Danil Dwi Cahya, 16 tahun, lulus SMP dengan prestasi gemilang. Namun, ia tak bisa lari dari "Pernak-Pernik Kehidupan" yang keras: kemiskinan, pengkhianatan masa lalu sang ayah, dan beban mengangkat harga diri keluarga.
Hatinya makin rumit saat Ceceu Intan Nuraini, sahabat sekaligus cinta tak terucapnya, rela berkorban segalanya. Di tengah dilema merantau atau bertahan, Danil harus menghadapi intrik desa, mitos seram, dan bahaya dari majikan "buaya darat" Ceceu.
Akankah ia menemukan jalan keluar dari jeratan takdir dan cinta? Atau justru terhanyut dalam 'pernak-pernik' kehidupan yang tak terduga? Baca kisah perjuangan Danil dalam PERNAK-PERNIK KEHIDUPAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aris Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Baik Tuan Besar." Firman membalas pesan itu.
Hampir 10 menit para bodyguard Kadir menunggu, sosok lelaki tua yang masih nampak gagah di usianya itu, berjalan angkuh dengan deretan para pria berjas yang kemungkinan terbesar itu adalah orang orang dari group maha karya. Firman keluar dari mobilnya berjalan menghampiri bandot tua yang berdiri di depan lobi kantor.
" Tuan Besar.!
Firman memanggil nya dengan sopan.!
" Aku sudah selesai, kita kembali ke markas, ada banyak pekerjaan yang harus kita diskusikan dan itu akan menjadi peluang kita untuk kedepannya." Bandot tua memberi titah pada Firman orang kepercayaan nya itu.
" Baik Tuan Besar, mati.!
Firman mengangguk dan mempersilahkan majikannya itu jalan di depan.
#####################
Di tempat lain tepatnya di salah satu kota kecil, mereka berdua turun dari mobil elf yang membawanya ke pusar kota dari kampung nan jauh di ujung Utara itu.
Tampak orang orang melihatnya iri, terutama bagi kalangan wanita, lelaki yang di tuntun oleh wanita muda terlalu sempurna untuk di sandingkan nya, karna wanita itu jauh lebih cantik dari orang yang mengomentarinya, sementara lelaki tersebut walaupun wajahnya tertutup masker namun di lihat dari gestur tubuh nya sudah di pastikan lelaki itu sangat tampan dan berkharisma.
Sepanjang perjalanan, dengan senang hati Santi menjelaskan kehidupannya di keluarganya pada pemuda yang memperkenalkan dirinya Prediansyah dan meminta untuk tinggal sementara waktu di kediaman orang tuanya untuk memulihkan ingatan serta menenangkan dirinya terlebih dahulu.
Itu bisa di tanggapi oleh Prediansyah bahwa wanita muda di hadapannya ingin keluar dari hutan yang selama dia tempati bersama keluarganya namun ada rahasia yang tidak bisa di ungkapkan kepadanya, Prediansyah dengan sabar akan menunggunya.
" San, Abang harus beli charger dulu, untuk mengecas hp Abang yang mati." Predi berkata setelah turun dari mobil angkutan umum itu.
" Iya Bang. Adek juga ini berjalan ke arah counter." Balasnya.
Setelah beberapa langkah, keduanya tiba di salah satu toko ponsel, Prediansyah langsung mengeluarkan ponselnya dan meminta pedagang itu memeriksa ponselnya apakah ada kerusakan atau tidak.
" Ini.......................!
Pedagang itu terkejut karna ponsel milik orang yang memintanya untuk memeriksa terlalu berharga dan di kota kecil ini tidak ada yang mempunyai ponsel berharga milik Prediansyah.
" Pak mohon maaf ini ponsel ini saya tidak bisa memeriksa nya, karna minimnya alat di counter kami." Ucap pedagang itu memohon maaf.
" Ohk iya tidak apa apa, tapi bolehkah kalau sekedar mengecas, atau apakah ada charger nya." Prediansyah tersenyum kecil.
Pedagang itu mengangguk lalu mengambil ponsel milik Prediansyah dan menyimpan di tempat pengecasan.
" Masuk pak, kayanya tidak ada kerusakan ponsel bapak." Pedagang itu menunjuk, tampak sumber daya pengisian baterai berjalan.
" Terima Kasih, kalau begitu boleh kah saya duduk di sini untuk menunggu baterai terisi penuh." Pinta Prediansyah dengan wajah memelas karna hal utama saat ini menghidupkan ponselnya untuk menelepon dan melangkahkan ke depan dengan tantangan baru dalam kehidupannya.
" Silahkan pak, dengan senang hati." Ucap pemuda yang berjaga di kios ponsel itu bersemangat.
Santi yang sedari tadi memperhatikan dan mendengarkan obrolan mereka berdua, ia memutuskan untuk pergi ke apotek dan Prediansyah menunggunya di counter itu.
Setelah menimbang nimbang sejenak apa yang di sarankan oleh Santi pun, Prediansyah mengangguk memberi kode bahwa ia setuju dan itu lebih baik, ketimbang harus berjalan kaki karena walau bagaimanapun ia bukan orang yang terlahir dari kerasnya hidup sejak kecil, perjalanan yang memakan hampir lima jam dari rumah pak Kodir sudah membuat dirinya kecapean berbeda dengan Santi yang tampak tak ada rasa capek di tubuhnya.
