Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Pukul 7 pagi, mentari baru saja merangkak naik, namun ketegangan canggung sudah menyelimuti meja makan megah itu. Syifa duduk dengan posisi tegak yang kaku, sesekali melirik suaminya yang duduk di kepala meja. Di hadapan mereka, tersaji nasi goreng cumi dan telur mata sapi buatan Bi Darsih yang aromanya sangat menggugah selera. Namun, nafsu makan Syifa mendadak menguap entah ke mana.
Syifa berdeham kecil, mencoba memecah keheningan yang mencekik. "Semalam... Bapak tidak tidur di kamar, ya?" tanya Syifa, suaranya agak cicit karena canggung.
Fadhlan tidak langsung menjawab. Tangannya yang kokoh masih tenang menyuapkan sendok berisi nasi goreng ke dalam mulutnya. Setelah mengunyah pelan dan menelannya, barulah ia menyahut pendek tanpa menoleh. "Hem."
Syifa meremas pelan jilbab rawisnya di bawah meja. "Kenapa?"
"Masih banyak kerjaan," jawab Fadhlan singkat, padat, dan sedingin es di kutub utara.
Syifa menghela napas pendek. 'Dingin banget. Padahal kemarin sore di kamar mandi... ah, lupakan! Jangan diingat lagi!' wajah Syifa mendadak merona mengingat kejadian shower. Ia berdeham lagi, berusaha bersikap rasional. "Oh, iya. I-itu, biar saya naik angkutan umum saja berangkat ke kampusnya ya, Pak? Supaya tidak merepotkan."
Tak!
Bunyi sendok yang diletakkan Fadhlan di atas piring kaca terdengar begitu nyaring di telinga Syifa. Fadhlan menghentikan makannya, lalu menegakkan tubuh. Pandangan matanya yang tajam dan pekat langsung mengunci manik mata Syifa.
"Tidak. Kita berangkat bersama," ucap Fadhlan dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan.
Syifa mencoba membela diri. "Tapi, Pak—"
Fadhlan memajukan sedikit tubuhnya, menatap Syifa dengan ekspresi yang luar biasa datar, namun sorot matanya memancarkan aura dominasi yang kuat. "Saya tidak mau mendengar ada penolakan, Sayang."
Syifa seketika terbungkam. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena tatapan tajam itu, melainkan karena kata terakhir yang diucapkan suaminya.
'Manggil Sayang tapi wajahnya datar dan sedingin kulkas dua puluh pintu begitu! Ini mau mencintai atau mau mengintimidasi sih?' gerutu Syifa dalam hati, mengerucutkan bibirnya kesal.
"Hmm... iya," jawab Syifa akhirnya, pasrah dan menunduk dalam-dalam sembari menusuk-nusuk telur dadar di piringnya dengan garpu.
...----------------...
Di dalam mobil, suasana justru kian senyap. Fadhlan bersandar di kursi penumpang belakang, terus saja memejamkan matanya dengan kening yang sesekali berkerut dalam. Ia tidak banyak bicara sejak mobil melaju meninggalkan gerbang rumah. Kemudi sengaja diserahkan kepada Pak Ridwan, sang supir pribadi.
Syifa yang duduk di sebelahnya mulai merasa ada yang tidak beres. Wajah Fadhlan yang biasanya putih bersih kini tampak agak pucat, dan napasnya terdengar sedikit berat.
"Tidak enak badan ya, Pak?" tanya Syifa pelan. Karena dorongan rasa khawatir yang beralih menjadi naluri seorang istri, Syifa memberanikan diri mengulurkan tangan, menempelkan punggung tangannya ke dahi Fadhlan.
Begitu kulit mereka bersentuhan, Syifa langsung terlonjak kecil. 'Ya Allah, suhu badannya panas sekali! Ini sih demam tinggi!'
"Kita pergi ke klinik atau rumah sakit ya, Pak. Bapak demam loh, badannya panas banget," ujar Syifa panik, suaranya meninggi satu oktav.
Fadhlan membuka matanya sedikit, melirik Syifa dengan tatapan sayu namun tetap keras kepala. "Tidak usah. Kita langsung ke kampus."
"Engga! Kita ke dokter dulu, anda sakit, Pak!" tegas Syifa, melupakan sejenak rasa canggungnya.
"Saya tidak apa-apa, Syifa. Cuma pusing sedikit."
"Pokoknya kita ke dokter!"
