NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMARAHAN

"Dengarkan jika orang tua bicara!" sentak Buksa marah.

Pria itu sudah kesal melihat betapa keponakannya itu sangat keras kepala. Ia sangat ingat jika mendiang sepupunya, Abda. Selalu mendengarkan orang bicara terlebih dahulu. Walau orang tersebut adalah musuhnya.

"Jika ayahmu tau. Beliau pasti sangat kecewa!" imbuhnya kesal.

Srikandi terdiam, tapi tiga laki-laki hebat di depannya belum mengatakan apapun tentang keberadaan ayahnya.

"Lalu ... Mana Ayah, paman?" tanya Srikandi menatap Buksa dengan mata berkaca-kaca.

"Di mana Ayahku!" teriak Srikandi marah.

Sengko, Buksa dan Jalak Rawut terdiam. Mereka tidak bisa menjawab. Keheningan membuat Srikandi marah luar biasa.

"Jika Ayah kecewa padaku sekarang. Lalu, hari ini ... huuuu ... Hiks ... Hiks!" tangis Srikandi pecah.

"Aku yang kecewa pada kalian!" teriaknya lalu pergi melesat.

"Kandi!" teriak Buksa hendak mengejar. Sengko menahan laju pria itu.

"Jangan Punggawa!" larangnya.

"Tapi, Adipati ...," suara Buksa bergetar menatap Sengko.

"Aku tau ..., aku sangat tau," sahut Sengko juga dengan suara bergetar.

Jalak menatap tubuh Srikandi yang makin lama makin mengecil dari pandangannya. Ia juga sangat sedih, hatinya seakan teriris mendengar tangisan gadis itu.

Sementara di Kerajaan Jalapati, Prabu Wijaya menyusun kembali serangan balasan. Kekalahan perang yang belum lama terjadi, sungguh membuatnya malu luar biasa.

Ia menatap putra keduanya sangat kesal. Sungguh Arya Seta memang berbeda dengan kakaknya Putra mahkota Aryo Seto Wijaya. Putra pertamanya itu kini sedang belajar kanuragan di gunung Lawu semenjak usia belia, Putra Mahkota sudah berpetualang mencari ilmu.

Arya Seta tau jika sang ayah menatapnya kesal. Tapi ia ingin juga dianggap berguna sebagai anak. Ia ingin ayahnya memujinya. Bukan hanya kakaknya.

Ratu Hemas datang bersama para abdi dalem dan para dayang. Mereka berjalan berjongkok ketika mendatangi raja mereka.

""Baginda, nedha awan sampun disiapake. Kita ngenteni rawuhipun panjenengan ing ruang makan kaliyan para menteri lan pinisepuh kraton!" ujar Ratu Hemas sambil menakup tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.

Prabu Wijaya Ningrat menghela napas berat, mencoba meredam sisa-sisa amarah yang masih bergemuruh di dadanya. Kehadiran Ratu Hemas dan pengumuman tentang santap siang bersama para menteri sedikit mencairkan ketegangan di ruangan itu.

Ia melirik Arya Seta yang masih tertunduk, meratapi egonya yang hancur, lalu mengalihkan tatapannya pada sang permaisuri.

"Baiklah, Diajeng. Aku akan segera ke ruang makan," sahut Prabu Wijaya dengan suara yang kembali datar dan berwibawa.

Ia bangkit dari singgasananya, namun sebelum melangkah, matanya menatap tajam ke arah putra keduanya.

"Arya, ikut aku. Jangan biarkan para menteri melihat wajahmu yang lesu seperti ayam kalah sabung. Tunjukkan bahwa kau masih seorang pangeran Jalapati!"

Arya Seta hanya bisa mengangguk pasrah.

"Sendika dawuh, Ayahanda Prabu," sahutnya patuh.

Sementara rombongan Raja Jalapati bergerak menuju ruang makan untuk menyusun siasat baru dalam kesunyian istana mereka, di seberang bukit Menoreh, angin malam membawa kepedihan yang jauh lebih nyata.

Di Puncak Bukit Menoreh.

Udara malam, begitu dingin. Tenda-tenda telah didirikan, Buksa dan Sengko bertahan, sementara Jalak Rawut diperintah untuk menghadap raja dan melaporkan apa yang terjadi.

Sengko dan Buksa berada di tepi api unggun. Beberapa prajurit tampak berjaga-jaga, sebagian sudah beristirahat di tenda.

"Adipati ... Kapan kita akan mengatakan kebenaran tentang gugurnya Ki Abda pada Srikandi?" tanya Buksa pelan.

Sengko menghela nafas panjang, Ia menegakkan tubuhnya, menatap langit yang bertabur bintang.

"Sesuai perintah Sri Baginda Raja, Punggawa. Selama musuh belum dapat. Kita sebisa mungkin menutupi ini. Biarkan musuh-musuh menyangka jika Ki Abda masih ada, ia hanya hilang sementara ...," jawab Sengko.

"Jujur Adipati, tangisan Srikandi tadi membuat aku sedih. Hatiku sakit. Walau aku tak mengurusi anak itu. Tapi darahku mengalir di dalam darahnya," ujar Buksa lirih.