" Abang awas jangan kemana mana, dan harus tetap duduk di sini." Tekan Santi seraya memberikan uang pecahan berwarna merah dua lembar seraya berkata kembali." Ini buat Abang kalau mau memberi makanan maupun roko atau kopi.
Prediansyah terharu akan kebaikan wanita muda putri Mang Kodir itu, walaupun dirinya tidak kekurangan uang, namun saat ini jangankan 100 ribu seribu pun tak memegangnya, karna bagi dirinya setiap hari harinya selalu mengandalkan kartu ATM dan saat ini kartu kartu serta dompetnya berada di dalam mobil, sedangkan dirinya tiba tiba berada di hutan belantara itu dan di temukan oleh pak Kodir.
" Terima Kasih." Ucap Prediansyah, Santi mengangguk seraya melangkah meninggalkan Predi, tujuan utamanya saat ini ke apotek.
Satu jam satengah telah berlalu pengisian baterai berjalan lancar tampak di layar ponsel memasuki 99 % itu sudah menunjukkan selesai walau kurang satu persen. Predi meminta pada pedagang itu yang memperkenalkan dirinya bernama Iwan untuk mengganti nomor ponselnya dan mengaktifkan nomor baru, bukan waktunya bagi Predi memakai nomor lama dan itu akan menggangu ketenangan jiwa yang sedang ia jalani saat ini.
" Kang Sule jadi totalnya berapa semuanya, ngecas hp sekitar dua jam kurang sama mengganti nomor dan mengaktifkan nya." Ucap Predi.
Iwan tersenyum seraya memberikan ponsel yang sudah di aktifkan nomor baru nya itu." Kartu seluler aja Tuan yang harus di bayar, itu 50 rebu sekaligus dengan kuotanya.
Prediansyah mengangguk dan memberikan uang kembalian dari beli rokok sama kopi pada Iwan penjaga kios ponsel tersebut." Terima kasih kang Sule, namun saya masih meminta izin untuk duduk di sini menunggu adik saya yang masih berbelanja obat obatan dan keperluan lainnya.
" Silahkan...... Silahkan, Tuan." Sule membalas dengan senang hati.
Setelah ponselnya menyala dan basa basi sejenak dengan penjaga counter itu, Predi pun langsung mengirim pesan pada bawahan, bahwa ini nomor saya, dan jangan memberitahukan pada orang lain terutama kepada kedua orang tuanya maupun kakak dan kakak iparnya.
Tak lama kemudian ponsel pun berdering, orang kepercayaan nya itu menelepon, Predi sejenak diam antara mengangkat atau tidak, namun setelah di putuskan dia pun mengangkat telepon dari sekretaris nya itu.
" Tuan....... Di mana posisi anda sekarang.! Hampir satu bulan anda menghilang, Tuan Besar dan Nyonya besar menghawatirkan anda, begitu juga dengan Tuan muda Alfiansyah dan istrinya sangat sangat menghawatirkan keberadaan Tuan.!
Rentetan pertanyaan dari sebrang telepon setelah ponsel itu di tempelkan di telinga Prediansyah.
" Alex, tarik nafas dalam dalam, sekarang posisi kau sedang di mana, usahakan tidak ada orang lain yang mendengar obrolan kita." Prediansyah membalas ucapannya melalui sambungan telepon itu.
" Tuan saat ini saya berada di apartemen dan sedang beristirahat, semenjak kehilangan berita tuan hilang, saya baru beberapa hari masuk kantor sepenuhnya mencari keberadaan Tuan di Gunung Kanyang tempat tuan pertama kalinya menghilang.
" Bagus, untuk saat ini jangan sampai orang lain tahu keberadaan ku. Kau datanglah ke lokasi yang nanti aku kirim dn ingat kamu harus seorang diri datang ke sini, kalau sampai bocor tanggung akibatnya." Prediansyah mengancam Alex, yang notabenenya tidak harus di ancam juga ia akan selalu memegang teguh prinsip kesetiaan nya terhadap sang majikan.
" Siap Tuan, kamu tenang saja dan percaya padaku."
" Baiklah, aku selalu mempercayaimu dan satu lagi tolong bawakan beberapa pakaian dan uang tunai, dan tolong cetak identitas diri ku, karna aku tidak tahu dompet ku apakah ada di dalam mobil yang tinggal di situ atau kah di ambil oleh anak buahku." Terang Prediansyah menjelaskan tentang apa yang terjadi waktu itu.
" Tuan tenang saja, dompet serta yang lainnya aman dan saat ini saya yang memegangnya, detik ini juga aku berangkat Tuan tinggal kirim lokasi nya.
" Baiklah kalau begitu, aku kirim lokasi, namun seandainya aku sudah jalan nanti aku kirim lokasi terbarunya, seperti yang sudah aku jelaskan saat ini aku tinggal bersama keluarga yang jauh dari hiruk pikuk peradaban manusia zaman sekarang, jadi nanti aku mengirim lokasi tepat di sebuah kampung yang ada sinyal nya saja. Kamu nanti minta sama sesepuh di sana untuk mengantarkan ke rumahnya Pak Kodir dengan alasan saudara jauh nya." Ucap Predi.
" Baik Tuan, kalau begitu saya akhiri obrolan ini dan akan langsung meluncur." Pamit Alex dalam sambungan teleponnya.
" Ok.!
Predi langsung menutup panggilan telepon nya, tersenyum penuh arti dalam hatinya saat ini.
Bersambung.