Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Mereka kembali melangkah, meninggalkan tumpukan bangkai makhluk yang baru saja dikalahkan. Semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, semakin lebat pepohonan di sekitar, dan semakin pekat udara yang mereka hirup. Anehnya, meski mereka sudah berhasil menembus rintangan demi rintangan, perasaan tidak nyaman justru semakin menggerogoti hati masing-masing. Apa yang tidak mereka sadari adalah, setiap langkah maju yang mereka ambil, justru membawa mereka semakin dekat ke sesuatu yang seharusnya tidak pernah disentuh siapa pun—sesuatu yang dilarang untuk didekati sebelum waktunya tiba.
Hingga akhirnya, pepohonan raksasa itu menipis dan membuka jalan ke sebuah dataran cekung yang luas dan suram. Di tengah dataran itu, terlihat jelas sebuah altar batu raksasa yang berukiran simbol-simbol aneh dan mengerikan. Di belakang altar itu, mulut sebuah gua besar menganga gelap, seolah menjadi gerbang menuju jurang neraka. Dinding-dinding gua itu berdenyut pelan, dan yang lebih mengerikan lagi... terlihat aliran-aliran kabut berwarna merah tua dan hitam pekat yang terus bergerak masuk ke dalam lubang gelap itu.
Itu adalah energi. Energi kehidupan yang dihisap paksa dari manusia-manusia desa yang telah menderita, serta sisa-sisa energi gelap yang kental dari para monster yang telah mereka bunuh sepanjang perjalanan. Semua tenaga, kebencian, dan darah itu seolah ditarik oleh gaya tarik tak terlihat, mengalir masuk tanpa henti ke dalam gua terkunci itu, menjadi bahan bakar bagi sesuatu yang bersemayam di dalam sana.
"Ini..." gumam xioyan, tubuh kokohnya yang biasanya tenang kini sedikit menegang. Ia bisa merasakan betapa kotor dan beratnya energi yang melayang di udara ini.
Mereka melangkah perlahan mendekat, rasa penasaran dan kewajiban sebagai pelindung desa membuat mereka maju terus. Namun, saat jarak mereka tinggal beberapa meter saja dari mulut gua itu, tiba-tiba tekanan udara berubah drastis.
DUNG... DUNG... DUNG...
Denyutan energi yang kuat mulai terasa, seolah ada jantung raksasa yang berdetak di dalam tanah. Tekanan itu begitu dahsyat hingga membuat setiap helaan napas menjadi berat. Tubuh mereka terasa dipijat oleh beban yang tak terlihat, menekan dari segala arah hingga tulang-tulang terasa ingin patah. Keringat dingin seketika membanjiri seluruh tubuh Fredrin, Carl, Ji-na, dan Floyen. Bahkan xioyan, yang dikenal sebagai benteng terkuat dan memiliki ketahanan fisik luar biasa, sampai harus berlutut sedikit, menopang tubuhnya dengan tameng besarnya agar tidak ambruk jatuh.
Namun, yang paling mencolok adalah Wu-Yuan. Sebagai pemimpin, senior, dan orang yang memiliki pengalaman serta wawasan paling luas di antara mereka, ia telah menghadapi banyak makhluk kuat dan tempat-tempat berbahaya. Tapi saat ini... sekujur tubuhnya yang biasanya tenang dan dingin, tiba-tiba merinding dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bulu kuduknya berdiri tegak, dan rasa takut yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun ini kembali menghampirinya. Wajahnya yang tenang kini pucat pasi, matanya terbelalak menatap kegelapan gua itu dengan rasa tidak percaya. Tekanan ini... bukanlah kekuatan yang bisa ditangani oleh sekelompok penyihir dan ksatria muda seperti mereka.
Berbeda dengan yang lain, Lisa tidak hanya merasakan tekanan fisik. Sebagai seseorang yang memiliki kepekaan tinggi terhadap emosi dan energi—karena tugasnya mengumpulkan perasaan manusia—ia merasakan sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Di dalam kegelapan gua itu, di balik aliran energi darah dan kebencian yang masuk... ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang begitu besar, begitu purba, dan begitu jahat hingga sulit digambarkan dengan kata-kata. Itu bukan sekadar monster, bukan sekadar roh jahat biasa.
"Ini... tidak beres..." bisik Lisa dengan suara bergetar, langkahnya terhenti sepenuhnya. Ia menatap gua itu dengan mata yang melebar ketakutan. "Di dalam sana... ada sesuatu yang jauh lebih buruk dari yang kita bayangkan. Aku bisa merasakannya... energi iblis yang begitu kuat...itu bukan iblis biasa..."
Wu-Yuan langsung tersentak mendengar itu. Insting bahayanya berteriak sekeras-kerasnya. Ia segera berbalik badan menghadap mereka semua, wajahnya penuh kepanikan namun berusaha tetap tegas, sesuatu yang belum pernah dilihat murid-muridnya sebelumnya.
