Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan yang Ternyata Tidak Semudah Dugaan
Awalnya, Alya berpikir perjalanan menuju lokasi KKN hanya akan terasa melelahkan karena durasinya yang panjang. Namun ternyata, kenyataan yang ia hadapi jauh lebih buruk dari perkiraannya.
Baru beberapa menit bus mulai berjalan meninggalkan area kampus, hawa panas langsung memenuhi seluruh bagian dalam kendaraan itu.
Udara di dalam bus terasa jauh lebih panas dari yang Alya bayangkan sejak awal keberangkatan.
Hawa gerah meMenuhi hampir seluruh sudut kendaraan itu, membuat suasana di dalam terasa sesak dan perlahan mulai mengganggu kenyamanan.
Ditambah suara mesin bus yang terus berdengung kasar sejak tadi, perjalanan yang baru dimulai itu terasa semakin tidak menyenangkan.
Alya yang duduk di dekat jendela pun langsung mengerutkan kening.
Ekspresi tidak sukanya terlihat begitu jelas, seolah tubuhnya sedang menolak beradaptasi dengan keadaan yang menurutnya sama sekali tidak nyaman itu.
Beberapa kali tangannya mengipasi wajah sendiri, berharap sedikit angin bisa mengurangi rasa panas yang perlahan mulai membuat kepalanya terasa berat.
Berbeda dengan Alya, tiara yang duduk di sampingnya justru terlihat jauh lebih santai menghadapi situasi tersebut.
Gadis itu bahkan masih bisa duduk tenang seolah keadaan panas di dalam bus sama sekali tidak mengganggunya.
“AC-nya rusak katanya. Belum sempat diperbaiki.”
Mendengar itu, Alya langsung memejamkan mata sesaat. Sungguh menyebalkan.
Namun penderitaannya ternyata belum selesai sampai di sana. Tak lama kemudian, sopir bus mulai memutar musik dengan volume cukup keras.
Dentuman lagu dangdut memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan suara mesin bus yang terdengar kasar dan berisik sepanjang perjalanan.
Alya semakin memasang wajah tidak suka.
Yang membuat Alya semakin heran, orang-orang di sekitarnya justru terlihat menikmati perjalanan itu seperti tidak terjadi apa-apa.
Seolah hawa panas di dalam bus, suara mesin yang berisik, bahkan musik dangdut yang sejak tadi diputar terlalu keras bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan.
Bagaimana mereka bisa merasa semua ini normal?
Dua jam perjalanan yang mereka tempuh terasa jauh lebih lama di mata Alya.
Baginya, waktu seolah berjalan lambat, setiap menit terasa sePerti sedang dipaksa berlama-lama berada di situasi yang sama sekali tidak ia nikmati.
Ketika akhirnya bus mulai melambat lalu berhenti total, Alya spontan menegakkan tubuh.
Syukurlah.
Pikirnya, mereka akhirnya sampai.
Namun begitu menoleh ke luar jendela, ia justru melihat sopir bus sedang berbicara dengan dua orang pria paruh baya yang berdiri di pinggir jalan.
Alya mengerutkan dahi.
Tidak lama kemudian, sopir itu kembali naik ke dalam bus. Wajah pria itu terlihat sedikit canggung.
“Adik-adik semuanya, bus nggak bisa lanjut sampai ke Desa Sukamaju.”
Seketika suasana mendadak hening.
“Jalan di depan rusak parah karena hujan beberapa hari terakhir. Bus nggak mungkin bisa lewat.”
“Lah terus kami naik apa ke Desa Sukamaju, Pak?” protes adrian dari kursinya.
Sopir itu menunjuk ke arah luar.
“Kalian ikut sama bapak-bapak itu. Mereka diutus kepala desa buat jemput kalian.”
“Sekarang semuanya turun ya.”
Mau tidak mau, seluruh mahasiswa mulai turun dari bus. Begitu menginjak tanah, Alya langsung menunduk menatap sepatunya.
Begitu turun dari bus, Alya langsung menatap keadaan sekitar dengan wajah kurang suka.
Jalanan di bawah kakinya terlihat sedikit becek akibat hujan, dan tanpa sengaja bagian samping sepatu putihnya terkena lumpur tipis.
Ekspresinya pun langsung berubah kesal.
“Halo semuanya. Saya diutus Pak Kades menjemput kalian di sini.”
“Beberapa hari terakhir hujan terus turun, jadi jalan menuju desa sedikit rusak. Bus kalian kemungkinan besar nggak akan bisa lewat.”
Sebelum yang lain merespons, tiba-tiba Arga melangkah maju.
“Baik, Pak. Terima kasih atas bantuannya.”
Ia berhenti sejenak.
“Maaf merepotkan.”
Alya yang melihat itu hanya mengedip pelan.
Tumben.
Dalam pikirannya, itu mungkin kalimat terpanjang yang pernah ia dengar keluar dari mulut Arga. karna Selama ini setahunya, laki-laki itu kalau berbicara pada orang lain paling hanya dua atau tiga kata.
