Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Berakhir
“Hoho, sepertinya mereka sudah salah menyerang.”
Lyrielle berdiri di atas tembok kastel sambil menyilangkan kedua tangannya.
Tatapan merahnya mengarah ke medan perang yang sudah dipenuhi para vampir musuh yang terkapar.
“Mereka tidak tahu ya,” lanjutnya dengan nada mengejek. “Bahwa orang-orang bawahan Yang Mulia sangat kuat.”
Senyum sombong langsung terlihat di wajahnya. Di sampingnya, Selena hanya menghela napas panjang.
“Kau mulai lagi…”
“Memangnya aku salah?” balas Lyrielle cepat.
Lalu jarinya menunjuk ke arah medan perang.
Di sana.
Portal Penghisap Udara milik Kaizer masih berputar di langit. Ratusan vampir musuh bahkan kesulitan berdiri karena tekanan angin yang luar biasa.
Sementara perisai kastel milik Ciel masih berdiri kokoh tanpa satu retakan pun.
Di sisi lain.
Ribuan tombak bayangan milik Raven terus menghujani musuh tanpa henti.
Dan Lucthen.
Pria itu bahkan berdiri diam di tengah medan perang. Namun setiap kali lingkaran sihirnya menyala. Puluhan musuh langsung tumbang sekaligus.
“Lihat itu,” gumam Lyrielle bangga.
“Bahkan Yang Mulia belum turun tangan.”
Deg.
Selena langsung menyadari sesuatu.
Dan ternyata benar.
Selama perang berlangsung. Evander sama sekali belum muncul.
Karena saat ini Raja Vampir masih berada di sisi Evelyn. Melindungi gadis itu yang belum sadarkan diri.
Brakkk!!
Ledakan lain terdengar dari medan perang.
Namun kali ini.
Ledakan itu berasal dari pihak musuh.
Karena pertahanan Nocturne terlalu kuat untuk ditembus.
“Aku menyerah!” teriak salah satu pemimpin klan vampir musuh.
“Kita mundur!”
“Mundur!”
“Mundur sekarang!”
Dalam hitungan menit.
Pasukan vampir yang sebelumnya datang dengan percaya diri mulai melarikan diri dari wilayah Nocturne.
Wajah mereka dipenuhi ketakutan.
Karena mereka akhirnya sadar. Mereka bahkan tidak mampu melewati para bawahan Raja Vampir.
Apalagi menghadapi Raja Vampir itu sendiri.
Lucien yang berdiri di atas menara langsung menyeringai puas.
“Cih.”
Tatapan merahnya mengarah ke arah pasukan yang kabur.
“Mereka datang membawa perang.”
“Tapi pulang membawa trauma.”
Raven langsung mendecakkan lidah.
“Sampah.”
“Setidaknya mereka tahu diri,” sahut Kaizer tenang.
Sementara itu.
Lyrielle tersenyum lebar. Lalu dengan bangga menunjuk dirinya sendiri.
“Dan jangan lupakan siapa yang berhasil menangkap dua pengkhianat keluarga Nocturne.”
“Tidak ada yang melupakan itu,” sahut Selena.
“Tapi kau sudah mengatakannya tujuh kali.”
“Karena itu prestasi besar.”
Selena langsung memijat pelipisnya.
Sementara di belakang mereka.
Matahari mulai muncul perlahan di ufuk timur.
Menandakan malam panjang itu akhirnya berakhir.
Dan untuk sementara.
Perang yang dilihat Evelyn dalam penglihatannya telah berhasil dihentikan sebelum menjadi lebih besar.
Namun jauh di dalam hati Lucien.
Dia tahu.
Ini belum berakhir. Karena masih ada banyak klan vampir yang menginginkan darah calon Ratu Nocturne.
**
Valerius perlahan menarik tangannya dari dahi Evelyn. Tatapannya terlihat jauh lebih serius dibanding biasanya.
Sementara Evander berdiri di samping ranjang tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari gadis yang masih tertidur itu.
“Bagaimana, Ayah?” tanya Evander.
Valerius menghela napas pelan.
“Tidak ada tanda-tanda dia berubah menjadi vampir.”
Deg.
Mata merah Evander sedikit menyipit.
“Dia masih tetap manusia,” lanjut Valerius.
Ruangan itu langsung menjadi sunyi.
Karena itu seharusnya menjadi kabar baik.
Namun Evelyn tetap belum sadar.
“Lalu kenapa dia juga belum sadar?” tanya Evander lagi.
Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pucat Evelyn.
“Hari pun sudah berganti pagi.”
Sinar matahari sudah mulai memasuki kamar melalui jendela besar kastel.