Fadhlan menghela napas berat, lalu mengetuk sandaran kursi depan. "Tidak. Pergi ke kampus saja, Pak Ridwan."
Pak Ridwan melirik dari kaca spion tengah dengan wajah bapak-bapak yang terjepit situasi darurat. "Baik, Pak..." jawabnya ragu.
Pak Ridwan makin bingung, memegang setir dengan keringat dingin. 'Aduh, saya harus ikut perintah Pak Bos yang punya uang, atau Ibu Bos yang punya kuasa atas hatinya Pak Bos?' batin Pak Ridwan merana.
Melihat istrinya yang mulai berkaca-kaca karena panik dan marah, benteng pertahanan Fadhlan akhirnya runtuh. Ia memijit pangkal hidungnya yang berdenyut nyut-nyutan. "Oke... saya akan ke dokter. Tapi setelah urusan di kampus selesai. Bagaimana?"
Syifa mendengus, namun akhirnya mengalah. "Betul ya? Awas kalau bohong." Syifa kemudian membuka tasnya, mengubek-ubek isinya dan mengeluarkan sebuah strip obat. "Ini... kebetulan saya bawa obat flu dan demam di tas. Ayo diminum dulu, Pak." Syifa menyodorkan sebutir obat beserta sebotol air mineral yang belum dibuka.
Tidak dipungkiri, Fadhlan memang merasa kepalanya seperti dihantam godam besar. Pandangannya bahkan sempat mengabur beberapa kali. Tanpa banyak penolakan lagi, Fadhlan menerima obat itu. Syifa dengan telaten membantu membukakan tutup botol airnya. Fadhlan meminum obat itu hingga tandas, lalu kembali memejamkan mata.
...----------------...
Begitu sampai di kampus, Fadhlan langsung turun dan melangkah cepat menuju ruang dosen dengan sisa-sisa kekuatannya. Syifa yang sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya hanya bisa mengekor dari belakang dengan jarak sekitar lima meter, memastikan suaminya tidak pingsan di koridor.
"Hem! Suka ngatain orang lain keras kepala, tapi sendirinya jauh lebih keras kepala seperti batu!" gerutu Syifa pelan saat berjalan melewati pintu ruangan Fadhlan yang tertutup rapat.
Syifa pun mempercepat langkah menuju ruang kuliahnya sendiri. Rupanya, suasana kelas sudah sangat ramai dan gaduh oleh para mahasiswa. Baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu, telinga Syifa langsung menangkap kasak-kusuk panas. Topik pagi ini tidak lain dan tidak bukan adalah, pernikahan sang dosen idola, Pak Fadhlan.
"Eh, Syifa udah berangkat!" seru Adiba begitu melihat sahabatnya muncul.
Jihan yang duduk di sebelah Adiba langsung mencondongkan tubuhnya, berbisik dengan nada menggoda yang menyebalkan. "Ciye... pengantin baru..."
"Ssstt... Jihan, diam!" Syifa melotot, menaruh jari telunjuk di depan bibirnya, menatap sekeliling dengan cemas takut ada mahasiswa lain yang mendengar rahasia besar mereka.
"Sini duduk, Syif," tawar Adiba menunjuk kursi kosong di sebelahnya.
Syifa segera duduk dan menaruh tasnya. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas yang penuh sesak. "Tumben jam segini anak-anak kelas kita sudah pada datang? Biasanya kan jam pertama pada hobi bolos?" tanya Syifa heran.
"Kamu amnesia ya, Syif? Pagi ini kan jadwal mata kuliahnya Pak Fadhlan," celetuk Jihan sembari mengunyah permen karet. "Palingan kelompoknya Ayu sama Bella itu mau presentasi, makanya mereka datang pagi-pagi biar dapet nilai plus dari dosen ganteng."
"Oh... begitu ya," jawab Syifa mangut-mangut.
Memang sudah menjadi rahasia umum di kampus, jika kelas Fadhlan berlangsung, tidak boleh ada yang terlambat semenit pun, tidak ada dispensasi, dan handphone harus dalam mode senyap. Jika melanggar, bersiaplah menerima sanksi nilai langsung meluncur ke huruf E.
Di deretan kursi depan, suara Ayu terdengar melengking memimpin gosip. "Eh, kalian tahu ngga? Kemarin pernikahannya Pak Fadhlan mewah banget tahu! Dekorasinya aesthetic parah di hotel bintang lima!"
