Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sap 31
“Biaya perbaikan sepuluh miliar.”
Andre mengatakannya dengan sangat santai, seolah sedang menyebut harga semangkuk bakso, bukan angka yang bisa membuat orang kehilangan napas.
Nadia yang semula masih menyimpan secuil harapan untuk menyelesaikan semuanya dengan damai mendadak membelalak.
“Ck!”
Tangannya refleks bertolak pinggang. Dada perempuan itu naik turun menahan kesal yang mulai merambat sampai ke ubun-ubun.
Di belakang Andre berdiri seorang lelaki dengan setelan jas hitam yang sangat rapi. Terlalu rapi jika hanya disebut sopir. Kemungkinan besar lelaki itu tangan kanan Andre.
“Kamu memang enggak pernah berubah,” ucap Nadia kesal sambil menatap Andre tajam. “Selalu saja mau menindas orang. Kenapa enggak sekalian saja suruh aku beli mobil kamu?”
Andre tetap bersandar santai di mobilnya. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, wajahnya bahkan nyaris tak menunjukkan perubahan ekspresi.
“Kamu juga enggak pernah berubah. Selalu saja ceroboh.”
“Andre, yang benar saja, kamu! Kita ini saling kenal. Kita bisa selesaikan ini secara kekeluargaan.”
Andre mengangkat sebelah alisnya pelan.
“Anak bukan, orang tua bukan, saudara juga bukan. Terus kamu mau menyelesaikan ini secara kekeluargaan?”
“Tapi kita satu angkatan, Andre. Satu almamater.”
“Enggak ada urusan. Pokoknya harus ganti.”
“Tapi biaya perbaikannya enggak masuk akal!” seru Nadia kesal. Suaranya meninggi beberapa tingkat.
Andre menatap Nadia datar.
“Kamu yang nabrak aku. Mobilku yang ditabrak. Apanya yang enggak masuk akal? Pokoknya kamu harus ganti.”
Nadia mengembuskan napas panjang. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, berusaha menahan diri agar tidak menjambak rambut laki-laki di depannya.
“Oke, aku akan perbaiki. Tapi bengkel tempat perbaikannya aku yang menentukan.”
Andre langsung menggeleng.
“Enak saja. Mobil saya ini mobil mahal. Mana bisa diperbaiki sembarangan.”
“Kalau begitu tunjukkan padaku bengkelnya. Aku yang akan negosiasi langsung.”
“Oh, tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Bengkelnya rahasia.”
Nadia langsung melongo.
“Enggak masuk akal! Orang bikin bengkel itu supaya diketahui banyak orang, bukan dirahasiakan!”
“Ya memang begitu.”
Andre menjawab dengan wajah santai. Saking santainya, Nadia sampai merasa tekanan darahnya naik beberapa angka.
“Damai enggak mau, bengkel pilihanku enggak mau, nunjukin bengkel juga enggak mau! Terus maunya apa?”
“Ya transfer sepuluh miliar.”
Nadia langsung menunjuk wajah Andre dengan gemetar karena kesal.
“Gila! Ini pemerasan! Mending kita lanjut ke kantor polisi saja!”
“Oh? Siapa takut?”
Andre membuka pintu mobilnya.
“Ayo, masuk. Kita ke kantor polisi.”
“Aku naik motorku. Kamu ikuti dari belakang.”
“Enggak bisa.”
“Kenapa lagi?” Nadia mendengus.
“Kamu harus naik mobil bersamaku.”
Nadia memicingkan mata penuh curiga.
“Kenapa?”
“Kalau enggak bersama aku, nanti kamu kabur.”
“Eh! Yang dulu sering lari dari pelajaran itu kamu, ya! Bukan aku!”
Andre mendecih pelan.
“Jangan bawa masa lalu. Lari dari pelajaran membosankan dan lari dari tanggung jawab itu berbeda.”
“Kamu tetap nyebelin.”
“Kamu juga.”
“Terus motorku siapa yang bawa?”
“Toni.”
Andre menunjuk lelaki di belakangnya.
Toni langsung menatap Andre tidak percaya. Kedua matanya membesar.
“Bos, kita ada meeting dan saya sudah rapi begini.”
“Batalkan.”
“Bos, panas.”
“Potong gaji satu tahun.”
“Aih... kejam sekali.”
Toni langsung memasang wajah sedih seperti kehilangan masa depan.
Andre menatap Nadia.
“Kasih kunci motormu.”
Nadia masih menatap curiga.
“Nanti dia bawa kabur motorku lagi.”
Andre melirik motor Nadia sekilas.
“Motor seperti itu biaya sekali makan Toni.”
Mata Nadia langsung membulat.
“Motor jelek kata kamu? Ini baru, tahu!”
“Kalau hilang, kamu bisa minta ganti padaku.”
“Kamu nyebelin!”
“Kamu yang ribet.”
Dengan mendengus keras, Nadia menyerahkan kunci motornya.
Ia berjalan menuju pintu belakang mobil.
Namun...
Terkunci.
“Buka dong! Katanya suruh naik!”
“Naik depan.”
Andre membukakan pintu samping kemudi.
