NovelToon NovelToon
Abang Iparku,..Dosen Killerku

Abang Iparku,..Dosen Killerku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Slice of Life / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Spiritual / Cintapertama
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Syahira tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah secepat ini. Dipaksa masuk sebuah Kampus yang menjurus segalanya tentang agama yang diyakininya. ia mengikuti satu keyakinan mengikuti ayahnya. Ia harus menghadapi dunia yang sama sekali asing baginya. Hafalan panjang, kitab tebal dan Dosen,..yang tidak memberi ruang untuk gagal. Masalahnya bukan itu,..melainkan yang menjadi faktor utama adalah ada pada sang Dosen itu sendiri yang mengajarnya yaitu Abang iparnya sendiri. Ditengah tekanan yang terus menumpuk, kedekatan yang tidak seharusnya,..justru malah tumbuh seiring berjalannya waktu. Mereka lupa ada seseorang yang sudah lebih dulu menyimpan luka.
Kakaknya yang bernama Feryal wanita tomboy satu ini yang terlihat kuat tapi sebenarnya ia begitu rapuh telah banyak menyimpan luka sejak dirinya masih kecil. dan ketika sebuah kebenaran akhirnya terkuak, pilihannya harus dibuat, bukan siapa yang paling dicintai melainkan siapa yang tetap dipilih, bahkan setelah semuanya hancur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 19

Syahira berjalan lambat disepanjang koridor, dengan suasana hati yang tentunya tidak baik baik saja. Tidak seperti suasana lampir yang tadinya sempat ramai kini satu persatu sudah mulai keluar dan semakin lengang dan sepi.

Terlihat tenang tapi pikiran dan hatinya masih berperang, percakapan di ruang dosen tadi masih terus berputar dikepalanya. Setiap kali Bilal terasa seperti gema yang terus memantul, menolak hilang begitu saja.

Nggak semua hal perlu diucapkan untuk bisa dimengerti, kan?. Kalimat itu sederhana tapi justru karena kesederhanaannya ia terasa jauh lebih berat.

Syahira mengeratkan pelukannya pada kitab yang sedari tadi tak lepas dari tangannya. Seolah benda itu adalah satu satunya jangkar yang mampu menahannya tetap berdiri.

"Lo habis dimarahin, atau baru selesai tarung sama batin Ra?." celetuk Kaizan tiba tiba.

Syahira tersentak kecil, langkahnya sampai terhenti tiba tiba. Ia menoleh mendapati Kaizan berdiri tak jauh darinya. Dengan satu tangannya yang masuk ke saku celananya.

Sementara tangan lainnya memainkan kunci motor dengan gerakannya yang santai.Wajahnya terlihat biasa saja. Tapi matanya,..begitu jeli untuk tidak menyadari apapun yang ia lihat.

"Aku baik baik aja kok." jawabnya singkat.

"Kalimat yang paling meyakinkan yang pernah di ciptain manusia" Kata Kaizan berdecak. Syahira terdiam sejenak, dan tanpa sadar bibirnya terangkat tipis.

Melihat itu, Kaizan mengangguk kecil. "Nah, gitu lebih mending, tadi apaan muka Lo kusut banget kayak habis ngerjain ujian tanpa belajar."

"Nggak sekacau itu kelez." balas Syahira pelan.

"Belum, tapi kalau diterusin bisa jadi."

Syahira menatapnya sekilas, lalu menggeleng kecil

dan entah kenapa obrolan ringan seperti itu justru membuat sesak didadanya sedikit berkurang.

Kaizan kemudian berhenti memainkan kunci motornya. Ekspresinya masih sangat santai akan tetapi suaranya berubah tidak seperti biasanya.

"Gue enggak.oerlu tahu masalahnya apa. Dan gue juga enggak bakal ikut campur kalau Lo nggak mau."

Ucap Kaizan dan sempat menjeda ucapannya sementara Syahira hanya dia., dan ia memastikan dirinya mendengarkan ucapannya itu. "Tapi jangan sampai Lo tuh terlalu sibuk ngelawan isi kepala sendiri sampai lupa caranya napas Ra."

Deg.

Sederhana tapi langsung makjleb, kena banget. Seolah Kaizan tau dalam berapa hari terakhir pikirannya memang sedang jlimet alias tidak baik baik saja.

Bertarung dengan perasaan yang seharusnya tidak ada. Pikiran yang tidak ia paksa untuk diam, hati yang semakin begitu sulit untuk ia Kendalikan.

Kaizan mengangkat bahunya ringan, lalu kembali ke ekspresi santainya, "Udah balik sana, sebelum.gue ntar dituduh nyulik mahasiswi alim di koridor lagi."

Syahira terkekeh, "ok,..makasih ya udah diingetin." ucapnya tulus.

Kaizan mengangguk dan menatapnya sebentar "otak juga butuh istirahat." Syahira menggeleng kecil sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu. Langkahnya lebih ringan.

Ia pun berjalan meninggalkan koridor, sementara Kaizan tetap berdiri ditempatnya, memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang ditikungan.

Senyum tipis diwajahnya perlahan memudar. tatapannya berubah lebih serius. Instingnya jarang salah. Dan kali ini, ia tahu ada sesuatu yang sedang tumbuh, dan sesuatu itu yang seharusnya tidaklah tumbuh.