Namun Evelyn masih belum membuka matanya. Valerius kembali menatap mata kiri Evelyn yang kini tertutup.
Lalu perlahan
“Aku rasa ini bukan karena darah Raja Vampir.”
Deg.
Evander langsung menoleh.
“Maksudmu?”
Valerius menyilangkan kedua tangannya.
“Tubuhnya baik-baik saja.”
“Jiwanya juga tidak terluka.”
“Lalu?”
Tatapan Valerius berubah serius.
“Pikirannya.”
Sunyi.
“Evelyn menggunakan kemampuan yang bahkan tidak bisa digunakan oleh sebagian besar keluarga utama Nocturne.”
Deg.
Mata Evander langsung berubah gelap.
“Penglihatan darah,” lanjut Valerius. “Dan dia menggunakannya berulang kali dalam waktu yang sangat singkat.”
“Padahal dia manusia.”
Ruangan kembali sunyi. Valerius menatap Evelyn cukup lama.
“Tubuh manusia tidak diciptakan untuk melihat masa depan.”
Deg.
Jantung Evander langsung terasa berat.
“Jadi dia sedang apa sekarang?” tanyanya pelan.
Valerius perlahan menutup matanya sejenak.
“Mungkin…”
Tatapannya kembali mengarah pada Evelyn.
“…dia masih terjebak di dalam penglihatannya sendiri.”
Seketika aura di sekitar Evander berubah dingin. Karena itu berarti. Tidak ada yang tahu kapan Evelyn akan bangun.
Atau bahkan. Apa yang sedang dia lihat saat ini.
Namun tiba-tiba.
Jari Evelyn bergerak sedikit.
Deg.
Baik Evander maupun Valerius langsung menoleh ke arah ranjang.
Dan untuk pertama kalinya sejak malam itu Tubuh Evelyn menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.
Tiba-tiba.
Brakkk!!!
Pintu kamar langsung terbuka dengan keras.
“Bagaimana keadaan Yang Mulia Ratu?!” tanya Lyrielle panik sambil masuk begitu saja ke dalam kamar.
Deg.
Seluruh ruangan langsung terdiam.
Valerius perlahan menoleh.
Sementara Evander hanya menatap Lyrielle dengan wajah datar. Lyrielle yang baru menyadari suasana kamar itu langsung membeku.
“Eh…”
Tatapannya bergantian mengarah pada Evander dan Valerius. Lalu perlahan dia tersenyum canggung.
“Selamat pagi?”
Sunyi.
Sangat sunyi.
Sampai akhirnya.
“Keluar.”
Suara Evander terdengar dingin.
“Aduh.”
Lyrielle langsung menutup mulutnya sendiri.
“Aku lupa mengetuk pintu.”
Lalu beberapa detik kemudian.
Brakkk!!!
Pintu kembali terbuka. Kali ini Selena muncul sambil memegang kepala Lyrielle.
“Aku sudah bilang jangan masuk begitu saja.”
“Auww!”
Lyrielle meringis sambil memegang kepalanya.
“Aku hanya khawatir dengan Ratu.”
Selena langsung membungkuk hormat kepada Valerius dan Evander.
“Maafkan kami.”
Namun sebelum Evander sempat menjawab.
Deg.
Semua orang tiba-tiba merasakan sesuatu.
Jari Evelyn bergerak lagi. Kali ini jauh lebih jelas.
“Yang Mulia Ratu?” gumam Lyrielle.
Mata semua orang langsung tertuju ke arah ranjang.
Bulu mata Evelyn bergetar pelan. Lalu perlahan. Matanya mulai terbuka.
“Evelyn.”
Suara Evander langsung terdengar di sampingnya.
Pandangan Evelyn masih sedikit buram.
Namun perlahan dia mengenali wajah-wajah di sekitarnya.
“Evander…”
Suaranya terdengar lemah. Seketika Lyrielle langsung hampir menangis lega.
“Syukurlah!”
“Jangan berteriak,” tegur Selena cepat.
Namun Evelyn justru terlihat bingung. Tatapannya perlahan beralih ke arah jendela.
“Sudah pagi?”
“Iya,” jawab Evander.
Evelyn terdiam beberapa detik. Lalu perlahan wajahnya berubah. Seolah baru mengingat sesuatu.
“Eh!”
Tubuhnya langsung berusaha bangun.
“Aku ingat!”
Deg.
Tatapan Evander langsung serius.
“Mengingat apa?”
Napas Evelyn sedikit memburu.
“Pria bertopeng itu…”
“Dia bukan pemimpin mereka.”
Seketika suasana kamar kembali menegang.
Karena rupanya. Penglihatan Evelyn belum selesai.