Nadia langsung menggeleng cepat.
“Aku mau di belakang.”
“Eh, aku bukan sopir kamu.”
“Aku maunya di belakang.”
“Di depan.”
“Aku enggak mau.”
Andre menatap Nadia datar selama beberapa detik.
“Dari dulu sampai sekarang aku enggak suka sama kamu, ya. Jangan berpikir aneh-aneh. Aku enggak akan berbuat macam-macam.”
Nadia yang memang diam-diam memikirkan itu langsung salah tingkah.
Ia buru-buru mengacungkan kepalan tangan.
“Awas kalau macam-macam. Aku tonjok kamu.”
Sudut bibir Andre bergerak tipis. Nyaris tertawa.
“Jangan sok jago. Masuk.”
Akhirnya Nadia masuk ke kursi depan dengan wajah cemberut.
Andre duduk di sampingnya.
Lalu tiba-tiba kepala lelaki itu mendekat.
Nadia langsung menjerit sambil merapatkan tubuh ke pintu mobil.
“Tuh, kan! Belum apa-apa sudah mau mesum!”
“Aku turun saja!”
Andre memejamkan mata sesaat, menahan napas panjang.
“Aku mau pasang seat belt kamu.”
Kepalanya menjauh.
“Pasang sendiri. Aku enggak mau nanti kamu kecelakaan di mobilku. Aku orang sibuk.”
Pipi Nadia memanas.
Ia menatap sabuk pengaman itu dengan wajah kaku.
Ia menarik ke kanan.
Lalu ke kiri.
Lalu mengangkatnya.
Tetap gagal.
Andre melirik sambil tersenyum tipis.
“Hm... begini kalau terlalu nurut sama guru. Pasang seat belt saja enggak bisa.”
Nadia menggertakkan giginya.
“Ya sudah, pasangin.”
Andre mencondongkan tubuh perlahan.
Aroma parfum mahal langsung menyelinap ke indera penciuman Nadia.
Tubuh Nadia refleks menegang.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia buru-buru memejamkan mata.
Ia tidak terbiasa sedekat ini dengan laki-laki lain.
Setelah seat belt terpasang, mobil mulai berjalan.
Namun Nadia masih memejamkan mata.
Andre melirik.
“Malah tidur. Bangun! Aku enggak mau jok mahal kena iler kamu.”
Mata Nadia langsung terbuka lebar.
“Siapa juga yang ngiler!”
Kesal.
Sangat kesal.
Rasanya sejak bertemu Andre hari ini, emosinya dipermainkan naik turun seperti wahana ekstrem.
Nadia langsung mengambil ponselnya.
Hanya Sindi yang bisa membantunya sekarang.
“Sin, tolong aku.”
“Kenapa?”
“Aku nabrak mobil. Lecet sama penyok sedikit, terus dia minta ganti rugi sepuluh miliar!”
Nadia sengaja mengeraskan volume suara sambil melirik Andre penuh kemenangan.
“HAH?! Yang punya mobil gila, ya? Mobil apa?”
“Rolls-Royce.”
“Ah! Walaupun mobil mewah, enggak mungkin sampai sepuluh miliar! Jangan mau, Nad! Mending ke kantor polisi saja!”
“Iya. Ini aku lagi ke kantor polisi.”
“Aku nyusul!”
Suara Sindi terdengar berapi-api.
“Aku akan bela kamu, Nad! Siapa pun dia, pangkat apa pun dia, aku akan bela kamu! Jangan mentang-mentang kita perempuan bisa seenaknya ditindas!”
Nadia tersenyum kecil.
Hangat rasanya punya teman seperti Sindi.
“Ya sudah, aku tunggu.”
Sampai di kantor polisi, Nadia menolak memulai negosiasi sebelum Sindi datang.
Andre yang mulai kehilangan kesabaran akhirnya keluar dari ruangan sambil memasukkan tangan ke saku celana.
Beberapa menit kemudian, Sindi datang tergesa-gesa dengan napas memburu.
“Sayang, kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja.”
“Mana orangnya? Yang punya mobil itu! Biar aku kasih pelajaran!”
“Aku yang punya mobil.”
Suara tenang Andre membuat langkah Sindi terhenti.
Membeku.
Mata Sindi langsung terbelalak.
Mulutnya terbuka.
Wajahnya yang semula penuh amarah mendadak pucat.
“Eh... Tuan Andre? Kenapa Anda ada di sini?”
Nadia melongo.
Tatapannya berpindah dari Sindi ke Andre.
Lalu kembali lagi ke Sindi.
Keningnya berkerut dalam.
“Kenapa Sindi jadi takut sama anak nakal ini?” batin Nadia bingung.
melawan itu perlu demi kewarasan..kesehatan mental biar g jadi orang yg lemah ...aq paling benci kli melihat orang diam kli di singgung di kata katai mkinya klo mertua yg ngatai..langsung q lawan..g ada istilah mertua julid hatus di hormati..yg ada harus dihindari biar sehat jiwa raga
selamat berkarya Thor ditunggu cerita seru selanjutnya....tetap semangat Thor 💪💪