Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Sarang Naga
Lampu kristal raksasa di langit-langit Hotel Thamrin memantulkan cahaya keemasan. Karpet tebal berwarna merah marun meredam suara langkah sepatu kulit Italia dari ratusan tamu elit Jakarta.
Udara dingin mesin pendingin ruangan berbaur dengan aroma cerutu impor dan parfum mahal. Denting gelas kaca beradu mengiringi alunan musik jazz dari panggung utama.
Regan berdiri tegak di dekat meja bundar berisi susunan gelas sampanye. Jas abu-abu pinjaman dari lemari bapaknya kedodoran di bagian kerah. Sepatu pantofelnya hasil semir paksa di pinggir jalan.
Herman berdiri di sebelah Regan. Pria makelar itu terus menyeka keringat di lehernya dengan sapu tangan kusam. Kemeja safari Herman basah di bagian ketiak. Dia jelas salah tingkah berada di sarang naga ekonomi Jakarta tahun sembilan puluh tiga ini.
Dion Hartawan tertawa sombong di seberang ruangan. Tadi sore, Dion sesumbar akan menyelundupkan Regan masuk lewat pintu dapur katering. Dion ingin Regan berutang budi. Dion ingin Regan merasa kecil.
Regan menolak mentah-mentah. Dia memilih masuk lewat pintu utama. Herman memiliki satu tiket undangan kelas dua dari klien propertinya yang berhalangan hadir. Regan menggunakan tiket itu untuk melenggang melewati penjaga pintu tanpa menundukkan kepala.
Di saku dalam jasnya, Regan merasakan ketebalan sebuah buku catatan kecil.
Buku itu milik Nara.
Sore tadi di depan gerbang kampus, Nara menghadang langkah Regan. Jari telunjuk gadis itu terbungkus plester luka akibat terlalu lama membolak-balik arsip koran di perpustakaan. Nara menjejalkan buku catatan itu langsung ke dada Regan. Wajah gadis itu tegang, napasnya memburu.
"Bokap gue bilang pestanya di Hotel Thamrin." Nara menatap tajam mata Regan saat itu. "Gue bongkar kliping koran ekonomi sebulan terakhir. Gue catat daftar pengusaha yang lagi kena skandal pajak dan masalah buruh. Baca. Jangan sampai lu masuk kandang macan tanpa senjata, Re."
Nara tidak membiarkan dirinya menjadi penonton pasif. Gadis itu mempersenjatai Regan dengan otaknya.
Regan menarik napas pelan. Dia membuang sisa kenangan sore tadi. Matanya kembali fokus mengunci kerumunan manusia di depannya. Papan catur sudah digelar. Ini saatnya dia menggerakkan bidak pertama.
Sekelompok anak muda berjas potongan modern melangkah mendekati meja Regan. Dion ada di tengah mereka. Tangan kanan Dion memegang gelas minuman beralkohol, wajahnya memerah.
"Re! Lu beneran masuk pakai jas loakan bapak lu?" Dion tertawa keras. Tawa yang sengaja dikeraskan untuk menarik perhatian tamu lain.
Tiga teman di sebelah Dion ikut tersenyum merendahkan. Mereka memindai Regan dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
"Gue suruh lu tunggu di lobi, malah nyasar ke area VIP." Dion menggelengkan kepalanya dengan gaya prihatin yang palsu. "Awas kesenggol meja. Gelas di sini harganya lebih mahal dari biaya makan keluarga lu sebulan."
Herman menunduk, nyaris menyusut ke balik punggung Regan.
Regan memutar tubuhnya lambat. Wajahnya sedingin bongkahan es. Tidak ada rasa malu, tidak ada amarah murahan. Dia memindai wajah pria muda di sebelah Dion. Anak laki-laki berwajah arogan dengan jam tangan emas mengkilap.
"Lu anak tunggal Direktur Tekstil Buana?" tanya Regan datar.
Pemuda itu mengangkat dagu. "Iya. Kenapa? Lu mau minta sumbangan?"
"Bapak lu lagi pusing cari pinjaman tunai lima miliar buat nutup giro kosong besok Senin pagi," ucap Regan tanpa menaikkan nada suaranya. "Mesin pabrik di Tangerang bakal disegel bank jam sepuluh pagi kalau dana itu nggak masuk. Lu mending pulang sekarang. Jangan buang waktu minum sampanye pakai uang yang udah bukan milik bapak lu lagi."
Wajah pemuda arogan itu pucat pasi. Darah seakan tersedot habis dari kepalanya. Rahasia kebangkrutan keluarganya baru saja ditelanjangi di tengah keramaian oleh orang yang tidak dia kenal sama sekali. Tanpa membalas ucapan Regan, pemuda itu berbalik badan dan setengah berlari meninggalkan kelompoknya.
Dion menganga lebar. Gelas di tangannya bergetar. Tawa di wajahnya mati seketika.
Regan tidak membuang waktu menatap Dion. Dia meletakkan gelas air putihnya di atas meja. Langkahnya mantap membelah kerumunan.
Target pertamanya berdiri di dekat panggung. Pria beruban dengan setelan jas hitam pekat. Surya Kusuma. Raja semen Jakarta yang memegang kendali pembangunan proyek jalan tol.
Regan melangkah mendekat, mengabaikan tatapan curiga dari dua ajudan berbadan tegap di belakang Surya.
"Pak Surya," sapa Regan tenang. Suaranya memotong obrolan pria itu dengan rekan bisnisnya. "Pabrik Bapak di Cileungsi belum membayar pesangon dua ratus buruh yang dipecat bulan lalu."
