NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Malam harinya, di ruang keluarga yang tenang, Syifa sedang duduk menemani adik-adiknya belajar. Meski grup WhatsApp “Calon Istri Solehah” ramai dengan ocehan Jihan yang mengajak makan seblak, pikiran Syifa terus saja mengarah pada kartu nama calon suaminya.

*Grup Calon Istri Solehah*

[Jihan] : Assalamu'alaikum. Lagi pada ngapain gaiss?

[Adiba] : Wa'alaikumussalam. Nugas seperti biasa nih.

[Syifa] : Lagi nemenin adek-adek tersayang belajar.

[Jihan] : Besok nyeblak kuyy, apa makan geprek yuk.

[Syifa] : Ngga dulu deh, perut aku masih ngambek gara-gara makan sambel kebanyakan.

[Jihan] : Lagian siapa suruh naruh sambel ngga pake aturan, mikirin apa sih anaknya abi satu ini? Kaka tingkat yang naksir kamu ya? Mas Hasbi?

[Syifa] : Eh, bukan ya! Tapi gara-gara denger kontrak kuliahnya dosen kulkas dua puluh pintu.

[Jihan] : Haha, berani banget kasih sebutan itu Syif. Aku laporin ke pak dosen ya?

[Syifa] : Biarin, tinggal laporin balik kalau kamu juga ngatain dosen killer.

[Adiba] : Kalian berdua sama aja deh. Oh ya, waktu selesai matkul tadi, kamu ditanya apa sama Pak Fadhlan, Syif?

[Jihan] : Iya Syif, kepo nih.

[Syifa] : Tanya absen biasa, gitu deh pokoknya.

[Jihan] : Haduhh, dasar Syifa. Jadi besok gimana nih gaiss?

[Syifa] : Apa jadinya nanti dehh

[Adiba] : Iya betul, aku ikut suara terbanyak aja, udahan dulu ya. Dipanggil abi nih.

................

"Oh, kak Jihan sama kak Diba. Rei kira sama calon suami" Reyhan tersenyum meledek.

"Heii! Fokus kerjain tugas" titahnya memicingkan mata ke arah adik lelakinya.

Jauh di lubuk hatinya, sebenarnya dia juga berharap kalau calon suaminya yang mengirimkan pesan padanya. Tapi, ternyata bukan dari Fadhlan.

'astaghfirullah, kenapa jadi berharap sih?'

​Ting!

​Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. Syifa kembali merain handphone lalu membukanya dengan malas, namun jantungnya mendadak berpacu hebat saat membaca isinya.

​[08xxxx-xxxx]: Assalamu’alaikum. Ini saya, Fadhlan. Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?

​Pipi Syifa bersemu merah seketika. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum agar tidak diejek oleh adik-adiknya.

​[Syifa]: Alhamdulillah sudah lebih baik, Pak. Terima kasih atas bantuan dan obatnya tadi siang.

​[08xxxx-xxxx]: Alhamdulillah. Jangan lupa istirahat.

​[Syifa]: Anda juga, Pak.

................

​"Ekhem! Kak Fadhlan ya?" ledek Tasya yang diam-diam mengintip.

​"Heh! Fokus ke tugas rumahmu, Tasya!" Syifa segera menyembunyikan ponselnya dengan wajah galak yang dipaksakan.

"Ini urusan tugas makalah, tahu!"

"Masa sih? Kalau tugas kenapa pake senyum-senyum gitu kak?" balas Tasya menggoda kakaknya.

"Bilangin ummi sama abi yuk, kan katanya kalau belum sah ngga boleh bilang cinta atau sayang-sayangan gitu" protes Reyhan tak mau kalah.

"Hihi, iya ummi kemarin bilang gitu ya. Ayo aduin ke ummi sama abi, kak Rei"

"Heh..kalian! Lanjut belajar gih, lagian siapa juga yang cinta-cintaan!"

"Betul ya dari calon suamimu, nak?" tanya ummi yang menghampiri mereka sembari membawa piring yang berisi potongan apel yang sudah di kupas.

"Eh ummi, i-iya, tapi ngga seperti yang Tasya sama Rei bilang ko. Ini..ada yang Syifa belum faham jadi tanya ke pak Fadhlan" jawab Syifa sedikit gugup menjawab pertanyaan dari umminya.

