NovelToon NovelToon
Beyond The Castle Walls

Beyond The Castle Walls

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Kerajaan
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Terperangkap dalam sangkar emas Aethelgard, Putri Aurelia mendambakan dunia di balik dinding istana yang megah. Beruntung, ada Lucas, seorang pemuda logistik istana yang tampak biasa namun menjadi satu-satunya orang yang berani membuka jalan bagi sang putri untuk menggapai kebebasan yang ia impikan. Namun, perjalanan mereka tak semudah yang dibayangkan. Reruntuhan dunia luar menyimpan kejutan dan bahaya tak terduga. Bersama Lucas, Aurelia harus mengungkap misteri yang telah lama terkubur di Aethelgard. Salah satunya adalah rahasia di balik kematian ibunda tercinta yang ternyata menyisakan plot twist mengejutkan. Akankah ia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi yang Berduri

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela besar aula latihan tidak cukup untuk menghangatkan kegelisahan Aurelia. Di tangannya, sebilah pedang latihan dari kayu ek terasa lebih berat dari biasanya. Ia terus teringat pada botol kecil kosong yang ia temukan.

Sesuatu yang sekecil itu seharusnya tidak mengganggu pikirannya, namun botol itu seolah menjadi kunci untuk sebuah pintu yang bahkan belum ia temukan letaknya.

"Fokus, Tuan Putri. Pedang tidak akan bergerak sendiri hanya karena kau menatapnya dengan penuh curiga," suara parau namun tenang itu memecah lamunan Aurelia.

Panglima Gareth berdiri beberapa langkah darinya. Pria itu tampak gagah dengan zirah ringannya yang selalu mengilap. Wajahnya mencerminkan pengabdian yang tulus. Baginya, Aurelia bukan sekadar putri raja, melainkan murid yang telah ia didik sejak belum bisa memegang belati dengan benar.

"Maaf, Panglima. Aku hanya merasa sedikit lelah pagi ini," Aurelia mengatur napasnya, mencoba kembali ke posisi bertarung yang benar.

"Lelah karena pikiran atau lelah karena tubuh?" Gareth tersenyum tipis, sebuah senyuman kebapakan yang sering kali membuat Aurelia merasa tenang. "Ibumu dulu sering berkata, jika kau tidak bisa menguasai pikiranmu, maka pedangmu akan menjadi beban. Kau memiliki fisik yang kuat, Aurelia. Sangat kuat. Jangan biarkan pikiranmu mengkhianati bakat alami itu."

Gareth kemudian membimbing Aurelia melakukan beberapa gerakan dasar. Ia adalah seorang pelatih yang selalu bangga pada muridnya. Setelah sesi latihan berakhir, Gareth menepuk bahu Aurelia. "Istirahatlah. Jangan terlalu memaksakan diri. Istanamu adalah tempat teraman bagi seorang putri."

Aurelia hanya mengangguk. *Tempat teraman?* Ia ingin sekali mempercayai itu.

---

Berusaha mencari suasana yang berbeda, Aurelia berjalan menuju area logistik. Ia butuh suara-suara berisik dari para pekerja untuk menutupi kebisingan di kepalanya. Di sana, ia menemukan Lucas yang sedang duduk di atas tumpukan jerami, terlihat sedang berusaha menghitung daftar masuk barang sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sembilan... sepuluh... ah, kenapa gandum-gandum ini lebih sulit dihitung daripada kambing?" keluh Lucas. Begitu melihat Aurelia, wajahnya langsung sumringah. "Tuan Putri! Kau datang tepat waktu. Bisakah kau membantuku menghitung ini atau kau hanya ingin menertawakan penderitaanku?"

Aurelia terkekeh melihat wajah Lucas yang penuh coretan tinta. "Aku ke sini untuk menertawakanmu, tentu saja. Kau tampak payah dengan kertas-kertas itu, Lucas."

"Yah, tidak semua orang lahir dengan otak brilian sepertimu," sahut Lucas sambil menyodorkan sepotong roti kering. "Makanlah. Kau terlihat seperti orang yang sedang mencari harta karun tapi malah menemukan tumpukan utang."