"Ini bakal rumit." gumam Kaizan. Ia mengusap tengkuknya, lalu menghela napasnya panjang. "Dan gue nggak yakin semua orang bakal keluar dari ini tanpa luka.

Sementara itu, diruang dosen yang.kini kembali sunyi, Bilal yang masih duduk sendiri dengan menatap kosong ke kitab yang terbuka dihadapannya.

Akan tetapi pikirannya jauh dari halaman kitab yang ia buka. Jemarinya terdiam diatas meja dan untuk pertama kalinya ia merasa bahwa menjaga jarak ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan ternyata.

Karena terkadang yang paling sulit dijaga bukanlah langkah ataupun pandangan tapi hati yang sulit tuk ia kendali. Dan ketika hati mulai berbicara dan akal seringkali harus bekerja dua kali lebih keras untuk membungkamnya.

Sore sudah mulai merambat jadi ke malam begitu cepatnya, bahkan suara deru motor berhenti dari depan rumah Fahrizal begitu terdengar.

Rumah Fahrizal yang belum ada suara teriakan anak kecil membuat suasananya begitu hening. Masing masing sibuk dengan pikirannya masing masing yang saling bertarung dengan keadaan rumah tangga mereka masing masing baik itu Abi Fahrizal dan istrinya maupun Feryal dan juga Bilal sang dosen killer yang merupakan suaminya.

Apalagi saat ini ujian bukan datang dari sekedar perbedaan keyakinan saja yang mereka alami melainkan ujian datang dalam ruang lingkup keluarganya sendiri.

Mungkin banyak orang bilang ipar adalah maut bisa jadi benar adanya bagi mereka yang mengalaminya meski tidak semua berpikir hal yang sama. Entah lah,..

Feryal yang sejak tadi duduk diatas motornya masih memandangi layar ponselnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Pesan terakhir dari Kaizan yang belum lama terkirim.

Singkat seperti biasanya, akan tetapi cukup untuk membuatnya mengernyit heran. "Tunggu dirumah, gue kesana."

Sesimpel itu tanpa adanya penjelasan maupun memberinya kesempatan untuk menolak, seperti itulah gaya Kaizan Altaz yang kadang membuat Feryal ingin menjitak kepalanya sendiri.

"Main perintah aja," gumam Feryal. Meski sudut bibirnya justru terangkat tipis ia baru saja mematikan mesin motornya ketika dari kejauhan sebuah motor lain memasuki halaman rumahnya.

Kaizan membuka helmnya seraya mengacak rambutnya sebentar lalu turun dengan langkah santainya. Seolah olah rumah itu seperti punyanya sendiri.

Feryal menyilangkan tangannya di dada "cepat juga Lo narik setan di jalan apa gimana?." Kaizan terkekeh "santai, gue masih sayang nyawa Fey, apalagi kalo nyawanya diprotes sama elo."

"Haish gombal." Feryal memutar bola matanya malas. Awalnya Feryal pikir Kaizan tidak mungkin akan main ke rumahnya, tapi ternyata dia nekat juga.

Kaizan melangkah mendekat untuk sesaat. Ekspresi santainya berubah dan kedua netranya langsung meneliti wajah Feryal seolah memastikan akan suatu hal "Lo okey Fey?."

Feryal membeku, ia langsung terdiam tanpa langsung menjawab pertanyaan yang terlontar begitu saja dari Kaizan teman balapannya. Celetukan itu tidak seperti seorang yang sedang meledek tapi seperti serius.

"Kenapa?, emang gue keliatan kenapa napa ya?." tanya Feryal balik.

"Enggak sih, justru Lo tuh keliatan biasa banget kayak enggak ada apa apa padahal mah hati sama pikiran elo lagi jelimet, iya kan?."

"Apalagi kalo Lo keliatan tenang, udah pasti banyak yang lo pikirin."

"So tau Lo." sahut singkat Feryal.

"Ya gue bilang ini karena gue tau wey,. sedikit banyaknya malah." keduanya langsung sama sama diam hanya ditemani angin yang berhembus begitu saja mulai masuk ke setiap area ruangan rumah orang tua Feryal. Tapi Kaizan tidak langsung masuk ke rumah itu.

"Rumah lagi rame Fey?." Tanya Kaizan memecah suasana.

"Ya bisa elo.liat sendiri, ayo masuk didalam.ada si Abi juga baru pulang kayaknya."

Kaizan pun masuk dan kedua netranya mengalihkan pandangannya. Saat dimana ia melihat Syahira yang sudah datang lebih dulu dan disusul Bilal yang juga ada diruangan berbeda.

"Jangan bikin semuanya makin susah Ustadz" gumamnya dalam batinnya. Dan tujuan Kaizan datang ke rumah itu adalah hanya sekedar untuk memastikan apa yang membuatnya semakin tidak merasa tenang, sebelum dirinya benar benar bertindak

1
Sri Jumiati
Nikah beda agamanya
Sri Jumiati
Bagus ceritanya.semangat Thor
Gurania Zee: terimakasih ya😊 support nya 💪jangan lupa baca cerita ku lainnya ya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!