"Iya, nak. Ummi tahu. Tadi siang, nak Fadhlan sendiri yang meminta nomor handphone kamu ke abi"

'huft, pantes aja ummi tau'

"Lah? Kenapa manggilnya pak Fadhlan sih kak? Kurang romantis deh kak Syifa" Tasya kembali membuat kakaknya kesal.

"Hahaha, masa calon suaminya dipanggil dosen kulkas dua puluh pintu mi? Boleh emangnya gitu mi?" sambung Reyhan tidak mau kalah.

Ummi tersenyum lembut menatap ke arah putrinya seolah menyiratkan pesan "tidak boleh begitu ya, nduk". Syifa hanya bisa menunduk canggung.

"Hayo, sudah belum belajarnya? Yang masih di bawah umur belum boleh tahu ya" nasehat ummi dengan nada bergurau.

Syifa tersenyum penuh kemenangan melihat kedua adiknya juga mendapat teguran dari ummi-nya.

 

​Sementara itu, di sebuah kediaman mewah di pusat kota, suasana jauh lebih ramai. Fadhlan sedang berkumpul bersama para sahabat karibnya. Salim sasisten dosen di kampus yang juga ustadz muda, Aidan yang tak lain asisten pribadi yang setia, Alwi si pengusaha sukses, dan Haikal saudara sepupu sekaligus dokter residen di rumah sakit Ganendra.

"Selamat ya Fad, semoga Allah mudahkan sampai pernikahan nanti" tutur Salim yang baru saja datang.

"Terimakasih, kau cepatlah menyusul" ujar Fadhlan dengan panggilan akrab ketika bersama teman-temannya.

"Finally, presiden jomblo akan menikah juga" celetuk Alwi menepuk pundak Fadhlan.

"Sepertinya Tahta Presiden Jomblo akan berpindah posisi" ejek Haikal menyindir Aidan, tepat di depan orangnya langsung.

Mengerti apa yang dimaksud oleh Haikal, Aidan langsung melempar bantal sofa yang sedang dipegangnya dan mengenai wajah Haikal.

"Sialan kau! Ku sumpahi kau jomblo sampai kakek-kakek" gerutunya diiringi gelak tawa dari sahabat Fadhlan yang lain.

"Lalu kapan Fad rencana pernikahannya?" tanya Alwi tiba-tiba.

"Dua minggu lagi" jawab Fadhlan singkat lalu kembali menatap layar handphonenya.

"Serius Fad!" ucap mereka yang terkejut berbarengan kecuali Haikal dan Aidan.

"Lu pada tuli ya? Kalau ada orang ngomong itu di dengerin!" Cibir Haikal beranjak untuk mengambil air minum di kulkas.

Fadhlan yang masih fokus pada layar handphonenya hanya menjawab dengan anggukan.

"Nanti setelah menikah jangan lupa sowan ke abah yai dan ummi ya. Mereka sudah mendengar kabar pertunanganmu, Fad" ujar Salim mengingatkan Fadhlan.

"Insyaa Allah, aku pasti ke sana"

Haikal diam-diam memperhatikan Fadhlan yang tersenyum, matanya tak lepas dari layar ponsel, menatap balasan singkat dari Syifa.

"Ishh, lagi ada urusan sama siapa lu bang? Jarang-jarang pegang hp sambil nyengir sendiri"

"Siapa lagi kalau bukan mahasiswi idaman" pungkas Aidan hendak mengambil remote TV.

"Mahasiswi? Oh adek Syifa ya?" goda Haikal.

"Hey! No one can call her like that, except me" tegur Fadhlan yang tidak rela kalau calon istrinya disebut 'adik' oleh orang lain.

"Dih pelit amat bang, nyebut gitu aja ngga boleh. Kan gue juga lebih tua dari dia" kata Haikal bercanda.

"Namanya juga lagi jatuh cinta bre! Emangnya lu? Yang nemplok sana sini" jawab Aidan balas meledek sepupu Fadhlan.

"Sialan lu Aidan, balas dendam ya?"

Begitulah kira-kira suasana jika mereka sedang berkumpul, diwarnai senda gurau, meski terkadang juga membahas hal yang lebih serius mengenai pekerjaan.

...****************...

1
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!