NovelToon NovelToon
Perisai Sang Mafia

Perisai Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Reigan Douglas hanya bisa patuh saat Kakek memaksanya menikahi Hana—gadis "kampung" bermata bulat. Pernikahan itu terasa datar dan mati. Bagi Reigan, kehadiran wanita itu hanya akan membatasi geraknya sebagai penguasa Odelgard.

Namun, segalanya berubah ketika sebuah peluru melesat dan nyaris menembus pelipisnya. Reigan pun menyadari satu fakta yang menghantam egonya: peluru penyelamat itu berasal dari senjata milik Vesper—sniper legendaris yang ternyata adalah Hana, istrinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 20 Bersembunyi

Reigan mengangkat satu tangannya, mencengkeram rahang Hana dengan jemari kaku, bukan untuk mengintimidasi, melainkan untuk mengunci pergerakan wanita itu agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.

Matanya menyapu bibir Hana yang ranum dari jarak yang terlampau mengikis, sementara telinga mereka berdua terpaku pada suara gagang pintu ruang kerja yang mulai bergerak berputar di kegelapan seberang pilar...

Gagang pintu kayu itu berderit pelan, memecah kesunyian ruang kerja yang kini tenggelam dalam kegelapan total. Cahaya dari koridor luar masuk melalui celah pintu yang terbuka, membentuk garis lurus yang membelah lantai permadani. Tapi tidak cukup kuat untuk mencapai sudut gelap di balik pilar beton tempat Reigan dan Hana bersembunyi.

Reigan  merapatkan tubuhnya, menekan Hana lebih dalam hingga punggung wanita itu menyatu sempurna dengan dinginnya dinding panel kayu.

Tidak ada ruang tersisa di antara mereka.

Untuk memastikan Hana tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun, Reigan mengangkat tangan kanannya. Ibu jarinya yang besar dan kasar mendarat tepat di tengah bibir ranum Hana. Ia menekannya dengan kekuatan yang terkendali, sebuah perintah bisu yang mutlak untuk tetap diam.

Napas Reigan yang memburu akibat sisa adrenalin tempur terasa panas saat menyapu kening Hana, membawa aroma campuran cerutu mahal, wiski, dan wangi maskulin yang pekat. Aroma itu seolah mengurung Hana, lebih menyesakkan daripada dinding kayu di belakangnya.

Hana tidak memberontak. Dia paham. Tubuhnya tetap kaku, membiarkan bibirnya ditekan oleh jemari pria itu.

Bukan membuat tenang dan aman, Reigan merasa tertekan sendiri saat jarinya menempel pada bibir Hana. Fokusnya buyar.

Brengsek! Apa yang aku pikirkan!

Reigan bisa merasakan jantungnya sendiri berdegup kencang, menghantam telapak tangan Hana yang masih menempel di dadanya.

Fokus!

Setiap detik yang berlalu di balik pilar itu terasa seperti keabadian yang berbahaya. Reigan tidak hanya sedang menahan napas untuk bersembunyi dari penyusup, ia juga sedang berjuang menahan diri dari tarikan aneh yang membuatnya ingin terus mengurung wanita di bawahnya ini selamanya.

Pria itu sedikit memiringkan wajahnya, memastikan ibu jarinya tetap mengunci bibir Hana, sementara matanya memicing ke arah bayangan yang kini mulai mengaduk-aduk laci meja kerja Kakek Arthur. Berusaha kembali pada kenyataan.

Berbeda dengan Reigan yang kebingungan sendiri melihat jarinya diatas bibir Hana, wanita itu tampak tenang.

Sepasang mata bulat Hana menatap lurus ke dalam manik mata gelap Reigan yang hanya berjarak satu sentimeter darinya. Tatapan itu tidak memancarkan ketakutan, melainkan sebuah analisis dingin yang seolah mampu menembus isi kepala Reigan.

Meskipun dadanya terhimpit oleh dada bidang Reigan yang keras, Hana tetap tenang Salah satu tangannya diam-diam bersiap di balik pinggang, bersiaga pada belati kecil yang tersembunyi, sementara telinganya memantau setiap inci pergerakan orang asing dari balik bahu lebar Reigan yang kini menjadi tameng hidupnya.

Langkah kaki itu masuk lebih dalam. Berat dan penuh kehati-hatian.

Dari balik bayangan pilar, siluet pria asing itu bergerak mendekat. Langkah kakinya yang berbalut sepatu pantofel mahal berdecit halus di atas lantai kayu yang tidak tertutup permadani.

Pria itu menyalakan sebuah gawai siber kecil yang memancarkan pendar cahaya biru redup, menyapu area meja kerja, lalu mulai melangkah ke arah pilar tempat mereka bersembunyi—mencari tanda-tanda ke mana perginya pelayan yang seharusnya meracuni obat Kakek Arthur.

Jarak pria itu kini hanya tersisa tiga meter.

Reigan menegang, perlahan menggeser tangan kirinya ke balik jas untuk mencabut pistol dengan peredam suara miliknya. Namun, gerakan itu terhenti seketika.

Di sela-sela kungkungan dada mereka yang merapat kaku, Hana menggerakkan jemarinya yang bebas. Dengan ujung telunjuknya yang sedingin es, wanita itu mengetuk dada bidang Reigan.

Tok. Tok.

Dua ketukan pendek, tegas, dan penuh perhitungan tepat di atas detak jantung Reigan.

