Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.
Dan ketika ia membuka matanya kembali…
Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Samudera
Sejak runtuhnya pilar-pilar peradaban lama lima belas tahun yang lalu, dunia tidak lagi diukur oleh batas wilayah yang digambar di atas kertas peta, melainkan oleh kekuatan mutlak yang mengalir di dalam nadi umat manusia.
Kehadiran Gate, Dungeon, dan pilar-pilar kosmik yang disebut Tower telah memaksa manusia untuk berevolusi atau musnah. Dalam tatanan dunia yang baru dan kejam ini, para Hunter tidak hanya dibedakan berdasarkan bakat alami atau buatan, tetapi mereka diklasifikasikan ke dalam hierarki kekuatan yang ketat dan tak terbantahkan. Sebuah sistem yang mengukur seberapa besar skala bencana yang bisa mereka timbulkan.
Level 1 hingga 10 diklasifikasikan sebagai Wall Tier—mereka yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan tembok pertahanan dengan tangan kosong.
Level 11 hingga 20 adalah Building Tier—mereka yang mampu meruntuhkan gedung pencakar langit dalam satu serangan.
Level 21 hingga 30, District Tier.
Level 31 hingga 40, Town Tier.
Level 41 hingga 50, City Tier. Mulai dari titik ini, seorang hunter dianggap sebagai bencana berjalan tingkat tinggi yang mampu meratakan sebuah kota metropolitan jika mereka kehilangan kendali.
Level 51 hingga 60, Mountain Tier—eksistensi yang hantamannya mampu membelah barisan pegunungan.
Level 61 hingga 70, Island Tier—kekuatan yang cukup untuk memusnahkan sebuah pulau ke dasar lautan.
Dan kemudian, ada batas puncak dari apa yang bisa dicapai oleh umat manusia saat ini.
Level 71 hingga 80. Country Tier. Tingkat Negara.
Di atas mereka, masih ada Continental Tier (Level 81-90) dan Moon Tier (Level 91-100) yang hanya ada dalam teori dan mitologi monster tingkat dewa. Namun bagi manusia, Country Tier adalah puncak evolusi. Mereka bukan lagi manusia biasa; mereka adalah dewa-dewi bumi.
Karena pertarungan antar Hunter tingkat tinggi memiliki dampak yang sangat membahayakan bagi tatanan planet bumi, Asosiasi Pusat mengeluarkan undang-undang absolut: Para Hunter dilarang keras untuk bertarung atau menggunakan kekuatan destruktif mereka sesuka hati kecuali di dalam Dungeon atau saat menghadapi Break dari Gate.
Hukum itu ditegakkan dengan besi dan darah. Siapa pun yang melanggar akan dieksekusi seketika.
Namun... hukum hanyalah ilusi bagi mereka yang menciptakan hukum itu sendiri. Aturan tersebut sering kali tidak bisa ditegakkan, bahkan berubah menjadi sekadar saran belaka, jika yang menggunakannya adalah para Hunter Tier Country. Kau tidak bisa menghukum badai, dan kau tidak bisa memenjarakan gempa bumi.
Di kota Shanghai, ratusan kilometer dari Beijing.
Kota ini dulunya adalah permata ekonomi Asia. Kini, kota ini telah bertransformasi menjadi sebuah benteng raksasa umat manusia, markas besar dari faksi paling menakutkan di seluruh daratan: Wu Imperial Guild.
Di lantai tertinggi menara pusat Wu Imperial Guild, di sebuah ruangan yang luasnya menyamai sebuah lapangan sepak bola namun didesain dengan keanggunan klasik dan keheningan yang menekan, berdirilah seorang pria.
Pria itu menatap ke luar dinding kaca raksasa, memandang awan mendung yang berarak di atas Shanghai. Wajahnya yang tampan, memiliki garis rahang yang keras dan tajam—garis wajah yang diwariskan secara sempurna kepada putra tunggalnya. Ia tampak seperti pria mapan berusia empat puluhan, memancarkan karisma seorang raja yang terbiasa memegang nyawa jutaan orang di telapak tangannya.
Ia adalah Wu Jiang.
Ayah dari Wu Xuan. Penguasa konglomerat nomor satu di Tiongkok yang menolak untuk tunduk pada akhir dunia, dan malah menjadikan apokaliptik sebagai pijakan kakinya.
