Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Rahasia daerah keluarga Narendra (EPILOGI)
Malam itu.
Hujan turun semakin deras.
Petir menyambar langit hitam seolah menjadi pertanda bahwa badai besar kembali datang ke kehidupan keluarga Narendra.
Di ruang perang pribadi mansion Narendra, Arkan, Rio, Pak Narendra, dan beberapa anggota tim keamanan duduk mengelilingi meja besar.
Di layar monitor terpampang video penculikan Kiara.
Suasana begitu tegang.
Tidak ada yang berani berbicara.
Sampai akhirnya Pak Narendra memecah keheningan.
"Aku harus mengatakan sesuatu."
Arkan mengangkat kepala.
Wajah ayahnya terlihat berbeda.
Pucat.
Tegang.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arkan melihat ketakutan di mata pria yang selalu tampak kuat itu.
"Ayah tahu tentang Wings of Hades?"
tanya Arkan.
Pak Narendra menutup matanya sesaat.
Lalu mengangguk.
"Ya."
Ruangan langsung hening.
Rio bahkan terlihat terkejut.
"Kenapa selama ini Anda tidak pernah mengatakan apa pun?"
Pak Narendra menarik napas panjang.
Karena rahasia yang akan ia ungkap malam itu adalah rahasia yang telah ia kubur selama hampir tiga puluh tahun.
Tiga puluh tahun lalu...
Sebelum Narendra Cosmetics berdiri.
Sebelum keluarga Narendra menjadi salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini.
Pak Narendra hanyalah seorang pemuda miskin yang memiliki mimpi besar.
Saat itu ia memiliki dua sahabat dekat.
Sahabat pertama bernama Surya Mahardika.
Sahabat kedua bernama Aditya Pranegara.
Mereka bertiga membangun bisnis kecil bersama.
Berjuang dari nol.
Makan bersama.
Bermimpi bersama.
Bahkan berjanji akan sukses bersama.
Namun semuanya berubah ketika mereka menemukan sesuatu.
Sebuah jaringan perdagangan gelap internasional.
Organisasi yang saat itu dikenal sebagai Wings of Hades.
Alih-alih menjauh...
Aditya justru tergoda.
Uang.
Kekuasaan.
Pengaruh.
Semua itu membuatnya berubah.
Sedangkan Pak Narendra dan Surya menolak bergabung.
Mereka memilih keluar.
Dan sejak hari itu...
Persahabatan mereka berakhir.
"Aditya bersumpah akan menghancurkan kami suatu hari nanti."
Pak Narendra menatap Arkan.
"Aku pikir semua itu sudah berakhir."
Rio langsung berdiri.
"Tapi ternyata dia masih hidup."
Pak Narendra mengangguk pelan.
"Dan sekarang dia kembali."
BRAKKK!
Arkan menghantam meja.
"Karena dendam tiga puluh tahun lalu, dia menculik istriku?!"
Pak Narendra tidak bisa menjawab.
Karena kenyataannya memang demikian.
Kiara dan bayi yang dikandungnya hanyalah korban dari kebencian lama.
Namun Rio tampak berpikir keras.
Ada sesuatu yang masih mengganjal.
"Saya rasa bukan hanya itu."
Semua orang menoleh.
Rio membuka sebuah dokumen rahasia.
Lalu menampilkan foto lama di layar.
Foto tiga pria muda.
Pak Narendra.
Surya Mahardika.
Dan Aditya Pranegara.
Namun ada satu orang lagi dalam foto itu.
Seorang wanita muda.
Cantik.
Tersenyum cerah.
Pak Narendra langsung membeku.
Arkan menyipitkan mata.
"Siapa dia?"
Rio terlihat ragu.
Namun akhirnya menjawab.
"Namanya Alya."
Ruangan kembali sunyi.
Pak Narendra perlahan menundukkan kepala.
Seolah dihantam kenangan lama.
"Alya adalah wanita yang kami cintai."
Arkan terdiam.
"Maksud Ayah?"
Pak Narendra menatap foto itu.
