Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERANGKAP SANG PANGLIMA
Hari mulai beranjak terang. Kabut tipis menyelimuti wilayah perbatasan, membuat suasana desa tampak suram dan dingin. Cahaya matahari pagi masih tertahan di balik awan kelabu, sementara embusan angin membawa aroma tanah basah bercampur sisa asap.
Di dalam desa pertahanan, para prajurit mulai bergantian tugas.
Mereka yang berjaga semalaman akhirnya diperbolehkan beristirahat, sementara pasukan lainnya segera mengambil posisi masing-masing tanpa membuang waktu sedikit pun.
Meski semalaman tidak tidur, Gu Yanran masih berdiri tegak di depan peta pertahanan desa.
Tatapannya tetap tajam.
Tidak ada sedikit pun tanda kelelahan di wajahnya.
Beberapa prajurit yang melihat itu diam-diam merasa kagum.
Sejak tiba di perbatasan, panglima muda itu belum beristirahat sama sekali.
Ia terus mengatur strategi, memeriksa pertahanan, dan memimpin patroli secara langsung.
Tidak ada satu momen pun di mana Gu Yanran terlihat lengah.
Di depan para prajurit, Gu Yanran mulai memberikan instruksi baru.
“Kalian berlima berjaga di titik timur,” ucapnya tenang sambil menunjuk peta.
“Pastikan tidak ada orang asing yang keluar masuk tanpa pemeriksaan.”
“Siap, Panglima!”
Gu Yanran lalu mengalihkan jarinya ke sisi lain peta.
“Kalian bertiga menuju jalur belakang desa. Tempat itu terlalu sepi dan mudah dijadikan jalan penyusupan.”
“Siap, Panglima Gu!”
“Kalian fokus mengawasi area pasar.”
Tatapan Gu Yanran sedikit menyipit.
“Tempat ramai adalah lokasi terbaik untuk bersembunyi.”
Sekelompok prajurit langsung mengepalkan tangan di dada.
“Siap!”
Setelah itu Gu Yanran kembali berbicara.
“Sepuluh orang lainnya ikut denganku patroli pagi.”
“Baik, Panglima!”
“Sisanya tetap berjaga di markas pertahanan.”
Nada suaranya berubah lebih dingin.
“Jangan sampai lengah meski hanya sesaat.”
“SIAP, PANGLIMA GU!”
Jawaban para prajurit terdengar menggema.
Mereka memandang Gu Yanran dengan penuh rasa hormat.
Salah satu prajurit muda diam-diam berbisik kepada rekannya.
“Panglima Gu benar-benar luar biasa.”
“Dari tadi malam sampai sekarang dia bahkan belum beristirahat.”
Prajurit di sampingnya mengangguk pelan.
“Tidak heran Jenderal Gu selalu membanggakannya.”
“Dia memang pantas memimpin pasukan.”
Tak lama kemudian, seluruh prajurit mulai berpencar mengikuti instruksi masing-masing.
Sementara itu, Gu Yanran memimpin patroli menuju area pasar desa.
Namun kali ini penampilannya berbeda.
Ia tidak mengenakan zirah perang ataupun jubah panglima.
Sebaliknya, Gu Yanran hanya memakai pakaian sederhana layaknya rakyat biasa.
Rambut panjangnya diikat sederhana, membuat auranya terlihat lebih lembut dibanding biasanya.
Meski begitu, semua orang tetap langsung mengenalinya.
Penduduk pasar segera memberi jalan ketika melihat Gu Yanran datang.
Tatapan mereka dipenuhi rasa hormat.
Beberapa pedagang bahkan tampak lega karena sang panglima sendiri turun mengawasi keadaan desa.
Saat Gu Yanran berjalan melewati deretan kios, seorang pria paruh baya tiba-tiba mendekatinya sambil membawa sekeranjang buah segar.
Wajah pria itu dipenuhi senyum ramah.
“Panglima Gu,” ucapnya hangat. “Ini buah segar untuk Anda.”
Gu Yanran menghentikan langkahnya.
Tatapannya perlahan turun ke keranjang buah di tangan pria itu.
Lalu…
Ia tersenyum tipis.
Melihat itu, pria tersebut tampak senang.
Ia mengira Gu Yanran menerima pemberiannya.
Namun tepat di detik berikutnya—
BRUK!
Tubuh pria itu tiba-tiba terpental keras beberapa meter ke belakang.
Seluruh pasar langsung gempar.
Beberapa warga sampai menjerit kaget.
Tak ada yang melihat dengan jelas kapan Gu Yanran bergerak.
Mereka hanya melihat pria tadi sudah terkapar di tanah sambil memegangi dadanya kesakitan.
Tatapan Gu Yanran berubah dingin.
“Tangkap dia,” perintahnya tenang kepada prajurit yang berjaga di sekitar pasar.
“Baik!”
Dua prajurit langsung bergerak cepat menahan pria tersebut.
Seluruh rakyat langsung kebingungan.
“Apa yang terjadi?”
“Kenapa Panglima Gu menyerangnya?”
“Bukankah dia hanya memberi buah?”
