NovelToon NovelToon
Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Menghancurkan Suami Benalu Dan Adik Tiriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nila KingShop Wati

HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Malam pertama sebagai suami istri terasa jauh lebih canggung dan menegangkan daripada apa pun yang pernah kubayangkan sebelumnya. Setelah berjalan mengelilingi seluruh ruangan kamar tidur yang luas itu, serta memeriksa lemari pakaian dan ruang ganti yang ukurannya saja sudah sebesar kamar tidur di rumahku yang lama, aku kembali duduk di atas sofa kecil yang diletakkan tidak jauh dari tepi tempat tidur. Tanganku saling menggenggam erat di atas pangkuan, jari-jarinya saling bertaut seolah ingin menahan getaran yang menjalar ke seluruh tubuh.

Gugup. Sangat gugup.

Suara aliran air dari dalam kamar mandi terdengar jelas dan teratur, mengisi keheningan di ruangan yang begitu luas ini. Entah mengapa, jantungku terus berdebar dengan irama yang tidak beraturan, seolah ingin melompat keluar dari rongga dada. Mungkin karena baru saja pagi tadi aku masih hidup sebagai seorang perempuan lajang yang bebas menentukan jalan hidupnya sendiri. Dan sekarang, dalam hitungan jam saja, semuanya berubah drastis. Aku sudah resmi menikah, bahkan tinggal satu atap dan satu kamar dengan seorang pria yang nyaris belum kukenal dengan baik.

Klik.

Suara engsel pintu bergerak terbuka. Refleks aku langsung mengangkat kepala dan menoleh ke arah sumber suara, namun begitu mataku menangkap sosok yang keluar, seluruh tubuhku seketika membeku di tempat.

Sherkan melangkah keluar sambil mengusap dan mengeringkan rambutnya yang masih basah menggunakan handuk putih yang tergantung di bahunya. Rambut hitamnya terlihat agak berantakan, meneteskan sedikit air yang mengalir turun membasahi bagian leher dan ujung tulang selangkanya. Malam ini ia hanya mengenakan pakaian tidur yang sangat sederhana—sehelai kaus lengan pendek berwarna gelap dan celana panjang santai yang terbuat dari bahan lembut. Penampilan ini sangat jauh berbeda dari sosok Sherkan yang biasa kulihat di siang hari. Tidak ada jas mahal yang rapi, tidak ada dasi yang terikat sempurna, dan tidak pula ada aura dingin serta mengintimidasi seorang raja bisnis yang membuat semua orang di kantor menunduk hormat.

Namun anehnya, meski tampil begitu sederhana, ia justru terlihat lebih berbahaya dan memikat malam ini. Tubuhnya yang tinggi dan kekar terlihat sangat jelas tanpa balutan pakaian resmi yang tebal. Bahunya yang lebar, lengan yang berotot, serta postur tubuh yang tegap dan kokoh membuat kehadirannya sulit untuk diabaikan sedikit pun. Belum lagi wajahnya yang terlihat lebih tenang dan tanpa ekspresi tegas seperti biasanya, justru membuat garis rahang yang tegas dan tatapan matanya terasa semakin tajam dan memukau.

Aku menatapnya beberapa detik terlalu lama, sampai akhirnya sadar dan buru-buru memalingkan pandangan ke sisi lain. Di dalam hatiku, aku baru menyadari satu kenyataan yang selama ini sengaja kuabaikan: Sherkan benar-benar sangat tampan. Bahkan bisa dikatakan memiliki ketampanan yang luar biasa, jauh dibandingkan Arga. Sumpah sangat jauh, ketampanan nya yang mampu membuat banyak perempuan terpesona hanya dengan satu pandangan saja. Selama ini aku tidak pernah benar-benar memperhatikannya—mungkin karena setiap kali bertemu, pikiranku selalu dipenuhi masalah hidup yang berat, atau karena aku terlalu sibuk menjaga jarak. Namun malam ini, sendirian dalam ruangan yang sama, aku tidak punya alasan lagi untuk menyangkal kenyataan itu.

Untungnya, sepertinya Sherkan tidak menyadari kekacauan pikiran yang sedang melanda diriku saat ini. Ia melangkah mendekat sedikit, lalu berhenti dan menatapku sekilas.

“Pergilah mandi,” ucapnya dengan suara datar namun tetap terdengar jelas dan tenang.