"SEGERA MUNDUR! KITA PERGI DARI SINI SEKARANG JUGA!" seru Wu-Yuan dengan suara tinggi dan bergetar, memerintah mereka untuk berbalik arah. "Ini bukan urusan kita! Hal yang ada di sini jauh melampaui kemampuan kita! Ini bukan musuh yang bisa kita taklukkan dengan strategi atau kerja sama! Biarkan orang yang jauh lebih mampu, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berpengalaman dari kita yang menangani masalah ini! Kalian dengar?! KITA HARUS PERGI SEKARANG!"
Semua orang tersentak kaget melihat reaksi guru mereka yang begitu panik. Mereka tahu situasinya berbahaya, tapi melihat Wu-Yuan yang bahkan berani menghadapi pasukan besar sendirian kini memerintahkan lari... itu berarti bahaya di depan mata mereka sudah di ambang kematian.
Mereka pun segera berbalik, niat hati ingin lari secepat mungkin menjauh dari tempat terkutuk itu.
Tapi... mereka terlambat.
Baru saja kaki mereka bergerak selangkah, tiba-tiba seluruh energi yang ada di tempat itu—semua energi darah, energi manusia, dan energi gelap yang telah dikumpulkan bertahun-tahun lamanya—berhenti mengalir masuk. Semuanya tersedot masuk ke dalam gua dalam sekejap mata, lalu...
NGUUUUUNG...!!
Suara dengungan rendah yang menggetarkan jiwa terdengar, bersamaan dengan ledakan tekanan udara yang luar biasa dahsyat.
Seketika itu juga, seluruh tubuh mereka seolah dikunci oleh kekuatan gaib yang tak terlihat. Kaki mereka terpaku kuat di tanah, tangan mereka tidak bisa diangkat, mulut mereka terkunci rapat, bahkan jari kelingking pun tidak bisa digerakkan sedikit pun. Mereka terperangkap dalam kebisuan dan ketidakberdayaan total, hanya mata mereka yang bisa bergerak menyaksikan apa yang akan terjadi.
Dari kegelapan mulut gua yang terkunci itu, cahaya merah darah yang menyilaukan mulai memancar keluar. Tanah bergetar hebat seolah bumi mau terbelah, dan suara gemuruh berat bergema dari dalam, seolah ribuan raksasa sedang bernapas.
Perlahan... sangat perlahan... sesuatu yang besar dan mengerikan mulai muncul keluar.
Itu adalah wujud raksasa yang seluruh tubuhnya diselimuti kabut merah dan baju zirah yang terbuat dari darah beku dan tulang belulang. Sayap besar berwarna hitam kelam terbentang lebar, menutupi langit di atas mereka hingga siang hari berubah menjadi gelap gulita. Matanya bukanlah mata biasa, melainkan dua nyala api merah yang begitu tajam seolah bisa membakar jiwa siapa pun yang berani menatapnya. Makhluk itu tidak berjalan... ia melayang. Melayang tinggi ke udara, mengambang di atas altar itu dengan aura kebesaran sekaligus kengerian yang tak terlukiskan.
Semua orang yang terpaku di bawah sana, termasuk Wu-Yuan, merasa nyawa mereka seolah akan melayang pergi hanya karena berdiri di dekat makhluk itu. Tekanan yang dirasakan sebelumnya hanyalah angin sepoi-sepoi dibandingkan dengan kekuatan yang dipancarkan sosok ini.
Ya... mereka telah bertemu langsung dengan sosok pemicu segala masalah, akar dari semua kekacauan di desa dan hutan ini.
Dewa Iblis Darah.
Makhluk yang kekuatannya berada di puncak rantai makanan dunia ini. Makhluk yang bagi mereka... mustahil untuk dikalahkan. Bahkan jika mereka berkali-kali lipat lebih kuat, bahkan jika mereka membawa seluruh pasukan kerajaan sekalipun, di hadapan Dewa Iblis ini, semuanya hanyalah debu yang tak berdaya.
Dewa Iblis Darah itu menatap ke bawah, ke arah enam manusia kecil yang terpaku ketakutan itu. Senyum mengerikan terukir di wajahnya yang kejam dan angkuh. Suaranya bergema di udara, menggetarkan dada dan membuat telinga mereka terasa sakit seolah dipukul palu besar.
"Terima kasih... manusia-manusia kecil..." ucap Dewa Iblis itu, suaranya berat dan penuh kewibawaan jahat. "Kalian telah membunuh anak-anak buahku, dan membawa semua energi yang kubutuhkan langsung ke depan pintuku. Berkat kalian... aku akhirnya bisa bangkit sepenuhnya."
Wu-Yuan menatap makhluk itu dengan keputusasaan yang mendalam. Ia tahu... hari ini, di tempat ini... mereka semua sudah berada di ambang kematian yang pasti. Tidak ada strategi, tidak ada sihir, tidak ada pertahanan, dan tidak ada jalan keluar. Mereka telah menabrak tembok yang tidak mungkin ditembus.
Ji-na menatap makhluk itu, air mata ketakutan menetes di pipinya.
Dan di atas sana, Dewa Iblis Darah tersenyum puas, bersiap untuk menghancurkan serangga kecil yang telah membantunya, sesaat sebelum ia mulai bergerak menghancurkan seluruh dunia manusia.
Bersambung......