"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Lima Menit Tanpa Cahaya
Dunia seolah berhenti berputar. Suara alarm yang memekakkan telinga, teriakan para tamu yang berlarian, hingga deru musik orkestra yang masih mengalun di kejauhan, semuanya mendadak senyap di telinga Arvin. Yang ia rasakan hanyalah beban tubuh Aurora yang mendingin dan basah oleh darah di punggungnya.
"Ra? Jangan bercanda, Ra..." Arvin menurunkan tubuh Aurora perlahan ke lantai marmer dapur yang dingin. Ia menepuk-nepuk pipi adiknya yang sudah kehilangan rona.
"Aurora! Buka mata lo!"
Eros dan Juna berhasil menerobos barisan pengawal dan sampai ke tempat Arvin. Mereka membeku melihat pemandangan di depan mereka. Juna segera berlutut, meraba nadi di leher Aurora. Wajahnya yang biasanya tanpa ekspresi kini memucat pasi.
"Nadinya hilang," bisik Juna. Suaranya bergetar hebat. "Arvin, dia nggak bernapas!"
"Lakukan sesuatu, Juna! Lo pintar, kan?! Lakukan sesuatu!" Arvin menarik kerah kemeja Juna, memaksanya bertindak.
Juna segera melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru).
Ia menekan dada Aurora dengan irama yang konstan, sementara Eros memberikan napas buatan. Di sekitar mereka, para pengawal masih mengepung dengan senjata, namun mereka tidak berani mendekat karena aura keputusasaan yang begitu pekat memancar dari ketiga putra Tenggara itu.
Bramantyo berdiri beberapa langkah di depan mereka. Ia menatap tubuh putri bungsunya yang tak bernyawa itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Keangkuhannya mulai retak saat melihat putra-putranya—penerus tahtanya—menangis bersimpuh di lantai kotor hanya untuk seorang gadis yang selalu ia anggap sampah.
"Satu menit..." bisik Juna, keringat bercampur air mata jatuh ke wajah Aurora.
"Ayo, Ra... jangan menyerah sekarang..."
"Dua menit..."
Aula itu mendadak sunyi. Para pengawal perlahan menurunkan senjata mereka tanpa diperintah. Mereka semua menyaksikan sebuah tragedi yang lebih menyakitkan daripada kekalahan bisnis mana pun. Arvin menggenggam tangan Aurora, menciumnya berkali-kali.
"Tiga menit..."
"Empat menit..."
Harapan mulai menguap. Lima menit tanpa detak jantung biasanya berarti kerusakan otak permanen atau kematian total. Eros berhenti memberikan napas buatan, ia jatuh terduduk sambil memandangi tangannya yang gemetar.
"Sudah, Jun... dia sudah pergi," lirih Eros.
"GAK! DIA BELUM PERGI!" Arvin
mendorong Juna dan mengambil alih tekanan dada. "Bangun, Aurora! Lo belum lihat gue berubah jadi kakak yang baik! Lo belum dengar permintaan maaf gue yang bener! BANGUN!"
Tepat di menit kelima, saat Arvin memberikan tekanan terakhir dengan seluruh tenaganya, tubuh Aurora tersentak. Sebuah tarikan napas pendek dan kasar keluar dari tenggorokannya.
Uhuk!
Bercak darah keluar dari mulutnya, dan mata Aurora terbuka sedikit—hanya bagian putihnya saja sebelum akhirnya ia kembali terkapar, namun kali ini napasnya ada. Sangat tipis, namun ada.
"Dia kembali... nadinya ada lagi!" seru Juna, segera mencari denyut nadi yang sangat lemah itu.
Bramantyo melangkah maju. Ia ingin memerintahkan pengawalnya untuk mengambil Aurora kembali, namun langkahnya terhenti saat matanya tertuju pada sesuatu yang terjatuh dari saku seragam Aurora saat ia tersentak tadi.
Sebuah foto tua yang sudah lecek dan ternoda darah.
Bramantyo memungutnya. Itu adalah fotonya sendiri, foto saat ia masih muda bersama mendiang istrinya. Di balik foto itu, ada tulisan tangan anak kecil yang masih terbata-bata:
..."Selamat ulang tahun, Papa. Aurora sayang Papa meskipun Papa sering lupa ada Aurora di sini. Aurora janji akan jadi anak baik supaya Papa tidak sedih lagi karena Mama pergi."...
Tangan Bramantyo gemetar. Foto itu bertanggal sepuluh tahun yang lalu. Itu adalah hadiah ulang tahun yang tidak pernah sampai ke tangannya karena ia selalu mengusir Aurora sebelum gadis itu sempat mendekat.
Pria yang dikenal berhati besi itu terpaku. Ia menatap Aurora yang sedang diperjuangkan nyawanya oleh ketiga abangnya. Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, Bramantyo tidak melihat "pembunuh istrinya". Ia melihat seorang gadis kecil yang selama ini hanya ingin disayang, namun ia hancurkan setiap harinya.
"Pa..." Eros berdiri, menatap ayahnya dengan mata merah. "Biarkan kami membawanya. Jika Papa menghalangi lagi... Papa benar-benar akan membunuh kami semua bersama dia."
Bramantyo menatap foto di tangannya, lalu menatap Aurora yang kini pucat pasi di pelukan Arvin. Keheningan panjang terjadi, sebelum akhirnya Bramantyo memalingkan wajahnya.
"Bawa dia pergi," suara Bramantyo terdengar serak, hampir tidak dikenali. "Bawa dia ke rumah sakit terbaik. Pakai semua fasilitas Tenggara. Dan... jangan biarkan dia bangun hanya untuk melihatku sebagai monster."
Arvin segera menggendong Aurora dan berlari menuju ambulans yang sudah menunggu di depan. Eros dan Juna mengikuti, meninggalkan Bramantyo yang berdiri sendirian di tengah sisa-sisa pesta mewahnya yang kini terasa hampa.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