Wu Jiang bukan sekadar Ketua Guild. Ia adalah seorang Hunter dengan bakat alami Class S: Penguasa Samudera Beku. Seorang Hunter Tingkat Country Tier.
Wu Jiang adalah satu dari segelintir pilar umat manusia, sebuah senjata pemusnah massal berjalan milik daratan Tiongkok yang kemarahannya mampu membekukan sebuah negara dalam semalam.
Di sampingnya, duduk seorang wanita di atas sofa beludru merah gelap. Wanita itu terlihat luar biasa cantik, dengan keanggunan yang mengingatkan pada dewi-dewi dari lukisan kuno. Wajahnya tampak seperti wanita berusia awal tiga puluhan, sebuah ilusi awet muda yang tertahan oleh kekuatan pasif dari bakat langka.
Ia adalah Wu Yuena, ibu dari Wu Xuan.
Sama seperti suaminya, Yuena bukanlah wanita biasa yang berlindung di balik pria kuat. Ia adalah pemegang bakat Class S: Laut Suci. Seorang Hunter Tingkat Country Tier. Jika Wu Jiang adalah perwujudan dari kehancuran dan kematian, maka Wu Yuena adalah sang penyembuh, Healer terbaik yang dimiliki umat manusia saat ini.
Kekuatannya dikabarkan mampu menumbuhkan kembali anggota tubuh yang terputus, dan auranya bisa menarik jiwa yang sudah berada di tepi jurang kematian.
Mereka adalah pasangan paling berkuasa, paling ditakuti, dan paling dihormati di seluruh daratan.
Namun saat ini, di dalam ruangan yang megah tersebut, tidak ada aura intimidasi atau rencana penaklukan. Yang ada hanyalah atmosfir berat yang mencekik, dipenuhi oleh kepedihan yang tidak pernah sembuh meski waktu telah berlalu lima belas tahun.
Di sepanjang dinding ruangan itu, tidak ada pajangan kepala monster tingkat naga atau hiasan langka. Dinding itu hanya dipenuhi oleh foto-foto.
Foto seorang bayi laki-laki berambut hitam yang sedang tertawa. Foto seorang balita yang sedang belajar berjalan. Foto seorang remaja yang menatap tajam ke arah kamera dengan seragam sekolah elitenya. Dan foto terakhir... seorang pemuda berusia dua puluh empat tahun, tampan, jenius, dengan senyum tenang yang mematikan, berdiri dengan balutan jas mahal setelah menyelesaikan tiga gelar mayornya secara bersamaan.
Wu Xuan.
Wu Jiang melangkah perlahan menjauhi jendela kaca, mendekati salah satu bingkai foto putranya. Jari-jarinya yang mampu menghancurkan gunung itu menyentuh permukaan kaca bingkai dengan sangat lembut, seolah takut menghancurkannya.
"Lima belas tahun," suara Wu Jiang bergema rendah, dalam, dan dipenuhi oleh retakan emosi yang selama ini ia sembunyikan dari dunia luar. "Aku telah menaklukkan puluhan Dungeon tingkat negara. Aku telah memenggal kepala raja-raja monster yang mengancam bumi... tapi aku masih tidak bisa melindungi dan menemukan putraku."
Wu Yuena menundukkan kepalanya. Rambut panjangnya yang sehalus sutra jatuh menutupi sebagian wajahnya. Ia menggenggam erat sebuah saputangan putih di pangkuannya.
"Dunia ini terlalu kejam," bisik Yuena, suaranya yang biasanya mampu menyembuhkan luka mental jutaan tentara, kini terdengar begitu rapuh. "Bakatku bisa menyembuhkan jantung yang hancur... tapi ia tidak bisa menyembuhkan hatiku sendiri. Setiap kali aku memejamkan mata, aku melihat Xuan'er."
Bagi pasangan ini, kekuatan yang mereka miliki adalah sebuah ironi yang sangat menyiksa. Mereka mendapatkan kekuatan untuk menguasai dunia tepat setelah dunia itu merenggut satu-satunya alasan mereka untuk hidup.
Wu Jiang membangun Guild ini, memonopoli sumber daya, dan menciptakan pasukan elit bukan untuk kekuasaan semata, melainkan untuk memperluas jaringan pencariannya. Ia mencari ke setiap sudut portal, membalikkan setiap batu di dalam Dungeon, berharap menemukan putranya, atau setidaknya... jasadnya.
