NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Badai yang Mengendap

Keheningan yang ganjil dan mencekam menyelimuti mansion kediaman keluarga Garrick setelah fajar yang berdarah itu berlalu. Raungan mesin-mesin kendaraan militer faksi pertama telah menjauh, meninggalkan keheningan yang terasa tidak wajar di koridor-koridor Mansion Ketiga. Perang terbuka bersenjata yang nyaris merubuhkan fondasi keluarga berhasil diredam tanpa sebutir pun peluru yang menembus marmer. Namun, bagi mereka yang memahami dinamika kekuasaan, masa tenang ini hanyalah ilusi—sebuah jeda waktu yang sengit di mana masing-masing faksi sibuk merawat luka, menghitung bidak, dan menarik napas dalam-dalam sebelum badai berikutnya datang menghancurkan.

Di Mansion Utama, atmosfer berubah menjadi kuburan yang sunyi sekaligus dingin. Eleanor Rossi duduk tegak di balik meja kerja mahoninya yang megah, namun tatapan matanya kosong, menatap pecahan gelas teh porselen yang masih berserakan di lantai. Di depannya, Cedric Garrick berdiri dengan tubuh tegap yang kaku, memunggungi ibunya sendiri. Tidak ada lagi sapaan hormat. Cedric menolak mengeluarkan satu patah kata pun sejak dia kembali dari gerbang Mansion Ketiga.

"Cedric, dengarkan Ibu! Tikus kecil itu telah meracuni otakmu dengan kebohongan yang tidak masuk akal!" Eleanor akhirnya memecah keheningan, suaranya melengking frustrasi, kehilangan keanggunan permaisurinya yang biasa. "Ibu tidak pernah mengalihkan kontrak Eropa Selatan kepada Dominic! Ibu melakukan semua ini demi masa depanmu!"

Cedric tidak menoleh. Pria bertato ular itu hanya mengepalkan tinjunya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan suara gemertak yang mengerikan. Paranoia yang ditanamkan Alana telah mengakar terlalu dalam di kepalanya, memakan habis sisa-sisa rasionalitasnya. Baginya, pembelaan Eleanor justru terdengar seperti kepanikan seorang pengkhianat yang tertangkap basah. Tanpa sepatah kata pun, Cedric berbalik dan melangkah pergi, membanting pintu ruang kerja ibunya dengan keras. Hari itu juga, Cedric mengunci diri di dalam barak militer faksi pertama, memutuskan seluruh jalur komunikasi internal dengan ibunya sendiri. Faksi pertama resmi terbelah dua dari dalam.

Sementara itu, di ruang kendali bawah tanah Mansion Kedua, masa tenang ini diisi oleh ketukan papan ketik mekanik yang konstan. Adrian Garrick bersandar di kursi kerjanya, menatap barisan monitor dengan senyuman takjub yang teramat pekat. Melalui sambungan server rahasia yang terhubung ke kamar rawat Alana, dia baru saja menyelesaikan sebuah mahakarya pemalsuan digital yang paling rumit dalam kariernya sebagai peretas.

"Enkripsi dokumen digital selesai," lapor Adrian melalui mikrofon komunikasinya, suaranya terdengar bersemangat di telinga Julian dan Xavier yang berada di Mansion Ketiga. "Aku telah menyusun jaringan aliran dana fiktif dari rekening samaran Eleanor di Swiss, lengkap dengan draf reuni kontrak Eropa Selatan yang mencantumkan nama Dominic Garrick sebagai penerima kuasa mutlak. Semua data ini dienkripsi dengan cap digital faksi pertama yang sangat otentik. Jika Cedric memeriksa ini melalui sistem militernya, dia akan melihatnya sebagai 'berkas yang sengaja dihapus' oleh ibunya sendiri. Gadis itu... Alana... dia benar-benar iblis. Bagaimana bisa dia memikirkan skenario sekejam ini dalam kondisi sekarat?"

Julian Garrick yang berdiri di koridor luar klinik pribadi faksi ketiga, hanya menatap layar ponselnya yang menampilkan berkas buatan Adrian. Sepasang mata di balik kacamata perak itu menyipit. "Kirim berkas itu ke server pribadi Cedric sekarang, Adrian. Buat seolah-olah sistem keamanan kita mendeteksinya secara tidak sengaja dari lalu lintas data Eleanor. Biarkan racun itu bekerja sepenuhnya."