Aku langsung menegakkan punggung, seolah baru terbangun dari lamunan yang melamun.

“Setelah itu, kita bisa makan malam di lantai bawah,” lanjutnya lagi tanpa banyak kata.

Aku berkedip beberapa kali, mencoba mencerna kalimatnya. “Makan malam?”

Sherkan hanya mengangguk singkat. “Bukankah sejak tadi siang kau belum makan apa pun? Aku melihatmu tidak menyentuh makanan saat upacara tadi.”

Seketika aku terdiam. Benar juga katanya. Sejak pagi hari ini, pikiranku hanya berputar pada keputusan pernikahan ini, hingga rasa lapar pun terasa menghilang dan aku lupa mengisi perut.

“Iya… benar,” jawabku dengan suara yang masih terdengar sedikit bergetar karena gugup.

“Baiklah. Pergilah, aku akan menunggumu di bawah,” katanya lagi.

Aku segera mengangguk, lalu buru-buru berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi sebelum wajahku semakin memerah dan terlihat jelas rasa malunya.

Sekitar dua puluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi. Rambutku masih sedikit lembap dan terurai bebas di bahu, sedangkan gaun pengantin yang berat dan kaku sudah kuganti dengan pakaian tidur yang terasa jauh lebih ringan dan nyaman di tubuh. Namun saat melangkah keluar dan memandang sekeliling ruangan, aku tidak menemukan sosok Sherkan di sana. Kamar itu terlihat kosong dan sunyi.

Tanpa sadar aku menghela napas panjang dan lega. Setidaknya aku punya waktu beberapa menit untuk menenangkan detak jantungku yang masih belum stabil.

Setelah merasa cukup tenang, aku pun berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menuju ruang makan di lantai dasar. Begitu sampai di ujung tangga, mataku langsung menangkap sosok yang sudah kutunggu-tunggu. Sherkan sudah duduk tenang di salah satu ujung meja makan yang panjang dan luas, diterangi cahaya lampu gantung yang hangat dan lembut. Seluruh permukaan meja sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap panas, menebarkan aroma wangi yang menggugah selera.

Begitu mendengar suara langkah kakiku, ia langsung mengangkat kepala. Dan entah mengapa, sejak saat itu tatapannya tidak lagi berpindah ke tempat lain.

Aku melanjutkan langkah menuruni anak tangga satu per satu. Semakin dekat ke ruang makan, semakin cepat pula detak jantungku berpacu. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tidak tahu apa yang dilihatnya dari diriku malam ini, namun kenyataannya, sejak aku muncul di ujung tangga, matanya terus mengikuti setiap gerakanku tanpa berkedip, tanpa mengalihkan perhatian sedikit pun. Pandangan itu membuatku semakin gelisah, seolah seluruh isi hatiku bisa terbaca hanya dari satu tatapan saja.

Meski begitu, aku tetap berusaha mempertahankan ekspresi wajah yang tenang. Jangan gugup. Jangan terlihat canggung. Jangan membuat suasana semakin aneh, bisikku dalam hati. Namun sayangnya, nasihat itu sama sekali tidak membantuku.

Akhirnya aku sampai di sisi meja dan duduk di kursi yang berada tepat berhadapan dengannya, hanya dipisahkan oleh meja makan yang lebar itu. Sherkan meletakkan gelas minum yang sedang dipegangnya, lalu menatapku dengan pandangan yang sedikit melunak.

“Aku belum terlalu hafal selera makanmu, jadi aku meminta staf menyiapkan berbagai macam hidangan,” ucapnya pelan. “Jika ada yang tidak kau sukai atau terasa kurang pas, katakan saja. Kita bisa memesan makanan lain kapan pun malam ini.”

Aku mengangkat wajah perlahan, lalu menatapnya sejenak sebelum mengalihkan pandangan ke berbagai hidangan yang tersaji di hadapanku. Ada sup hangat yang terlihat kental dan lezat, potongan ikan yang dipanggang dengan bumbu meresap, tumisan sayuran segar, puding buah, hingga beberapa jenis lauk dan makanan ringan lainnya. Bahkan tidak ketinggalan buah-buahan.

Sebuah senyum kecil muncul tanpa sadar di bibirku. “Terima kasih. Semua ini terlihat sangat lezat, dan aku menyukai semuanya.”

