"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24.Pesan arwah nenek Mery.
Salsa duduk kembali di kursinya, napasnya masih terasa sedikit berat. Ia menatap lekat wajah Mery yang sedang merapikan buku tulisnya, sama sekali tidak tahu bahaya besar yang mengancam masa depannya. Rasa takut dianggap aneh masih menghantui, tapi suara bisikan nenek itu terus bergema di telinganya. Waktunya sedikit lagi, dan ia tidak boleh diam saja.
"Mery..." panggil Salsa pelan namun tegas.
Gadis berambut panjang itu menoleh, tersenyum ramah. "Ada apa, Sal?"
Salsa mengangguk perlahan, lalu melirik sekilas ke samping Mery. Sosok nenek itu masih berdiri di sana, matanya menatap penuh harap. Dengan keberanian yang dikumpulkan sepenuh hati, Salsa pun membuka suara.
"Aku mau bilang sesuatu... dan kamu harus dengerin baik-baik ya. Meski kedengarannya aneh, tapi aku mohon percaya sama aku," ucap Salsa memulai.
Mery mengerutkan kening, rasa penasaran mulai muncul. "Bilang aja, ada apa?"
"Barusan... saat kita ngobrol tadi, ada seorang nenek berdiri tepat di sebelahmu. Dia bilang dia nenekmu," kata Salsa perlahan, memilih kata yang paling tepat. "Dia titip pesan, jangan sampai hak waris dan aset peninggalan ibumu jatuh ke tangan ayahmu. Mereka berencana memindahkan nama surat tanah dan kekayaan itu hari ini juga, ke nama anak perempuan istri mudanya. Nenekmu bilang... suruh kamu segera ambil dan amankan surat-surat berharga itu di laci meja kerja mendiang Ibu. Jangan percaya satu kata pun dari ayah atau ibu tirimu."
Keheningan seketika menyelimuti meja mereka. Senyum di wajah Mery perlahan lenyap, berganti dengan keterkejutan yang bercampur marah.
"Kamu ngomong apa sih, Salsa?" nada suara Mery mulai meninggi. Matanya menatap tajam, tak percaya mendengar ucapan itu. "Nenekku sudah meninggal dunia lebih dari setahun yang lalu! Kamu... kamu kok bisa ngomong begitu? Apa kamu bercanda sama aku?"
"Iya tuh, Sal. Ini nggak lucu lho," sambar Lusi sambil menggeleng. "Semua orang tahu nenek Mery sudah tiada. Masa kamu bilang kamu lihat dia berdiri di sini? Itu halusinasi atau gimana?"
Hati Salsa mencelos. Dugaan awalnya benar, mereka memang tidak percaya. Rasa kecewa mulai menjalar, tapi ia tidak menyalahkan mereka. Memang terdengar mustahil bagi orang biasa.
"Aku serius, Mery. Dia sangat khawatir sama kamu. Dia nggak mau kamu tersakiti dan kehilangan semuanya..." coba Salsa menjelaskan lagi.
Sudah Mery hendak membalas dengan nada tinggi, tiba-tiba tangan Rani menahan lengan sahabatnya itu. Wajah Rani terlihat serius sekali, berbeda dari biasanya yang ceria.
"Tunggu dulu... Mery, Lusi..." potong Rani pelan. "Kalian ingat nggak? Waktu itu... saat aku sedih banget karena mimpiin Kak Reno, kakakku yang meninggal kecelakaan itu? Aku cerita ke Salsa, dan tahu apa yang terjadi?"
Mery dan Lusi terdiam, menatap Rani bergantian.
"Salsa bilang dia juga bertemu Kak Reno. Dan dia sampaikan pesan kalau Kak Reno tidak menyalahkan aku," lanjut Rani, suaranya bergetar mengingat kejadian itu. "Aku juga awalnya nggak percaya, aku pikir aku lagi sedih berlebihan. Tapi pesan itu persis seperti apa yang aku harapkan. Dan sejak saat itu... aku tahu, Salsa punya keistimewaan yang nggak dimiliki orang lain. Dia bisa berhubungan sama mereka yang sudah pergi."
Penjelasan Rani membuat suasana berubah drastis. Wajah Mery yang semula merah padam karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi. Ingatannya kembali melayang. Benar, neneknya memang sempat berpesan sebelum meninggal agar ia menjaga semua harta peninggalan ibunya baik-baik. Dan belakangan ini, ayahnya memang sering bicara soal perpindahan aset dengan nada terburu-buru.
"Benarkah...?" gumam Mery pelan, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. "Ayah... memang sempat bilang minggu ini semua surat tanah akan diurus ulang katanya demi keamananku. Tapi ternyata..."
"Dia mau ambil semuanya, Mery. Nenekmu nggak akan bohong," tambah Salsa lembut.
Lusi yang cerdas dan berpikir cepat langsung bersuara, matanya berbinar punya ide.
"Kalau begitu kita jangan diam saja! Aku punya solusi. Kakakku Leo dia bekerja sebagai pengacara di kantor hukum besar. Dia paham betul soal hak waris dan hukum tanah. Nanti sepulang sekolah kita langsung ke rumahku, telepon Kak Leo, dan minta dia bantu periksa semuanya. Kita pastikan dokumen itu aman sebelum ayahmu bertindak."