Julian kemudian mengalihkan pandangannya ke pintu kaca buram di depannya. Di dalam kamar rawat yang steril dan diterangi lampu temaram, Alana terbaring diam di atas ranjang medis. Masa tenang ini adalah berkah sekaligus kutukan bagi tubuh fisiknya yang rapuh. Setelah demam tingginya perlahan turun ke angka normal, fokus utama pengobatan beralih pada pemulihan jaringan kulit punggungnya yang koyak akibat cambukan besi Eleanor.

Xavier Garrick menolak meninggalkan sisi ranjang tersebut. Pangeran kasino itu duduk di kursi kulit di samping Alana, kemeja putihnya yang bernoda darah kini telah diganti dengan kemeja hitam satin yang longgar. Jemari tangannya perlahan menuangkan air hangat ke dalam gelas, matanya menatap tajam pada setiap helai perban tebal yang membungkus bahu dan punggung Alana. Sifat posesif dan obsesi gila Xavier telah mencapai tingkat yang baru; dia tidak membiarkan satu pun pelayan atau perawat menyentuh infus Alana tanpa pengawasannya secara langsung.

Alana perlahan membuka matanya. Rasa sakit di punggungnya masih terasa seperti guratan api yang membakar setiap kali dia menarik napas, namun ekspresi wajahnya kembali datar, sedingin es, dan teramat tenang. Dia melihat Xavier yang berada di sisinya, lalu melirik Julian yang perlahan melangkah masuk ke dalam kamar.

"Bagaimana situasi di luar, Tuan Muda Xavier... Tuan Muda Julian?" suara Alana terdengar sangat lirih dan serak, mengulang panggilan formal yang biasa dia gunakan untuk menjaga jarak amannya sebagai anak haram yang tidak diakui.

Xavier menghentikan gerakannya yang sedang membetulkan letak sedotan di gelas air hangat. Dia mendengus pelan, sebuah tawa rendah yang sarat akan rasa tidak suka terhadap formalitas itu keluar dari bibirnya. Xavier menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Alana.

"Hentikan omong kosong 'Tuan Muda' itu, Alana," potong Xavier dengan nada suara yang rendah namun posesif. Jemarinya menyentuh dagu Alana dengan sangat hati-hati, memaksa gadis itu menatapnya lebih dekat. "Kamu sudah mempertaruhkan nyawamu, menyerahkan kunci kasinoku, dan mengunci kesetiaanku di lobi tadi pagi. Panggil aku Xavier. Sifat narsistikku menolak mendengar wanita yang memegang kendali atasku memanggilku seolah-olah aku ini orang asing."

Julian yang berdiri di kaki ranjang, hanya membetulkan letak kacamata peraknya dengan gerakan monoton. Untuk pertama kalinya, wajah pucat sang ahli strategi itu melunak, menyiratkan secercah rasa hormat yang langka di matanya.

"Xavier benar untuk kali ini," sela Julian, suaranya terdengar datar namun tegas. "Di dalam ruangan ini, aliansi kita dibangun atas dasar kesetaraan otak, bukan kasta darah. Kamu bukan lagi pelayan atau anak haram yang harus tunduk di bawah bayang-bayang faksi pertama, Alana. Kamu adalah otak dari pergerakan kami. Panggil aku Julian. Embel-embel feodal itu hanya akan memperlambat komunikasi taktis kita."

Alana terdiam sesaat. Sepasang mata jernihnya menatap kedua pria itu bergantian, mengamati ketulusan yang terselimuti oleh keangkuhan faksi masing-masing. Sebuah kedekatan yang aneh dan ganjil perlahan mengkristal di antara tiga anak tirinya ini. Alana menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang sangat halus.

"Baiklah... Xavier, Julian," ucap Alana perlahan, menguji nama mereka di lidahnya. Efeknya instan; kilatan kepuasan pekat seketika terpancar dari mata hazel Xavier, sementara Julian hanya mengangguk kecil, menerima posisinya di papan catur Alana. "Jadi, bagaimana pergerakan Cedric?"

