NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:266
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dokumen Merah

Rangga menginjak pedal rem dengan sentakan kuat tepat di depan pagar besi hitam rumah kluster Tasya. Ban mobil berdecit tajam di atas aspal basah, memecah kesunyian kompleks perumahan yang sudah lelap. Belum sempat putaran mesin mobil mati sepenuhnya, Rangga sudah mendorong pintu hingga terbuka dan melangkah lebar menuju teras.

Cinta menyusul dari belakang. Dia terpaksa berjalan setengah berlari, menyeimbangkan tubuhnya di atas sepatu hak tinggi agar tidak tertinggal jauh dari langkah besar Rangga.

Rangga mengepalkan tangan, lalu menggedor pintu kayu jati di hadapannya berulang kali tanpa jeda. "Sya! Tasya! Buka pintunya, Sya! Ini gue, Rangga!"

Suara gedoran itu menggema keras di tengah keheningan malam. Tidak ada jawaban selama hampir satu menit, membuat rahang Rangga semakin mengeras. Dia kembali mengangkat tangan untuk menggedor sebelum akhirnya terdengar suara selot kunci yang diputar dari dalam.

Pintu terbuka sekitar sepuluh sentimeter. Tasya berdiri di ambang pintu, menyipitkan mata menghalau silau lampu teras. Dia hanya mengenakan kaus oblong longgar berwarna abu-abu dengan rambut hitamnya yang dicepol asal-asalan menggunakan ikat rambut kain. Di ruang tamu tepat di belakang tubuhnya, sebuah koper besar bermotif marbel sudah berdiri tegak di samping meja kopi.

Tasya mengernyitkan dahi, menatap wajah Rangga yang tampak tegang, lalu beralih menatap Cinta yang berdiri di belakangnya. "Ngapain lu berdua ke sini jam satu malam? Bukannya subuh nanti lu berdua udah harus *check-in* di bandara?"

"Penerbangan gue ke London batal, Sya," kata Rangga tanpa basa-basi. Dia mendorong pintu lebih lebar, lalu melangkah masuk begitu saja tanpa menunggu dipersilakan.

Tasya terpaksa mundur dua langkah untuk memberi jalan. Dia menutup kembali pintu jatinya, memutar kunci, lalu berbalik sambil bersedekap dada. "Batal gimana maksud lu? Urusan polisi sama Nicholas kan udah beres siang tadi. Berkasnya udah masuk ke tim hukum."

Cinta berjalan mendekati sofa tunggal di sudut ruangan, lalu menjatuhkan dirinya di sana. Wajah cantiknya terlihat sangat lelah setelah ketegangan di restoran tadi. "Ada orang baru dari London, namanya Bruno Max. Dia mengambil alih posisi Rangga malam ini juga atas perintah sepihak dari dewan komisaris."

Tasya tertegun di tempatnya berdiri. Sepasang matanya melebar, menatap Rangga yang kini berjalan mondar-mandir di tengah karpet ruang tamu. "Bruno Max? Siapa dia? Kenapa gue baru denger namanya?"

"Dia *Regional Managing Director* baru untuk Asia Tenggara," sahut Rangga, suaranya berat dan serak karena menahan amarah. "Dia menuduh gue memakai fasilitas dan wewenang diler digital untuk urusan pribadi saat menjebloskan Nicholas ke penjara. Dia memutarbalikkan fakta ke dewan komisaris di London."

"Itu tuduhan ngawur!" suara Tasya meninggi, memecah kesunyian rumahnya sendiri. "Nicholas ditangkap karena murni tindakan kriminal sabotase bisnis diler kita di Pulogadung. Tim hukum kita punya semua bukti fisik dan rekaman CCTV-nya."

"Bruno memakai jalur komite etik darurat di London," Cinta menimpali, suaranya terdengar datar namun tajam. "Dia membuat dewan komisaris mengambil keputusan instan tanpa sidang pleno biasa. Dampaknya, visa kerja internasional Rangga dibekukan dari pusat. Rangga gak bisa keluar dari Indonesia sebelum audit internal selesai."

