NovelToon NovelToon
Mawar Beracun Sang Menantu

Mawar Beracun Sang Menantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna Nellys

Warning!!

***
Mawar datang ke keluarga terpandang itu sebagai menantu yang sempurna.

Cantik, lembut, dan tampak penuh bakti.

Namun di balik senyumnya yang manis, tersimpan dendam yang telah ia rawat selama bertahun-tahun.

Pernikahannya bukan tentang cinta.

Melainkan jalan untuk menghancurkan keluarga Black dari dalam.

Semua berjalan sesuai rencana… hingga satu hal mulai menggoyahkan tekadnya.

Suaminya.

Arestio Black mencintainya dengan tulus. Tanpa curiga. Tanpa syarat.

Tetapi ketika kebenaran akhirnya terungkap, cinta berubah menjadi luka paling dalam.

***

“Apa selama ini… kamu hanya memanfaatkan ku, sayang ?” bisik Arestio, suaranya retak.

Mawar tersenyum tipis, mata-nya berkabut. “Jika iya… apa kamu masih ingin memeluk ku, suamiku ?”

Di antara hasrat, tipu daya, dan rahasia masa lalu,
balas dendam berubah menjadi permainan perasaan yang mematikan.

Karena terkadang… racun paling berbahaya bukanlah kebencian. Melainkan cinta yang tumbuh di tempat yang sala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna Nellys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20.

0o0__0o0

Malam semakin larut.

Namun Mawar masih berdiri di ruang tengah, tak lagi duduk tenang seperti sebelumnya. Langkahnya mondar-mandir, gelisah. Ponsel di tangannya sudah entah berapa kali ia coba gunakan untuk menghubungi Ares—hasilnya tetap sama.

Tidak aktif.

Nafasnya tertahan sesaat.

Lalu, dengan cepat, ia membuka kontak lain.

Seseorang yang tidak pernah Mawar hubungi… kecuali dalam urusan penting.

Panggilan tersambung.

Beberapa detik hening.

“Tumben,” suara di seberang terdengar santai, sedikit menyindir. “Kamu masih ingat menghubungi ku.”

Mawar tidak membuang waktu. Ia bahkan mengabaikan sindiran itu.

“Aku butuh bantuan mu.”

Nada suaranya tegas, namun ada sesuatu yang berbeda, terdengar terburu-buru.

Pria di seberang langsung menangkap-nya. “Hm… serius sekali. Ada apa Rose ?”

Mawar menutup mata sejenak, menahan kegelisahan yang semakin menguat.

“Ares.”

Hening.

Beberapa detik.

Lalu suara itu berubah, tak lagi santai.

“Suami mu ?”

“Iya.”

“Apa yang terjadi ?”

Mawar menelan ludah, lalu menjawab cepat. “Dia belum pulang. Ponselnya mati. Dan aku tidak tau dia dimana sekarang.”

Nada suaranya sedikit meninggi tanpa ia sadari.

“Aku ingin kamu cari dia. Sekarang.”

Di seberang, terdengar helaan nafas panjang.

“Kamu terlalu panik, Rose. Lagian dia laki-laki bukan anak perawan yang perlu di cemaskan.”

Bukan pertanyaan.

Pernyataan.

Mawar terdiam sesaat, rahang-nya mengeras.

“Aku tidak panik. Aku hanya memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.”

Kebohongan.

Dan mereka berdua tahu itu.

Suara di seberang terkekeh pelan. “Kamu buruk dalam berbohong, Rose.”

Mawar tidak menjawab. Tangan-nya semakin mencengkeram ponsel.

“Aku akan cari dia,” lanjut pria itu akhirnya. “Tapi sebelum itu…”

Nada suaranya berubah.

Lebih rendah.

Lebih serius.

“Jangan bilang kamu mulai peduli. Atau... Lebih dari itu...”

Deg.

Kalimat itu meng-gantung seperti menekan sesuatu di dada Mawar. Ia langsung membuka mata, tatapan-nya mengeras.

“Jangan bicara yang tidak perlu, Arden.”