Aurelia duduk di samping teman masa kecilnya itu. "Lucas, kau yang paling tahu tentang barang-barang yang masuk ke istana. Pernahkah kau melihat sesuatu yang... tidak biasa? Misalnya, barang-barang pribadi untuk Ibu yang mungkin tertinggal dan belum sempat dipindahkan?"

Lucas mengerutkan kening, tampak berpikir keras. "Barang Ratu Seraphina? Setahuku semua barang beliau sudah disegel di paviliun lama atas perintah Baginda Raja. Tidak ada yang boleh menyentuhnya. Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal itu?"

"Hanya... rindu. Aku merasa ada sesuatu milik Ibu yang belum kutemukan."

"Mungkin memang sebaiknya kau tidak menemukannya," ujar Lucas dengan nada yang tiba-tiba melunak, meskipun matanya masih menatap daftar gandumnya. "Kadang kenangan itu lebih baik dibiarkan tenang, Aurelia. Jangan membuat dirimu sulit."

Aurelia terdiam. Mengapa semua orang seolah memintanya untuk berhenti bertanya?

---

Sore harinya, Aurelia berpapasan dengan Lady Elara di koridor yang menuju taman bunga matahari. Elara tampak anggun dengan gaun birunya, tangannya membawa sebuah buku kecil yang sering ia baca.

"Aurelia! Kau baru dari gudang lagi? Kau mulai berbau seperti debu dan gandum," canda Elara sambil menutup hidungnya dengan cara yang elegan.

"Lucas membutuhkanku untuk menghitung gandumnya," Aurelia membalas dengan nada bercanda yang sama. "Kau sendiri, Kak? Masih asyik dengan buku-bukumu?"

"Tentu saja. Buku tidak pernah memberikan janji palsu atau membatalkan pernikahan secara mendadak," sindir Elara dengan senyuman cerdiknya.

Aurelia menatap sepupu tertuanya itu. Elara selalu logis, selalu tahu apa yang harus dilakukan. "Kak, menurutmu, apakah mungkin seseorang jatuh sakit hanya dalam satu malam tanpa ada tanda-tanda sebelumnya?"

Elara terhenti sejenak, matanya menatap Aurelia dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kebingungan dan rasa ingin tahu. "Secara medis, itu jarang terjadi, kecuali jika ada faktor eksternal. Tapi kenapa kau bertanya hal seberat itu? Apakah kau merasa tidak enak badan?"

"Tidak, aku hanya... hanya berpikir."

"Jangan terlalu banyak berpikir, Adikku. Kau masih muda, dan kita punya pesta perburuan bulan depan. Lebih baik pikirkan gaun apa yang akan kau pakai daripada memikirkan hal-hal yang sudah berlalu," Elara menepuk tangan Aurelia dengan lembut sebelum pergi.

Aurelia berdiri sendirian di koridor. Ia merasa dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayanginya—Gareth yang melatihnya, Lucas yang menghiburnya, Elara yang memperhatikannya, dan ayahnya yang melindunginya. Semuanya tampak sempurna. Terlalu sempurna.

Namun, saat ia berjalan melewati ruang kerja ayahnya, ia melihat pintu sedikit terbuka. Di dalam, ayahnya, Raja Valerius, sedang menunduk di atas meja kerjanya yang penuh dengan dokumen diplomatik dari Valeront. Wajah ayahnya terlihat sangat tua dan lelah, seolah-olah seluruh beban dunia menindih bahunya.

Aurelia baru saja akan masuk, namun ia menghentikan langkahnya saat melihat ayahnya mengambil sebuah mawar kecil yang sudah kering dari laci mejanya, mengusapnya dengan lembut, lalu kembali menangis dalam diam.

Aurelia mundur perlahan. Ia menyadari satu hal: di istana ini, semua orang menyimpan kesedihannya masing-masing. Dan ia harus mencari tahu apakah kesedihan itu adalah hasil dari sebuah kecelakaan... atau sebuah kejahatan yang direncanakan dengan sangat rapi.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!