Tasya tidak langsung menyahut. Dia memandangi koper besarnya di dekat meja, lalu berjalan cepat menuju meja bar yang membatasi ruang tamu dengan dapur bersih. Dia membuka tas jinjingnya, mengeluarkan sebuah laptop premium, lalu menyalakannya dengan terburu-buru. "Tunggu, gue cek akses server lokal diler pusat Jakarta dulu. Skenario kayak gini biasanya gak cuma menyasar personal."

Rangga berhenti berjalan, lalu melangkah mendekati meja bar, berdiri tepat di samping kursi Tasya. Sementara Cinta hanya memperhatikan dari sofa, melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan lurus.

Jari-jari Tasya bergerak cepat di atas *keyboard*. Cahaya biru dari layar laptop memantul di wajahnya yang mendadak berubah sangat serius. Dua menit berlalu tanpa ada yang berbicara di dalam ruangan itu. Hanya ada suara ketukan tombol laptop dan deru napas Rangga yang memburu pendek-pendek.

Tasya tiba-tiba berhenti mengetik. Tangannya membeku di atas *keyboard*, dan warna kulit di wajahnya mendadak berubah pucat saat menatap baris-baris peringatan berwarna merah di layarnya.

Rangga langsung membungkuk, mendekatkan wajahnya ke layar laptop Tasya. "Kenapa, Sya? Apa yang muncul?"

"Gak bisa masuk, Ngga," kata Tasya, suaranya mulai bergetar karena panik. "Hak akses gue sebagai Direktur Operasional Keuangan sudah diputus total dari server pusat London. *Access denied*."

Rangga menyipitkan mata, menatap kode enkripsi yang berkedip di layar. "Diputus gimana? Lu kan pemegang kunci enkripsi lokal untuk seluruh jaringan diler wilayah Jakarta?"

"IP server diler kita malam ini dialihkan ke tim audit eksternal di Singapura," Tasya menjelaskan sambil mencoba memasukkan kode akses cadangan, namun hasilnya tetap sama. "Semua laporan keuangan, data transaksi, dan log aktivitas tiga tahun terakhir sedang diunduh secara massal dari pusat. Bruno sedang mencari celah dari pembukuan lama lu sebelum lu pindah ke London."

Cinta berdiri dari sofanya, lalu berjalan mendekati meja bar, berdiri di sisi lain Tasya. "Sesuai dugaan gue. Itu taktik standar Bruno. Dia mau mencari kesalahan sekecil apa pun, bahkan kalau cuma selisih angka seratus perak di pembukuan masa lalu kamu, Ngga. Dia butuh alasan itu untuk melegitimasi pemecatan kamu secara permanen di depan dewan komisaris."

Tasya mendongak, menatap Rangga dengan tatapan yang dipenuhi rasa cemas yang mendalam. "Gue gak bisa biarkan ini terjadi, Ngga. Ini data jerih payah kita berdua dari zaman bengkel lama masih bau oli. Kalau mereka memanipulasi angka pembukuan tahun pertama diler kita di Jakarta, nama lu benar-benar bakal hitam di seluruh industri otomotif Eropa. Lu gak bakal bisa kerja di diler mana pun lagi seumur hidup."

Rangga terdiam. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di sekitar pelipisnya menonjol. Dia tahu persis Bruno Max bukan tipe orang yang akan bermain adil. Pria itu punya tim pengacara dan akuntan forensik yang bisa mengubah laporan keuangan legal menjadi terlihat seperti dokumen korupsi jika diberi waktu yang cukup.

"Sya, lu masih punya salinan fisik atau *hard disk* eksternal yang belum sempat tersinkronisasi ke server pusat?" tanya Rangga, suaranya mendadak berubah sangat tenang, namun terdengar dingin.

Tasya mengangguk pelan. Dia menurunkan kakinya dari kursi, lalu membungkuk untuk membuka laci paling bawah meja kerjanya yang berada di sudut ruangan. Setelah membuka sebuah kotak besi kecil berkunci kombinasi, Tasya mengeluarkan sebuah *hard disk* eksternal berukuran kecil dengan pelindung karet berwarna merah.

