Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Prajurit yang Mati dan Jalan yang Bergeser
Setelah insiden botol kosong dan terbukanya pintu rahasia di lantai enam, tim eksplorasi yang kini dipimpin oleh Jack, seorang perwira lapangan yang pragmatis, karena Kieran fokus melindungi Aura memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke bawah. Mereka menyusuri lorong batu yang gelap dan curam, tempat drone Aura sebelumnya telah melakukan pemeriksaan awal.
Aura berjalan di barisan tengah, diapit oleh Kieran dan Falix. Atmosfer di antara mereka terasa tebal, dipenuhi dengan kewaspadaan yang tegang. Insiden patung yang nyaris bergerak di ruang pertemuan sebelumnya masih menghantui pikiran mereka.
“Patung itu, Nona Aura, Anda yakin dia bergerak?” bisik Falix, wajahnya pucat.
“Aku yakin. Itu bukan ilusi optik,” jawab Aura singkat, matanya memindai dinding batu yang gelap. “Aku merasakannya. Dan jika satu bisa bergerak, yang lain juga bisa.”
Kieran di depannya hanya mengangguk, tanpa perlu penjelasan lebih lanjut. Kepercayaan pada insting Aura sudah tertanam kuat.
Mereka terus berjalan. Lorong itu terasa anehnya lancar tidak ada jebakan paku, tidak ada pintu jebakan, atau bahkan balok batu yang jatuh. Itu adalah lorong yang membingungkan, terlalu mudah dan terlalu tenang untuk sebuah makam yang dijaga ketat.
Mereka akhirnya memasuki lorong kanan yang ditunjukkan oleh drone sebelumnya, meninggalkan lorong kiri yang buntu. Lorong kanan ini segera membawa mereka ke sebuah ruangan besar.
Ruangan itu berbentuk persegi panjang yang luas, diselimuti kegelapan yang pekat, hanya diterangi oleh senter taktis dan lampu helm mereka. Udara di sini terasa lebih kering dan dingin, membawa bau mineral dan batu yang sangat tua.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah batu besar berbentuk lingkaran, tingginya sekitar satu meter, menyerupai meja batu upacara kuno. Permukaannya dihiasi dengan ukiran hieroglif yang rumit, yang tampak menceritakan kisah peperangan atau pengorbanan.
“Meja persembahan,” gumam Falix, segera mendekat dengan antusiasme yang tak terhindarkan.
Namun, yang menarik perhatian Aura adalah formasi penjaga di ruangan itu. Sebuah patung prajurit batu yang berukuran raksasa berdiri tegak, matanya yang kosong tertuju tepat ke arah meja batu bundar itu, seolah menjaga sebuah rahasia.
Di sisi ruangan, di seberang meja batu, terlihat sebuah rangkaian anak tangga menuju ke lantai yang lebih dalam. Tangga batu itu tidak kosong.
Aura mengikuti tatapan senternya ke tangga itu. Di setiap anak tangga, mereka berhadapan dengan barisan patung prajurit batu yang ukiran detailnya semakin mengerikan.
• Anak Tangga Pertama: Lima patung prajurit berbaris.
• Anak Tangga Kedua: Enam patung prajurit berbaris.
• Anak Tangga Ketiga: Delapan patung prajurit berbaris.
• Anak Tangga Keempat: Sepuluh patung prajurit berbaris.
Jumlah patung itu terus bertambah, meningkatkan rasa sesak dan claustrophobia di ruangan itu.
Aura menyinari wajah patung-patung prajurit di tangga. Ukiran wajah mereka menunjukkan ekspresi kemarahan dan penderitaan yang begitu intens, begitu nyata. Perasaan dingin menjalar di tengkuknya. Ada yang salah, benar-benar salah.
Prajurit bersenjata sudah mati. Patung-patung ini... mereka tidak menjaganya, mereka mengelilinginya, batin Aura, hatinya dipenuhi perasaan waspada yang samar.
Kondisi ruangan itu, yang tampak tenang tanpa ada suara apa pun selain langkah kaki mereka yang teredam, adalah kontradiksi yang menakutkan. Itu adalah ketenangan yang menipu, keheningan yang menunggu.
Jack, perwira lapangan, melihat ke sekeliling dengan kerutan di dahinya. "Ini aneh. Tidak ada jalan lain. Hanya tangga ini. Dan kami tidak suka lorong tunggal."
Aura melihat ke sekeliling lagi, lalu menoleh ke belakang, ke lorong tempat mereka masuk. Jelas, lorong kanan adalah satu-satunya jalur yang ada di hadapan mereka.
Aura, bertindak atas insting yang mendalam, tahu bahwa lorong yang mudah ini adalah umpan. Ia perlu memverifikasi anomali yang ia abaikan sebelumnya.
Ia mendekati Jack, wajahnya menunjukkan perpaduan antara keseriusan dan sedikit keraguan.
"Jack, aku ingin melihat lorong jalan kiri tadi. Apa boleh?" tanya Aura, suaranya pelan tapi tegas.
