NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14 - Konsekuensi Pertama

Meja makan kayu panjang di ruang tengah kini dipenuhi hidangan yang mengepul hangat.

Makan malam pertama sebagai sebuah keluarga.

Namun, bagi Nami, setiap suapan terasa seperti menelan batu kerikil. Canggung. Asing.

Di ujung meja, Nyonya Sofia duduk di kursi rodanya dengan gurat lelah yang tidak bisa disembunyikan. Tapi senyumnya melebar. Matanya beralih dari Nami ke arah Max, lalu kembali lagi.

"Ibu masih merasa ini seperti mimpi," bisik Sofia, tangannya yang keriput bergerak menyentuh jemari Nami di atas meja.

"Max tidak pernah membawa wanita ke rumah ini. Dan sekarang, dia membawakan Ibu seorang menantu."

Nami memaksakan sebuah senyuman tipis. Sudut matanya melirik ke arah Max yang duduk tepat di sebelahnya. Laki-laki itu sedang memotong daging steaknya dengan gerakan yang sangat tenang. Rapi.

"Nami masih perlu banyak belajar, Ibu," jawab Nami, suaranya agak kaku.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang besar dan hangat mendarat di atas punggung tangan Nami. Menggenggamnya erat. Nami tersentak kecil, kepalanya menoleh cepat ke arah Max.

Laki-laki itu sedang menatap ibunya dengan tatapan yang begitu lembut. Sangat berbeda dengan Max yang Nami kenal sejauh ini. Perubahan ekspresinya begitu mulus. Sempurna.

Max sedang memainkan perannya dengan sangat luar biasa sebagai seorang anak sekaligus suami yang bahagia.

"Dia sudah melakukan yang terbaik, Ibu," sela Max, suaranya terdengar berat namun hangat di telinga. Ia menoleh ke arah Nami, menatapnya lekat-lekat seolah Nami adalah pusat dunianya malam ini.

"Aku tidak butuh istri yang sempurna. Aku hanya butuh Namira."

Desiran aneh kembali menghantam dada Nami. Sialan. Akting laki-laki ini terlalu bagus, sampai-sampai Nami harus mengingatkan dirinya sendiri di dalam hati bahwa semua ini hanya sandiwara yang dibayar mahal.

Nyonya Sofia terkekeh pelan, tampak sangat puas. "Baguslah kalau begitu. Ibu hanya punya satu keinginan lagi sekarang."

Max menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu?"

"Cucu," kata Nyonya Sofia. Tanpa basa-basi. "Ibu ingin menimang anak kalian secepatnya. Sebelum waktu Ibu habis."

Uhuk!

Nami refleks tersedak air liurnya sendiri. Wajahnya mendadak panas. Kata "cucu" itu menghantam kewarasannya telak. Itu bukan sekadar kata biasa, melainkan poin utama dari kontrak satu miliar yang sudah ia tandatangani.

Max tidak terkejut. Ia hanya mengusap punggung Nami dengan gerakan tenang yang menenangkan, lalu kembali menatap ibunya. "Kami akan mengusahakannya secepat mungkin, Ibu. Ibu fokus saja pada pemulihan."

***

Pukul sembilan malam, kondisi Nyonya Sofia mulai menurun karena kelelahan pasca-acara yang menguras energinya. Tim medis pribadi langsung membawa wanita itu kembali ke kamar bawah untuk beristirahat dan memasangkan kembali alat penunjang medisnya.

Suasana rumah utama kembali ke setelan pabrik. Sunyi. Dingin. Mencekam.

Nami melangkah dengan ragu mengikuti pelayan yang mengantarnya ke lantai atas, menuju kamar utama milik Max. Begitu pintu kayu ek yang tebal itu terbuka, Nami menahan napas.

Nami berjalan perlahan, lalu duduk di tepi ranjang. Ia masih mengenakan gaun putihnya. Jari-jarinya bertautan di atas pangkuan, meremas kain gaunnya sendiri demi mengurangi rasa gugup yang kian merayap naik ke dadanya.

Klik.

Bunyi kunci digital dari pintu utama kamar itu memecah kesunyian yang membekukan.

Nami mendongak. Max sudah masuk ke dalam kamar. Pria itu menutup pintu di belakangnya, lalu bersandar sejenak di sana. Sepasang mata elangnya langsung tertuju pada Nami yang duduk tegang di tepi ranjang.

Tatapan hangat ala "suami idaman" saat makan malam tadi sudah menguap tanpa sisa. Berganti dengan tatapan predator yang dingin dan berkuasa.

Max menegakkan tubuhnya. Tangannya bergerak ke atas, menarik ujung dasinya hingga terlepas dan melemparkannya begitu saja ke lantai. Dua kancing teratas kemeja hitamnya dibuka, menampilkan lekuk selangka dan dadanya yang bidang. Pria itu mulai melangkah maju.

Satu langkah. Dua langkah.

Setiap ketukan langkah Max di atas lantai marmer terdengar seperti detak bom waktu di telinga Nami.

Nami refleks memundurkan tubuhnya ke belakang, bergeser di atas ranjang, namun ruang geraknya habis saat ia menyadari Max sudah berdiri tepat di ujung ranjang, mengikis habis seluruh jarak yang tersisa di antara mereka.

Max merangkak naik ke atas ranjang dengan gerakan yang sangat lambat, namun menuntut. Kedua tangan kekarnya bertumpu di atas kasur, tepat di sisi kiri dan kanan paha Nami, mengunci tubuh gadis itu sepenuhnya di bawah kukungan fisiknya yang dominan.

Aroma parfum maskulin yang tajam bercampur aroma maskulinitas murni langsung mengepung indra penciuman Nami. Menyengat. Menyesakkan.

Nami menahan napasnya di dada. Jantungnya bertubrukan liar seolah ingin melompat keluar. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa merasakan embusan napas hangat dan teratur dari Max menerpa permukaan kulit wajah dan lehernya yang terbuka.

Sentuhan intimidasi ini terasa begitu nyata, membakar udara di sekitar mereka hingga terasa panas yang luar biasa.

Max menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke dalam sepasang manik mata Nami yang bergetar hebat penuh ketakutan sekaligus kegugupan.

Sudut bibir Max berkedut tipis, menampilkan seringai samar yang dingin namun mematikan.

"Pernikahannya sudah sah, Dokter Namira," bisik Max, suaranya berubah menjadi sangat rendah, serak, dan bergetar tepat di depan bibir Nami yang sedikit terbuka.

"Kau tahu apa konsekuensi pertama dari kontrak kita, bukan?"

​Nami menelan ludah dengan susah payah. Punggungnya sudah menempel total pada kepala ranjang, sementara seringai Max tepat berada beberapa senti di depan wajahnya.

Otak Nami berputar liar, mencari pasal mana saja yang bisa menyelamatkannya malam ini, sementara jemari tangan Max mulai bergerak menyentuh tengkuk gaunnya.

"Jangan tegang begitu, Namira," bisik Max rendah, seulas senyum tipis yang penuh kuasa terukir di bibirnya.

"Ibuku ingin cucu secepatnya, bukan? Mari kita mulai tugasmu malam ini."

Bersamaan dengan ucapan itu, jemari Max menarik pelan ritsleting di punggung gaun Nami.

Sret.

Jantung Nami seolah berhenti berdetak detik itu juga.

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!