Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 22 MENUJU
"Bagaimana apakah Aline sudah setuju menikah denganmu?" tanya Kusuma.
"Sudah Dad." Suara Erlangga tegas
"Kalau begitu tunggu luka-luka kamu sembuh dulu setelah itu kita atur pernikahannya."
"Menunggu luka ini sembuh terlalu lama. Aku sudah memutuskan untuk menikahinya besok." ujar Erlangga tanpa keraguan sedikit pun.
"Kamu yakin masih sanggup berdiri, Daddy tidak akan membuat pernikahan ini sederhana. Sebaliknya Daddy akan mengumumkan pernikahan kalian."
"Aku yakin sanggup, aku tidak mau kalau Aline sampai berubah pikiran jika pernikahan ini tidak segera dilakukan."
Bram yang sedari tadi diam melihat perdebatan adik dan ayahnya sambil mengolesi obat untuk sang adik, tiba-tiba menyela.
"Bilang saja kamu yang sudah tidak tahan." sahut Bram dengan nada menggoda. "Sekarang sudah tau kan bagaimana rasanya."
"Kak! Omonganmu keterlaluan, bisa lebih dijaga tidak."
Bram seakan tidak perduli, ia menekan luka-luka yang sedang ia obati pada tubuh adiknya. Hingga membuat Erlangga mengaduh kesakitan.
"Baiklah jika itu keinginanmu, semuanya Daddy yang akan urus. Sebaiknya sekarang kamu istirahat persiapkan dirimu."
Erlangga mengangguk mantap.
Setelah mengatakan itu Kusuma berlalu meninggalkan kedua putranya yang masih berada di ruang kerjanya.
Setelah kepergian sang ayah keduanya pun beranjak dari sana menuju kamar masing-masing.
Erlangga dengan langkah kaki yang terasa berat seolah setiap tulang-tulangnya ingin terlepas dari tempatnya, mencoba tetap berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Ia mulai menuju kamarnya.
Saat tiba di depan pintu kamar, dengan perlahan Erlangga membuka pintu itu agar tidak mengganggu Aline yang berada di dalam. Seketika tatapannya langsung tertuju pada Aline yang sudah tertidur pulas.
Ia mendekat ke arah Aline sejenak menatap wanita itu yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Setelah puas memandangi wajahnya. Ia melangkah menjauh ia harus segera istirahat untuk menyambut hari esok.
Erlangga mengambil beberapa obat di laci agar tubuhnya tetap vit besok pagi dan tidak terkena demam karena luka-luka itu.
Setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya di sofa, ia tidak berani tidur di samping Aline takut wanita itu merasa tidak nyaman dengan keberadaanya.
Keduanya tertidur di ruangan yang sama. Namun di tempat tidur yang berbeda.
Baru saja Erlangga memejamkan mata, tiba-tiba saja Aline terbangun dan langsung berlari kecil ke kamar mandi.
Huek... Huek... Huek...
Ia kembali memuntahkan isian dalam perutnya.
Erlangga yang mendengar itu langsung terbangung dan langsung menghampiri Aline.
Ia melihat Aline yang sudah pucat pasi, dengan cepat Erlangga membantu wanita itu memegangi rambutnya agar tidak terkena muntahan. Lalu mengusap-usap tengkuk lehernya dengan lembut.
"Masih tidak enak perutnya?" Tanpa menunggu jawaban lebih dulu Erlangga mulai menggendong Aline lalu dengan lembut dan sangat hati-hati ia membaringkan tubuh wanita itu di atas kaur. "Aku buatkan minuman hangat untuk kamu, ya."
Aline hanya mengangguk lemah dengan mata yang mulai sayu.
Erlangga melangkah ke luar dari kamar dan menuju lantai bawah. Setibanya di dapur ternyata ada mbok Inah yang masih terjaga.
"Mbok kenapa belum istirahat?" tanya Erlangga.
"Hehehe, iya Den! Pekerjaan Mbok belum selesai." Mbok Inah sambil tertawa akrab.
"Masih bisa kan dikerjakan besok. Istirahat juga penting Mbok, jangan sampai kelelahan."
"Iya, Den! Terima kasih. Aden sendiri ada apa malam-malam ke dapur, mau Mbok buatkan sesuatu."
