Turnamen Peringkat Langit baru saja dimulai. Di hadapan para penguasa Alam Tiran, Arka Yudhistira melangkah ke arena bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai naga yang tengah terjaga.
Di antara bayang-bayang Ratna, Citra, dan kesetiaan Larasati, Arka siap mengguncang tatanan dunia. Panggung telah siap, pedang telah terhunus, dan sejarah baru akan segera ditulis.
Inilah awal dari...
LEGENDA ARKA YUDHISTIRA
Biarkan dunia bersujud pada sang naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
“Aku awalnya tak menyadarinya,” suara Melati menggema di batin Arka, terdengar seperti bisikan kuno yang bijak. “Namun saat ia menggunakan sedikit kekuatan aslinya tadi, hal itu tak lagi bisa lolos dari mataku. Di tempat terpencil dengan tingkat kekuatan rendah seperti ini, seharusnya tak ada yang mengenal konsep itu—termasuk dirinya sendiri.”
Melati melanjutkan penjelasannya. “‘Hati Kaca Berlapis Salju’ adalah jenis jiwa yang amat murni, Arka. Pemiliknya memiliki batin sejernih es. Ia memiliki daya ingat yang mustahil—sekali lihat, segalanya terpatri abadi. Ia bisa merasakan bahaya, bahkan melihat ke dalam niat jahat seseorang sebelum tindakan itu dilakukan.”
“Dalam legenda, mereka yang memilikinya dianggap sebagai eksistensi suci. Mereka diberkati oleh langit. Siapa pun yang mencoba menyakiti mereka, akan mendapat hukuman dari alam semesta.”
Arka merasa alisnya berkedut. “Diberkati langit?”
“Hmph! Hal yang melampaui logika memang sulit kaupercayai. Tapi yang lebih berbahaya adalah ‘Tubuh Indah Sembilan Misteri’-nya,” nada Melati berubah serius. “Artinya, di dalam tubuhnya terdapat sebuah ‘Dunia Indah’—sebuah ruang energi tanpa batas. Ia bisa mempelajari teknik tingkat tinggi tanpa terbebani oleh batasan fisik. Aku tidak akan heran jika penguasaan Seni Awan Beku miliknya kini sudah melampaui gurunya sendiri.”
Arka benar-benar terguncang. Konsep yang melampaui nalar itu ternyata melekat pada istrinya sendiri.
“Tapi ingat satu hal, Arka,” Melati memperingatkan. “Jika ada ahli tingkat tinggi yang menyadari hal ini, hidupnya tidak akan pernah tenang. Karena pemilik Tubuh Indah Sembilan Misteri adalah ‘wadah’ kultivasi paling sempurna. Pria yang mendapatkan keperawanannya... akan mewarisi sebagian dari Dunia Indah itu ke dalam tubuhnya sendiri.”
......................
Senja mulai turun menyapu lereng pegunungan tempat Perguruan Pedang Surgawi berdiri. Arka berjalan menyusuri selasar, mendapati tatapan para murid yang kini penuh rasa hormat. Tak ada lagi ejekan; yang ada hanyalah kekaguman pada sang penghuni empat besar.
Langkah Arka berhenti tepat di depan halaman tempat menginap utusan Padepokan Awan Beku.
Gerbangnya terbuka lebar, namun seolah memisahkan dua dunia. Di luar, angin malam terasa hangat. Namun dari dalam, hawa dingin yang menusuk tulang merembes keluar, seakan-akan salju abadi sedang turun di sana.
Arka tidak melangkah masuk. Ia berdiri tegak, menarik napas dalam-dalam, lalu berseru dengan suara lantang:
“Arka Yudistira, murid Istana Surya Kencana, memohon izin bertemu Peri Citra untuk menyampaikan terima kasih secara pribadi atas pertolongannya hari ini.”
Biasanya, halaman depan kediaman Padepokan Awan Beku selalu diramaikan oleh para pemuda yang berharap bisa mencuri pandang pada kecantikan para perinya. Namun, hampir tak ada yang punya nyali untuk sekadar menyapa. Tak peduli seberapa hebat bakat atau kekuasaan mereka di daerah asal, berdiri di hadapan murid Awan Beku selalu memicu rasa canggung dan rendah diri yang mendalam.
Maka, ketika seseorang berani meminta bertemu langsung dengan Citra—sang legenda hidup—suasana seketika mencekam.
Butiran embun beku melayang di udara, dan sesosok gadis anggun muncul dari balik gerbang. Dialah Ratna. Tatapan indahnya yang tenang tertuju pada wajah Arka Yudistira.