"Cedric telah memutus komunikasi dengan Eleanor. Dia menelan umpanmu bulat-bulat, Mitra Kecil," jawab Xavier, menyodorkan air hangat ke bibir Alana. "Pasukan faksi pertama lumpuh untuk sementara waktu karena krisis kepercayaan di antara mereka. Kita memiliki waktu tenang setidaknya selama beberapa hari ke depan."

Julian kembali melipat kedua tangannya di depan dada. "Masa tenang ini tidak akan berlangsung lama, Alana. Eleanor bukan wanita bodoh yang akan pasrah begitu saja. Jika dia menyadari bahwa Cedric membangkang karena pengaruhmu, dia akan menggunakan kartu terakhirnya: mempercepat kepulangan Victor dan Dominic dari luar negeri. Ketika Bos Besar pulang dan melihat kekacauan ini, aliansi kita akan menghadapi ancaman pembersihan total."

Alana meminum air hangat itu sedikit, lalu menyandarkan kepalanya kembali ke bantal steril dengan mata yang menatap lurus ke langit-langit. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kalkulasi taktis tingkat tinggi kembali terukir di wajah pucatnya.

"Kepulangan Ayah dan Dominic justru adalah bagian dari akhir permainan yang saya inginkan," bisik Alana, suaranya bergaung dingin di dalam kamar rawat. "Masa tenang beberapa hari ini... kita tidak akan menggunakannya untuk bersembunyi. Xavier, gunakan otoritas keuanganmu untuk mulai menjual saham-saham utilitas faksi pertama di pasar gelap secara bertahap. Buat seolah-olah Eleanor sedang mencairkan asetnya untuk melarikan diri."

Xavier menaikkan satu alisnya, tersenyum tajam. "Kamu ingin membuat Cedric berpikir ibunya bersiap meninggalkannya setelah dokumen itu terbongkar?"

"Tepat," sahut Alana. "Dan Julian... gunakan jaringan logistik faksi keduamu untuk menahan pasokan amunisi ke barak Cedric, namun lemparkan kesalahannya pada instruksi rahasia dari ruang kerja Eleanor. Kita akan membiarkan ibu dan anak itu saling menghancurkan reputasi satu sama lain di mata para pengawal. Ketika Ayah dan Kak Dominic menginjakkan kaki di mansion ini beberapa hari ke depan, yang mereka lihat bukanlah keluarga yang kuat, melainkan puing-puing faksi pertama yang sudah hancur berantakan karena perang saudara mereka sendiri."

Julian menatap Alana selama beberapa saat, merasakan desiran ngeri sekaligus kekaguman yang pekat di dalam dadanya. Gadis di depannya ini tidak sedang memulihkan diri; dia sedang memfungsikan ranjang rumah sakit ini sebagai ruang komando untuk meruntuhkan sebuah dinasti mafioso dari dalam.

Xavier berdiri dari kursinya, membungkuk sedikit hingga wajahnya berada hanya beberapa senti dari wajah Alana. Sepasang mata hazelnya berkilat penuh kegelapan yang protektif. "Aku akan mengeksekusi bagianku dengan sempurna, Alana. Tetapi ingat satu hal... aku menghancurkan faksi pertama karena kamu berjanji bahwa aku yang memegang kendali atas dirimu. Jika suatu hari nanti aku mendapati bahwa otak geniusmu ini juga sedang menyusun skenario untuk menghancurkanku di belakang Julian... aku sendiri yang akan memastikan bahwa tidak akan ada tempat di dunia ini yang cukup aman untuk menyembunyikanmu dariku."

Alana tidak gentar menghadapi ancaman itu. Dia justru menatap balik mata Xavier dengan kilatan misterius yang sangat memikat, mengunci pria itu dalam permainan manipulasinya yang tanpa akhir.

Malam itu, di dalam kamar rawat steril Mansion Ketiga, aliansi tiga kepala resmi dikonsolidasikan dengan rapi di bawah kendali sang Dalang yang sedang terluka. Di bawah permukaan masa tenang yang menipu ini, arus kehancuran telah bergerak dengan kecepatan penuh, bersiap menelan siapa saja yang berani berdiri menghalangi jalan Alana menuju takhta tertinggi keluarga Garrick.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!