"Tidak usah Mbok, saya bisa buat sendiri."
Mbok Inah mengangguk mengerti. Lalu memberi jalan untuk Erlangga saat hendak memasuki are dapur.
Erlangga mulai membuat minuman hangat yang bisa meredakan rasa mual untuk Aline, tidak membutuhkan waktu lama ia sudah selesai dan langsung bergegas menuju kamarnya kembali.
Setibanya di depan pintu ia membukanya perlahan, lalu tatapannya jatuh pasa sosok wanita yang sedang meringkuk dengan selimut yang membungkus tubuhnya.
"Aline..." panggilnya saat sudah di samping wanita itu.
Sejenak Aline mengerjapkan matanya. Ia bergumam pelan, saat melihat Erlangga membawa gelas yang menimbulkan uap tipis. "Kamu buat apa?" tanya Aline suaranya terdengar lirih.
Erlangga menaruh gelas itu di atas nakas lalu membantu Aline agar bersandar pada headboard. Setelah melihat posisinya nyaman ia mengambil minuman itu.
"Aku buatkan teh jahe untuk kamu, supaya mengurangi rasa mual yang kamu rasakan." Erlangga menyerahkan gelas itu kepada Aline.
Aline menerimanya lalu meminumnya sedikit demi sedikit. Setelah merasa lebih baikkan ia kembali merebahkan tubuhnya.
Erlangga yang melihat itu tidak tinggal diam. Ia langsung mengambil minyak angin dari laci.
"Angkat bajunya ke atas." perintahnya.
Kalimat yang terdengar ambigu itu membuat Aline terkejut. Untuk apa ia mengangkat baju. Pikirnya
"Erlangga... aku sedang hamil." Aline menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku tau kamu sedang hamil, memang kenapa?"
"Aa-pa... kamu yakin?" gugup Aline. Ia menggigit bibir bawahnya saat tangan Erlangga mulai menyikap bajunya
"Tentu saja aku yakin." jawab Erlangga santai.
Untuk beberapa menit Aline menunggu sesuatu yang akan terjadi di antara mereka. Namun, yang ia rasakan hanya sesuatu yang hangat di atas perutnya. Ia membuka matanya perlahan seketika pandangannya tertuju pada Erlangga yang sedang memberikan minyak angin dan mengusap perutnya dengan lembut.
Erlangga terkekeh kecil merasa gemas saat melihat sikap Aline, lalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Jangan terlalu banyak berpikir, apalagi sampai memikirkan hal yang aneh. Aku tidak akan sampai setega itu menyentuhmu di saat kondisimu sedang tidak baik-baik saja."
DEGH!
Jantungnya berdebar sangat kencang saat mendengar kalimat pria itu.
"Aline, apa yang barusan kamu pikirkan." bisiknya dalam hati, merutuki pikirannya yang aneh.
"Bagaimana sudah merasa lebih baik?" tanya Erlangga.
"Lu-mayan, tidak seburuk tadi." Aline berusaha menahan rasa malu yang menguasai dirinya. Meskipun raut wajahnya yang memerah tidak bisa ia sembunyikan.
"Kalau begitu sebaiknya kamu istirahat, supaya besok pagi saat resepsi pernikahan kita kamu tidak kelelahan."
Sebelum Aline hendak menjawab, lagi-lagi Erlangga mengucapkan kalimat yang membuat wanita itu tidak berani mengucapkan sepatah kata pun selain mengangguk dengan gerakan pelan.
"Tidak ada yang perlu kita bahas lagi, kamu sudah menyetujuinya dan aku sudah mempersiapkan segalanya, tidak ada waktu untuk kamu menarik kembali ucapanmu, Aline."
Kali ini suara Erlangga terdengar tegas. Namun, tersirat akan ketakutan jika wanita itu berubah pikiran. Maka dari itu ia ingin mempercepat pernikahan nya dan ingin segera mengikat wanita itu untuk tetap berada di sampingnya.
Aline yang melihat keteguhan dari tatapan Erlangga tidak bisa berkata-kata lagi.
"Menikah dengannya, besok pagi... aku rasa seperti mimpi."
Aline menatap pria itu yang sudah tidur di sofa sambil meraba perutnya yang masih datar. Karena kesalahan malam itu kini ia akan menjadi seorang istri dan juga ibu.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