"Iya betul! Tapi yang bikin heran, ternyata pengantin wanitanya bukan Kak Sonia semester 8 itu kok!" sahut mahasiswi lain.
"Emang siapa sih istrinya? Kok misterius banget?" kepo yang lain, langsung mengerubungi meja Ayu.
Ayu mengibaskan tangannya misterius. "Ngga tahu! Di foto-foto tamu undangan, wajah pengantin wanitanya di-blur total! Kayaknya sih identitasnya sengaja disembunyikan rapat-rapat demi kebaikan istrinya sendiri. Ya kalian pikir aja, hampir semua mahasiswi dari semester awal sampai akhir, dari prodi Tarbiyah, Tafsir, sampai Syariah kan ngefans berat sama Pak Fadhlan. Kalau ketahuan siapa istrinya, bisa-bisa kena santet atau minimal di-bully habis-habisan satu kampus!"
"Ih seram juga ya... Tapi eh, kira-kira Pak Dosen bakal tetap kelihatan ganteng dan berwibawa engga ya setelah nikah begini?" tanya Bella penasaran.
Mahasiswi di sebelahnya menyahut sok tahu. "Denger-denger sih ya, kalau cowok ganteng sudah nikah, auranya bakal jadi biasa aja karena udah ada yang punya. Apalagi kalau nanti istrinya sudah hamil!"
Syifa yang mendengarkan dari kursi belakang langsung ketar-ketir. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Ia membayangkan jika suatu hari rahasia bahwa dirinya adalah istri sah Fadhlan terbongkar, mungkin ia harus memakai topeng ninja setiap kali pergi ke kampus agar selamat dari amukan para penggemar suaminya.
"Udah gila mereka ya, dosen sudah punya istri masih aja dikagumi setengah mati," cibir Jihan pelan, menatap sinis ke deretan depan.
"Jihan... jaga bicaramu," tegur Adiba memperingatkan.
"Eh, sorry, sorry... sengaja," Jihan menyengir, lalu sedetik kemudian wajahnya berubah jadi senyuman jahil. Ia menyenggol lengan Syifa dengan siku. "Oh iya bestie, gimana malam pertama kemarin? Sukses? Berapa ronde?"
Wajah Syifa seketika memanas. "Apaan sih! Ngga ada ya!" jawab Syifa ketus, memalingkan muka.
"Ah, ngga usah malu-malu kucing gitu sama kita. Pasti kamu udah lihat roti sobeknya Pak—"
Plak!
Syifa langsung membekap mulut Jihan dengan telapak tangannya dengan sangat erat sebelum nama suaminya terucap. Namun, gara-gara ucapan Jihan, memori Syifa justru otomatis terlempar kembali pada momen intim ketika liburan dan di bawah kucuran shower kemarin sore. Bayangan Fadhlan yang basah kuyup, menangkup wajahnya, dan mencium bibirnya dengan intens seketika berputar layaknya film beresolusi tinggi di otaknya.
"Pipimu merah banget tuh, Syif! Kayak tomat matang," bisik Adiba menyenggol sisi lengan Syifa yang lain, ikut menggoda.
"Eh... mana ada! Engga... ini karena panas aja!" jawab Syifa gugup, menepuk-nepuk pipinya yang terasa membara.
Jihan berhasil melepaskan bekapan tangan Syifa, lalu berbisik sangat pelan di telinga sahabatnya. "Hah? Berarti seriusan... kamu sudah di-unboxing sama Pak Dosen?"
"Engga! Sembarangan kalau ngomong! Udah ah, duduk yang bener sana, dosennya mau masuk!" ketus Syifa salah tingkah, mendorong kepala Jihan agar menjauh.
Tepat beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka. Sosok Fadhlan melangkah masuk ke dalam ruangan. Namun, pemandangan pagi ini terasa berbeda. Wajah Fadhlan tampak sedikit pucat, matanya terlihat sangat lelah dan sayu, efek dari demam yang berpadu sempurna dengan dosis kuat obat flu yang diberikan Syifa tadi di mobil.
Fadhlan duduk di kursi dosen, mengawali perkuliahan dengan salam dan pengantar singkat menggunakan suara baritonnya yang terdengar lebih serak dari biasanya. Setelah itu, ia langsung mempersilahkan kelompok yang bertugas untuk maju presentasi tanpa banyak memberikan pertanyaan atau instruksi tambahan seperti biasanya. Ia kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi, menopang dagunya dengan sebelah tangan sembari menatap ke arah depan dengan pandangan mata yang sesekali meredup menahan kantuk yang luar biasa hebat.