“Tidak perlu ?” Arden mengulang pelan. “Kamu yang tengah malam begini menghubungi ku hanya untuk mencari suamimu… yang seharusnya hanya alat dalam rencana balas dendam mu.”

Setiap kata terasa menusuk.

Mawar mengatupkan rahangnya. “Ares bukan bagian dari target,” ucapnya dingin. “Aku hanya memastikan dia tidak mengganggu rencana ku.”

“Benarkah begitu, Rose ?”

Hening.

Mawar tidak langsung menjawab.

Dan itu sudah cukup.

Arden menghela nafas pelan. “Kamu mulai goyah, Rose.”

“Tidak.”

Jawaban Mawar cepat. Terlalu cepat.

“Aku tidak goyah.”

Suara Arden di seberang menjadi lebih tajam.

“Kalau begitu ingat tujuan mu. Dan jangan sampai kamu jatuh cinta pada salah satu putra musuh mu.”

Mawar menutup mata perlahan.

Kalimat itu… familiar. Dan menyakitkan secara bersamaan, walau tak kasat mata.

“Balas dendam,” lanjut Arden tanpa ragu. “Itu alasan kamu masuk ke dalam keluarga itu. Itu alasan kamu menikah dengan Ares.”

Setiap kata di ucapkan dengan jelas. Tanpa kompromi.

“Jangan sampai kamu melupakan semuanya hanya karena perasaan yang tidak seharusnya ada.”

Mawar membuka mata. Tatapan-nya kosong sesaat. Lalu perlahan… mengeras kembali.

“Aku tidak akan lupa, Ar.”

“Bagus.” Suara Arden kembali datar. “Karena kalau kamu sampai jatuh cinta pada Ares…” Ia berhenti sejenak. Memberi jeda. “…kamu yang akan hancur lebih dulu sebelum menyelesaikan tujuan mu.”

Deg.

Jantung Mawar berdetak keras. Namun kali ini bukan karena panik. Melainkan karena kata-kata itu… terlalu tepat. Ia menarik nafas dalam, menenangkan dirinya.

“Cari dia,” ucap Mawar akhirnya, dingin. “Dan laporkan padaku secepatnya.”

“Baik.”

Tut.

Panggilan terputus.

Ruangan kembali sunyi.

Mawar masih berdiri di tempatnya. Ponsel di tangan-nya perlahan turun.

Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya, kalau kamu jatuh cinta… kamu yang akan hancur lebih dulu.

Mawar menutup mata. Nafasnya bergetar. “…Aku tidak akan jatuh cinta,” bisiknya pelan. "Tidak akan pernah."

Namun untuk pertama kalinya, ia sendiri tidak yakin

0o0__0o0

Di klub malam. Sebuah lorong sunyi.

Ares masih berusaha berdiri tegak, meski tubuhnya terus berkhianat. Napasnya kasar, dadanya naik turun cepat, sementara pandangan-nya mulai terpecah, antara amarah, kesadaran, dan sesuatu yang terus menekan dari dalam.

“Jangan… sentuh gue…” desisnya rendah, namun suaranya tak lagi sekuat tadi.

Ia mencoba melangkah mundur, tapi kakinya goyah. Dunia terasa berputar, dan sesaat itu cukup—cukup bagi Dresto untuk memberi isyarat kecil dengan jari.

Dalam hitungan detik, dua orang suruhan muncul dari balik sisi ruangan.

“Brengsek—” Ares sempat menggeram, refleks tubuhnya mencoba melawan saat kedua pria itu langsung mencengkeram lengan-nya.

“Lepaskan!” bentaknya, berusaha meronta.

Otot-ototnya menegang, Ares mendorong salah satu dari mereka hingga terhuyung. Namun kekuatannya tak lagi utuh, gerakan-nya berat, tidak seimbang.

Bug!

Satu pukulan sempat ia layangkan, mengenai bahu salah satu pria itu.

“Jangan… paksa gue…” napasnya terputus-putus, rahangnya gemetar menahan dorongan yang semakin menggila di dalam dirinya.

Namun jumlah dan kondisi tidak berpihak padanya.

