Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Tanpa Tekanan
Senja mulai turun di langit Jakarta. Cahaya jingga masuk melalui jendela besar rumah keluarga Argas, membuat suasana rumah terasa hangat namun juga tenang. Udaranya terasa sedikit dingin setelah hujan sore mengguyur kota.
Di dapur, Aurel dan Feni sedang menyiapkan makan malam seperti biasa. Suara sendok dan piring terdengar pelan. Aroma sup hangat memenuhi udara.
Namun suasana hati penghuni rumah malam itu terasa berbeda, lebih ringan dan lebih tenang. Karena setelah semua kekacauan tentang Erika terbongkar.
Rumah itu perlahan kembali damai. Meskipun masih ada banyak hal yang belum benar-benar selesai.
Di sisi lain, ada seseorang yang sejak tadi memikirkan banyak hal, yaitu Bagaskara.
Suara mobil masuk ke halaman rumah terdengar hampir bersamaan.
Aurel yang sedang menata gelas langsung melirik ke arah jendela dapur. “Itu kayaknya Pak Bagaskara sama Bu Indah pulang.”
Feni mengangguk. “Mas Arvano juga.”
Pintu rumah terbuka. Bagaskara masuk lebih dulu dengan wajah lelah, di belakangnya ada Indah, dan terakhir Arvano yang melepas jas sambil menghela napas kecil.
Hari itu mereka semua terlihat capek. Namun berbeda dari biasanya, tatapan Bagaskara terlihat lebih berat, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan sejak tadi.
Aurel yang melihat mereka langsung menunduk sopan. “Selamat sore, Pak… Bu… Mas.”
Indah tersenyum kecil. “Sore.”
Sementara Arvano diam-diam melirik Aurel beberapa detik sebelum berjalan masuk. Tatapan kecil itu cukup membuat jantung Aurel berdebar seperti biasa. Ada suasana serius di rumah yang membuat mereka tidak bisa terlalu banyak saling melihat.
Setelah semua berada di ruang tamu, Bagaskara tiba-tiba berkata pelan, “Kalian duduk dulu, ada yang mau aku diomongin.”
Indah langsung menoleh.
Arvano yang baru hendak naik ke kamar juga berhenti.
Suasana langsung terasa sedikit tegang. Karena jarang sekali Bagaskara bicara serius seperti itu di rumah.
Arvano akhirnya duduk di sofa seberang ayahnya. Indah duduk di samping Bagaskara.
Sementara dari dapur, Aurel tanpa sadar ikut penasaran. Tangannya tetap bekerja membantu Feni. Namun telinganya diam-diam mendengar pembicaraan ruang tamu.
Bagaskara menghela napas panjang, kemudian berkata, “Soal Erika.” Nama itu langsung membuat suasana berubah sunyi.
Arvano bersandar pelan, wajahnya datar. Sementara Indah menunggu lanjutannya.
Bagaskara kembali bicara, “Papa sudah memastikan semuanya.”
Indah langsung menatap suaminya serius. “Maksudnya?”
Bagaskara menatap lurus ke depan. “Cowok yang di foto itu memang pacarnya Erika.”
Deg.
Meskipun mereka sebenarnya sudah tahu, tetap saja mendengarnya langsung dari Bagaskara terasa berbeda.
Indah langsung terlihat kecewa lagi. “Jadi benar.”
Bagaskara mengangguk kecil. “Dan ayah Erika juga bohong.”
Arvano tertawa kecil hambar. “Akhirnya percaya juga.” Nada suaranya tidak terdengar marah, justru lebih seperti lelah, dan itu membuat Bagaskara makin merasa bersalah.
Selama ini, Bagaskara selalu merasa dirinya benar. Sebagai kepala keluarga, sebagai pemimpin perusahaan. Bagaskara percaya semua keputusan yang di ambil pasti demi masa depan keluarganya.
Termasuk soal hubungan Arvano dan Erika. Bagaskara terlalu fokus pada kerja sama bisnis dan terlalu fokus menjaga relasi perusahaan, sampai lupa memikirkan perasaan anaknya sendiri.
Dan sekarang, saat semuanya terbongkar, Bagaskara baru sadar. Dirinya hampir menyerahkan masa depan Arvano pada orang yang salah.
Bagaskara menatap Arvano. Tatapannya kali ini jauh lebih lembut dibanding biasanya. “Van…”
Arvano sedikit mengangkat kepala. “Hm?”
Bagaskara menarik napas panjang. Pria yang keras kepala seperti Bagaskara terlihat benar-benar menyesal. “Papa minta maaf.”
Ruangan langsung sunyi total. Bahkan Aurel di dapur sampai berhenti mencuci piring sesaat. Karena selama tinggal di rumah itu, Ia belum pernah mendengar Bagaskara meminta maaf, apalagi kepada Arvano.
Arvano sendiri terlihat sedikit terkejut.