Mery menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. Rasa takut bercampur rasa bersalah karena sempat marah pada Salsa. Ia langsung meraih tangan Salsa erat.
"Maafin aku ya, Sal... aku nggak bermaksud jahat. Makasih banyak... makasih udah mau sampaikan pesan itu. Aku janji aku akan berhati-hati. Aku nggak mau apa yang jadi hakku jatuh ke tangan saudara tiriku yang selalu iri sama aku."
Salsa tersenyum lega. Beban berat di pundaknya akhirnya hilang. "Sama-sama, Mery. Kan kita teman."
Di Kantor Kepolisian
Setelah menyelesaikan pemeriksaan awal dan memberikan arahan kerja pada timnya, Rian bergegas keluar dari ruang forensik. Di sampingnya, Bobby berjalan cepat dengan langkah antusias.
"Pak, jadi kita mau ke sekolahnya Nona Salsa ya?" tanya Bobby sambil membawa tas kerjanya.
"Iya. Ada beberapa hal penting yang harus aku pastikan langsung," jawab Rian singkat. Di dalam saku jaketnya, kertas sketsa gambar Riza masih tersimpan rapi. Ia harus bertanya pada Salsa, tapi juga ingin memastikan keadaan istrinya di lingkungan baru.
Mobil Jeep hitam milik Rian melaju membelah jalanan kota dengan tenang. Rasa penasaran Bobby masih belum hilang sepenuhnya.
"Jujur Pak... saya masih nggak habis pikir. Gambar itu persis banget. Kalau adik sepupu Bapak ini ternyata punya bakat jadi seniman forensik, wah kantor kita bakal terbantu banget lho!" ucap Bobby bersemangat.
Rian hanya tersenyum tipis, tidak menjawab. Ia tahu bukan sekadar bakat menggambar. Ada rahasia besar di sana, rahasia yang perlahan mulai ia terima keberadaannya.
Tak lama kemudian, mobil mereka sampai di depan gerbang besar SMA Wijaya Utama. Rian memarkirkan kendaraannya di tempat agak menjorok ke dalam, agar tidak terlalu mencolok namun tetap bisa melihat keluar dengan jelas.
"Mereka belum keluar ya, Pak?" Bobby melirik jam tangannya.
"Masih ada dua jam lagi sebelum bel pulang berbunyi. Kita tunggu saja di sini," jawab Rian santai.
Waktu berlalu perlahan. Rian duduk bersandar di kursi pengemudi, matanya menatap gerbang sekolah yang ramai. Pikirannya melayang memikirkan kejadian hari ini. Kasus pembunuhan Riza Amalia, sketsa Salsa, dan kemampuan misterius itu. Di satu sisi ia bingung sebagai polisi yang memegang prinsip logika, namun di sisi lain ia merasa perlindungan Salsa jauh lebih penting daripada apa pun.
Akhirnya...
TIN... TIN... TIN...!!
Suara bel panjang menggema dari dalam sekolah, menandakan jam pelajaran telah selesai. Detik itu juga, gerbang besar terbuka lebar. Ribuan siswa berhamburan keluar dengan riuh rendah, tertawa, dan bercerita satu sama lain.
Suasana menjadi sangat ramai.
Rian dan Bobby menatap saksama setiap sosok yang lewat. Hingga akhirnya, di antara kerumunan siswa bergaun seragam putih abu-abu, terlihat jelas dua sosok gadis berjalan berdampingan sambil mengobrol hangat.
Di sebelah kanan ada Rani dengan tas punggung besarnya yang berjalan penuh semangat, rambutnya yang dikepang dua bergoyang mengikuti langkahnya. Dan di sebelahnya... ada Salsa.
Salsa berjalan tenang, wajahnya terlihat cerah dan lega. Seragam sekolah membuatnya tampak semakin polos dan cantik. Di tangannya ia membawa beberapa buku pelajaran, dan sesekali tersenyum mendengar candaan Rani.
"Nah itu dia, Pak! Itu Nona Salsa sama Rani!" seru Bobby menunjuk antusias.
Jantung Rian berdegup pelan. Melihat istrinya aman dan tampak bahagia membuat rasa khawatirnya seketika lenyap. Ia segera membuka pintu mobil.
"Ayo turun, Bob. Kita jemput mereka."
Rian melangkah keluar, berdiri tegak di samping mobilnya. Angin sore menerpa rambut hitamnya, membuat aura wibawa seorang polisi itu terpancar jelas.
Saat pandangan Salsa dan Rani jatuh ke arah sosok yang menunggu di depan sana, langkah mereka terhenti sejenak.
"Kak Rian!" seru Rani girang, langsung melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Salsa pun ikut tersenyum lebar, matanya berbinar melihat sosok suaminya ada di sana menunggunya.
Di balik senyum manis itu, Rian tahu... hari ini bukan hanya kasus pembunuhan yang terbuka sedikit jawabannya, tapi juga hati Salsa perlahan mulai menemukan tempatnya di dunia baru ini.
Pertemuan sore itu menjadi awal babak baru bagi keduanya. Di mana rahasia, cinta, dan keajaiban perlahan menyatu dalam ikatan pernikahan yang tak terduga itu.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