lokasi kejadian, Rangga merasakan sebuah ikatan batin yang aneh.
Ia baru saja membunuh. Pria ini yang Rangga belum ketahui namanya, mungkin saja seorang suami, seorang ayah, dan seorang anak. Dan ia baru saja mengikat janji pada seorang wanita bernama Arumi—wanita yang bahkan belum ia ketahui wajahnya, namun kini telah menjadi beban tanggung jawab seumur hidupnya.
“Istirahatlah, Mas," bisik Rangga sambil mengusap mata Ary agar tertutup. "Saya akan menepati janji saya."
**
“Bu Shinta pergi sambil marah-marah, Pak.” Kata salah satu asisten Rangga dengan wajah tegang. Mereka kini masih berada di rumah sakit, dengan polisi mengelilingi Rangga. Rangga tentu saja didampingi 3 pengacaranya.
Ia bukannya mau lari dari tanggung jawab, namun para pengacara ini bisa melindunginya dari konfrontasi polisi nakal.
Dulu, ia takut sekali saat Bu Shinta marah atau sekedar menyindir. Kini rasanya hal itu tidak sepadan dengan kesakitan Ary Prambudi yang baru saja ia tabrak.
Ary Prambudi. Seorang Dosen berusia 46 tahun. Memiliki istri bernama Arumi, 32 tahun dan dua orang anak laki-laki berusia 17 dan 15 tahun. Ibu kandung Ary tinggal di Purwokerto, kini dalam perjalanan menuju Jakarta. Rangga yang membiayai semua perjalanannya. Rangga juga yang menyuruh asistennya untuk menjemput Arumi dan anak-anak ke rumah sakit.
“Ya Allah...” Rangga menunduk.
Asistennya, Tony, mengelus bahu Rangga, “Masih banyak proyek lain yang akan kita-“
“Ususnya awur-awuran.... badannya kebagi dua, Ton. Kebagi dua!” ujarnya sambil terisak.
Sang Asisten bungkam, para pengacaranya terdiam, dan para polisinya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sang Dirut tidak peduli pada pekerjaannya.
Rangga trauma. “Kok bisa saya melakukan itu? Kok bisa?!” ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Pak...” Tony hanya bisa merasa miris. Sekaligus terkejut karena sehari-harinya Rangga bersikap dingin dan judes. Orang paling menyebalkan di kantor sekaligus paling jenius di perusahaan. Yang ia hadapi setiap hari adalah wajah meremehkan si Boss Muda ini. Kini sosok itu meratap, menangisi seseorang yang tidak ia kenal. Dari raungannya, jelas bukan kariernya yang ia khawatirkan. Tapi korbannya.
Kini, Rangga berada di titik terendahnya sebagai manusia, yaitu menghadapi takdir Sang Maha Kuasa yang tak bisa ia hindari.
Tony kini hanya bisa merengkuhnya sebagai teman, bukan asisten. Ia tak ingin Rangga hancur karena kelalaian sepintasnya. Karena Rangga harus memberi makan 5000 manusia yang kini di bawah kepemimpinannya, bergantung padanya, pada otak strategisnya.
Salah seorang Polisi berpakaian casual tampak tak sabar, “Bagaimana ini? Harus diproses! Dalam urine kamu ini kecampur zat adiktif yang-“
“Kami sudah mengajukan permohonan resmi untuk penyelesaian perkara melalui Restorative Justice, kepada Kapolres,” Kepala Tim Pengacara, Denny, dengan tegas memotong salah satu polisi yang keukeuh membawa Rangga ke dalam proses interogasi, dengan nada suara yang tenang namun sarat akan penekanan legal yang tidak bisa dibantah.
“Tapi laporan yang masuk-“
“Klien kami tidak dalam kondisi berniat melarikan diri ataupun menghilangkan barang bukti. Klien kami juga adalah korban dari tindak kejahatan di tempat lain sebelum kecelakaan ini terjadi. Pengusutan sedang dilakukan, dan selama hal itu sedang dalam prosesnya, kami tidak bersedia dilakukan penahanan.” Denny membenahi letak kacamata bermereknya, menatap lurus ke arah penyidik yang mulai tampak salah tingkah.
Polisi paruh baya yang memimpin rombongan itu mendengus, melipat kedua tangannya di dada. “Tetap aja laaah. Di mata hukum, ada korban jiwa di sini! Anda nggak liat nih?! Kami tidak mau tahu Boss kamu korban di tempat lain atau bukan, silakan ajukan laporan terpisah mengenai kasus itu. Tetapi, dalam kasus yang ini, jelas dia yang memegang kemudi, dan ada nyawa yang melayang. Kami ini punya kewajiban menahan terduga pelaku untuk penyidikan lebih lanjut. Jangan mempersulit penyelidikan dong! Nggak bener ini kamu, udah berapa lama sih jadi pengacara?! Jangan-jangan pengacara karbitan kamu ya, sekolah hukumnya lulus nggak? Nyogok nggak?”
