Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kembalinya Raja Valerius
Nana terbangun di tempat tidurnya sendiri.
Lampu-lampu bioluminesensi di langit-langit kamar berkedip lembut — biru, ungu, hijau — seperti bintang-bintang yang berbisik. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari bahwa ia sudah kembali ke Aequoria. Bahwa perjalanan ke Palung Hitam sudah usai. Bahwa Jantung Hitam sudah hancur.
"Kau sadar," kata suara di sampingnya.
Nana menoleh. Jeno duduk di kursi di samping tempat tidurnya, mata biru pucatnya sembab — seperti orang yang tidak tidur semalaman. Atau mungkin dua malam. Tangannya masih memegang trisula, meski di dalam ruangan yang aman.
"Berapa lama aku tidur?" tanya Nana. Suaranya serak.
"Dua hari."
Nana mengerjap. "Dua hari?"
"Kau kelelahan, Nana. Lagu kerajaan dengan kekuatan penuh... belum pernah kau lakukan sebelumnya. Tubuhmu perlu istirahat."
Nana mencoba duduk. Seluruh ototnya terasa sakit — seperti habis berenang melawan arus selama berminggu-minggu.
"Kau tidak boleh bergerak," kata Jeno cepat. Tangannya yang tidak memegang trisula meraih bahu Nana, menahannya.
"Aku harus—"
"Kau harus istirahat. Kerajaan tidak akan runtuh tanpamu dua jam lagi."
Nana menatap Jeno. "Kapan terakhir kau tidur?"
Jeno terdiam.
"Jeno."
"...Dua hari yang lalu."
"Sebelum aku pingsan?"
"Ya."
Nana menghela napas. Ia meraih tangan Jeno — tangan yang dingin, tapi hangat di genggamannya — dan menariknya ke samping tempat tidur.
"Tidur," perintahnya.
"Aku tidak bisa—"
"Itu perintah ratu."
Jeno ingin protes. Tapi matanya sudah berat. Tubuhnya sudah lelah. Dan Nana — Nana sudah memegang tangannya dengan erat.
"Baik," katanya akhirnya. "Tapi hanya sebentar."
Ia merebahkan dirinya di lantai di samping tempat tidur Nana — bukan di tempat tidur yang sama. Masih menjaga jarak. Masih menjaga protokol.
Nana tidak memaksanya. Ia tahu Jeno akan mati malu jika ketahuan tidur di tempat tidur ratu.
"Jeno," bisik Nana sebelum matanya terpejam lagi.
"Hm?"
"Terima kasih. Untuk menjagaku."
Jeno tidak menjawab. Tapi dari lantai, Nana mendengar napasnya yang mulai teratur — naik turun, naik turun — seperti ombak kecil yang tenang.
Ia tersenyum. Dan tidur lagi.
Keempat kalinya Nana terbangun, Zara sudah berdiri di depan tempat tidurnya dengan setumpuk laporan.
"Yang Mulia, kabar baik dari Teluk Hantu," katanya tanpa basa-basi. Matanya berbinar — sesuatu yang jarang terjadi pada mantan Siren Hitam yang biasanya dingin.
Nana duduk — kali ini lebih mudah. "Apa yang terjadi?"
"Jantung Hitam hancur. Sihir hitam yang mengunci Raja Valerius di dimensi gelap ikut lenyap. Dewi Laut mengirim utusan — ayah Yang Mulia bebas."
Nana membeku.
"Apa?"
"Raja Valerius sudah kembali ke dunia kita. Dia sekarang di ruang singgasana. Lira yang menjaganya."
Nana tidak menunggu lebih lama. Ia melompat dari tempat tidur — tubuhnya masih sakit, tapi ia tidak peduli — dan berenang sekencang mungkin menuju ruang singgasana.
Jeno, yang terbangun karena suara, hanya bisa menggeleng dan mengikutinya dari belakang.
Ruang singgasana terasa berbeda.
Ada cahaya di sana — bukan dari lampu atau ubur-ubur raksasa. Tapi dari seseorang.
Raja Valerius duduk di kursi singgasana bagian bawah — bukan singgasana utama, karena ia sudah tidak lagi menjadi raja. Tubuhnya kurus, lemah, rambutnya putih semua. Tapi matanya — mata biru keabu-abuan itu — terang. Tidak lagi kosong seperti dulu di dimensi gelap.
"Ayah!"
Nana berenang ke arahnya dan memeluknya — erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan orang tuanya.
Raja Valerius membeku sejenak. Lalu — perlahan — tangannya yang kurus terangkat dan membalas pelukan Nana.
"Nanara," bisiknya. Suaranya serak — sepuluh tahun tidak bicara dengan siapa pun. "Kau... kau tumbuh besar."
Nana tertawa — tertawa sambil menangis.
"Apa yang ayah lihat? Aku terakhir bertemu ayah saat masih bayi!"
"Ayah lihat matamu. Mata Ruenna."
Nana menangis lebih keras.
Raja Valerius menatap Jeno yang berdiri di pintu ruang singgasana.
"Kau... kau Jeno, ya? Penjaga kerajaan?"
Jeno membungkuk. "Ya, Yang Mulia. Kepala Penjaga Jeno."
"Aku ingat kau. Dulu kau masih kecil — ikut ayahmu ke istana. Kau suka bersembunyi di balik tirai kamar Ruenna."
Jeno tersenyum tipis. "Aku tidak menyangka Yang Mulia ingat."
"Aku ingat semuanya. Sekarang."
Raja Valerius menatap Nana.
"Anakku... kau yang menyelamatkanku. Bukan hanya dengan menghancurkan Jantung Hitam. Tapi dengan... terus berusaha. Meskipun aku sudah lupa padamu, kau tidak pernah lupa padaku."
Nana menggigit bibirnya. "Ayah, jangan—"
"Ayah bangga padamu, Nanara. Ibumu juga pasti bangga."
Nana memeluk ayahnya lagi.
Lira, yang berdiri di sudut ruangan, menyeka air matanya dengan punggung tangan. Zara berpura-pura sibuk membaca laporan yang sudah ia hafal. Para penasihat lain menunduk — ada yang terisak pelan.
Jeno tidak bergerak dari pintu. Tapi matanya — mata biru pucat itu — basah.
Malam harinya, Nana dan Raja Valerius duduk di taman laut.
Mawar biru bermekaran di sekeliling mereka — lebih banyak dari sebelumnya. Setelah Jantung Hitam hancur, bunga-bunga itu tumbuh subur, seperti ikut bersyukur.
"Ayah ingat taman ini," kata Raja Valerius. Matanya menjelajah setiap sudut. "Dulu Ruenna yang menanam mawar biru pertama. Dia bilang, 'Bunga ini akan mekar selamanya — seperti cintaku pada Valerius.'"
Nana tersenyum. "Ayah pasti sangat mencintai ibu."
"Lebih dari apa pun. Lebih dari hidupku sendiri."
Raja Valerius menatap Nana.
"Tapi ayah lupa... bahwa ayah juga mencintai sesuatu yang lain. Kau."
Nana tidak bisa berkata apa-apa.
"Maaf, Nak. Ayah meninggalkanmu. Ayah terlalu tenggelam dalam kesedihan. Ayah—"
"Ayah," potong Nana. "Aku tidak marah. Aku hanya... bersyukur ayah kembali."
Raja Valerius menangis. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, ia menangis — bukan karena kesedihan, tapi karena lega.