saat sekolah dulu , Zahra hanya sekedar mengenal nama Rendra saja, tak pernah bertegur sapa sama sekali. setelah lulus, mereka tidak bertemu bertahun tahun , hingga akhirnya di pertemukan kembali.rendra yang mulai duluan menghubungi duluan. padahal awalnya Zahra sama sekali tak memiliki perasaan apapun begitupun rendra.bahkan Zahra ada berniatan menjodohkan Rendra dengan sahabat karibnya yaitu rana. namun anehnya malah zahra yang merasa cemburu melihat kedekatan mereka. padahal tak di sangka, hati rendra tertuju pada Zahra bukan rana. ini lah kisah cinta halal mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septia19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 9.
Hari-hari terus berganti seperti putaran roda yang tak pernah berhenti bergerak. Setiap orang melangkah di jalur hidupnya masing-masing, melewati suka dan duka, serta menghadapi kenyataan yang membentuk kepribadian mereka menjadi lebih dewasa. Sejauh ini, takdir memang masih memisahkan jalan Zahra dan Rendra, meski ikatan tak kasat mata melalui persahabatan Raka mulai menghubungkan kedua dunia itu secara perlahan. Semua masih berjalan sesuai rencana, dan pertemuan yang akan mengubah segalanya memang belum tiba, baru akan terjadi tepat saat Zahra menyandang gelar sarjana nanti.
Di desa tempat Rendra tinggal, kehidupannya kini terlihat semakin mapan di mata warga sekitar. Usaha toko bahan bangunan yang ia bangun dari nol itu kini sudah memiliki banyak pelanggan tetap. Dengan pelayanan yang ramah, harga yang wajar, dan kualitas barang yang terjamin, kepercayaan masyarakat semakin menguat kepadanya. Setiap pagi ia sudah membuka toko sejak matahari baru terbit, dan baru menutupnya saat langit mulai gelap. Keringatnya yang menetes setiap hari perlahan berbuah hasil, membuat kondisi ekonomi keluarganya membaik pesat. Rumah mereka yang dulu sederhana kini sudah direnovasi menjadi lebih layak dan nyaman untuk ditinggali.
Namun di balik kesuksesan yang terlihat itu, hubungan Rendra dengan Putri ternyata tidak seindah yang dibayangkan orang banyak. Semakin lama bersama, semakin terlihat perbedaan pandangan di antara mereka yang seolah sulit untuk disatukan. Bagi Rendra, kesuksesan usaha adalah sarana untuk hidup layak, bukan untuk memamerkan kemewahan atau mengubah jati diri. Ia ingin tetap hidup apa adanya, bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status, dan bekerja dengan cara yang jujur sesuai hati nuraninya. Sedangkan bagi Putri, kemajuan yang diraih itu harus diikuti dengan perubahan gaya hidup dan citra diri agar terlihat setara dengan pencapaian yang ada.
Suatu sore, saat mereka sedang duduk bersama di teras rumah setelah Rendra pulang dari toko, percakapan yang sering berulang kembali terjadi. Putri menatap penampilan kekasihnya dengan pandangan yang tidak puas. Rendra baru saja mencuci muka dan berganti pakaian, namun ia tetap mengenakan kemeja lengan panjang biasa yang agak lusuh dan membiarkan brewoknya tumbuh seperti biasanya tanpa dicukur rapi.
“Rendra, kapan kau mau mengubah penampilanmu? Usahamu sudah berkembang pesat, pendapatanmu juga sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Apakah sulit sekali untuk berpakaian lebih bagus dan merapikan janggutmu itu? Lihatlah pengusaha lain di daerah ini, mereka selalu tampil rapi dan berwibawa. Kalau kau terus begini, orang-orang akan tetap menganggapmu sebagai orang biasa saja, bukan pemilik usaha yang sudah maju,” ujar Putri dengan nada yang mulai terdengar mendesak.
Rendra menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski perasaannya sedikit tersinggung. “Putri, bagiku berpakaian rapi itu baik, tapi itu bukan satu-satunya ukuran kesuksesan. Orang-orang menghargaiku bukan karena pakaian yang aku pakai atau seberapa rapi wajahku terlihat, melainkan karena aku melayani mereka dengan jujur dan adil. Brewok ini tumbuh seiring perjalananku berjuang meraih kehidupan ini. Bagiku itu bukan hal yang buruk, itu bagian dari diriku sendiri. Mengapa harus diubah hanya untuk mengikuti pandangan orang lain?”
