Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 20. Kita Bercerai!
"Lan, kamu sungguh sudah siap?"
Di perjalanan menuju lokasi yang dikirim oleh Toni, Risma untuk kesekian kalinya memastikan kondisi Wulan. Risma sungguh khawatir dengan apa nantinya yang akan terjadi kepada Wulan jika melihat perselingkuhan Awan benar-benar terbukti dengan mata kepalanya sendiri.
Sembari memangku Bagas, Wulan menatap luar kaca mobil dengan tatapan yang menerawang. Berkali-kali ia menghela napas dalam dan berkali-kali pula ia hembuskan kasar. Terlihat jelas jika dalam jiwa ibu muda itu tengah terjadi sebuah pergolakan batin yang cukup besar.
"Aku sudah siap Ris. Aku rasa semua memang sudah harus berakhir saat ini. Jika aku terus memaksa untuk bertahan, itu sama saja aku menggenggam sebuah pisau yang semakin hari akan semakin melukaiku."
"Kamu sudah memikirkan bagaimana hidupmu dan Bagas ke depannya Lan?" tanya Risma dengan hati-hati. Ia khawatir jika sampai pertanyaannya ini akan menyinggung Wulan.
"Aku sama sekali belum memikirkan bagaimana ke depannya Ris. Tapi aku percaya jika Tuhan tidak akan pernah membiarkanku berjalan sendirian."
"Jika kamu memerlukan bantuan, jangan sungkan untuk datang kepadaku Lan. Aku pasti akan selalu ada untukmu."
Wulan menoleh ke arah Risma. Matanya benar-benar memanas hingga membuat titik-titik bening di sudutnya. Perasaan haru itu begitu membuncah dan membuat titik bening itu terjatuh dari bingkainya.
"Aku tidak tahu bagaimana lagi caranya untuk berterimakasih kepadamu, Ris. Hanya kamu dan Toni yang selalu ada di saat aku tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi cerita dan bersandar."
Bulir bening itu juga turut menetes dari pelupuk mata Risma. Dadanya sedikit sesak jika teringat jalan hidup yang dilewati oleh Wulan. Seorang wanita yang hidup sebatang kara setelah sang nenek meninggal. Sejak bayi, Wulan diasuh oleh sang nenek. Wulan sempat mendengar kabar jika orang tuanya masih hidup namun wanita itu seakan tidak berminat untuk menelusuri asal-usul keluarganya. Yang ia yakini, orang tuanya sudah lama mati karena sampai detik ini mereka tidak pernah datang menemui.
Mobil yang dikemudikan oleh Risma berhenti di depan sebuah gang. Di depan gang nampak Toni sudah menunggu di sana dengan motornya. Wulan dan Risma turun dari mobil dan menghampiri Toni.
"Ton, bagaimana?" tanya Wulan yang sudah sangat tidak sabar mendengar kabar yang akan di sampaikan oleh Toni.
"Kamu masuk gang ini saja Lan. Nanti di ujung gang ada rumah dengan cat warna snow white. Di dalam rumah itulah suamimu dan Mega berada."
Wulan menganggukkan kepala. Ia menyerahkan Bagas kepada Risma. Untuk sejenak ia titipkan sang anak kepada sahabatnya ini.
"Baiklah, aku akan ke sana. Aku titip Bagas sebentar ya Ris."
"Hati-hati Lan."
Wulan melangkahkan kaki meninggalkan Toni dan Risma. Risma menatap punggung Wulan dengan tatapan iba. Ia yakin hari ini adalah hari paling buruk yang pernah ada di dalam kehidupan temannya itu. Sekilas, ia menatap wajah bayi mungil yang tengah tertidur lelap dalam gendongannya. Air matanya kembali jatuh dari pelupuknya.
"Nak, semoga kelak kamu bisa tumbuh menjadi lelaki kuat dan hebat yang bisa melindungi ibumu. Percayalah, ibumu pasti akan mengupayakan semua untuk kebahagiaanmu."
***
Terik sinar matahari yang terasa membakar pori-pori kulit tidak menyurutkan langkah kaki Wulan menyusuri sebuah gang yang ia lewati. Dadanya bergemuruh, layaknya sebuah ombak besar yang bergulung-gulung memecah pantai. Dalam kepalanya dipenuhi oleh kekalutan yang luar biasa. Seketika ingatannya tertuju pada tanda merah di leher sang suami yang kemarin ia lihat dan hari adalah waktu untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi di balik tanda merah itu.
Wulan melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. Ia seperti berpacu dengan waktu untuk dapat segera sampai di tempat yang ia tuju. Sebuah rumah yang menurut berita yang disampaikan oleh Toni adalah tempat memadu kasih antara sang suami dengan bosnya.