"Semua data murni, sebelum tim audit Bruno masuk dan mengotak-atik sistem malam ini, ada di sini," kata Tasya sambil menyerahkan benda itu kepada Rangga. "Gue selalu buat salinan manual setiap akhir bulan dan gue simpan secara *offline*. Ini pembukuan asli dari hari pertama diler digital kita mencatat transaksi di Jakarta."

Rangga menerima *hard disk* merah itu, merasakannya di dalam genggaman tangannya yang kokoh. "Ini cukup buat membantah semua laporan palsu yang bakal dibuat tim audit Singapura."

Cinta menatap *hard disk* di tangan Rangga, lalu melirik ke arah Tasya. "Masalahnya sekarang adalah logistik. Rangga gak bisa ke London karena visanya dibekukan. Sementara data ini harus diserahkan langsung ke dewan komisaris sebelum Bruno menyelesaikan audit palsunya."

"Gue bisa berangkat ke London besok pagi pakai tiket kalian," kata Tasya tiba-tiba. Dia menunjuk koper besarnya di sudut ruangan. "Koper gue udah siap. Gue tinggal ubah rute penerbangan dari Bali ke London di bandara besok subuh."

Rangga menggeleng tegas. "Gak, Sya. Terlalu berbahaya buat lu. Bruno pasti menempatkan orang untuk mengawasi semua orang terdekat gue di Jakarta. Lu bisa ditahan di imigrasi bandara kalau mereka tahu lu membawa data sensitif perusahaan ke luar negeri."

"Terus siapa yang mau bawa data ini ke London?" tanya Tasya, menatap Rangga dan Cinta bergantian. "Gak mungkin kita kirim lewat *email* atau server *cloud*. Jaringan kita udah gak aman. Bruno pasti menyadap semua lalu lintas data kita."

Cinta menarik napas panjang, lalu mengambil *hard disk* merah itu dari tangan Rangga dengan gerakan yang sangat tenang. Dia memasukkannya ke dalam tas jinjing kulitnya, lalu menutup ritsleting nya dengan bunyi klik yang tegas.

"Gue yang bakal bawa data ini ke London besok pagi," kata Cinta.

Rangga langsung menoleh ke arah Cinta, matanya membelalak. "Cin, lu gila? Bruno pasti memantau pergerakan lu juga di bandara."

"Bruno memantau gue sebagai pacar lu, Rangga," kata Cinta, suaranya terdengar sangat stabil, memancarkan wibawa kasta tingginya yang biasa. "Tapi dia lupa satu hal. Di paspor gue, nama belakang gue adalah Kresna. Pengacara keluarga gue sudah mengonfirmasi kalau Bruno tidak punya hak hukum apa pun untuk menyentuh atau memeriksa barang bawaan pribadi milik putri dari pemilik saham konsorsium utama."

Cinta melangkah mendekati Rangga, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang pria itu. "Kamu harus tetap di Jakarta bersama Tasya. Amankan diler fisik kita di Jakarta Pusat dari tim audit Singapura. Biarkan mereka tahu kalau kamu tidak lari. Sementara di London... biar gue yang menghadapi dewan komisaris dan membuka kedok Bruno Max di depan Lord Harrington."

Rangga menatap Cinta lama, mencari keraguan di wajah gadis itu, namun dia tidak menemukan apa-apa selain ketetapan hati yang kuat. Hubungan mereka yang selama tiga tahun ini diuji oleh jarak dan perbedaan kasta, kini berubah menjadi kerja sama taktis yang solid.

Tasya menghela napas panjang, lalu berjalan mendekati kopernya. Dia menarik tuas koper itu, lalu mendorongnya kembali ke sudut ruangan yang lebih dalam. "Oke. Kelihatannya liburan gue ke Bali bener-bener harus ditunda seminggu. Gue bakal stay di diler Jakarta bareng Rangga buat mengawasi pergerakan tim audit Singapura besok pagi."

Rangga akhirnya mengangguk, lalu menggenggam bahu Cinta dengan erat. "Hati-hati di London, Cin. Begitu lu mendarat di Heathrow, langsung temui Lord Harrington di kediamannya, jangan ke kantor pusat."

"Gue tahu apa yang harus gue lakukan, Ngga," jawab Cinta sambil tersenyum tipis. "Besok pagi, perang kita sama Bruno Max resmi dimulai."

1
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!