Dari kursinya, Syifa bisa merasakan dengan jelas bahwa suaminya saat ini sedang berjuang mati-matian melawan rasa kantuk tingkat dewa akibat kecerobohannya memberikan obat.
"Eh... Pak Dosen kalau lagi lemas dan ngantuk begitu kenapa kelihatan manis dan gemas banget ya?" lirih Bella dari barisan depan, matanya berbinar-binar.
"Iya, setuju! Aura ketampanannya malah nambah kalau lagi pasrah begitu. Foto ah diam-diam, mumpung lagi merem dan ngga lihat ke sini," ujar Ayu penuh semangat, mulai mengeluarkan ponselnya dari kolong meja.
Mendengar percakapan itu, dada Syifa mendadak bergemuruh panas. Ada rasa tidak rela yang membakar hatinya. 'Apa-apaan sih ini? Suami orang mau main foto-foto aja tanpa izin! Dasar genit!' gerutu Syifa dalam hati, giginya bergeletuk kesal.
Tadinya Syifa sudah bersiap hendak melemparkan gumpalan kertas atau menyenggol lengan Ayu dari belakang untuk menggagalkan aksi jepret digital tersebut. Namun, belum sempat Syifa bertindak, Fadhlan tiba-tiba beranjak berdiri dari kursinya dengan gerakan agak limbung.
"Kalian silahkan lanjutkan presentasinya sampai selesai. Jika sudah, kumpulkan tugas makalah dan daftar absensi hari ini di meja ruangan saya. Saya ada urusan mendesak lain yang harus diselesaikan," tutur Fadhlan dengan suara datar namun tegas.
Sebelum melangkah keluar dari pintu ruangan, langkah Fadhlan sempat tertahan sejenak. Pandangan matanya yang sayu bergerak lurus ke barisan belakang, menatap tepat ke arah tempat duduk Syifa selama dua detik penuh, seolah memberikan kode tersembunyi, sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu.
Begitu Fadhlan keluar, suasana kelas yang semula tegang seketika pecah dan riuh seperti pasar tumpah. Syifa yang terlanjur kesal dengan ucapan Bella dan Ayu tadi memilih mengemas bukunya dan pindah ke kursi paling pojok belakang yang kosong. Namun, saat bokongnya baru saja menyentuh kursi, sebuah ingatan mendadak menghantam otaknya seperti petir.
"Astaghfirullah! Efek samping obatnya!" Syifa menepuk jidatnya dengan keras hingga menimbulkan bunyi 'plak' yang cukup nyaring. "Duh, gimana ini... kata Bi Darsih kan nanti siang Pak Fadhlan ada jadwal rapat penting lagi..." gumam Syifa panik setengah mati.
"Kenapa sih, Syif? Heboh sendiri," tanya Jihan yang ikut pindah duduk di dekatnya, terlonjak kaget melihat kepanikan sahabatnya.
"Aku... aku tadi pagi ngga sengaja kasih obat flu ke Pak Fadhlan, soalnya badan dia demam pas berangkat," lirih Syifa dengan wajah bersalah yang amat sangat.
Adiba yang ikut menyusul langsung menebak dengan cepat. "Jangan bilang kalau obat yang kamu kasih itu efek samping utamanya bikin ngantuk berat?"
"Ishh... iya! Bodohnya aku! Kenapa bisa lupa ya? Aku harus menyusul sekarang!" Syifa dengan tergesa-gesa menyampirkan tasnya ke bahu dan beranjak dari kursi tanpa memedulikan presentasi kelas yang masih berjalan.
Adiba dan Jihan hanya bisa mengangguk mengerti, sekaligus menggeleng-gelengkan kepala kebingungan melihat tingkah sahabat mereka yang sudah seperti istri siaga yang ketakutan suaminya kecelakaan kerja.
Dengan langkah seribu, Syifa berlari menyusuri koridor kampus menuju ruangan Fadhlan. Namun, begitu ia membuka pintu ruangan tersebut, ruangan itu sudah kosong melompong. Fadhlan sudah meninggalkan area kampus.
Syifa berdiri lemas di ambang pintu, merutuki dirinya sendiri. "Ya Allah, Syifa... kenapa kamu ceroboh dan bodoh banget sih jadi istri!" kesalnya pada diri sendiri.
