NovelToon NovelToon
DUNIA X KEKACAUAN

DUNIA X KEKACAUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: YT FiksiChannel

Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng Raja Tanpa Wajah

Dien terbangun dari pingsannya ketika hari sudah siang. Dien mengerjapkan mata melihat sekeliling kamarnya, rasa pusing mulai menyerang membuat kepalanya terasa begitu sakit dan penglihatannya berputar-putar. Dien hanya bisa menahan rasa sakitnya dan berdiri dengan sempoyongan, lalu memegang pinggir meja belajar dan mencoba menyeimbangkan tubuhnya yang terasa berat sebelah. 

Dien melihat dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, lalu melihat jam di ponselnya tersebut. Dien sedikit menyipitkan mata melihat jam menunjukkan angka 09.55 menit. 

Dien seketika melototkan matanya melihat jam 09.55 menit.

“Sial! Aku terlambat!” Pekik Dien seketika sadar dari rasa pusingnya.

Dien segera membersihkan altar ritual, mandi, memakai parfum, dan bersiap pergi ke markas pasukan malam yang berada di bawah tanah kantor kepolisian kota Selabatu. 

Dien dengan tergesa-gesa menuju kantor kapten Medi untuk melapor. Ketika sampai Dien menarik nafas dalam-dalam melihat pintu kantor yang tertutup rapat, lalu mengetuk pintu dengan lembut, dan menunggu jawaban sang kapten pasukan malam tersebut.

“Masuk!” Balas kapten Medi tegas dan berwibawa. 

Dien menarik nafas dan memutar gagang pintu, lalu masuk menemui sang kapten untuk melapor. 

“Kapten, maaf aku terlambat.” Dien langsung meminta maaf. 

Kapten Medi acuh tak acuh dan dengan santai membolak-balikkan halaman koran sembari merokok.

Dien terus meminta maaf sembari mengatur nafasnya yang memburu. 

“Apa alasanmu terlambat di hari pertama?” Tanya kapten acuh setelah Dien tenang dan bernafas dengan normal. 

“Maaf kapten.”

“Aku tidak punya alasan khusus. Aku hanya tidak terbiasa bangun pagi untuk kerja.” Jawab Dien apa adanya tanpa menyinggung ritual mengintip rahasia ilahi.

Kapten Medi melirik sekilas, lalu kembali melanjutkan bacaannya. 

“Pergilah ke divisi satuan intelijen dan penegak hukum untuk melapor dan menerima misi pertama.” Perintah kapten Medi pada akhirnya.

“Kamu keluar, belok kiri, belok kiri, lalu belok kanan, lurus hingga bertemu tiga buah lorong yang berbeda, masuk lorong kedua, belok menuju ruang penyimpanan senjata, dan masuk ke lorong keempat. Disanalah divisi satuan intelijen dan penegak hukum berada.” Ujar kapten mengarahkan dengan acuh tak acuh, lalu menghisap rokoknya. 

Dien mengangguk mengerti dan segera menuju ruangan Divisi Satuan Intelijen dan Penegak Hukum. 

Setelah beberapa kali tersesat, Dien pada akhirnya menemukan ruangan yang dimaksud. Dia mengetuk pintu, lalu masuk setelah mendapatkan izin. 

Di dalam ruangan yang cukup luas itu, Dien menemukan satu orang yang duduk dengan kaki diatas meja. 

“Silahkan duduk!” Ucap pria paruh baya mengarahkan. 

“Aku Nicholas Shain, kamu bisa memanggilku Nicholas. Aku adalah anggota senior Divisi Penelitian Sihir dan Senjata Sihir, sekaligus penanggung jawab untuk memberikan senjata sihir kepada kalian para anggota baru pasukan malam. Salam kenal junior.” Ujar Nicholas memperkenalkan diri. 

“Tidak perlu memperkenalkan diri. Supaya cepat, sebutkan senjata jenis apa yang kamu inginkan. Jika senjata yang kamu inginkan tidak ada? Maka aku akan membuatnya selama itu sesuai dengan kemampuanku.” Ujar Nicholas menghentikan Dien yang hendak memperkenalkan diri.

Dien mengangguk saja, lalu terdengar suara ketukan pintu. 

“Masuk.” Pekik Nicholas kesal. 

Gagang pintu diputar dan didorong, lalu terlihatlah seorang pria yang membawa pedang dan memiliki tatapan tajam, berambut merah, dan memiliki luka silang tepat di mata kiri yang tampaknya buta. 

“Silahkan duduk, banjingan sialan!” Nicholas mengarahkan dengan tatapan tajam menusuk jiwa. 

Pemuda itu tidak peduli, lalu duduk di pojok sudut paling kanan yang sangat tersembunyi dari pengawasan. Pemuda itu menoleh melihat Nicholas yang duduk di kursi paling depan dan menghadap mereka, lalu menoleh dan menilai Dien yang duduk beberapa kursi darinya. 

Dien tersenyum menyapa pemuda berambut merah tersebut. Nicholas dengan kesal dan malas-malasan kembali memperkenalkan dirinya sendiri. 

Dua menit kemudian. 

“Sebutkan senjata jenis apa yang kalian inginkan beserta kemampuannya. Jika senjata yang kalian inginkan tidak ada? Maka aku akan membuatnya selama itu sesuai dengan kemampuanku.” Tanya Nicholas menatap dua orang tersebut. 

Dien mengangkat tangan. 