Mendengar jawabanku, ujung bibir Sherkan terangkat sedikit membentuk senyum tipis yang jarang terlihat. “Kamu suka semuanya?”

“Iya, benar,” jawabku mantap.

“Bagus kalau begitu.”

Dan itu bukan sekadar kata-kata manis belaka. Aku benar-benar menyukainya. Bahkan beberapa hidangan yang ada di meja itu adalah makanan kesukaanku yang jarang bisa kudapatkan dengan mudah. Aku menatap sekeliling meja, lalu tersenyum sendiri dalam hati. Mungkin ini hanya kebetulan semata. Ya, pasti hanya kebetulan belaka. Bagaimanapun, bagaimana mungkin Sherkan bisa mengetahui makanan apa saja yang paling aku sukai, padahal kami baru saja mulai mengenal satu sama lain.

Namun di tengah pikiran itu, saat aku kembali menoleh dan melihat pria itu diam-diam memperhatikanku dari seberang meja dengan tatapan yang terasa hangat, untuk pertama kalinya sejak aku kembali hidup setelah kejadian itu, suasana makan malam yang sederhana ini terasa jauh lebih hangat, lebih tenang, dan lebih menyenangkan dibandingkan seluruh jamuan makan mewah yang pernah kulalui selama dua tahun masa pernikahanku sebelumnya bersama Arga. Malam ini, di hadapan pria yang masih penuh tanya ini, aku merasakan sesuatu yang selama ini hilang. Rasa nyaman yang perlahan mulai tumbuh di hatiku.

1
Amidah Anhar
maaak bab selanjutnya pengumuman Meraka udah jadi sepasang suami istri iya..
pengen tahu reaksi mereka 🤣🤣🤣🤣
Miss Typo
aku suka aku suka
aku padamu Sherkan ♥️🫰

apa Sherkan juga mengulang waktu mengulang masa lalu, jadi dia tau semuanya yg disembunyikan Violet? 🤔
Maria Kibtiyah
kayakmya sherkan tau apa yg di alamin violet di masa lalu
Miss Typo
ku pikir Sherkan mau duduk di meja rias trs menarik pinggang Violet untuk memakaikan dasinya itu 🤣
ternyata aku salah dgn pikirin ku sendiri 😁
Ayudya
sherkan suami yg terbalk
Ayudya
lanjut kak
Amidah Anhar
Maaak aku belum move-on dengan nama sherkan nya Elf 🤭🤭🤭🤭
Evve Miss Plot twist: yang ini bakal bikin jauh lebih ga bisa bikin move on makkk😍🤭
total 1 replies
Maria Kibtiyah
sherkan gak ketebak kira2 apa rencana dia
Maria Kibtiyah
semangat mak semakin menarik😍
Maria Kibtiyah: 😍😍😍😍😍
total 2 replies
Silvia
lagi Thor semangat💪💪
Evve Miss Plot twist: ok mak😍
total 1 replies
Nana Colen
semangat thooooor.... lanjut up lagi dan kalau bisa tolong dong lanjutin cerita nya dalam cengkraman badai
Evve Miss Plot twist: siap makkk sudah update lagi 1 bab, tunggu review yah
total 2 replies
Nana Colen
aaah orang kaya mah pasti udah diselidiki duluan ath neng violet... dari makanan favorit hobinya apa dan sebagainya 😁😁😁😁
Nana Colen
thor aku mau tanya... apakah ayahnya violet saat ini sudah berada drumah sakit atau gimana aku kurang nggeuh
Nana Colen
aku ucapkan Terima kasih thor mau berkarya lagi di NT.... aku kangen banget dengan cara dan gaya mu dalam membuat novel selalu banyak kejutan dan takateki 😍😍😍😍😍
Miss Typo
kalian berdua ngegemesin deh 😍

semangat Mak Eva 💪🥰
wiliss
alhamdulilllah saahh? saaahhhhh🥰🙏
Nana Colen
balaslah dengan elegan violet... kamu bukan cewek lemah dan bodoh 💪💪💪💪
Nana Colen
jadi ikutan deh deg an ya... ini violet beda cerita lagi sama violet sherkan ya
Evve Miss Plot twist: beda mak, lagi malas nyari nama pemeran 🤭
total 1 replies
Nana Colen
buanglah suami benalu itu violet
Nana Colen
akhirnya netes juga karya baru nya... semangat thor aku pendukung karya karyamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!