Kayla dan Arka terjebak dalam hubungan friends with benefits yang nggak pernah punya arah. Buat Arka, Kayla cuma tempat pulang saat lagi kesepian. Tapi buat Kayla, Arka adalah orang yang diam ia cintai selama bertahun tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahendra Andhika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20.
Keesokan paginya, Jakarta turun hujan.
Langit terlihat mendung sejak subuh, membuat suasana kota terasa lebih dingin dari biasanya. Di kamar kost kecilnya, Kayla duduk diam di lantai sambil memeluk lutut. Koper abu-abunya sudah terisi penuh di samping ranjang.
Ia benar-benar pulang.
Matanya sembab karena semalaman menangis. Sesekali Kayla menatap ponselnya yang dipenuhi puluhan chat dari Arka.
Arka: Lo dimana?
Arka: Jangan ngilang gini.
Arka: Kay.
Kayla menggigit bibirnya pelan lalu mematikan layar ponsel lagi.
Dadanya sakit.
Sakit banget.
Karena sebenarnya... yang paling berat bukan meninggalkan Jakarta.
Tapi meninggalkan Arka.
Cowok yang selama ini selalu ada di hidupnya.
Cowok yang tanpa sadar jadi alasan Kayla bertahan selama ini.
Dengan tangan gemetar, Kayla mengambil selembar kertas kecil dari meja belajar. Ia menunduk lama sebelum akhirnya mulai menulis.
Surat terakhir.
Untuk Arka.
...---...
Tiga hari berlalu.
Kayla tidak masuk sekolah.
Tidak ada kabar.
Tidak ada balasan.
Dan itu berhasil membuat Arka benar-benar kehilangan kendali.
“Lo tau Kayla kemana gak?” tanya Arka dingin pada salah satu teman kelasnya.
“G-gak tau...”
Arka mendecak kasar lalu pergi begitu saja.
Hari keempat, cowok itu mulai panik.
Ia datang ke kelas Kayla.
Kosong.
Datang ke minimarket tempat Kayla part time.
“Kayla udah resign.”
Kalimat itu sukses membuat rahang Arka mengeras.
Hari kelima, Arka mencari Dimas.
Dan seperti biasa, semuanya berakhir ricuh.
Bruk!
Dimas terdorong keras sampai menabrak pagar belakang sekolah.
“Dia dimana?” bentak Arka emosi.
“Gue gak tau, anjing!” balas Dimas kesal sambil mendorong Arka balik.
“Jangan bohong sama gue!”
“Dia juga ngejauh dari gue!”
Sunyi beberapa detik.
Napas Arka mulai tidak beraturan.
Untuk pertama kalinya, rasa takut muncul di wajah cowok itu.
Takut kehilangan seseorang yang ternyata jauh lebih penting dari yang ia kira.
Malam itu juga Arka langsung pergi ke kost Kayla.
Hujan turun deras membasahi hoodie hitam yang ia pakai. Cowok itu berdiri di depan kamar kost Kayla sambil mengetuk pintu keras.
“Kayla!”
Tidak ada jawaban.
“Kayla buka!”
Tetap hening.
Sampai akhirnya Arka mendorong pintu itu kuat.
Brak!
Pintu kamar terbuka.
Dan seketika langkah Arka berhenti.
Kosong.
Kamar kecil itu sudah kosong.
Tidak ada tas.
Tidak ada pakaian.
Tidak ada Kayla.
Hanya aroma samar parfum perempuan itu yang masih tertinggal.
Arka berdiri diam cukup lama sampai tatapannya jatuh pada sebuah kertas kecil di atas nakas.
Tangannya perlahan mengambil kertas itu.
Tulisan tangan Kayla.
Untuk Arka.
Napas cowok itu tercekat saat mulai membaca.
...---...
Ka,
Maaf aku pergi diam-diam.
Aku takut kalau ketemu kamu lagi, aku gak jadi pulang.
Sebenernya aku pengen tetep di Jakarta.
Pengen tetep satu sekolah sama kamu.
Pengen tetep denger kamu berisik tiap hari.
Tapi aku capek.
Dan aku sadar... selama ini aku terlalu berharap sama sesuatu yang gak pernah jadi milik aku.
Aku suka sama kamu, Ka.
Dari dulu.
Mungkin kamu gak pernah sadar.
Atau mungkin kamu emang gak akan pernah lihat aku sejauh itu.
Gapapa.
Aku cuma pengen jujur sekali ini aja sebelum pergi.
Terima kasih karena udah jadi bagian paling indah selama aku di Jakarta.
Terima kasih karena pernah bikin aku ngerasa spesial walaupun cuma sebagai temen.
Dan maaf...
karena akhirnya aku milih pergi buat nenangin diri sendiri.
Jangan cari aku ya.
— Kayla.
Hening.
Suara hujan di luar terdengar pelan memenuhi kamar kosong itu.
Arka masih berdiri diam sambil memegang surat Kayla erat.
Matanya membaca ulang bagian itu berkali-kali.
“Aku suka sama kamu, Ka.”
Entah kenapa, dadanya terasa sakit sekali.
Lebih sakit dari apa pun yang pernah ia rasakan.
Cowok itu tertawa kecil pelan, tapi matanya mulai memerah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Arka menyesal.
Karena baru sadar betapa berharganya seseorang setelah orang itu benar-benar pergi.
...---...
TO BE CONTINUE