Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Setelah turun dari area panggung, Jihan dan Adiba memutuskan untuk berburu makanan di stan katering. Melihat Adiba yang sedang sibuk memilih berbagai menu dengan porsi yang lumayan banyak, sebuah bayangan tinggi mendadak berdiri di sampingnya.
"Belum makan sebulan, Didie?" tegur Aidan tiba-tiba dengan nada santai, menatap piring yang dipegang Adiba.
Adiba seketika menoleh ke sumber suara. Napasnya menghela berat. 'Issh! Panggilan menyebalkan itu lagi!' batin Adiba dongkol.
Jihan yang berdiri di belakang Adiba menaikkan sebelah alisnya, memandang Aidan dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Maaf, Anda lagi ngomong sama siapa ya?" celetuk Jihan asal bicara.
Aidan menunjuk Adiba dengan dagunya. "Dia."
"Oh, kirain lagi ngomong sama saya," sahut Jihan blak-blakan, lalu menyenggol lengan Adiba. "Diba, aku ke stand sebelah sana dulu ya, perut gue udah demo banget nih. Mau cari tempat duduk juga." Setelah Adiba mengangguk mengiyakan, Jihan melengos pergi dengan piringnya.
Kini tinggal Adiba dan Aidan yang berdiri di depan stand makanan. Adiba mencoba bersikap sedatar mungkin. "Sudah makan? Saya lihat Anda sibuk sekali mondar-mandir sejak pagi tadi," tanya Adiba pelan, murni karena kesopanan.
Aidan tersenyum lebar, menatap Adiba terang-terangan. "Belum. Kenapa? Kamu mau ambilkan makanan untuk saya?"
Adiba mendelik. 'Ini orang engga lihat situasi apa ya? Percaya diri sekali!'
"Hmm, ambil sendiri sana. Punya tangan dan kaki, kan?"
Aidan terkekeh geli melihat ketegasan Adiba. "Haha, maaf. Saya hanya bercanda."
"Engga lucu," ketus Adiba, berbalik hendak melangkah pergi.
"Kamu datang ke sini dengan siapa? Nanti pulangnya mau saya antar?" tanya Aidan tiba-tiba, menahan langkah Adiba.
Adiba terkejut, matanya mengerjap tidak percaya dengan kelancangan pria ini. "Tidak, terima kasih. Saya pulang bersama Abi dan Ummi saya."
"Oh, ya? Kalau begitu... boleh saya bertemu dengan mereka sekarang?" tanya Aidan lagi dengan wajah tanpa dosa.
"Mau apa?" Adiba melipat tangannya di dada, curiga.
"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menyapa... siapa tahu setelah menyapa, saya boleh langsung melamar anaknya," jawab Aidan dengan nada santai namun tatapan matanya berpendar serius.
Adiba memberikan lirikan mata yang sangat tajam dan dingin ke arah Aidan. "Jangan galak-galak begitu dong. Tapi... kalau lagi galak begini tetap kelihatan cantik sih," protes Aidan, dengan sengaja menyenggol pelan lengan Adiba menggunakan sikunya.
Adiba mundur satu langkah, wajahnya menegang serius. "Bukannya sudah saya ingatkan kemarin? Tolong jaga batasan Anda, Pak Aidan."
Aidan meredam tawanya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Adiba, berbisik pelan, "Iya, saya tahu. Tapi, saya juga tidak ingin menjadi pria dengan gengsi yang terlalu tinggi, apalagi kalau berhadapan denganmu."
Adiba menahan geram, matanya melirik ke arah meja katering di dekat mereka. "Pak Aidan, belum pernah ditimpuk piring ya?" ancam Adiba dengan suara tertahan.
Aidan justru terkekeh geli melihat raut wajah kesal Adiba yang baginya justru terlihat menggemaskan. "Iya, iya, maaf, Didie."
Adiba menghembuskan napas kasar. Karena merasa tidak tega melihat wajah lelah Aidan yang memang belum makan sejak pagi, Adiba menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pauk yang baru saja ia ambil ke depan dada Aidan. "Nih. Katanya belum makan, kan?"
Aidan tertegun menatap piring itu, lalu menatap Adiba. "Kamu sendiri bagaimana?"