Tak lama kemudian mereka diarahkan menuju kendaraan berikutnya.
Namun saat pandangannya jatuh pada kendaraan yang terparkir di depan sana, Alya langsung terdiam.
Dua mobil pick up.
Matanya perlahan membesar, seolah sedang memastikan bahwa apa yang dilihatnya saat ini bukan sekadar halusinasi.
Sebagian barang bawaan mereka sudah lebih dulu dinaikkan ke salah satu mobil.
Untungnya ada dua kendaraan.
Satu khusus membawa barang-barang.
Satu lagi untuk mengangkut para mahasiswa.
Sebagian mahasiswa laki-laki naik ke mobil berisi barang. Sisanya masuk ke mobil satunya.
Namun masalah baru kembali datang, Alya menatap bagian belakang pick up itu dengan wajah pucat.
Terlalu tinggi.
Ia mencoba naik.
Gagal.
Mencoba lagi.
Tetap gagal.
Beberapa detik kemudian ekspresinya mulai berubah frustrasi, harga dirinya perlahan runtuh.
Dan tepat ketika Alya hampir ingin menyerah, sebuah tangan tiba-tiba terulur di hadapannya.
Alya mendongak.
Arga berdiri di atas bak mobil, menatapnya dengan ekspresi setenang biasanya.
Di saat Alya masih menatap bak mobil itu dengan wajah bingung, yang sudah duduk di atas perlahan mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu.
Melihat Alya yang sejak tadi belum berhasil naik, ia pun tanpa berkata apa-apa langsung menjulurkan satu tangannya ke bawah.
Ekspresinya tetap datar.
Tenang seperti biasanya.
Alya sempat ragu beberapa detik sebelum akhirnya membalas uluran tangan itu.
Dalam satu gerakan singkat, Arga menariknya ke atas hingga Alya akhirnya berhasil berdiri di bak mobil bersama yang lain.
Dari sudut pandangnya sekarang, Arga menatap Alya beberapa saat.
Entah kenapa.
Dengan wajah bingung dan mata besar seperti tadi…
gadis itu mendadak mengingatkannya pada anak kucing kecil yang kebingungan.
Menggemaskan.
Setelah berhasil naik, Alya segera mencari tempat duduk lalu menempatkan dirinya di salah satu sisi bak mobil bersama yang lain.
Namun saat menoleh ke sampiNg, ia langsung menyadari sesuatu yang membuatnya sedikit terdiam.
Arga ternyata sudah duduk di sebelahnya, Entah kebetulan atau tidak, kini jarak mereka terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
Tak lama setelah semua orang siap, mobil pick up itu kembali melanjutkan perjalanan.
Dan sejak detik itu, Alya mulai sadar bahwa perjalanan kali ini jelas akan jauh berbeda dari bus tadi.
Kali ini perjalanan terasa jauh lebih ekstrem.
Namun baru beberapa meter mobil itu berjalan, Alya langsung merasakan perbedaan yang sangat jauh dibanding perjalanan sebelumnya.
Jalanan yang dipenuhi batu dan lumpur membuat mobil pick up itu terus berguncang cukup keras setiap beberapa detik.
Anehnya, alih-alih panik, anak-anak laki-laki di sana justru langsung tertawa heboh seolah sedang menikmati situasi tersebut.
“ANJIRR!” teriak Adrian sambil tertawa keras.
“Baru mulai doang perjuangan kita udah seekstrem ini!”
Guncangan demi guncangan terus terasa.
Semua orang otomatis berpegangan erat pada sisi besi mobil.
Namun Alya—
Karena tidak terbiasa dengan perjalanan seperti itu, Alya beberapa kali kehilangan keseimbangan setiap mobil melewati jalan yang tidak rata.
Tubuhnya sempat terdorong ke depan, lalu bergeser ke samping saat guncangan berikutnya datang.
Beberapa kali ia hampir kehilangan pegangan.
Dan di tengah keramaian yang sibuk menikmati perjalanan itu, tanpa menarik perhatian siapa pun, perlahan bergerak dari tempatnya.
Dengan tenang, satu tangannya meraih ransel kecil di punggung Alya, menahannya agar gadis itu tidak sampai terlempar ke depan ketika mobil kembali menghantam jalan berlubang.
Sementara tangan satunya bertumpu di sisi besi dekat tubuh Alya.
Diam.
Siaga.
Berjaga-jaga jika sewaktu-waktu tubuh Alya kembali terbanting ke samping agar tidak membentur badan mobil.
Semua itu Arga lakukan dengan wajah setenang biasanya, tanpa mengatakan apa pun dan tanpa menunjukkan ekspresi khusus.
Tidak ada yang menyadari apa yang sedang ia lakukan di tengah perjalanan yang terus berguncang itu.
Baginya mungkin hal itu terlihat sederhana.
Namun tanpa Alya ketahui, sejak beberapa menit terakhir, diam-diam terus memastikan agar gadis di sebelahnya itu tidak sampai terjatuh atau membentur sisi mobil.