Surya Kusuma menghentikan tawanya. Matanya menyipit marah menatap Regan.
"Siapa yang bawa anak kampung ini masuk ke sini?" desis Surya ke arah ajudannya.
Ajudan Surya baru saja akan melangkah maju untuk menyeret Regan.
"Serikat pekerja besok pagi akan mogok massal membawa wartawan," potong Regan cepat. Suaranya stabil, mengunci pergerakan ajudan itu dengan otoritas mental yang berat. "Saham perusahaan Bapak akan anjlok sepuluh persen sebelum jam makan siang."
Surya mendengus keras. "Anak muda, kamu salah pilih orang buat digertak. Pabrik saya aman."
"Pesaing Bapak sengaja mendanai demonstrasi itu dari balik layar." Regan mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak privasi. "Cek rekening koran pimpinan serikat pabrik Bapak sekarang. Ada transfer masuk seratus juta dari bank swasta kemarin sore. Bayar pesangon mereka malam ini juga, atau Bapak kehilangan tender pemerintah besok lusa."
Mata Surya Kusuma melebar. Dia langsung menoleh ke arah asisten pribadinya. Tangannya memberi isyarat keras untuk segera mencari telepon. Wajah pengusaha senior itu menegang ngeri melihat keakuratan data yang Regan lemparkan.
Regan memutar tumitnya. Dia bergerak mencari target kedua sebelum Surya sempat bertanya namanya.
Di area prasmanan, seorang wanita paruh baya dengan kalung mutiara besar sedang memilih makanan. Nyonya Ratna. Ratu ritel pakaian jadi yang memonopoli pasar grosir Jakarta.
Regan mengambil piring kecil, berdiri tepat di sebelah Nyonya Ratna.
"Gudang utama Ibu di pelabuhan Tanjung Priok bocor di sektor utara," ucap Regan pelan. Dia menyisir ingatan masa lalunya tentang kerugian fatal yang menimpa wanita ini di tahun sembilan puluh tiga. "Hujan badai besok malam akan merendam stok kain sutra impor senilai dua miliar rupiah."
Nyonya Ratna tersedak pelan. Dia menaruh penjepit makanan, menatap tajam wajah Regan. "Kamu tahu dari mana kondisi atap gudang saya?"
"Pindahkan barangnya ke sektor selatan malam ini, Bu. Jangan tunggu besok pagi." Regan menaruh piring kecilnya kembali ke meja. Dia menunduk hormat dengan gaya elegan, lalu beranjak pergi meninggalkan Nyonya Ratna yang mematung kebingungan.
Regan melangkah keluar dari area utama yang bising.
Dia mendorong pintu kaca besar menuju balkon luar. Hembusan angin malam Jakarta menyapu wajahnya. Udara di luar terasa lebih bebas. Dia menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas besi. Matanya menatap hamparan lampu jalanan di bawah sana.
Detak jantungnya melambat. Ritmenya kembali normal.
Dia menyentuh saku dalam jasnya. Di masa lalu, dia harus merangkak menjilat sepatu orang-orang di dalam sana selama sepuluh tahun penuh hanya untuk diajak bersulang. Malam ini, dalam waktu kurang dari dua puluh menit, dia membuat mereka menahan napas ketakutan.
Pintu balkon terbuka kasar. Suara engsel berderit memecah ketenangan malam.
Dion Hartawan melangkah masuk dengan rahang mengeras keras. Urat di lehernya menonjol. Dion berjalan cepat, tangan kanannya terangkat hendak mencengkeram kerah jas Regan.
"Lu ngapain, Re?!" desis Dion dengan suara tertahan. "Lu bikin malu gue! Lu ngomong apa sama bos-bos besar itu sampai ajudan mereka ribut keliling ruangan nyariin lu? Lu mau nipu mereka?!"
Tangan Regan bergerak secepat kilatan cahaya.
Sebelum jari Dion menyentuh kain jasnya, Regan menangkap pergelangan tangan Dion. Dia memelintir tangan itu ke bawah dengan satu sentakan brutal.
Dion meringis kesakitan. Tubuhnya terpelanting ke depan, lututnya nyaris menghantam lantai keramik balkon. Napas Dion terputus karena rasa sakit yang menjalar dari engsel bahunya.
"Gue lagi membersihkan jalan raya buat perusahaan kita, Yon," bisik Regan di telinga Dion. Suaranya berat, sedingin dasar samudra. "Atau lu mau gue masuk ke dalam sekarang, lalu cerita ke semua orang kalau lu cuma calo miskin yang cari celah buat menipu temannya sendiri pakai proyek fiktif Surabaya?"
Wajah Dion memucat hebat. Keringat dingin mengucur deras di dahinya. Rasa sakit di lengannya terkalahkan oleh rasa ngeri yang tiba-tiba membekukan otaknya. Pria yang mencekiknya ini sama sekali tidak terasa seperti teman sekelasnya. Ini adalah predator murni.
Regan melepaskan tangannya dengan dorongan kasar. Dion terhuyung mundur menabrak dinding.
"Masuk ke dalam. Jangan ganggu gue lagi malam ini," perintah Regan mutlak.
Dion menelan ludah. Tanpa berani menatap mata Regan, dia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan balkon. Egonya hancur lebur diinjak realita yang tidak dia pahami.
Regan menarik napas panjang. Dia merapikan kerah jasnya perlahan. Membuang sisa ketegangan fisik dari tubuhnya.
Tiba-tiba, suara tepukan tangan lambat terdengar dari sudut gelap balkon yang terhalang pilar beton.