Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kediaman Sang Penakluk – Musim Bersemi di Islamabad
20 Desember 700 Masehi — Istana Kepresidenan, Islamabad
Setelah deru mesin jet tempur dan gemuruh tank-tank di medan India mereda, atmosfer di Islamabad berubah drastis. Jika bulan-bulan sebelumnya kota ini adalah pusat mobilisasi militer yang tegang, kini ia bertransformasi menjadi oase kedamaian. Di pusat istana, sebuah paviliun kaca yang dikelilingi oleh taman gantung berteknologi hidroponik menjadi saksi bisu transisi Yudi Rahmad dari seorang penakluk dunia menjadi seorang suami yang penuh perhatian.
Bagi Yudi, sisa hari di bulan Desember tahun 700 Masehi bukan lagi tentang peta navigasi atau koordinat artileri. Ia telah memutuskan untuk melepaskan jubah panglima tertingginya sejenak. Fokusnya kini hanya satu: Yue Qing.
Kehangatan di Balik Dinding Istana
Pagi itu, Islamabad diselimuti kabut tipis yang dingin. Di dalam paviliun, pemanas ruangan otomatis menjaga suhu tetap hangat. Yudi duduk di sebuah kursi santai, membiarkan Yue Qing bersandar di dadanya sambil mereka berdua menatap pemandangan kota yang sedang tumbuh dari ketinggian. Tidak ada protokol istana yang kaku, tidak ada menteri yang mengganggu.
"Yudi," bisik Yue Qing lembut, tangannya memainkan jemari Yudi yang kuat. "Apakah kau tidak merindukan medan perang? Dunia di luar sana masih sangat luas, dan pasukanmu menunggu perintahmu untuk melangkah lebih jauh."
Yudi mengecup puncak kepala Yue Qing, menghirup aroma rambutnya yang harum. "Biarkan dunia menunggu, Sayang. Aku telah memberikan mereka cukup banyak kejutan untuk setahun ini. India sudah tenang, Tibet tetap kokoh, dan Ibunda Wu Lin menjaga Timur dengan baik. Sekarang, satu-satunya wilayah yang ingin aku taklukkan setiap hari adalah hatimu."
Yue Qing tersenyum, wajahnya merona merah delima, senada dengan warna matanya yang unik. Momen-momen seperti ini menjadi rutinitas mereka. Yudi sering kali memasak sendiri untuk istrinya, menggunakan bahan-bahan segar yang ia ambil dari Inventory Sistem—bahan-bahan yang tidak akan ditemukan di pasar mana pun di abad ke-8, seperti buah beri dari iklim dingin atau cokelat murni yang manis.
Mereka menghabiskan waktu dengan hal-hal sederhana. Kadang Yudi membacakan Yue Qing buku-buku sastra atau sejarah masa depan yang ia miliki, atau sekadar berjalan-jalan di taman rahasia di mana Yudi memanifestasikan bunga-bunga eksotis dari sistemnya untuk menyenangkan hati istrinya. Yudi ingin memastikan bahwa Yue Qing merasa dicintai bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai pusat dari dunianya.
Upaya Membangun Dinasti
Namun, di balik kemesraan yang lembut itu, ada tanggung jawab besar yang dipikul oleh Yudi. Sebagai kaisar dari sebuah dinasti baru, ia sadar bahwa keberlangsungan Dinasti Rahmad sangat bergantung pada kehadiran seorang pewaris. Dengan wilayah seluas 5,2 juta kilometer persegi, takhta Islamabad memerlukan penerus yang memiliki darah Rahmad dan kemuliaan Zhou.
Hingga akhir tahun 700 Masehi, Yudi secara sadar mendedikasikan sebagian besar waktunya untuk "membuahi" Yue Qing. Ini bukan sekadar kewajiban biologis, melainkan bentuk ibadah dan upaya serius untuk memperkuat fondasi kekaisarannya. Malam-malam di kamar pengantin mereka selalu dipenuhi dengan gairah yang romantis dan intensitas yang mendalam.
Yudi memperlakukan Yue Qing dengan penuh pemujaan. Setiap malam, ia memastikan suasana kamar telah sempurna—cahaya temaram, aroma terapi yang menenangkan, dan musik lembut yang diputar melalui perangkat teknologi sistemnya. Ia tidak terburu-buru; ia menikmati setiap detik proses penyatuan mereka, berusaha memberikan kebahagiaan maksimal kepada Yue Qing sebelum mereka tertidur dalam pelukan satu sama lain.
"Aku ingin anak-anak kita nanti mewarisi ketegasanmu dan kecantikanmu," ucap Yudi suatu malam di bawah selimut sutra, setelah mereka baru saja menyelesaikan percintaan yang penuh gairah.