“Tuan Arka, jika niat Anda untuk menemui Guru Senior Citra, sebaiknya Anda kembali. Beliau menyukai ketenangan dan tidak pernah menerima tamu dari luar padepokan. Saya yakin beliau sudah mendengar ucapan Anda tadi.”
Arka menatap Ratna dengan sorot mata serius yang tak tergoyahkan.
“Istriku Ratna, aku memberimu dua pilihan. Pertama, panggil aku suami. Kedua, panggil namaku. Kau adalah istriku yang sah—di mana ada istri yang memanggil suaminya dengan sebutan 'Tuan'?”
Mendengar itu, Ratna tidak menunjukkan kemarahan. Ia hanya mengangguk pelan. “Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang aku akan memanggilmu Arka.”
Sudut bibir Arka berkedut. Ia menghela napas panjang. “Sejujurnya aku merindukanmu yang dulu. Dulu kau menatapku dingin, tapi setidaknya kau masih bisa marah kalau kugoda. Sekarang kau terlalu tenang, seolah semua emosimu sudah membeku.”
“Seni Hati Es membuat batin kami jernih dan bebas dari keinginan duniawi,” jawab Ratna datar. “Aku akan menganggap ucapanmu sebagai pujian.”
“Menghapus keinginan? Apa itu masih bisa disebut manusia?” Arka menggeleng, lalu mengalihkan pembicaraan. “Selamat karena masuk empat besar, Istriku. Setelah ini, namamu akan harum di seluruh negeri.”
“Kalimat itu lebih pantas untukmu,” balas Ratna dengan ekspresi rumit. “Aku tak menyangka dalam dua tahun kau bisa membalas mereka yang dulu meremehkan dan mengusirmu dengan pencapaian sehebat ini.”
“Aku benar-benar ingin bertemu Citra,” potong Arka. “Tolong sampaikan sekali lagi. Siapa tahu dia berubah pikiran.”
Ratna menggeleng lembut. “Mustahil. Guru Senior pasti tidak akan—”
“Ratna, biarkan dia masuk ke kamarku.”
Sebuah suara yang samar seperti kabut namun sedingin es terdengar dari arah dalam. Suara itu berdesir pelan, merayap masuk ke telinga mereka berdua. Mata Ratna berkilat kaget.
“Baik, Guru Senior… Arka, ikutlah denganku.”
Dipandu oleh Ratna, Arka tiba di depan sebuah pintu kayu yang setengah terbuka. Hawa dingin langsung menyergap pori-porinya begitu ia melangkah masuk.
Di dekat jendela yang bermandikan cahaya bulan, berdiri sosok wanita yang punggungnya saja sudah memancarkan keanggunan dewi. Jubah putihnya bersinar lembut, sementara kulit lehernya yang putih bersih memantulkan cahaya rembulan—lebih indah dari salju mana pun.
Arka terpaku, kehilangan kata-kata. Citra tidak menoleh sedikit pun.
“Apa kau tahu mengapa aku mengizinkanmu masuk?” suara dinginnya memecah kesunyian.
“Aku tahu,” jawab Arka setelah tersadar. “Karena kau juga ingin menemuiku… sama seperti aku yang selalu ingin bertemu lagi denganmu sejak perpisahan kita di Tanah Kematian.”
“…Omong kosong!” Ada nada amarah yang samar dalam suara Citra. “Aku menemuimu hanya untuk menegaskan ini: Segala urusan di antara kita sudah berakhir sejak aku meninggalkan tempat itu. Kita tidak saling berutang, dan mulai sekarang, kita adalah orang asing!”
Arka justru tertawa. “Kalau kau ingin memutus semuanya, mengapa kau sudi datang ke turnamen ini? Dan saat aku dalam bahaya tadi, mengapa kau yang pertama melesat menolongku? Itu bukan tindakan Peri Citra yang dikenal dingin kepada semua pria.”
“Aku hanya menjalankan tugas menggantikan Ketua Padepokan,” kilah Citra dingin. “Dan aku menolongmu karena tidak tahan melihat tindakan Faisal yang memalukan. Itu tak ada hubungannya denganmu pribadi.”
“Kau bisa membohongiku, tapi bisakah kau membohongi batinmu sendiri?” Arka mendekat perlahan. “Kalau kau benar-benar tegas, kau tak perlu menjelaskan sebanyak ini. Mengaku sajalah—bukankah selama ini kau sering teringat pada setengah tahun yang kita habiskan bersama? Alasanmu datang ke sini… sebenarnya untuk menemuiku, kan?”