"Kau lupa kalau kita masih kerabat Buksa. Kita bersepupu dengan Ki Abda," sahut Sengko.

"Tapi keras kepala anak itu dari mana?" keluh Buksa.

Sengko tertawa lirih, "Sebenarnya Ki Abda itu keras kepala, Buksa ...."

"Kangmas. Kanda Abda itu tidak keras kepala!" bantah Buksa membela sepupunya.

"Dia keras kepala jika menyangkut prinsipnya, Dimas Buksa!" sahut Sengko.

"Sama seperti aku dan juga pasti kamu. Jika menyangkut prinsip, kita pasti keras kepala untuk mempertahankan prinsip kita!" lanjutnya.

Buksa diam, ia sepertinya hendak membantah itu. Tetapi ia sangat tau jika perkataan dari sepupunya itu benar adanya.

"Aku baru saja membebaskan Dayang Hayatri ...," bisiknya lirih.

Sengko menoleh, ia cukup terkejut mendengar itu.

"Bukankah perempuan itu adalah cinta pertamamu?" tanyanya juga berbisik.

"Kangmas ... Aku mencurigai sesuatu darinya ...," bisik Buksa lagi.

"Apa?" tanya Sengko penasaran.

Buksa merogoh selipan tali pinggangnya. Ia menyerahkan sebuah senjata bintang terbuat dari besi hitam.

"Buksa!" mata Sengko membulat.

"Aku dapat itu dari bawah bantalnya ... Tadinya aku hanya ingin menenangkan diri. Kisruhnya peristiwa ini. Membuat kepalaku pusing. Jika aku bercerita dengan istriku Ninten. Dia tak bisa apapun selain cerewet tentang prilaku Datira, putri kami," jawab Buksa lirih.

"Lalu di mana Hayatri saat kau temukan ini?" tanya Sengko.

"Kangmas ... dia berkasih sayang dengan salah seorang pengawalku ... Ditro Sentot," jawab Buksa lagi.

Tuiiiit! Sebuah sunyi nyaring terdengar, tanda jika pasukan musuh sudah bersiap di kaki bukit. Sengko mengangkat tangan untuk menghentikan Buksa bicara jauh.

"Kita akan bahas ini nanti," ucapnya pelan lalu memasukkan senjata bintang di lipatan tali pinggangnya.

Semua bersiap, para prajurit sudah berjaga-jaga. Sementara di kaki bukit. Tiga ratus prajurit sudah bergerak. Prabu Wijaya sendiri yang memimpin perang. Sementara kerajaan, ia menyerahkan tampuk pimpinan sementara pada putranya Arya Seta.

Pria muda itu tak percaya ketika ayahnya menyerahkan kedaulatan kerajaan di tangannya.

"Selama aku memimpin perang. Aku serahkan semua tapuk kepemimpinan di tanganmu!" ujar pria penguasa itu.

"Ayahanda Raja?" Arya bingung bercampur kaget dan tak percaya.

"Bukankah kau ingin membuktikan sesuatu?" tanya Prabu mengetahui kegelisahan hati putranya.

"Sekarang tunjukkan padaku. Kau pimpin kerajaan ini. Apa yang mesti kau lakukan. Sementara aku dan para prajurit sedang berperang!"

"Daulat Ayah Prabu. Aku akan menjaga kerajaan ini segenap jiwaku!" seru Arya berjanji.

"Sebentar lagi Kakakmu pulang dari perantauan. Ketika ia datang dan bertanya. Katakan suruh segera ke atas bukit dan bergabung dengan pasukan kerajaan!" ujar Prabu Wijaya memberi titah.

"Daulat Gusti Prabu!" seru Arya tegas.

Tiga ratus tentara bergerak, Prabu Wijaya menempatkan seratus pasukan panah di depan. Pasukan tombak pertahanan di lapisan kedua. Sementara pasukan pedang dan pasukan inti juga dirinya ada di lapisan terakhir.

"Maju!" teriak Prabu Wijaya memimpin.

"Woooo!" teriakan para pasukan menggema di keheningan malam.

Bersambung.

waah!

Next?

1
Anita Barus
Srikandi jengkel PD petinggi istana yg membela kebo Ireng hingga dia menyerah kan benda temuan nya .
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
adiknya keknya terbuat dari tanah sengketa 😄🤣🤣🤣
Benny Badaruddin
ternyata seperti itu 🤭
Eni Istiarsi
sedikit demi sedikit kebenaran mulai menemukan jalannya
Anita Barus
Srikandi hebat y bisa menciptakan ilmu send8ri
Benny Badaruddin
keren Ki abda👍
vania larasati
lanjut
Deyuni12
hmm
Deyuni12
huaaaa
emang enak ketahuan semua kejahatan dirimu hayatri
Anita Barus
lanjut Thor tumpas habis penghianat
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
diam diam Nyi Padan Laran sepertinya menjadi tokoh kunci terbunuhnya Ki Abda
Deyuni12
makin seru n menegangkan
Deyuni12
lanjutan
Benny Badaruddin
seru dan menarik lanjut
vania larasati
lanjut
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Anita Barus
seru juga serem lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!