"Saya bisa ambil lagi nanti," jawab Adiba ketus.
"Wait. Biar saya saja yang ambilkan makanan untukmu sebagai gantinya," cegah Aidan sigap. Pria itu mengambil piring baru, lalu mengisinya dengan porsi yang cukup melimpah dan menyerahkannya pada Adiba. "This is for you, my lady."
Adiba mengernyit menatap piringnya. "Ini banyak banget, Pak Aidan. Saya engga bakal habis."
"Dihabiskan ya? Anak kecil makannya harus banyak biar cepat besar," ujar Aidan seraya mengambil alih piring miliknya sendiri yang sempat dipegang Adiba.
Adiba mencibir pelan, melangkah mundur. "Ck! Berarti secara tidak langsung, ada orang yang baru saja mengaku kalau dirinya sudah tua."
Aidan tertawa renyah mendengar sindiran balik dari Adiba. "Haha, sudahlah. Saya mendadak tidak sabar mau makan, karena makanan ini dikasih langsung sama orang yang spesial."
Adiba menatap jengah ke arah Aidan yang menurutnya tidak pernah berhenti membual sejak pertama kali bertemu. "Terserah Anda sajalah, Pak Aidan. Permisi," ujar Adiba bersiap pergi.
"Jadi, benar-benar tidak mau makan bareng saya nih di meja sana?" tanya Aidan setengah berteriak kecil.
"Tidak!" jawab Adiba ketus tanpa menoleh.
"Hm, ya sudah. Lain kali kita harus makan bersama ya, Didie?" seru Aidan lagi, menatap punggung Adiba yang berjalan menjauh.
"Permisi..." cicit Adiba mengabaikan ucapan itu, mempercepat langkahnya menuju meja Jihan.
Aidan berdiri diam di tempatnya, menatap kepergian Adiba dengan senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi di matanya. Pria itu benar-benar terpikat.
Namun, Aidan tidak menyadari bahwa tidak jauh dari stan makanan tersebut, seseorang tengah berdiri diam, mengamati seluruh interaksi antara dirinya dan Adiba sejak awal dengan tatapan mata yang penuh selidik. Orang itu tersenyum tipis, sangat mengerti dari bahasa tubuh Aidan bahwa sahabat Fadhlan itu tengah menyimpan perasaan tersembunyi yang sangat dalam pada sosok Adiba.
...----------------...
Malam merambat semakin larut, menyisakan sisa-sisa kelelahan yang teramat sangat di tubuh Syifa. Riuhnya pesta resepsi seolah menguap begitu saja, berganti rasa perih yang teramat sangat di lambungnya. Begitu mobil yang membawa mereka tiba di depan rumah orang tuanya, sesuai permintaan Syifa yang mendadak enggan menginap di hotel karena merasa tidak enak badan, gadis itu langsung melangkah cepat masuk ke dalam kamar lamanya.
Sementara Fadhlan, dengan kesopanan yang tak luntur, memilih tinggal sebentar di ruang tamu untuk berbincang hangat dengan Abi Musthofa dan Kakek Ali.
Beberapa menit kemudian, Ummi Salwa keluar dari dapur membawa nampan berisi sepiring nasi hangat, lauk, segelas air, dan sebungkus obat magh. Fadhlan yang melihat ibu mertuanya membawa nampan itu segera berdiri dan menghampiri.
"Biar Fadhlan saja yang bawa ke kamar, Ummi," tawar Fadhlan lembut.
Ummi Salwa tersenyum lega, namun gurat cemas membayang di wajahnya. "Nggih, Nak Fadhlan. Tolong dibujuk Syifa-nya ya? Sakit maghnya kambuh karena dari siang tadi telat makan. Anak itu kalau sudah capek suka lupa sama perutnya sendiri."
Fadhlan mengangguk takzim. Ia menerima nampan tersebut, lalu melangkah menuju kamar.
Tok... tok... tok...
Fadhlan mengetuk pintu kayu itu pelan. Hening, tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ingin mengganggu sang istri jika memang sudah terlelap, Fadhlan memutar kenop pintu dengan sangat hati-hati dan mendorongnya perlahan.
...****************...