“Ah tenang saja,” ucap Lyrielle tiba-tiba dengan wajah bangga. “Kami sudah menangkapnya kok.”
Seketika.
Evelyn, Evander, dan Valerius langsung menoleh ke arah Lyrielle dan Selena.
“Menangkapnya?” ulang Evelyn bingung.
Lyrielle langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat.
“Iya!”
“Aku dan Selena menangkap pria bertopeng itu.”
“Dan Seraphina juga.”
Deg.
Mata Evelyn langsung membesar.
“Benarkah?”
“Tentu saja!” jawab Lyrielle bangga. “Bahkan topengnya sampai hancur karena pukulanku.”
Selena yang berdiri di sampingnya langsung memijat pelipis.
“Bagian terakhir itu tidak perlu dibanggakan.”
“Tapi itu fakta.”
Sementara itu
Tatapan Evander berubah sedikit serius.
“Kalian menangkap mereka hidup-hidup?”
“Iya,” jawab Selena kali ini. “Mereka sudah dikurung di penjara bawah tanah kastel.”
Valerius menyipitkan matanya.
“Dan siapa pria bertopeng itu?”
Deg.
Ekspresi Lyrielle langsung berubah. Rasa bangga di wajahnya perlahan menghilang.
“Lord Darien Voss.”
Sunyi.
Ruangan langsung terasa dingin. Bahkan Evelyn yang tidak terlalu mengenalnya bisa melihat perubahan ekspresi Valerius.
“Jadi benar dia…” gumam Valerius pelan.
Tatapan mantan Raja Vampir itu berubah tajam.
“Pengkhianat tua itu.”
Sementara Evander terlihat jauh lebih tenang.
Dan justru itulah yang membuat semua orang sedikit takut. Karena semakin tenang Evander. Biasanya semakin marah dia.
Namun saat itulah.
Evelyn tiba-tiba menggeleng cepat.
“Bukan.”
Deg.
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
“Apa maksudmu?” tanya Evander.
Napas Evelyn perlahan memburu.
“Pria bertopeng itu memang salah satu dari mereka.”
“Tapi…”
Tatapannya perlahan berubah serius.
“Dia bukan pemimpinnya.”
Seketika suasana kamar kembali membeku.
Valerius langsung menyipitkan matanya.
“Lalu siapa?”
Evelyn terdiam beberapa detik. Mengingat kembali potongan-potongan penglihatan yang muncul sebelum dirinya pingsan.
“Aku tidak bisa melihat wajahnya.”
“Tapi…”
Mata kirinya perlahan terasa sedikit panas lagi.
Membuat Evander langsung menggenggam tangannya.
“Jangan memaksakan dirimu.”
Evelyn mengangguk pelan. Namun dia tetap melanjutkan.
“Aku hanya ingat satu hal.”
“Apa itu?” tanya Selena.
Tatapan Evelyn perlahan berubah.
“Orang itu…”
“…berada sangat dekat dengan keluarga Nocturne.”
Deg.
Seketika.
Wajah Lyrielle dan Selena langsung berubah.
Karena jika penglihatan Evelyn benar.
Artinya.
Masih ada satu pengkhianat lagi yang belum tertangkap.
“Dia benar-benar dekat dengan keluarga Nocturne...” ucap Evelyn pelan.
Suasana kamar langsung berubah sunyi.
Tatapan semua orang tertuju kepadanya.
Terutama Valerius.
“Lanjutkan,” ucap mantan Raja Vampir itu dengan serius.
Evelyn menganggukkan kepalanya pelan.
“Aku tidak bisa melihat wajahnya.”
“Namun aku bisa merasakan sesuatu.”
Tatapannya perlahan mengarah kepada Valerius.
“Dia sangat dekat dengan keluarga Nocturne.”
Deg.
Mata Selena dan Lyrielle langsung membesar.
Sementara Evander hanya diam mendengarkan.
“Terutama...” lanjut Evelyn pelan.
Suasana kamar semakin menegang.
“Terutama dengan Mantan Raja Vampir.”
Deg!
Tatapan Valerius langsung berubah tajam.
Sementara Lyrielle dan Selena saling berpandangan.
“Maksudmu Ayah Yang Mulia mengenalnya?” tanya Selena.
Evelyn menggeleng pelan.
“Bukan hanya mengenalnya.”
“Orang itu sangat dekat dengannya.”
Sunyi.
Lalu Evelyn kembali mengingat potongan penglihatannya.
“Dan orang yang kalian tangkap kemarin...”
Tatapannya berubah serius.
“Lord Darien Voss hanya pengalih perhatian saja.”
Brak!