Satu orang mengunci lengan-nya dari belakang, sementara yang lain menariknya ke depan. Ares berusaha menghentakkan kaki, mencoba bertahan di tempat, tapi langkahnya terseret.

“Dresto!” suaranya menggelegar, penuh amarah yang tersisa. “Kalau lu lanjutkan ini... gue bersumpah tidak akan memandang Lo sebagai saudara. Dan gue tidak akan segan sampai kau hancur!”

Dresto hanya berdiri di tempat, menatap santai.

“Ya, ya…” balasnya ringan. “Simpan ancaman mu. Kau akan butuh sisa tenaga itu… nanti.”

Ceklek!

Pintu kamar klub itu terbuka.

Lampu redup dari dalam menyambut suasana yang sudah di atur sedemikian rupa.

Aroma parfum tajam bercampur udara panas menyeruak keluar, seolah menjadi bagian dari jebakan yang sudah menunggu.

Ares langsung menahan napas sekuat mungkin, matanya menyipit, berusaha tetap fokus.

“Tidak…” gumam-nya, lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tidak akan kalah…”

Namun tubuhnya kembali berkhianat.

Cengkeraman dua pria itu semakin kuat, menyeretnya masuk tanpa ampun. Kakinya sempat tersandung ambang pintu, membuatnya hampir jatuh, namun mereka tetap memaksanya berdiri dan terus berjalan.

Di belakangnya, Dresto melangkah pelan. Seringainya belum hilang.

BRUK!

Tubuh Ares di dorong kuat. Tersungkur di atas ranjang.

Klik.

Pintu tertutup.

Mengunci Ares di dalam skenario yang sudah di rancang… tanpa celah untuk melarikan diri.

0o0___0o0

Ting.

Notifikasi pesan itu memecah sunyi seperti pisau tipis yang mengiris perlahan.

Mawar menatap layar ponselnya.

Ada jeda.

Satu detik.

Dua detik.

Seolah nalurinya sudah berteriak—jangan di buka. Namun tetap… ia buka.

( Lokasi di temukan. Ares berada di sebuah klub malam )

Hening.

Tidak ada kata lain.

Tidak ada penjelasan tambahan.

Namun justru itu yang membuat dada Mawar terasa semakin berat.

“Klub malam…” ulangnya pelan. Nada suaranya datar. Terlalu datar.

Jemarinya perlahan menegang di sisi ponsel.

Ares.

Di tempat seperti itu.

Tanpa kabar.

Tanpa alasan.

Tanpa… dirinya.

Seketika, berbagai kemungkinan muncul di kepalanya.

Terlalu cepat.

Terlalu liar.

Dan semuanya… buruk.

Ting.

Pesan kedua masuk.

Lebih singkat.

Lebih tajam.

( Tidak sendiri )

Deg.

Jantung-nya seperti jatuh bebas. Sorot mata Mawar langsung berubah.

Bukan terkejut.

Bukan panik.

Tapi… sesuatu yang jauh lebih dingin dari itu.

Lebih dalam.

Lebih berbahaya.

“Dengan siapa ?” gumam-nya lirih.

Namun tidak ada jawaban.

Hanya dua kalimat itu. Cukup untuk merusak ketenangan-nya. Cukup untuk menghancurkan logika yang tadi masih ia pegang.

Ruangan terasa menekan. Sunyi, namun bising di dalam kepalanya.

Bayangan mulai terbentuk tanpa izin.

Ares… bersama seseorang wanita lain.

Di tempat tertutup.

Tanpa saksi.

Tanpa batas.

“…”

Napas Mawar perlahan berubah berat. Tangan-nya yang memegang ponsel kini benar-benar bergetar, sangat halus, hampir tak terlihat… namun nyata.

“…Aku tidak jatuh cinta.”

Kalimat itu keluar lagi. Namun kali ini, tidak sekuat sebelumnya.

Tidak setegas sebelum-nya.

Bahkan terdengar… rapuh.

Matanya perlahan terpejam.

Satu detik.

Dua detik.

Namun justru dalam gelap itu, bayangan itu semakin jelas. Semakin nyata. Dan itu… membuat sesuatu di dalam dirinya mulai retak.

Mawar membuka mata. Tatapan-nya kini berbeda.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

Dan… terluka.