Mendengar jawaban itu, raut wajah Putri berubah menjadi kesal. “Kau selalu saja punya alasan. Aku hanya ingin yang terbaik untuk masa depan kita. Kalau kita mau maju dan dihormati oleh lingkungan yang lebih tinggi, kita harus bisa menyesuaikan diri. Kalau kau terus berpikir seperti ini, kita akan selamanya hanya berputar di lingkaran yang sama saja.”
Percakapan itu berakhir dengan keheningan yang canggung. Rendra masuk ke dalam rumah dengan perasaan bimbang dan sedikit kecewa. Ia mulai sadar bahwa meski Putri adalah wanita yang cantik dan berasal dari keluarga baik, pandangan hidup mereka memiliki jarak yang cukup lebar. Ia teringat kembali pada masa lalu, pada wanita-wanita yang dulu mengelilinginya saat ia masih populer, lalu pergi saat kondisinya berubah. Ia berharap Putri berbeda, namun kenyataannya terasa mirip, ia ingin mencintainya, tapi dengan syarat ia harus mengubah sebagian jati dirinya.
Di sisi lain, di kota tempat Zahra tinggal, perjuangannya menuju hari kelulusan juga semakin berat namun semakin dekat. Kini ia sudah memasuki bulan-bulan terakhir penyusunan skripsi. Setiap hari ia menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus, membaca buku-buku referensi, mengumpulkan data, dan menyusun tulisan demi tulisan dengan penuh ketelitian. Matanya sering terasa perih dan badannya lelah, namun semangatnya tak pernah surut. Ia terus mengingatkan dirinya bahwa sebentar lagi, ia akan berhasil melewati semua ini dan menyandang gelar yang ia impikan selama bertahun-tahun.
Raka selalu ada di sisinya sebagai pendukung utama. Ia sering menjemput Zahra, membawakan makanan, dan membantu mencari sumber referensi yang dibutuhkan. Hubungan mereka tetap terjalin hangat, meski kini Zahra melihat sisi lain dari Raka yang sebelumnya tak terlalu ia sadari. Seiring semakin seriusnya hubungan mereka, Raka pun mulai menyampaikan harapan-harapan besarnya untuk masa depan, termasuk soal penampilan dan gaya hidup.
Suatu malam, saat mereka sedang duduk di kafe sederhana dekat kampus, Raka menyampaikan pendapatnya dengan nada lembut namun tegas.
“Zahra, sebentar lagi kau akan menjadi sarjana. Dunia kerja nanti akan sangat berbeda dengan kehidupan di kampus. Di lingkungan tempat aku bekerja, penampilan menjadi hal yang sangat diperhatikan. Ini bukan soal bergaya mewah, tapi soal kesan profesional dan percaya diri. Mungkin setelah lulus nanti, kau bisa mulai belajar merawat diri sedikit lebih baik, mencoba berpakaian yang lebih rapi dan cocok untuk suasana kantor, serta menggunakan riasan tipis agar terlihat lebih segar. Aku yakin dengan parasmu, kalau dirawat dengan baik, penampilanmu akan jauh lebih menarik dan percaya diri.”
Zahra mendengarkan dengan tenang, namun hatinya terasa sedikit tertekan. Ia menunduk memandang tangannya yang sederhana. “Ka, aku mengerti maksudmu. Selama ini aku terbiasa hidup apa adanya. Aku tak pandai berdandan, tak tahu cara merias wajah. Apakah tanpa itu aku tidak bisa dianggap cukup baik?”
Raka segera menggenggam tangan kekasihnya itu. “Bukan begitu maksudku. Aku tetap menyukaimu apa adanya, kesederhanaanmu adalah hal yang membuatku jatuh cinta. Ini hanya persiapan agar kau lebih siap menghadapi lingkungan baru nanti. Lagipula, kita semua pasti berubah dan berkembang seiring berjalannya waktu, bukan?”
Zahra hanya mengangguk pelan, menyimpan perasaan itu di dalam hatinya. Ia merasa bahwa meski dicintai, tetap ada harapan agar ia berubah menjadi sosok yang lebih “layak” sesuai standar lingkungan yang lebih tinggi. Ia mulai memahami bahwa perasaan yang sama juga mungkin dialami oleh orang lain dalam hidupnya.