Wu Jiang memejamkan matanya. Aura dingin dalam jumlah yang sangat kecil bocor dari tubuhnya, membuat suhu ruangan turun beberapa derajat secara instan. Bunga-bunga mawar di dalam vas perlahan membeku menjadi kristal es.
Tiba-tiba, keheningan emosional di ruangan itu terpecah oleh ketukan tajam di pintu kayu ek ganda yang berlapis baja.
Tok. Tok.
Wu Jiang membuka matanya. Seketika, kerapuhan seorang ayah menghilang tanpa bekas, digantikan oleh tatapan dingin seorang penguasa Guild. Udara dingin yang bocor ditarik kembali ke dalam tubuhnya dalam satu tarikan napas.
"Masuk," ucap Wu Jiang dingin.
Pintu terbuka. Seorang wanita muda yang cantik melangkah masuk dengan langkah cepat namun terukur. Ia mengenakan setelan kerja formal yang elegan, mengenakan kacamata pintar, dan membawa sebuah tablet holografik yang berkedip merah—tanda prioritas.
Ia adalah Xu Xin, asisten pribadi sekaligus tangan kanan kepercayaan Wu Jiang, seorang Hunter Tier City yang tugasnya menyaring setiap informasi dari seluruh dunia sebelum sampai ke telinga sang penguasa.
Xu Xin membungkuk dalam-dalam, tidak berani menatap langsung ke arah dua entitas Tingkat Negara di depannya. Tubuhnya sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena informasi yang baru saja ia terima.
"Lapor, Guild Master," suara Xu Xin berusaha keras untuk dijaga agar tetap stabil, namun gagal menutupi getaran kepanikan yang mendalam. "Panggilan darurat masuk dari jalur prioritas. Asosiasi Peneliti Fasilitas Sentral Beijing baru saja menghubungi kita."
Wu Jiang tidak mengubah ekspresinya. "Asosiasi Peneliti? Jika mereka meminta dana tambahan untuk proyek serum buatan mereka, tolak. Aku tidak punya waktu untuk membahas proyek rendahan."
"B-Bukan dana, Guild Master," Xu Xin mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Wu Jiang, menelan ludah dengan susah payah. "Profesor Zhu Liang, kepala divisi benda luar... dia melaporkan bahwa mereka... mereka telah menemukan Tuan Muda."
Deg.
Waktu di dalam ruangan itu terasa berhenti.
Detak jantung Wu Yuena berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum berpacu dengan gila. Ia berdiri dari sofanya, saputangannya jatuh ke lantai.
Namun respons dari Wu Jiang bukanlah kebahagiaan.
Tiba-tiba, ruangan raksasa itu seolah dilemparkan ke dalam inti bintang mati. Suhu udara anjlok hingga mencapai titik beku dalam hitungan mikrodetik. Kaca anti-ledakan yang tahan terhadap serangan misil perlahan mulai retak, dipenuhi oleh embun beku yang menjalar seperti akar pohon. Oksigen di udara membeku, menciptakan serpihan salju yang melayang turun.
Aura yang menekan, mendominasi, dan sangat mengerikan meledak dari tubuh Wu Jiang. Ini adalah tekanan spiritual murni dari seorang Country Tier. Tekanan yang cukup untuk membuat puluhan ribu monster berlutut dan mati lemas.
Kaki Xu Xin lemas. Ia dipaksa berlutut di atas lantai yang kini berubah menjadi es, tubuhnya bergetar hebat menahan tekanan yang nyaris meremukkan tulang rusuknya. Kacamata pintarnya retak.
"Xu Xin..." suara Wu Jiang tidak lagi terdengar seperti suara manusia. Itu adalah dengungan gletser yang bergesekan, sangat dingin, sangat mematikan, dipenuhi oleh niat membunuh yang pekat. "Aku sudah sangat bosan... mendengar kebohongan yang hanya membuatku kecewa. Siapa yang berani mempermainkan nama putraku kali ini? Aku akan membekukan seluruh garis keturunan mereka hingga sembilan generasi."