Wulan berdiri terpaku di depan sebuah rumah dengan cat warna snow white seperti yang diucapkan oleh Toni. Rumah yang tidak terlalu besar namun terlihat sedikit jauh lebih indah dipandang daripada kontrakan yang ia tinggali. Desain rumah minimalis yang terlihat begitu apik dengan nuansa warna snow white dan abu-abu. Di depan teras terdapat berbagai macam tanaman hias yang tertata apik di dalam pot plastik yang didominasi oleh warna putih. Seolah menjadi tanda jika si pemilik rumah begitu pandai merawat tanaman-tanaman ini.
Wulan melangkahkan kaki menuju pintu depan. Debaran jantungnya masih begitu terasa. Diimbangi dengan rasa sesak yang tertahan dan seperti menjadi pemicu titik-titik bulir bening berkumpul di pelupuk matanya. Namun tangan itu, perlahan terulur untuk menarik tuas pintu yang ada di hadapannya.
Ceklekk...
Pintu yang berada di hadapannya ternyata tidak terkunci. Hal itulah yang membuat Wulan lebih mudah untuk memasuki area dalam rumah. Seperti seorang pencuri, Wulan mengendap-endap mulai menjelajahi seluruh ruangan yang ada. Ia berjinjit, sebisa mungkin ia berusaha agar pergerakan kakinya tidak terdengar. Dadanya masih bergemuruh untuk melihat kenyataan yang mungkin akan meluluhlantakkan hati. Namun wanita itu ingin menyaksikannya secara langsung apa yang sedang dilakukan oleh dua manusia di rumah ini. Meski ia sendiri juga tidak bisa memastikan jika ia akan baik-baik saja saat melihat kenyataan pahit yang ada di depan mata.
Langkah kaki Wulan terhenti di depan sebuah pintu kamar yang tertutup. Telinganya seperti mendengar suara dari dalam sana. Ia menatap daun pintu itu dengan lekat kemudian menggeser wajahnya dan menempelkan telinganya di permukaan pintu.
"Mas... Kamu benar-benar perkasa. Sudah tiga kali aku mencapai pelepasan. Namun sekalipun kamu belum juga sampai. Aku sangat puas Mas."
Awan terus memacu tubuh Mega yang berada di bawah kungkungannya. "Eemmmmphhh .... milik kamu juga benar-benar nikmat Sayang. Aku benar-benar menyukainya. Beda sekali dengan milik Wulan. Eempphhhhh.... Apakah kamu sudah siap meledak untuk ke empat kalinya?"
Mega mengangguk pelan sambil menatap mata Awan dengan tatapan penuh damba. "Lebih cepat Mas... Ayo kita raih sama-sama."
Awan semakin memacu tubuh Mega dengan gerakan cepat. Seolah ingin segera mencapai tujuannya. Lenguhan, erangan dan teriakan-teriakan kecil menggema memenuhi kamar.
"Aaaaarrrgghhhhh Mas.."
"Aaaaarrrgghhhhh Sayang....."
Tubuh Awan dan Mega berguncang hebat disertai dengan lenguhan panjang yang menjadi tanda keduanya sudah sama-sama meraih puncak kenikmatan. Setelah itu keduanya nampak begitu lemas. Posisi Awan masih menindih tubuh Mega sembari ia berikan ciuman-ciuman sensualnya di wajah sang kekasih.
Ceklek...!!!!
Brakkk!!!!!!!
Wulan membuka pintu di depannya dengan paksa. Pintu itu terhempas mengenai sisi tembok kamar sehingga menimbulkan suara gebrakan yang membahana. Sontak suara gebrakan pintu itu membuat dua manusia yang sedang bergumul di atas ranjang mengarahkan pandangan mereka ke arah Wulan.
"Wulan!" pekik Awan yang seketika membuat lelaki itu menggeser tubuhnya. Ia turun dari atas tubuh Mega dan duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang masih polos.
Dua manusia itu terkejut setengah mati, melihat ada seseorang yang berdiri di ambang pintu. Rasa terkejut jauh lebih dirasakan oleh Wulan. Tubuhnya bergetar hebat saat melihat adegan yang tersaji di depan mata. Sebuah adegan menjijikkan yang tidak seharusnya dilakukan oleh pasangan yang bahkan tidak memiliki ikatan apapun.
Dua manusia dengan tubuh polos tanpa adanya sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Dan sepasang manusia yang terlihat seperti kelelahan akan pekerjaan yang baru saja mereka lakukan. Hal itu nampak dari bulir-bulir peluh yang menetes deras lewat pori-pori wajah.
Wulan menatap wajah dua manusia itu dengan tatapan nanar. Gejolak dalam hati yang sempat terhenti, kini seolah dipaksa untuk bergejolak lagi. Air mata yang sedari tadi ia tahan untuk tidak menetes, kini satu per satu mulai jatuh membasahi pipi. Hari ini, rumah tangga yang sudah ia bangun bersama Awan yang berjalan hampir tiga tahun benar-benar runtuh dengan adanya penghianatan yang dilakukan oleh Awan di belakang punggungnya.
"Tunggu surat dari pengadilan datang Mas. Kita bercerai!"
.
.
.
.
.
.