"Woy, lihat! Itu Kak Baskara!"
Bisikan-bisikan itu menyebar cepat seperti api yang menyambar rumput kering. Lara yang awalnya sibuk merapikan buku catatannya, refleks mendongak ketika suasana mendadak hening selama satu detik, lalu pecah oleh riuh tepuk tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan yang menenangkan
mereka bertiga sampai di depan gerbang rumah lara,Arsel tampak sedikit tidak enak hati saat melihat kondisi Lara, namun ia tidak bisa membatalkan janji tugas kelompoknya yang sangat penting untuk nilai ujian akhir.
"Kak Lara, maaf banget ya aku nggak bisa nemenin malam ini. Aku beneran harus ngerjain tugas proyek di rumah temen, besok pagi sudah harus dikumpul," ucap Arsel dengan nada menyesal sambil menyalami tangan Lara. "Bang Bas, jagain Kak Lara yang bener ya! Jangan sampai lecet lagi!"
Pintu depan tertutup rapat, mengunci kebisingan jalanan di luar dan menyisakan kesunyian yang menenangkan di dalam rumah. Suasana mendadak terasa berbeda bagi Lara; kini hanya ada dia dan Baskara di bangunan luas ini, tanpa kehadiran Arsel ataupun mama dan papa nya.
Lara berjalan perlahan menuju sofa di ruang tengah, gerakannya masih sedikit kaku karena luka di kakinya. Baskara mengekor di belakang, matanya tidak lepas dari setiap langkah Lara, siap menyangga jika gadis itu kehilangan keseimbangan lagi.
"Duduklah di sini, Lara," ucap Baskara lembut sambil menepuk bantalan sofa.
Lara menurut, ia merebahkan tubuhnya yang terasa sangat letih. Baskara tidak langsung duduk; ia justru berjalan menuju dapur. Tak lama kemudian, ia kembali membawa segelas air putih hangat dan kotak P3K yang tadi sempat tertinggal di atas meja.
"Minum dulu, supaya syoknya benar-benar hilang," Baskara menyodorkan gelas itu, menunggu hingga Lara meminumnya sampai habis.
Setelah itu, Baskara duduk di karpet, tepat di bawah kaki sofa tempat Lara bersandar. Ia meminta izin untuk memeriksa kembali balutan perban di telapak tangan Lara. "Tadi kena air sedikit saat kamu mencuci muka di klinik, saya ganti ya supaya tidak infeksi."
Lara hanya terdiam, matanya menatap lekat puncak kepala Baskara yang sedang fokus membuka plester dengan sangat hati-hati. Jemari pria itu yang biasanya tegas saat memegang mikrofon atau memberikan instruksi organisasi, kini terasa begitu halus dan penuh perasaan saat menyentuh kulitnya.
"Kak..." panggil Lara lirih.
Baskara mendongak, membuat jarak wajah mereka menjadi sangat dekat. "Ya?"
"Kenapa Kakak baik banget sama aku? Padahal aku cuma asisten yang sering merepotkan Kakak."
Baskara terhenti sejenak dari kegiatannya. Ia menatap mata Lara dalam-dalam, sebuah tatapan yang jauh lebih hangat dari sinar matahari pagi tadi. "Karena bagi saya, kamu bukan sekadar asisten, Lara. Sejak malam pertama badai itu, menjaga kamu bukan lagi soal tugas... tapi soal keinginan saya sendiri."
Jawaban jujur itu membuat jantung Lara berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia mendengar guntur semalam. Di ruang tengah yang tenang itu, pengakuan Baskara seolah menjadi janji baru yang tertulis tanpa kata-kata di antara mereka.
Suasana di ruang tengah mendadak senyap. Hanya terdengar detak jam dinding yang seolah berpacu dengan detak jantung Lara. Baskara masih berlutut di atas karpet, memegang tangan Lara yang baru saja selesai ia perban kembali. Ia tidak melepaskan genggamannya, justru mempereratnya dengan lembut.
Baskara menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang biasanya ia gunakan untuk menghadapi ribuan orang, namun kini terasa jauh lebih berat hanya untuk menghadapi satu gadis di depannya.
"Lara," panggilnya, suaranya rendah dan serak. "Saya tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat. Kamu baru saja melewati hari yang berat, dan tanganmu masih terluka."