Novel ini memiliki karakter utama wanita bernama Aiena. Gadis berusia dua puluh lima tahun di awal mulai cerita yang terjebak di dalam hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya.
Tiap hari ulang tahun adalah kesempatan untuk checkpoint bagi Aiena. Apabila ia mengatakan ia bahagia dan puas dengan hidupnya, maka itu menjadi titik checkpoint-nya. Sebaliknya, ia suatu hari pada ulang tahunnya ia menyesal akan keputusannya dan mengatakan ingin kembali ke masa lalu, maka ia otomatis kembali ke titik checkpoint terakhirnya.
Bermula dari penyesalannya tidak bisa memberikan yang keturunan bagi suami yang begitu mencintainya, Aiena di masa kini berniat kembali ke masa lalu untuk menghindari toxic relationship dengan mantannya dan bertemu jodohnya, pria yang di masa kini menjadi suaminya lebih cepat dalam kondisi yang lebih baik. Namun ketika Aiena mengulang cerita hidupnya, ia justru bertemu orang lain yang tidak mampu ia tolak pesonanya.
Cerita menjadi semakin kompleks ketika Aiena menyadari siapa pria yang merebut hatinya itu, bertemu dengan sang mantan pacar toxic, dan bertemu dengan pria yang dipercaya sebagai jodohnya dalam situasi yang kini jauh berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyataan Cinta
Malam minggu berikutnya, Shane dan Aiena kembali berkencan. Shane menjemput Aiena dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memberikan kesan maskulin yang rapi namun santai.
Aiena tidak menanyakan kemana tujuan mereka, menurut saja pada Shane. Namun, ketika mobil berhenti di depan sebuah bangunan kolonial yang telah disulap menjadi restoran fine dining kelas atas, jantung Aiena mulai berpacu tak karuan.
Begitu melangkah masuk, aroma lilin aromaterapi dan melodi piano lembut menyambut mereka. Pelayan mengantar keduanya ke sebuah meja di sudut balkon yang menghadap langsung ke arah kerlip lampu kota. Meja yang sudah dipesan oleh Shane sebelumnya.
Di atas taplak meja putih bersih itu, sebuah vas kecil berisi mawar merah segar bersanding dengan lilin yang apinya menari pelan ditiup angin malam. Alat makan ditata dengan rapi, juga dilengkapi oleh serbet merah yang dibentuk menjadi bentuk hati.
Aiena berulang kali membetulkan letak gaunnya, merasa salah tingkah. “Shane, ini…?”
Shane menarik kursi untuk Aiena, senyumnya tampak lebih tenang namun sarat akan makna. “Sekali-kali ganti suasana, Na.”
Selama hidangan pembuka disajikan, Aiena hampir tidak bisa fokus pada rasa makanannya. Pikirannya melayang jauh. Ia bisa menebak kemana arah tujuan Shane membawanya ke tempat seperti ini.
Dekorasi yang begitu intim, tatapan Shane yang tidak lepas darinya, dan suasana romantis yang kental ini biasanya hanya berujung pada satu hal, yaitu pernyataan cinta.
Aiena menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia sudah mengantisipasi momen ini. Sejak percakapan telpon malam itu, ia tahu bahwa Shane menyimpan rasa yang lebih dari sekadar atasan dan bawahan. Aiena sudah menyiapkan jawaban di dalam kepalanya, menimbang-nimbang apakah ia sudah benar-benar siap membuka hati atau apakah luka lamanya masih akan menghalangi.
“Na,” panggil Shane pelan, memecah keheningan yang cukup panjang. Ia meletakkan garpunya, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah meja, tangannya bergerak mendekat ke arah tangan Aiena yang berada di atas meja.
Aiena mendongak, matanya bertemu dengan netra Shane yang kini berkilat serius di bawah cahaya lilin yang temaram. Ia merasa kerongkongannya mendadak kering. Gadis itu merasa ini saatnya, ia sudah bersiap untuk mendengar kata-kata cinta yang mungkin akan mengubah status hubungan mereka selamanya malam ini.
Persiapan mental yang ia lakukan sejak di rumah tadi kini diuji, saat ia melihat Shane seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat paling penting dalam hidupnya. Aiena masih menahan napas, menunggu kalimat pernyataan perasaan atau ajakan untuk resmi berpacaran.
Shane merogoh sesuatu dari dalam sakunya, meletakkan sebuah kotak beludru merah kecil di atas meja dan membukanya. Detik itu juga, dunia Aiena seolah berhenti berputar.
“Aiena, aku cinta kamu,” ucap Shane dengan suara yang terdengar lebih berat, penuh dengan kesungguhan. “Aku nggak mau buang waktu lebih lama. Aku sudah perhatikan kamu lam, aku sudah lihat kekuatanmu, kerapuhanmu, dan gimana kamu bangkit dari kegagalan. Aku mau jadi orang yang selalu jagain kamu sampai selamanya.”
Shane menatap lurus ke dalam mata Aiena, mengabaikan denting sendok dan garpu dengan piring dari meja lain. “Aiena, apa kamu mau nikah sama aku? Jadi istriku?”
Dunia Aiena mendadak senyap. Pikirannya berputar hebat. Menikah? Menjadi istri?
Ini melampaui segala skenario yang ia susun di kepala. Bayangan tentang apa yang telah dilaluinya bersama Haze memberikan rasa ragu yang mencekik. Aiena merasa semuanya terlalu cepat. Mereka baru saja mulai saling mengenal secara pribadi selama beberapa minggu terakhir.
“Tapi, Shane… Kamu tahu, aku…”
“Aku nggak peduli masa lalu kamu gimana. Aku cinta kamu apa adanya. Tujuan kita nata masa depan bersama, bukan tentang masa lalu.”
Aiena merasakan matanya memanas oleh air mata haru. Ia menyadari bahwa rasa aman yang ia rasakan bersama Shane bukanlah sesuatu yang butuh waktu bertahun-tahun untuk divalidasi. Rasa itu nyata, ada di sini, sekarang.
Perlahan jemarinya bergerak menyentuh tangan Shane yang masih menunggu di atas meja. “Kamu yakin, Shane?”
“Sangat yakin,” jawabnya mantap, tak ada sedikitpun keraguan disana.
Aiena menarik napas panjang, memberikan senyum paling tulus yang pernah ia miliki. “Ya. Aku mau, Shane. Aku mau jadi istrimu.”
Shane menghembuskan napas lega yang panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya. Ia mengambil cincin bermata berlian itu dan menyematkannya di jari manis Aiena, sebuah ikatan baru yang kini resmi menggantikan rantai masa lalu yang telah hancur.
“Makasih, Na. Makasih sudah mau jadi istriku.” Shane membungkukkan wajahnya untuk mengecup singkat jemari Aiena yang kini dihiasi cincin itu.
“Makasih juga, Shane. Makasih sudah milih aku, nerima aku apa adanya…”