...----------------...
Di belahan kota yang lain, sebuah mobil sedan mewah melaju membelah jalanan menuju Rumah Sakit Pusat milik keluarga Nizar. Rupanya, Aidan, sahabat sekaligus asisten pribadinya, yang menjemput Fadhlan langsung ke kampus setelah menerima pesan darurat mengenai kondisi sang CEO yang drop.
Setibanya di rumah sakit, sebelum menghadiri rapat direksi yang penting, Aidan memaksa Fadhlan untuk menemui dr. Haikal, sepupu kandung Fadhlan yang bertugas di sana, untuk memeriksa kondisinya.
Di dalam ruang pemeriksaan, Haikal menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menaruh stetoskop. "Yo... tumben sekali seorang Bang Fadhlan yang perfeksionis dan anti-obat kimia, tiba-tiba asal minum obat sembarangan tanpa lihat dosis dan indikasi?" goda Haikal dengan senyum geli.
Fadhlan hanya terdiam, menyandarkan tubuhnya di ranjang pasien dengan wajah pucat dan mata yang terpejam.
Haikal mencatat sesuatu di papan klipnya. "Tidak ada yang serius kok. Bang Fadhlan hanya kelelahan akut, kurang tidur, dan demam biasa. Di infus vitamin sebentar juga demamnya akan langsung turun. Tapi, Abang benar-benar harus membatasi kesibukan dan istirahat total untuk beberapa hari ke depan. Jangan kerja rodi terus."
"Alhamdulillah," tutur Fadhlan lirih, mengembuskan napas lega.
Haikal tiba-tiba mendekatkan wajahnya, memasang senyum luar biasa jahil. "Ekhem... pengantin baru ya, jadi wajar saja kalau kelelahan sampai drop begini, semalam lembur berapa ronde, Bang? Haha!" tawa Haikal pecah menjahili sepupunya yang terkenal kaku itu.
Fadhlan seketika membuka matanya, memberikan tatapan membunuh yang tajam. "Kau! Mau aku potong insentif bulananmu di rumah sakit ini, hm?" ancam Fadhlan dengan suara rendah yang berbahaya.
"Haha! Ampun, Bang, bercanda! Ya sudah, aku tinggal dulu ya. Nanti tiga puluh menit lagi aku balik ke sini untuk lepas infusnya," pamit Haikal tertawa puas sebelum melesat keluar pintu sebelum dilempar botol infus oleh Fadhlan.
Setelah Haikal keluar, Aidan melangkah mendekati ranjang sahabatnya. Gurat kekhawatiran terlihat jelas di wajah pria itu. "Siang ini biar aku saja, Fad, yang menghandle rapat koordinasi dengan para investor. Kamu istirahat saja di sini."
"Tidak, Aidan. Aku masih bisa. Ini cuma demam," tolak Fadhlan keras kepala, bersiap mencabut jarum infus di tangannya sendiri.
Aidan menahan tangan Fadhlan, menghela napas lelah. "Kamu sudah memberi kabar pada istrimu kalau kamu ada di rumah sakit?"
Fadhlan terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Belum... aku tidak mau dia cemas dan mengkhawatirkanku di hari-hari pertamanya kuliah."
Aidan hanya bisa mengurut dadanya sendiri mendengar jawaban itu. Ia tahu betul jika Fadhlan sudah mengeluarkan watak keras kepalanya, apalagi jika menyangkut pekerjaan dan perlindungan berlebih kepada orang yang dicintainya, tidak akan ada satu orang pun yang bisa membantahnya.
...----------------...
Selesai jam kuliah terakhir pada pukul dua siang, Syifa berdiri di lobi kampus dengan wajah yang ditekuk sedalam-dalamnya. Ia didera kebingungan yang luar biasa untuk pulang ke rumah baru suaminya. Masalahnya, ia tidak tahu alamat lengkap rumah elit tersebut, ditambah lagi ia sama sekali tidak tahu rute kendaraan umum atau angkot yang bisa menjangkau kawasan residensial mewah itu karena baru kemarin sore ia pindah ke sana menggunakan mobil Fadhlan.
'Apa aku pulang ke rumah Abi saja ya? Huh! Menyebalkan sekali! Aku ditinggal sendirian begini tanpa kabar, telfon ngga ada, chat juga ngga dibalas!' batin Syifa merana dan kesal.