Tangan Valerius langsung mencengkeram sandaran kursi di samping ranjang hingga retak.
“Pengalih perhatian...” gumamnya dingin.
Evelyn mengangguk.
“Iya.”
“Dia sengaja dibiarkan terlihat agar semua orang fokus kepadanya.”
“Sedangkan orang yang sebenarnya tetap bersembunyi.”
Deg.
Ekspresi Evander perlahan berubah semakin dingin.
Karena jika itu benar. Maka musuh mereka jauh lebih pintar daripada yang mereka kira.
“Kenapa mereka melakukan semua ini?” tanya Lyrielle.
Evelyn langsung terdiam beberapa detik.
Potongan-potongan suara yang dia dengar kembali terngiang di kepalanya. Lalu perlahan ia menjawab,
“Karena mereka tidak setuju atas pengakuan kemarin.”
Sunyi.
Tidak ada seorang pun yang berbicara.
“Pengakuan Ratu...” gumam Selena.
Evelyn mengangguk lemah.
“Mereka menganggap manusia tidak pantas menjadi Ratu Nocturne.”
“Dan mereka percaya...” lanjutnya pelan.
“Jika pernikahan itu terjadi.”
“Maka keluarga Nocturne akan melemah.”
Brakkk!!
Aura membunuh Evander langsung memenuhi seluruh kamar. Jendela bahkan bergetar akibat tekanan kekuatannya.
“Bodoh.”
Suara Raja Vampir itu terdengar sangat dingin.
“Mereka menilai kekuatanku hanya karena aku memilih seorang Ratu.”
Valerius perlahan berdiri.
Tatapannya terlihat jauh lebih gelap sekarang.
Karena jika Evelyn benar.
Maka pengkhianat yang sebenarnya masih berada di dalam lingkaran keluarga Nocturne.
Dan orang itu. Mungkin masih berjalan bebas di dalam kastel saat ini.
Namun di tengah suasana tegang itu,
Lyrielle tiba-tiba membeku.
Tatapannya tidak lagi mengarah kepada Valerius atau Evander. Melainkan kepada Evelyn.
“Sebentar...” gumam Lyrielle pelan.
Selena yang berdiri di sampingnya ikut menyipitkan matanya.
Lalu matanya langsung membesar.
“Matanya Yang Mulia Ratu”
Deg.
Seketika seluruh ruangan langsung menoleh ke arah Evelyn.
“Hah?” Evelyn terlihat bingung.
Namun saat melihat ekspresi semua orang—
Jantungnya langsung berdegup tidak tenang.
“Apa?”
Tatapan Evander langsung berubah serius.
Karena sekarang. Mata kiri Evelyn masih berwarna merah terang seperti sebelumnya.
Namun mata kanannya.
Perlahan berubah menjadi hitam kemerahan.
Seolah ada kabut hitam yang bergerak di dalam pupil matanya.
Deg.
Valerius langsung berdiri dari kursinya.
Ekspresinya berubah untuk pertama kalinya sejak lama.
Terkejut.
“Itu tidak mungkin...” gumamnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Evelyn mulai panik.
Namun tidak ada yang langsung menjawab.
Karena mereka semua sedang melihat sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Mata merah di kiri.
Mata hitam kemerahan di kanan. Dua warna yang bertolak belakang. Dan aura yang keluar dari keduanya juga berbeda.
Mata kiri memancarkan aura Raja Vampir.
Sedangkan mata kanan. Memancarkan aura gelap yang asing.
“Ayah,” ucap Evander tanpa mengalihkan pandangannya dari Evelyn. “Apakah kau tahu apa ini?”
Valerius terdiam cukup lama. Lalu perlahan ia menggeleng.
“Tidak.”
Deg.
Lyrielle dan Selena langsung menegang.
Karena jika bahkan Valerius tidak mengenalinya.
Maka ini bukan kemampuan biasa. Sementara Evelyn mulai merasakan sesuatu yang aneh.
Matanya kembali terasa panas.
“Akh...”
Tangannya langsung memegang mata kanannya.
Dan saat itu juga.
Brummm!!
Aura hitam kemerahan tiba-tiba menyebar ke seluruh kamar.
Membuat tirai jendela berkibar keras.
“Yang Mulia Ratu!” seru Selena panik.
Namun detik berikutnya.
Mata kanan Evelyn tiba-tiba memantulkan bayangan seseorang.
Sosok pria tua.
Duduk di sebuah kursi. Dengan jubah bangsawan Nocturne.
Dan suara dingin keluar dari mulut Evelyn tanpa sadar.
“Kalian masih belum menemukanku”
Deg!
Seluruh ruangan langsung membeku. Karena suara itu. Bukan suara Evelyn.