Tanpa ragu, ia langsung menekan nomor yang tadi.

“Aku akan kesana,” ucapnya pelan. Terlalu pelan. Namun justru itu yang membuat-nya terdengar berbahaya.

“Kontrol perasaan mu, Rose.” Di seberang terdengar jawaban cepat. "Jangan sampai kamu mengecewakan...."

Mawar tidak langsung menutup panggilan.

Ada jeda. Seolah ia menahan sesuatu. Menahan emosi yang hampir lolos.

“Sure!”

Nada suaranya berubah.

Lebih tajam.

Lebih menekan.

"Aku tau... Mana yang harus di prioritaskan.”

Tut.

Panggilan terputus.

Mawar menurunkan ponselnya perlahan.

Namun kali ini, tidak ada lagi ketenangan.

Tidak ada lagi kontrol sempurna.

Hanya ada satu dorongan kuat yang terus mendesak dari dalam.

Keinginan untuk melihat sendiri.

Untuk memastikan.

Untuk… menghentikan sesuatu sebelum benar-benar terjadi.

Mawar meraih tasnya. Langkah-nya cepat. Nyaris tergesa. Namun tepat di depan pintu ia berhenti.

Hanya sebentar.

Cukup untuk satu tarikan napas yang terasa berat.

“Ares...” Namanya keluar begitu saja. Pelan. Namun penuh sesuatu yang tidak bisa lagi ia sangkal. "Jangan membuat ku menyesal datang ke sana."

Dan untuk pertama kalinya, Mawar tidak mencoba menyangkal-nya.

Ceklek.

Pintu terbuka.

Dia melangkah keluar. Dengan satu tujuan. Dan satu kemungkinan yang membuat jantungnya semakin tidak tenang, bahwa malam ini… akan mengubah segalanya.

0o0__0o0

1
Jojo Marjoko
ngesot gak tuh 🤭🤭🤭🤭 othornya melawak di tengah ketegangan 🤭🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
si presto mintak di sleding otaknya tuh 🤣🤣🤣🤣 jahat bet dah mah Ares
mrahboy Hboy
bagus ares😍😍😍😍 jadi laki jangan lembek...apalagi istrimu banyak yang ngincer👍👍👍
Selindia Morenas
Anjai, Ares mengerikan sekali epribady 🤣🤣🤣🤣 tapi gue suka 😍😍
❥␠⃝ ͭ🍁MI💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
antara tegang dan pengen ngakak bayangin LC ngesot kayak suster🤣Aresmu setia Mawar gak akan tergoda selain dengan mu Dreso lebih jahat dari iblis dan binatang emang
Selindia Morenas
gas.. update nya Thor 💪💪💪
mrahboy Hboy
ayo rose....cepat selamatkan suamimu😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
kasihan Ares tak tau apa-apa malah jadi korban
Selindia Morenas: gue heran, mereka adik kakak tapi kayak musuh bebuyutan 🤭🤭🤭
total 1 replies
Qorey
lanjut thor
Selindia Morenas
siapakah itu ?
Selindia Morenas
mangkanya jaga suaminya yang bener....entar di gondol perempuan lain ... ngamok 🤣🤣🤣
Selindia Morenas
mawar benar-benar pemain 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
lanjutkan Thor.....💪💪💪💪 semakipenasaran akoh🙏 🤭🤭🤭
Jojo Marjoko
Mawar memang pintar 😍😍😍😍
mrahboy Hboy
menyala mawar 😍😍😍😍😍😍
Aidil Kenzie Zie
salfok sama Mawar apa sudah pakai celana dalam 🤭🤭🤭
soalnya diumpetin sama papa mertua 🤣🤣🤣🤣
Jojo Marjoko
Terkadang perhatian kecil yang di abaikan justru nampak sangat berarti 😄😄😄😄 dan mawar pintar mencari cela itu 😍😍💪💪
Mita Paramita
🔥🔥🔥
sasip
sama seperti kejahatan, perselingkuhan pun bisa terjadi karena ada kesempatan.. 😉🤭😅
Qorey
bermain cantik kau mawar😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!