Sementara itu, dua sahabatnya, Adiba dan Jihan, terpaksa pulang lebih dulu karena ada urusan lain yang tidak bisa ditinggalkan, meninggalkan Syifa sendirian yang meratapi nasibnya di koridor yang mulai sepi.
"Hmm... Pak Dosen pasti marah gara-gara kejadian obat tadi atau kejadian di kamar mandi kemarin. Makanya dia sengaja menelantarkan aku begini sebagai hukuman," gumam Syifa sedih.
Ia berulang kali menyalakan layar handphonenya, berharap ada satu saja notifikasi panggilan atau pesan masuk dari suaminya. Tak ingin menyerah begitu saja karena rindu dan khawatir yang bercampur menjadi satu, Syifa mencoba menelfon nomor Fadhlan.
Tut... Tut... Panggilan Anda telah dialihkan.
"Ditolak?! Hem! Benar-benar keterlaluan!" pekik Syifa kesal, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis karena merasa dibuang.
Daripada terus menunggu di koridor kampus seperti orang hilang yang tidak punya arah tujuan, Syifa akhirnya memutuskan untuk nekat berjalan kaki keluar gerbang kampus, berharap ingatan visualnya kemarin bisa menuntunnya menemukan jalan pulang ke rumah Fadhlan.
Namun, nasib malang tampaknya belum mau beranjak dari Syifa. Baru saja kakinya melangkah sampai di depan gerbang utama kampus, langit yang semula mendung pekat langsung menumpahkan airnya dalam sekejap. Hujan turun dengan sangat lebat disertai angin kencang yang menderu.
Dengan pakaian yang mulai basah di bagian pundak, Syifa berlari kecil mencari tempat berteduh terdekat. Ia akhirnya memilih bersandar di depan sebuah minimarket yang berjarak sekitar lima puluh meter dari kampusnya.
Syifa melipat kedua tangannya di dada, tubuh mungilnya mulai bergetar karena hawa dingin yang menusuk kulit. 'Ya Allah... hujannya deras sekali. Bakal awet sampai sore ngga ya? Apa suamiku segitu marahnya sampai telfon dariku saja sengaja direject? Syifa ingin pulang, Ya Allah... di sini dingin sekali...' rintih Syifa dalam hati, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang dingin.
"Syifa?" Sebuah suara lembut seorang pria tiba-tiba memecah suara gemuruh air hujan.
Syifa tersentak, lalu menoleh ke arah sumber suara. "Iya?"
Seorang pria jangkung dengan senyuman ramah yang mengembang hangat kini sudah berdiri di sebelahnya, memegang sebuah payung hitam yang basah. "Kebetulan sekali kita bisa bertemu lagi di sini," imbuhnya.
"O-oh... Mas Hasbi. Iya, Mas. Tadi kejebak hujan pas mau pulang, jadi langsung neduh ke sini," jawab Syifa canggung. Hasbi adalah kakak tingkatnya di prodi yang sama, yang sejak lama terkenal menaruh hati pada Syifa pada pandangan pertama sebelum Syifa mendadak dipersunting orang.
Hasbi melirik ke arah kursi plastik kosong di depan minimarket. "Boleh saya duduk di sini menemanimu?"
Syifa meremas ujung tasnya, merasa tidak enak hati mengingat statusnya yang kini sudah menjadi istri sah orang lain. "Hmm... ya, silahkan, Mas."
Hasbi kemudian duduk di kursi yang bersebelahan dengan Syifa, melipat payungnya. "Kamu pulang naik apa, Syif? Kelihatannya kamu kedinginan banget sampai gemetar begitu."
"A-itu... rencananya mau naik angkot" jawab Syifa berbohong, menyembunyikan fakta kalau dirinya tersesat.
Hasbi mengernyitkan dahi heran. "Oh? Biasanya kan kamu selalu naik motor kalau ke kampus?"
"Motornya lagi dipakai sama Abi di rumah," jawab Syifa kembali berbohong demi menjaga privasi pernikahannya.
Hasbi menatap jalanan raya di depan mereka yang mulai tergenang air. "Musim hujan badai seperti ini, biasanya angkot di daerah sini susah banget lewat, Syif. Kebetulan saya bawa motor dan bawa jas hujan dua. Mau saya antar saja sampai ke rumahmu?" tawar Hasbi tulus dengan binar penuh harapan.
...****************...