Kabar tentang kehidupan Rendra sering kali menjadi topik obrolan santai mereka. Raka menceritakan kemajuan usaha sahabatnya itu, sekaligus juga sedikit menceritakan perbedaan pandangan yang mulai muncul antara Rendra dan Putri. Sebagai teman dekat, Raka sudah bisa merasakan bahwa hubungan itu tidak sekuat yang terlihat dari luar.
“Rendra adalah pria yang teguh pada prinsipnya. Ia tidak mau berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk menyenangkan orang lain. Kalau pasangannya tidak bisa menerima itu, lama-kelamaan akan timbul masalah,” ujar Raka suatu hari dengan nada prihatin.
Mendengar itu, hati Zahra terasa berdebar-debar. Ia membayangkan sosok Rendra yang ia kenal dari cerita dan ingatan masa lalu, sosok yang dulu dikelilingi wanita cantik, lalu jatuh, bangkit kembali, dan kini sedang berjuang mempertahankan jati dirinya. Tanpa sadar, ia merasa ada rasa kagum yang tumbuh di hatinya. Ia mulai berpikir, mungkin selama ini yang ia nilai dari seseorang hanya apa yang terlihat di luar saja, padahal kenyataan di dalamnya jauh lebih kompleks.
“Kalau begitu, apa yang akan terjadi pada hubungan mereka?” tanya Zahra dengan rasa ingin tahu yang tulus.
“Entahlah. Itu tergantung kesabaran dan pengertian mereka berdua. Kalau Putri bisa menerima Rendra apa adanya, semuanya akan baik-baik saja. Kalau tidak, mungkin jalan mereka harus berpisah juga,” jawab Raka jujur.
Sementara itu, jarak antara kedua tempat tinggal mereka mulai terasa semakin dekat secara nyata. Raka sudah berencana untuk pulang ke kampung halaman dalam waktu satu atau dua bulan lagi, saat pekerjaannya sedang longgar. Ia ingin menjenguk Rendra, melihat usahanya secara langsung, dan sekadar bernostalgia mengingat masa-masa persahabatan mereka dulu.
“Aku sudah lama tidak bertemu dengannya. Mungkin setelah Zahra menyelesaikan ujian sidangnya nanti, kita bisa pergi bersama. Saat itu Zahra sudah resmi menjadi sarjana, dan momen itu akan menjadi waktu yang tepat untuk berkunjung,” ujar Raka dalam percakapannya sendiri, menyusun rencana yang ternyata akan menjadi awal pertemuan besar nanti.
Di sisi lain, Rendra pun sudah lama menantikan kedatangan sahabat baiknya itu. Ia sering menceritakan pada ibunya bahwa sebentar lagi Raka akan datang berkunjung. Ia juga sudah membayangkan obrolan panjang yang akan mereka lakukan, berbagi cerita tentang apa yang telah mereka alami selama bertahun-tahun terpisah. Ia belum tahu bahwa saat Raka datang nanti, ia akan membawa serta Zahra, gadis pendiam yang dulu tak pernah ia perhatikan, yang kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang akan mengubah pandangannya tentang cinta dan kehidupan.
Begitu juga dengan Zahra. Ia terus berjalan menuju hari kelulusannya, tanpa menyadari bahwa di balik momen bahagia itu tersimpan takdir yang telah menyiapkan jalan untuk mempertemukannya kembali dengan sosok yang pernah menjadi bayangan jauh di masa lalunya. Ia masih mengira bahwa Rendra hanya akan menjadi bagian dari cerita masa lalu yang didengarnya dari mulut Raka saja, bukan seseorang yang akan ia temui secara langsung.
Hari-hari terus berlalu membawa mereka semakin dekat ke titik waktu yang ditentukan. Rendra masih berusaha mempertahankan hubungannya dengan Putri meski ada perbedaan, Zahra terus menyelesaikan lembar terakhir pendidikannya, dan Raka menjadi penghubung yang tanpa sadar sedang mengantarkan mereka semua menuju satu titik temu.
Semua masih terpisah, semua masih berjalan di jalur masing-masing, namun benang-benang kisah itu perlahan mulai ditarik mendekat. Masih ada beberapa bab lagi yang harus dilalui, namun takdir sudah menentukan saat Zahra mengenakan toga dan menerima ijazahnya, saat itulah semua rahasia akan terungkap, dan jalan yang selama ini terpisah akhirnya akan bertemu kembali.