"Baik aku, Surya, maupun Aditya... kami mencintai wanita yang sama."
Rio langsung memahami semuanya.
Dan itu membuat situasi menjadi jauh lebih rumit.
"Alya memilih Ayah."
Pak Narendra mengangguk.
"Ya."
Arkan mulai memahami arah cerita ini.
"Jadi dendam itu bukan hanya soal bisnis."
Pak Narendra tersenyum pahit.
"Tidak."
"Dendam itu juga soal cinta."
Sementara itu...
Di markas Wings of Hades.
Kiara akhirnya sadar sepenuhnya.
Tangannya masih terikat.
Namun kondisi tubuhnya baik-baik saja.
Mereka tampaknya memang tidak berniat menyakitinya.
Setidaknya untuk sekarang.
Pintu besi perlahan terbuka.
Seorang pria tua masuk ke dalam ruangan.
Rambut putih.
Tatapan tajam.
Dan aura yang mengerikan.
Kiara langsung mengenalinya.
"Kau..."
Pria itu tersenyum.
"Aditya Pranegara."
Jantung Kiara langsung berdegup keras.
Nama itu pernah disebut Rio.
Orang yang menjadi dalang semua ini.
"Apa yang kau inginkan?"
Aditya duduk di kursi di hadapannya.
Lama sekali ia memperhatikan wajah Kiara.
Lalu tersenyum tipis.
"Menarik."
"Apa?"
"Kau sangat mirip seseorang."
Kiara mengernyit.
Namun sebelum sempat bertanya...
Aditya mengeluarkan sebuah foto tua.
Dan saat melihatnya...
Darah Kiara seolah membeku.
Karena wanita dalam foto itu...
Sangat mirip dirinya.
Hampir identik.
"Siapa dia?"
Suara Kiara bergetar.
Aditya tersenyum.
Senyum yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Namanya Alya."
Kiara membelalak.
"Itu tidak mungkin..."
Aditya berdiri perlahan.
Lalu mengucapkan kalimat yang menghancurkan dunia Kiara.
"Karena Alya adalah ibumu."
DEG!
Napas Kiara langsung tercekat.
Selama ini ia tumbuh sebagai anak yatim yang tidak pernah mengetahui identitas orang tuanya.
Ia bahkan tidak memiliki satu pun foto keluarga.
Dan sekarang...
Orang yang paling dibenci keluarga Narendra baru saja mengatakan bahwa ia mengenal ibunya.
Air mata mulai memenuhi mata Kiara.
"Jangan bohong..."
Aditya mendekat.
Tatapannya dingin.
"Aku tidak pernah bercanda soal Alya."
"Kau bohong!"
"Kalau begitu tanyakan pada Pak Narendra."
Kiara terdiam.
Tubuhnya gemetar.
Karena jauh di dalam hatinya...
Ia merasa pria tua itu tidak sedang berbohong.
Kembali ke mansion Narendra.
Semua orang masih membahas cara menyelamatkan Kiara.
Sampai tiba-tiba...
Ponsel Rio berbunyi.
Pesan masuk.
Nomor anonim.
Rio membukanya.
Dan wajahnya langsung berubah pucat.
"Ada apa?"
tanya Arkan.
Rio menunjukkan layar ponselnya.
Terdapat sebuah foto.
Foto Kiara.
Masih hidup.
Namun yang membuat semua orang terkejut adalah tulisan di bawahnya.
"Tanyakan kepada Narendra siapa sebenarnya ibu Kiara."
Arkan perlahan menoleh ke arah ayahnya.
Pak Narendra membeku.
Wajahnya kehilangan warna.
Seolah rahasia yang selama puluhan tahun ia sembunyikan akhirnya mulai terbongkar.
Dan untuk pertama kalinya...
Arkan melihat ayahnya menangis.
"Ayah..."
Pak Narendra menutup wajahnya.
Suaranya bergetar.
"Aku minta maaf..."
Jantung Arkan berdegup keras.
Karena ia tahu.
Rahasia terbesar keluarga mereka baru saja dimulai.