“Penahanan hanya bisa dilakukan jika ada kekhawatiran pelaku melarikan diri atau mempersulit penyidikan,” Denny menyergap cepat, tidak memberikan celah sedikit pun bagi polisi tersebut untuk mengintimidasi kliennya. “Kami menjamin penuh secara hukum. Red-Desmont Investment akan memberikan jaminan finansial. Terlebih lagi, klien kami berkomitmen penuh untuk menanggung seluruh biaya pasca-bencana bagi keluarga korban. Jika Anda bersikeras melakukan penahanan paksa di saat kondisi psikologis dan fisik klien kami belum stabil, kami tidak akan ragu untuk mengajukan gugatan praperadilan atas kesewenang-wenangan prosedur.”
Polisi itu terdiam, saling berpandangan dengan rekannya. Mereka tahu, menghadapi tiga pengacara papan atas dari firma hukum terbaik di Jakarta yang disewa oleh korporasi raksasa seperti Red-Desmont adalah mimpi buruk birokrasi.
Mereka jelas gagal mengintimidasi para pengacara. Mereka pikir karena usia lawan mereka ini masih muda-muda, maka pengalamannya belum banyak. Tapi ketegasan dan bahasa resmi yang digunakan Denny dkk semuanya masuk akal dan sesuai undang-undang.
Di sudut bangku rumah sakit, Rangga sama sekali tidak mendengarkan perdebatan teknis tentang pasal-pasal hukum yang sedang berseliweran di sekitarnya. Telinganya berdengung. Di dalam kepalanya, suara deru mesin truk kontainer dan bisikan terakhir Ary Prambudi yang serak terus berputar seperti kaset rusak yang tak bisa dimatikan.
“Arumi… jaga Arumi…”
Kata-kata itu bukan lagi sekadar kalimat, melainkan sebuah segel yang kini tertanam di dasar pikirannya. Rangga mencengkeram rambutnya sendiri, abai pada fakta bahwa beberapa perawat yang lewat sempat mencuri pandang pada sang direktur muda yang biasanya tampil necis di platform bisnis, kini nampak seperti pesakitan yang hancur lebur.
“Den,” suara Rangga mendadak memotong perdebatan panas itu. Suaranya serak, rendah, dan bergetar, namun memiliki daya magis yang membuat seisi koridor rumah sakit itu mendadak sunyi.
Denny menoleh. “Ya, Pak?”
Rangga mengangkat wajahnya yang sembab. Sorot matanya yang biasa dingin dan tajam, kini nampak sendu namun penuh ketetapan hati. “Siapkan semua kompensasi terbaik. Apa pun yang diminta keluarga korban, penuhi. Rumah, pendidikan anak-anaknya sampai kuliah, jaminan hidup orang tuanya… apa pun. Jangan ada yang ditawar. Kasih semuanya.”
“Pak, tapi secara regulasi hukum—”
“Saya nggak peduli sama regulasi!” bentak Rangga lirik, namun sarat akan tekanan emosional yang membuat Tony, asistennya, menahan napas. Rangga menatap Denny dengan mata memerah. “Prosedur Hukum kalian mungkin bisa melindungi saya sebagai klien, tapi hal itu tidak bisa menyatukan kembali badan Mas Ary yang hancur di depan mata saya! Kamu pernah berada di posisi mereka, kehilangan tulang punggung! Kamu tahu pasti perasaan mereka dan perasaan saya kan?”
Denny menghela napas panjang, lalu mengangguk patuh. Ia berbalik kembali menghadap polisi. “Seperti yang bapak-bapak penyidik ini dengar sendiri. Klien kami memiliki iktikad baik tertinggi yang bahkan melampaui tuntutan hukum mana pun. Jadi, biarkan kami menyelesaikan urusan administrasi ini di kantor Polres sore nanti. Saat ini, fokus klien kami adalah menyambut keluarga korban yang sedang dalam perjalanan ke sini.”
Polisi itu akhirnya menurunkan tangannya, menyadari bahwa konfrontasi lebih lanjut hanya akan membuang waktu karena tim pengacara membentengi kliennya melalui jalur kompensasi penuh. “Baik. Kita pegang janji kamu ya. Jam empat sore, kami tunggu di Polres untuk penandatanganan berkas Restorative Justice awal.”
Begitu rombongan polisi itu berbalik dan melangkah menjauh, suasana di koridor itu kembali senyap. Hanya ada suara langkah kaki yang terburu-buru dari arah pintu masuk darurat rumah sakit.
Tony memeriksa ponselnya, text dari drivernya, lalu berbisik hati-hati ke telinga Rangga. “Pak… ambulans yang membawa jenazah Pak Ary baru saja sampai di ruang jenazah. Terus...hm... Driver kita bilang Bu Arumi dan anak-anaknya sudah sampai di lobi RS.”
Rangga mematung. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ia sedang menunggu vonis mati yang sesungguhnya. Ia harus menghadapi wanita bernama Arumi itu—wanita yang dunianya baru saja ia hancurkan dalam kelalaian sesaat.
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