Bagaskara melanjutkan pelan, “Papa terlalu memaksa kamu—.” Tatapannya mulai turun. “—Papa terlalu fokus sama perusahaan sampai enggak mikirin perasaan kamu.”
Indah diam memperhatikan suaminya. Sementara Arvano masih belum bicara.
Bagaskara lalu tersenyum pahit kecil. “Padahal dari awal kamu udah benar.”
Arvano menghela napas pelan. Suasana terasa emosional. Karena sebenarnya, Arvano juga tahu ayahnya tidak sepenuhnya jahat.
Bagaskara hanya terlalu keras kepala, dan terlalu mencintai perusahaan yang dibangunnya dari nol.
Bagaskara menoleh ke arah Indah, tatapannya berubah semakin bersalah. “Dan aku juga minta maaf sama kamu.”
Indah sedikit kaget. “Hm?”
“Aku enggak percaya sama insting kamu soal Erika.” Nada suara Bagaskara melemah. “Padahal kamu dari awal udah curiga.”
Indah tersenyum kecil pahit. “Karena kamu terlalu percaya sama ayahnya Erika.”
Bagaskara mengangguk pelan. “Iyaa.”
Bagaskara yang keras kepala benar-benar terlihat rapuh. Membuat suasana rumah terasa berbeda, lebih hangat dan lebih jujur.
Arvano akhirnya bicara pelan, “Papa enggak salah sepenuhnya.”
Bagaskara langsung menatap anaknya.
“Aku ngerti kenapa papa mikirin perusahaan, tapi aku cuma enggak mau hidup sama orang yang bahkan enggak cinta sama aku.” Ucapan itu membuat Indah langsung merasa sedih dan Bagaskara juga terdiam.
Karena akhirnya Bagaskara sadar, betapa besar tekanan yang selama ini diterima Arvano.
Indah lalu memegang tangan suaminya pelan. “Yang penting sekarang semuanya udah selesai.”
Bagaskara mengangguk kecil.
Bagaskara kembali menatap Arvano serius. “Mulai sekarang…” Nada suaranya berubah lebih lembut.
“.....Papa enggak akan paksa kamu lagi.”
Deg.
Ucapan Bagaskara langsung membuat Arvano sedikit terdiam. Karena itu pertama kalinya ayahnya benar-benar menyerahkan keputusan hidupnya sendiri.
Dari dapur, Aurel diam mendengar semuanya. Entah kenapa, dadanya terasa hangat. Karena ia bisa melihat sendiri, keluarga itu perlahan mulai berubah.
Bagaskara yang keras kepala mulai melunak, Indah mulai lebih tenang, dan Arvano akhirnya tidak lagi dibebani hubungan palsu dengan Erika.
Namun di sisi lain, ada rasa takut kecil yang tiba-tiba muncul di hati Aurel. Karena sekarang, tidak ada lagi penghalang antara dirinya dan Arvano.
Dan itu berarti, cepat atau lambat hubungan mereka mungkin akan diketahui keluarga.
Tak lama kemudian, Feni memanggil dari dapur. “Makan malam sudah siap!”
Indah langsung tersenyum kecil. “Ayo makan dulu.”
Suasana ruang makan malam itu terasa jauh lebih nyaman dibanding biasanya. Bahkan Bagaskara beberapa kali mulai mengobrol santai dengan Arvano.
Aurel yang membantu menaruh makanan sampai sedikit tersenyum sendiri melihatnya. Namun saat ia hendak kembali ke dapur, tangannya tiba-tiba disentuh pelan di bawah meja. Aurel langsung kaget dan menoleh cepat, ke Arvano.
Arvano tetap makan dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa. Namun jari tangannya diam-diam menggenggam tangan Aurel sebentar.
Wajah Aurel langsung panas, Ia buru-buru menarik tangannya lalu pergi ke dapur dengan jantung tidak karuan. Sementara Arvano diam-diam menahan senyum kecil.
Malam semakin larut. Satu per satu lampu rumah mulai dimatikan. Suasana rumah terasa jauh lebih damai malam itu.
Namun di balik ketenangan itu, ada seseorang sedang memikirkan sesuatu sendirian di kamarnya, yaitu Arvano.
Arvano berdiri di dekat jendela sambil melihat langit malam, lalu perlahan tersenyum kecil.
Karena sekarang, Ayahnya tidak lagi memaksanya bersama Erika. Dan mulai berpikir tentang sesuatu yang lebih jauh, yaitu tentang masa depan, tentang Aurel.
Namun tanpa Arvano sadari, di sisi lain kota Jakarta, Erika sedang menatap foto Aurel di ponselnya dengan mata penuh kebencian.
“Aku kehilangan semuanya.” Air matanya jatuh pelan. “Tapi kamu juga enggak akan hidup tenang, Aurel.”
Dan malam itulah rencana mulai disusun diam-diam. Rencana yang akan mengubah hidup Aurel selamanya.