Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANTARA GEMERLAP IBU KOTA DAN KETEGUHAN HATI
Kehidupan di Pesantren Al-Hidayah mendadak menjadi pusat perhatian nasional. Novel yang ditulis Mentari dengan judul "He Is My Imam, Not My Oppa" meledak di pasaran. Dalam waktu hanya satu bulan, buku itu sudah dicetak ulang lima kali. Kisah transformasi seorang gadis sosialita Jakarta yang menemukan cinta sejati di balik tembok pesantren rupanya menyentuh hati jutaan orang.
Pagi itu, sebuah amplop besar dengan logo stasiun televisi swasta nasional tiba di meja kayu Gus Zikri.
"Mas... ini undangan untuk jadi narasumber di *talkshow* 'Prime Time Indonesia'," ucap Mentari dengan tangan sedikit gemetar. "Mereka mau kita berdua hadir sebagai pasangan inspiratif."
Gus Zikri meletakkan kitab yang sedang dibacanya, menatap wajah istrinya yang tampak bimbang. "Ini kesempatan besar untuk syiar, Mentari. Kenapa kamu terlihat khawatir?"
"Masalahnya bukan itu, Mas," Mentari menyodorkan sebuah catatan tambahan dari pihak produser yang terselip di dalam undangan. "Mereka minta aku tampil dengan gaya 'Mentari yang dulu' agar ada efek kontras di kamera. Mereka bilang... kalau bisa, aku jangan pakai kerudung lebar, tapi gaya chic Jakarta."
Mendengar hal itu, rahang Gus Zikri sedikit mengeras, namun ia tetap mencoba tenang. Di luar, Bondan dan Fahma yang rupanya sudah menguping dari balik jendela, langsung masuk tanpa permisi.
"Gila! Masuk TV, Tar! Lo bakal jadi selebritis lagi!" seru Bondan heboh. Namun, saat ia membaca catatan produser itu, wajahnya berubah masam. "Eh, tapi ini maksudnya apa? Lo disuruh lepas hijab demi rating? Wah, nggak bener nih produser, perlu gue kasih paham pake sikat cuci!"
Fahma ikut mengangguk sambil menggendong Zayan yang sedang asyik mengunyah biskuit. "Iya Tari, nanti kalau kamu lepas kerudung, Zayan nggak kenal Umminya gimana? Dia kan tahunya Ummi itu yang cantik pake kain di kepala."
Mentari terdiam. Di satu sisi, ia ingin mempromosikan bukunya agar pesan kebaikan di dalamnya tersebar luas. Di sisi lain, ia merasa harga dirinya sebagai wanita yang sudah berhijrah sedang dipertaruhkan.
"Mas... apa aku tolak aja ya?" tanya Mentari pelan.
Zikri menggenggam tangan istrinya. "Kita tidak akan menolak, tapi kita tidak akan berkompromi. Kita akan datang ke Jakarta, tapi dengan identitas kita yang sekarang. Jika mereka menolak, berarti itu bukan jalan yang Allah ridai."
Seminggu kemudian, sebuah mobil jemputan mewah membawa mereka menuju gedung stasiun televisi di Jakarta Pusat. Bagi Mentari, melihat gedung-gedung tinggi dan kemacetan Jakarta memicu rasa rindu sekaligus asing yang aneh.
Di ruang tunggu artis, seorang pengatur acara (Floor Manager) masuk dengan wajah terburu-buru. "Mbak Mentari! Wah, cantik banget, tapi... kok masih pakai jilbab panjang? Kita kan sudah sepakat buat konsep *Before-After*."
Mentari berdiri dengan anggun, menggandeng tangan Gus Zikri yang tampak sangat berwibawa dengan jas yang dipadukan dengan sarung sutra dan peci hitamnya.
"Maaf, Mbak. Saya datang ke sini sebagai penulis novel, bukan sebagai model *fashion*. Identitas saya sekarang adalah apa yang Mbak lihat. Jika acara ini hanya menjual penampilan fisik, sepertinya saya salah tempat," ucap Mentari dengan nada bicara yang sangat tenang namun berwibawa, ciri khas yang ia pelajari dari suaminya.
Produser acara yang mendengar perdebatan itu keluar dari ruang kontrol. Ia menatap Mentari, lalu menatap Gus Zikri yang berdiri diam namun memancarkan aura perlindungan yang sangat kuat.
"Oke, oke. Kita pakai konsep baru. Kita angkat sisi 'Keteguhan Hati Sang Penulis'. Mbak Mentari tetap seperti ini. Jujur, aura kalian berdua justru jauh lebih menarik daripada konsep awal kami," ucap sang produser akhirnya menyerah.
Acara dimulai. Lampu studio yang terang menyinari panggung. Sang pembawa acara mulai bertanya tentang isi buku Mentari.
"Mbak Mentari, apa yang membuat Anda begitu yakin meninggalkan kemewahan Jakarta demi seorang pria yang bahkan tidak Anda kenal sebelumnya?" tanya pembawa acara.
Mentari tersenyum, melirik ke arah Zikri yang duduk di sampingnya. "Dulu saya mengira kebahagiaan itu ada pada pengikut di media sosial dan merek tas yang saya pakai. Tapi setelah bertemu Gus Zikri, saya sadar bahwa kebahagiaan itu sederhana: yaitu ketika ada seseorang yang setiap malam mendoakan keselamatanmu di sujud terakhirnya."
Penonton di studio memberikan tepuk tangan yang riuh. Beberapa dari mereka bahkan terlihat menyeka air mata.
"Dan untuk Gus Zikri," pembawa acara beralih, "Bagaimana rasanya mendidik seorang 'Gadis Ibu Kota' menjadi seorang Ummi yang begitu tawadhu?"
Zikri menjawab dengan suara baritonnya yang mantap. "Saya tidak mendidiknya. Saya hanya menemaninya pulang. Mentari sudah punya cahaya itu di hatinya, saya hanya membantu menyalakan lilinnya kembali."
Setelah acara selesai, ponsel Mentari dibanjiri pesan. Bukan lagi dari teman-teman party-nya, melainkan dari ribuan wanita yang merasa terinspirasi untuk mulai belajar agama kembali.
Saat mereka berjalan menuju mobil untuk pulang ke pesantren, Reno tiba-tiba muncul di lobi gedung. Ia tampak lesu, tidak seperti biasanya yang penuh kesombongan.
"Tari... gue liat acara tadi," ucap Reno lirih. "Gue sadar sekarang. Gue nggak pernah bisa menang melawan pria yang menjadikan Tuhan sebagai landasan cintanya."
Mentari mengangguk kecil. "Cari kebahagiaan lo sendiri, Ren. Tapi jangan cari di tempat yang salah lagi."
Di dalam mobil perjalanan pulang, Zayan yang tadi dititipkan pada Hafizah dan Bondan di ruang tunggu, langsung merangkak naik ke pangkuan Abinya. Zikri memeluk putranya dan istrinya sekaligus.
"Mas bangga sama kamu, Mentari," bisik Zikri.
"Aku juga bangga sama kita, Mas. Ternyata Jakarta nggak seberat itu kalau aku jalannya bareng kamu."
Malam itu, saat mereka melewati perbatasan kota dan mulai memasuki area pedesaan yang asri, Mentari menutup laptopnya. Ia baru saja mendapatkan ide untuk judul buku keduanya: "Pulang ke Hati Sang Imam".
Pesantren Al-Hidayah sudah menanti di depan sana, dengan segala kesederhanaan yang kini terasa jauh lebih mewah daripada gemerlap lampu Jakarta yang baru saja mereka tinggalkan.