Mata gelap Reigan seketika melebar di balik kegelapan. Sebagai pria yang dibesarkan di dunia hitam, dia tahu persis arti dari kode taktis militer itu. Namun saat ini dia sedang kacau. Kedekatan tubuhnya dengan Hana merusak sistem kerja otaknya.

Hana mengerjap. Mempertanyakan kenapa Reigan tidak mengerti arahannya.

Tok. Tok.

Dua ketukan pendek, tegas, dan penuh perhitungan tepat di atas detak jantung Reigan. Lagi. Hana mengulanginya lagi karena Reigan tidak paham. Hingga akhirnya pria ini melebarkan matanya. Hana baru saja mengambil alih komando taktis di wilayah kekuasaan Reigan sendiri.

Tunggu aba-abaku atau Biarkan aku yang urus.

Reigan menggelengkan kepala menolak mentah-mentah diperintah.

Sementara itu, bayangan pria asing itu kini sudah berdiri tepat di balik sisi pilar. Hanya terpisah oleh beton tebal, siap menemukan mereka.

Tepat di detik ketika Reigan menolak, siluet pria asing itu berbelok melewati pilar beton. Pendar cahaya biru dari gawai di tangannya sempat menyinari ujung gaun Hana yang tersembunyi. Pria itu tersentak, tangannya bergerak kilat ke balik jas untuk menarik senjata.

Namun, dia menghadapi dua predator sekaligus. Reigan dan Hana bergerak di detik yang sama dengan sinkronisasi yang mematikan.

Reigan melesat maju dari posisinya, tangan kekarnya mencengkeram rahang dan leher pria asing itu dari depan, membanting tubuh tegapnya ke lantai permadani dengan redaman suara yang minimal.

Di saat yang bersamaan, merayap dari bawah kungkungan tubuh Reigan, tangan Hana bergerak secepat kilat. Belati kecil di jemarinya menusuk telak titik saraf di pangkal paha pria itu, melumpuhkan motorik kakinya dalam sekali sentak.

Ugh!

Pria itu melenguh tertahan, seluruh tubuhnya lumpuh seketika sebelum sempat menarik pelatuk senjatanya. Reigan dengan cepat menekan lututnya ke dada musuh, sementara tangan kirinya menjepit rahang pria itu dengan kaku—mencegahnya menggigit kapsul sianida seperti pelayan sebelumnya.

Pembersihan yang sangat kotor, namun luar biasa cepat. Kurang dari tiga detik.

Hana bangkit berdiri dengan anggun, sama sekali tidak menunjukkan kepanikan meski gaun malamnya sedikit kusut. Dengan gerakan luwes, ia memungut gawai siber yang terlepas dari tangan musuh sebelum layarnya meredup.

Di atas layar yang berkedip, sebuah pesan teks terenkripsi masuk dari nomor tanpa nama.

Pesan itu berbunyi pendek: "Umpan A gagal meracuni Arthur."

Tepat saat Reigan masih menahan rahang pria di bawahnya, pria baru itu tiba-tiba terkekeh lirih. Meskipun tubuhnya lumpuh akibat tusukan saraf belati Hana, sepasang matanya menatap Reigan dengan binar mengejek.

Ia melirik gawai di tangan Hana, lalu menyunggingkan senyuman yang sangat menyebalkan—sebuah sinyal kepuasan karena ia tahu laporan kegagalan itu sudah berhasil terkirim otomatis ke sistem Leon sebelum ia dilumpuhkan. Ejekan terselubung bahwa Reigan kembali terlambat selangkah.

Brak!

Tanpa peringatan, sebuah hantaman kaku dan luar biasa keras mendarat telak di pelipis pria itu.

Hana baru saja melayangkan satu pukulan dingin yang bersih, memanfaatkan momentum berat tubuhnya sendiri tanpa memedulikan gaun malam yang dikenakannya.

1
Riri
cemburu bang...😄
Idah Faridah
dtunggu thor up nya
Idah Faridah
ternyata hana bukan perempuan biasa👍
Lady Ve: Terima kasih Sudah mampir untuk baca🙏
total 1 replies
Riri
reigan ketagihan dialog sama Hana...
Riri
aura gadis desa itu...
Riri
POV Marco: dikira jaman purba
Riri
😂😂😂
Riri
kayak horor punya suami kek Regan
Kusyanti Handayani
thorrr llamnnjuttt lah
E F
lanjuttttt thor dobleeeee🙏💪😍
E F
lanjuttt thor💪😍
Lady Ve: Terima kasih tetap baca.
total 1 replies
Anonim
❤️❤️❤️
Kusyanti Handayani
semangat ladyyyy lanjooootttt
E F
tq thor🙏😍
semangattttt
lanjutttt😄💪
Anonim
❤️❤️❤️
pawon ngebul
kakak othor pokoknya getar hrs update biar g getir nungguinya😩🥺🥺🥺🥺🙏🙏🙏🙏
Lady Ve: 🤣🤣🤣🤣. iya tenang ....
total 1 replies
Kusyanti Handayani
bikin bedebar hanaaaa
Kusyanti Handayani
lanjuttttt
Herlin
Hana..... Sangaaar
Lady Ve: 🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
E F
tq thor🙏😍
lanjuttt
smangattt💪😄
Lady Ve: Terima kasih😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!