“Silahkan!” Nicholas mengangkat tangan mempersilahkan Dien berbicara. 

“Aku ingin senjata sihir yang dapat membuat wajah menjadi normal. Aku ingin sengaja sihir yang dapat menghilangkan bibir sumbing, membuat struktur wajah sempurna, memperbaiki hidung yang bengkok dan terlalu masuk ke dalam, memperbaiki letak kedua mata yang tidak seimbang dengan struktur wajah, dan membuat gigiku rata. Intinya aku ingin senjata sihir yang bisa membuat wajahku normal seperti manusia biasa. Apakah ada?” Ujar Dien meminta dengan penuh harap.

Nicholas melihat Dien yang dapat dikatakan cacat fisik dan langsung mengerti niat pemuda tersebut. 

Nicholas tampak berpikir keras, seakan-akan mencoba mengingat sesuatu, lalu tiba-tiba tersenyum ketika menemukan jawabannya.

“Aku mengerti!” Nicholas menjentikkan jari memanggil senjata sihir dari cincin penyimpanannya. 

Tiba-tiba sebuah topeng wajah manusia tanpa hiasan dan terlihat tidak spesial muncul di hadapan semua orang. Topeng itu memiliki ekspresi wajah datar, tanpa emosi, dan terlihat seperti topeng pada umumnya.

Nicholas, Dien, maupun pemuda rambut merah dapat mendengar suara topeng itu yang terdengar “Sembah aku! Kagumi aku! Jadikan aku dewa dihatimu!!!”

Dien tertarik, sementara pria rambut merah merasa takut dan terintimidasi. 

“Namanya topeng raja tanpa wajah. Salah satu senjata sihir tipe spesial yang dimiliki pasukan malam. Topeng ini akan membuat wajahmu yang cacat itu menjadi normal, orang-orang yang kagum kepadamu akan semakin kagum dan bahkan menjilati kakimu jika kamu menginginkannya. Terkadang orang-orang yang melihat wajahmu akan berlutut dan memujimu tanpa sebab. Topeng ini bahkan mampu membuat orang yang memusuhimu menjadi pelayanmu hanya dengan beberapa kata atau perbuatan.” Ujar Nicholas menjelaskan topeng raja tanpa wajah kepada Dien. 

“Junior! Kamu bisa memilikinya, namun karena topeng ini termasuk senjata sihir tipe spesial kamu harus berhati-hati.” Ujar Nicholas sedikit memberi peringatan. 

Dien tidak peduli dan langsung mengulurkan tangan meminta topeng tersebut. Topeng putih itu melayang dan mendarat di tangannya. Dien samar-samar mendengar suara yang berbunyi “Sembah aku! Kagumi aku! Jadikan aku dewa dihatimu!!!” semakin jelas dan memiliki perasaan yang mendominasi.

“Kamu yakin memilihnya, Junior?” Tanya Nicholas memastikan.

“Tidak masalah! Memiliki topeng ini, setengah masalahku akan hilang. Aku tidak memiliki waktu untuk khawatir dengan efek sampingnya.” Balas Dien dengan mata berbinar dan sangat senang. 

Dien segera memakai topeng raja tanpa wajah tersebut. Topeng putih itu menyatu dengan wajah Dien, mengubah struktur wajahnya yang berantakan dan tidak selaras, menghilangkan sumbing, dan membuat wajahnya tampan dan begitu mempesona. Orang dapat mengatakan topeng itu membuat Dien memiliki wajah normal tanpa cedera apalagi sebuah kecacatan fisik. 

“SEMBAH AKU! KAGUMI AKU! JADIKAN AKU DEWA DIHATIMU!!!”

Suara samar-samar itu semakin jelas dan jelas hingga hampir membuat Dien kehilangan kendali atas kesadarannya. 

“SEMBAH AKU! KAGUMI AKU! JADIKAN AKU DEWA DIHATIMU!!!”

“SEMBAH AKU! KAGUMI AKU! JADIKAN AKU DEWA DIHATIMU!!!”

“SEMBAH AKU! KAGUMI AKU! JADIKAN AKU DEWA DIHATIMU!!!”

Dien semakin jelas mendengar suara bisikan halus tersebut. Dien merasa sangat risih dan hampir kehilangan kendali, namun Dien tidak mudah menyerah.

“DIAM!” Dengus Dien dingin, menekan bisikan halus itu dengan energi spiritual. 

Suara bisikan samar dan halus topeng itu perlahan-lahan mengecil hingga hampir tidak terdengar lagi, namun terkadang suaranya kencang secara tiba-tiba, membuat gendang telinga Dien sangat kesakitan.

Nicholas melihat Dien dengan penuh kewaspadaan, lalu tersenyum melihat Dien mampu menekan efek samping topeng raja tanpa wajah tersebut. 

“Sebaiknya kamu tidak melepasnya.” Ujar Nicholas memperingati. 

“Kenapa? Apa yang terjadi jika aku melepasnya?” Tanya Dien penasaran dan tertarik mencobanya. 

“Topeng itu sudah menyatu dengan wajahmu! Jika kamu melepasnya, mungkin kulitmu juga akan ikut terlepas.” Balas Nicholas acuh tak acuh, lalu menatap Aamon yang diam menyimak sedari awal. 

“Rambut ayam bagaimana denganmu? Senjata sihir apa yang kamu inginkan?” Tanya Nicholas tampak masih kesal kepada pemuda rambut merah dan sebelah matanya buta tersebut. 

Bersambung. 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!