Sudah ratusan kali mereka menerima laporan seperti ini dalam lima belas tahun terakhir. Hasil manipulasi genetik, kloning ilegal, hingga tipuan ilusi, semuanya dilakukan oleh musuh-musuh mereka demi mendapatkan harta Wu Imperial Guild. Dan setiap kali harapan Wu Jiang dipatahkan, darah akan tumpah.
"I-Ini bukan kebohongan, Guild Master!" jerit Xu Xin, melawan rasa sakit di dadanya untuk terus berbicara. Ia memproyeksikan layar holografik dari tabletnya ke udara. "Mereka tidak meminta tebusan! Mereka tidak meminta hadiah! Profesor itu terdengar seperti sedang di ambang ketakutan! Pemindaian biometrik struktur tulang dan DNA pasif menunjukkan kecocokan seratus persen!"
Di udara yang membeku itu, sebuah layar holografik menampilkan wajah seorang pemuda berambut hitam yang tertidur damai di dalam sebuah peti kristal es yang memancarkan pendar kebiruan. Wajah yang tidak menua satu hari pun sejak lima belas tahun yang lalu.
Mata Wu Jiang melebar. Tekanan spiritualnya yang mengerikan seketika goyah.
"Bagaimana jika itu memang Xuan'er..."
Suara lembut namun dipenuhi oleh getaran emosi yang tak tertahankan terdengar. Wu Yuena melangkah maju. Setiap langkahnya memancarkan pendar cahaya keemasan yang hangat, sebuah energi penyembuhan yang secara perlahan menetralisir badai es suaminya, menyelamatkan nyawa Xu Xin yang hampir mati beku.
Yuena menyentuh proyeksi holografik itu dengan jari yang gemetar hebat. Air mata mengalir deras dari matanya, jatuh membasahi lantai es, mengubahnya kembali menjadi air yang murni.
"Wajah ini... struktur tulangnya... tidak ada ilusi di dunia ini yang bisa menipu mata ibunya sendiri," isak Yuena, suaranya pecah oleh kerinduan yang membakar. Ia berbalik menatap suaminya, matanya memancarkan keyakinan. "Kali ini, entah kenapa aku selalu memimpikan putra kita. Aku melihatnya terperangkap dalam kegelapan yang dingin. Perasaan seorang ibu... instingku tidak mungkin salah, Jiang. Itu dia. Itu putra kita."
Mendengar kata-kata istrinya, tubuh tegap Wu Jiang bergetar tipis.
Raja yang ditakuti itu memejamkan matanya erat-erat. Ia mengambil satu tarikan napas panjang dan berat. Saat ia membuka matanya kembali, udara di dalam ruangan itu kembali normal seketika. Badai es lenyap tanpa bekas, lantai es menguap menjadi udara hangat, seolah amarah mematikan tadi tidak pernah terjadi.
Wu Jiang telah kembali mendapatkan kontrol penuh atas kewarasannya. Auranya kini kembali menjadi ketenangan tirani yang biasa, namun kali ini, ada kilatan api di dalam matanya yang membeku.
Ia memandang Xu Xin yang masih tersengal-sengal mencari oksigen di lantai.
"Bangun, Xu Xin," perintah Wu Jiang dengan nada yang begitu tenang, begitu datar, hingga membuat bulu kuduk berdiri. Itu bukan nada orang yang ragu, melainkan nada seorang kaisar yang bersiap untuk berperang.
Xu Xin segera berdiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Perintah Anda, Guild Master?"
"Kunci seluruh wilayah udara Beijing. Tidak ada satu pun lalat yang boleh keluar atau masuk dari kota itu tanpa izinku," ucap Wu Jiang tanpa keraguan sedikit pun, menetapkan darurat militer pribadi yang secara teknis melanggar hukum Asosiasi Pusat dan Kedaulatan Negara. Tapi ia tidak peduli.
Ia kemudian menoleh pada istrinya, meraih tangan Yuena dengan lembut, lalu menatap keluar jendela ke arah awan mendung di langit.
"Siapkan helikopter komando khusus, dan turunkan seluruh unit elit Pengawal Naga ke fasilitas itu," titah Wu Jiang, suaranya kini memancarkan dominasi yang membuat seluruh gedung menara itu bergetar. "Kita berangkat sekarang."
"Dan jika mereka berbohong... maka ini akan menjadi pelajaran terakhir bagi seluruh faksi luar yang mencoba menipuku."
Bersambung...