Pria itu sendiri tampak panik.
“K-Kenapa kau menendangku?” teriaknya marah sambil berusaha memberontak.
“Aku tidak melakukan apa-apa!”
Gu Yanran menatapnya tajam tanpa sedikit pun emosi.
“Kau yakin tidak tahu alasan aku menendangmu?”
Mendengar pertanyaan itu, wajah pria tersebut langsung berubah pucat.
Keringat dingin mulai mengalir di dahinya.
Tatapan Gu Yanran semakin tajam.
“Aku sudah memperingatkan seluruh rakyat desa.”
“Tak seorang pun boleh memberiku hadiah atau makanan secara cuma-cuma.”
“Karena jika kalian ingin membantu, lebih baik gunakan uang itu untuk kebutuhan keluarga kalian sendiri.”
Suasana pasar langsung hening.
Seluruh rakyat perlahan mulai menyadari sesuatu.
Memang benar.
Beberapa tahun terakhir, Gu Yanran selalu menolak pemberian rakyat.
Ia bahkan pernah mengatakan bahwa seorang panglima seharusnya melindungi rakyat, bukan membebani mereka.
Karena itu, tidak ada penduduk desa yang berani memberinya hadiah lagi.
Pria di depan mereka ini…
Jelas bukan warga asli desa.
Melihat identitasnya hampir terbongkar, mata pria itu langsung berubah ganas.
Tanpa peringatan—
SWIING!
Ia mencabut pisau pendek dari balik lengan bajunya dan langsung menyerang Gu Yanran.
Beberapa warga langsung menjerit ketakutan.
Namun ekspresi Gu Yanran tidak berubah sedikit pun.
Malah…
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kau terlalu naif,” ucapnya dingin.
Belum sempat pria itu mendekat—
BRAK!
Seorang prajurit tiba-tiba menghantam lengannya dari samping.
Pisau di tangan pria itu langsung terlepas.
Dua prajurit lain segera bergerak menekan tubuhnya hingga jatuh ke tanah.
Pria itu mencoba melawan.
Namun kekuatan para prajurit Gu Yanran jauh di atas prajurit biasa.
Mereka adalah pasukan khusus yang dilatih langsung oleh Gu Yanran sendiri.
Latihan mereka jauh lebih keras dibanding pasukan kekaisaran biasa.
Satu orang dari mereka bahkan mampu menghadapi puluhan musuh sendirian.
Melihat pria itu masih mencoba memberontak, Gu Yanran mendengus kecil.
“Hajar dia,” ucapnya tenang.
“Tapi jangan sampai mati.”
“Siap!”
BUGH!
BUKH!
Teriakan kesakitan langsung terdengar di tengah pasar.
Warga sekitar hanya bisa menatap dengan wajah takjub.
Kini mereka benar-benar mengerti.
Panglima Gu sengaja memasang aturan itu untuk menemukan penyusup yang mencoba mendekatinya.
Dan hari ini…
Perangkap itu berhasil menangkap satu mata-mata.
Gu Yanran berjalan mendekat lalu berhenti tepat di depan pria tersebut.
Tatapannya dingin seperti es.
“Seret dia.”
“Interogasi sampai dia bicara.”
“Baik, Panglima!”
Para prajurit segera menyeret pria itu pergi.
Sementara itu, Gu Yanran kembali menoleh ke arah pasukannya.
“Kalian tetap berjaga di sini.”
“Tunggu informasi selanjutnya.”
“Siap!”
Meski suasana pasar perlahan kembali normal, ketegangan tetap terasa di udara.
Semua orang sadar…
Musuh benar-benar sudah menyusup ke dalam desa.
Dan itu berarti perang besar mungkin tinggal menunggu waktu.
Namun di tengah rasa takut itu, rakyat justru merasa lebih tenang dibanding sebelumnya.
Karena Gu Yanran ada di sini.
Selama panglima wanita itu masih berdiri di garis depan…
Mereka merasa desa ini belum akan jatuh.
---
Di sisi lain, jauh di ibu kota kekaisaran…
Langit pagi baru saja mulai terang ketika Mo Chen keluar dari kediaman ny.
Ia langsung menuju istana kekaisaran tanpa membuang waktu sedikit pun.
Langkahnya cepat.
Tatapannya serius.
Semalaman ia hampir tidak bisa tidur.
Pikirannya terus dipenuhi satu hal—
Gu Yanran.
Ia tahu betul apa yang akan terjadi di perbatasan jika semuanya berjalan sesuai alur cerita asli.
Kematian Gu Yanran…
Akan menjadi awal runtuhnya keluarga Gu.
Dan sekarang, meski banyak hal mulai berubah dari cerita yang ia tulis, tujuan akhirnya masih tetap sama.
Seseorang tetap menginginkan kehancuran keluarga Gu.
Dan orang itu…
Adalah Kaisar sendiri.
Tatapan Mo Chen perlahan berubah dingin.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” gumamnya pelan.
Hari ini…
Apa pun yang terjadi, ia harus mendapatkan izin untuk pergi menyusul Gu Yanran ke perbatasan.