Jack memandangnya dengan tatapan skeptis. "Kamu ingin kembali ke lorong bercabang tadi? Kenapa? Drone kita sudah menunjukkan itu jalan buntu, Nona Aura. Kita tidak punya waktu untuk membuang-buang energi."
"Aku tahu, tapi instingku mengatakan ada yang tidak beres dengan ruangan ini," jawab Aura. "Lorong itu terlalu tenang, dan patung-patung ini... terasa seperti penanda. Aku hanya perlu melihatnya lagi, memverifikasi sesuatu."
Jack menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan sarung tangan. Ia telah melihat kemampuan analisis Aura di lantai-lantai sebelumnya. Meskipun ia benci membuang waktu, ia lebih benci mengabaikan naluri berbahaya.
"Baiklah. Kalau begitu bawa beberapa orang bersamamu. Jangan bergerak sendirian," kata Jack, nada suaranya tegas. "Aku tidak akan kembali untukmu jika ini jebakan bodoh. Tapi kamu harus berhati-hati. Kalau ada masalah sekecil apa pun, cepat kembali. Jangan melawan, segera mundur."
Aura mengangguk paham, sedikit rasa lega melintas di matanya karena Jack mengizinkannya. "Terima kasih."
Jack menunjuk lima dari prajuritnya, termasuk tentara yang ceroboh menjatuhkan botol sebelumnya. "Kalian. Ikut Nona Aura. Jaga dia. Segera laporkan kembali."
Di perjalanan kembali, Aura dan kelima prajurit berjalan relatif santai. Mereka melewati lorong sempit yang sama yang mereka lalui beberapa menit yang lalu.
"Di depan sana lorong yang kamu tuju, Aura," kata salah satu tentara, menunjuk ke lorong di sebelah kiri.
Aura mengangguk dan berjalan cepat. Mereka memasuki lorong kiri itu, dan benar saja, setelah hanya beberapa meter, mereka memang menemukan jalan buntu. Dinding batu yang kasar dan padat berdiri tegak di hadapan mereka, tidak ada pintu, tidak ada celah.
"Tuh kan, jalan buntu," gumam salah satu tentara dengan nada sedikit frustrasi.
Namun, mata Aura segera tertuju pada detail di depan dinding buntu itu.
Ada dua patung berukuran manusia normal, berdiri tegak di sebelah kanan dan kiri di depan dinding itu. Mereka tampak lebih sederhana daripada patung prajurit di ruangan utama, mengenakan jubah tanpa senjata yang jelas.
Aura segera mengangkat ponselnya. Jepret! Ia mengambil gambar patung-patung itu, mengabadikan posisi mereka yang ganjil di depan jalan buntu.
"Ini benar jalan buntu ternyata. Bagaimana, mau kembali sekarang atau tidak?" ucap tentara itu, wajahnya menunjukkan keinginannya untuk segera kembali ke kelompok utama.
"Tunggu sebentar," kata Aura, mengabaikan pertanyaan itu. Ia melangkah maju, senternya menyinari posisi patung itu dengan cermat.
Patung di sebelah kanan memiliki posisi tangan yang menjulur ke depan, seolah-olah sedang menawarkan sesuatu. Patung di sebelah kiri memiliki posisi tangan yang terangkat, seperti sedang menahan. Yang paling penting, posisinya di lorong yang sempit itu terasa tidak alami.
Aura berjalan ke belakang patung kanan dan mencondongkan tubuhnya. Ia merasakan tekstur lantai batu.
"Kurasa patung ini bisa digeser dan bergerak," ucap Aura, suaranya tenang tapi penuh penemuan.
Tentara yang bersamanya segera memeriksa kedua patung di depannya. Ia berlutut, menyinari alas patung.
"Ya ampun! Nona Aura benar!" seru tentara itu, terkejut. "Memang ada jejak gesekan di sini! Garis-garis halus di lantai batu, seperti beban berat baru saja ditarik atau didorong berulang kali."
Aura tersenyum tipis. "Jalan buntu. Tidak mungkin makam purba hanya membuat jalan buntu tanpa alasan. Ini adalah kunci."
"Apa perlu kita beritahu yang lain?" ucap tentara itu, matanya bersemangat.
Aura melihat ke sekeliling ruangan buntu yang sempit itu. "Jika ini adalah kunci, mungkin kita tidak bisa menggesernya tanpa..."
Tiba-tiba, percakapan mereka terpotong oleh suara yang memekakkan telinga.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan otomatis yang keras, berjarak dekat, bergema dari lorong di belakang mereka. Itu adalah suara tembakan senapan serbu militer, bukan suara jebakan kuno. Suara itu dipenuhi urgensi, keputusasaan, dan bahaya nyata.
Semua prajurit, dan juga Aura, segera menoleh ke lorong di belakang mereka, ke arah tempat kelompok utama berada.
"Itu suara dari ruangan di belakang kita! Suara tembakan! Jack dalam masalah!" teriak salah satu tentara, wajahnya dipenuhi rasa panik dan adrenalin.
Bahaya telah mengejar mereka, dan itu datang dari tempat yang paling mereka anggap aman. Patung-patung di ruangan utama telah hidup.