Yue Qing memeluk Yudi erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya. "Aku hanya ingin memberikanmu putra-putri yang bisa membanggakan nama ayahnya. Aku akan berusaha, Yudi. Aku akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu."
Yudi menggunakan pengetahuan medis dari sistemnya untuk memantau kesehatan Yue Qing secara rahasia, memastikan bahwa asupan nutrisinya sempurna untuk mendukung kesuburan. Ia memberikan vitamin-vitamin terbaik yang dikemas dalam bentuk camilan lezat yang disukai Yue Qing. Setiap harinya, harapan itu terpupuk, dan cinta mereka semakin mengakar kuat.
Kunjungan Maharani Wu Lin
Di tengah masa istirahat Yudi, Maharani Wu Lin sempat berkunjung ke Islamabad secara informal. Ia tidak datang sebagai penguasa Zhou, melainkan sebagai seorang ibu yang ingin melihat kebahagiaan putranya. Melihat bagaimana Yudi begitu memanjakan Yue Qing, Wu Lin merasa sangat lega.
"Yudi," ucap Wu Lin saat mereka berjalan di selasar istana, sementara Yue Qing sedang beristirahat. "Aku melihatmu telah berubah. Kekuasaan tidak membuatmu dingin, justru cintamu yang membuat kekuasaanmu terasa lebih manusiawi. Jagalah istrimu dengan baik. Pewaris yang kau harapkan adalah kunci stabilitas Asia."
Yudi mengangguk khidmat. "Ibunda tidak perlu khawatir. Islamabad adalah rumah bagi cintaku. Aku tidak akan membiarkan tugas negara merusak kebahagiaan kecil yang baru saja kami bangun."
Wu Lin tersenyum, melihat kedewasaan Yudi yang kini telah sempurna. Ia menyadari bahwa putranya telah menemukan keseimbangan yang sulit dicapai oleh banyak kaisar hebat sebelumnya: keseimbangan antara menjadi penakluk yang ditakuti musuh dan suami yang dicintai istri.
Akhir Tahun 700 Masehi: Refleksi dan Harapan
Malam pergantian tahun menuju 701 Masehi ditandai dengan pesta kembang api raksasa di langit Islamabad. Dari balkon istana, Yudi dan Yue Qing berdiri berdampingan, menatap ribuan cahaya yang meledak di angkasa, memantul di permukaan sungai-sungai buatan yang membelah kota.
Statistik kekaisaran menunjukkan angka-angka yang luar biasa stabil. Ekonomi India mulai pulih, integrasi masyarakat Muslim dan lokal berjalan harmonis, dan militer tetap dalam kesiagaan tertinggi meski tanpa peperangan aktif. Namun bagi Yudi, statistik yang paling penting malam itu adalah denyut jantung Yue Qing yang berdetak tenang di sampingnya.
Tahun 700 Masehi ditutup dengan sebuah pencapaian yang berbeda. Bukan tentang wilayah baru yang ditaklukkan, melainkan tentang cinta yang dikukuhkan. Yudi telah membuktikan bahwa meskipun ia memiliki senjata paling mematikan di dunia di dalam Inventory-nya, kekuatan paling besar yang ia miliki adalah kemampuannya untuk mencintai dan melindungi keluarganya.
"Selamat tahun baru, Permaisuriku," bisik Yudi sambil mengecup dahi Yue Qing saat lonceng kota berbunyi.
"Selamat tahun baru, Kaisarku," jawab Yue Qing dengan senyum paling tulus. "Semoga tahun depan, ada kehidupan baru yang tumbuh di antara kita."
STATISTIK KEKELUARGAAN & NEGARA (AKHIR TAHUN 700 M)
Status Kaisar: Menikah (Permaisuri Yue Qing).
Fokus Utama: Kesejahteraan Domestik dan Program Pewaris Takhta.
Kondisi Psikologis Permaisuri: Sangat Bahagia, Kesehatan Optimal.
Populasi Muslim: Meningkat menjadi 14.200.000 Jiwa (Berkat asimilasi damai selama masa tenang).
Stabilitas Wilayah: 100% (Tidak ada pemberontakan tercatat di India maupun Tibet).
Posisi Militer: Siaga di barak masing-masing, fokus pada pemeliharaan alutsista dan latihan rutin.
Tahun 700 Masehi berakhir dengan kedamaian mutlak di bawah panji Dinasti Rahmad. Dunia menanti, apakah tahun 701 akan membawa kabar tentang lahirnya sang putra mahkota, ataukah sang penakluk akan kembali membentangkan sayap bajanya ke arah wilayah baru. Namun malam itu, hanya ada kehangatan di Islamabad.