Seorang anak yatim yang tumbuh tanpa arah…
kembali sebagai sosok yang tak bisa diabaikan.
Bima pemuda sederhana dengan senyum tenang, pulang ke kampung halamannya setelah bertahun-tahun merantau. Ia hanya ingin hidup damai… membuka tempat latihan, dan menjalani hari seperti orang biasa.
Namun kampung itu… sudah berubah.
Di balik senyapnya desa, kekuasaan gelap mengakar. Orang-orang tak lagi bebas. Ketakutan bersembunyi di setiap sudut.
Dan tanpa ia sadari…
kepulangannya justru mengusik sesuatu yang seharusnya tetap terkubur.
Diserang tanpa alasan. Diawasi tanpa henti.
Bahkan darahnya sendiri… menginginkan kematiannya.
Tapi mereka melakukan satu kesalahan besar.
Mereka mengira Bima masih belum bangkitkan yang ada dalam dirinya.
Padahal…
di balik sikap polosnya, tersembunyi kekuatan yang besar dalam dirinya yang sedang terkunci.
Saat kegelapan mulai bergerak…
dan para pemburu datang mengincar…
Bima tidak lagi berlari.
Ia berdiri.
Dan untuk pertama kalinya, dunia akan melihat kembangkitan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hutan bambu
Bima menarik napas pelan.
Tatapannya masih tertuju pada rumah Pak Kades,
namun kali ini bukan lagi dengan emosi… melainkan perhitungan.
“Ayo kita pulang,” ucapnya tiba-tiba.
Andi terkejut.
“Sekarang?”.
Bima mengangguk pelan.
“kita biarkan mereka dulu, kita lihat seberapa jauh mereka merencanakan ini,
Sekarang kita tidak bisa mengusik pak kades, karena warga kampung masih mempercayai nya.”
Dimas mengernyit.
“Padahal mereka sudah jelas di dalam.”
“Justru karena itu,” jawab Bima tenang.
“Mereka pasti punya jalan keluar…
dan kita belum tahu bagaimana.
Aku bukannya tidak mampu menghadapi mereka semua, tapi aku ingin mengetahui kebenaran tentang kematian orang tua ku 12 tahun lalu.
Hening sejenak.
Lalu Bima berbalik.
“Ayo Kita pulang.”
Perjalanan kembali terasa berbeda.
Tidak ada yang banyak bicara.
Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu di rumah Pak Kades.
Suasana yang tadi sunyi…
kini berubah.
Di dalam ruangan tertutup, beberapa pria duduk gelisah.
Wajah-wajah kasar yang masih penuh keberanian, kini terlihat waspada.
“Pak… kita tidak bisa lama-lama di sini,”
salah satu dari mereka bersuara pelan.
Pak Kades berdiri di dekat meja, wajahnya kembali tenang seperti biasa.
Namun matanya tajam, penuh perhitungan.
“Aku tahu,” jawabnya singkat.
“Anak itu sudah mulai curiga,” lanjut pria lain.
“Kalau dia kembali”
“Dia pasti kembali,” potong Pak Kades.
Semua terdiam.
Pak Kades berjalan perlahan, lalu berhenti di tengah ruangan.
“Dan justru itu yang kita manfaatkan.”
Salah satu preman mengernyit.
“Maksudnya, Pak?”
Pak Kades tersenyum tipis.
“Kalian tidak akan keluar lewat depan,” katanya.
“Dan bukan hari ini.”
Mereka saling berpandangan.
“Di belakang rumah ini… ada jalur lama,” lanjutnya.
“Jalan yang sudah tidak dipakai warga.
Langsung tembus ke kebun bambu di ujung kampung.”
“Jadi kita kabur diam-diam?” tanya salah satu dari mereka.
“Bukan kabur,” jawab Pak Kades tenang.
“Berpindah… sebelum semuanya terlambat.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap tajam.
“Tapi ingat tidak boleh ada yang terlihat.
Tidak boleh ada jejak.”
Salah satu dari mereka menelan ludah.
“Kalau Bima menemukan kita duluan?”
Senyum Pak Kades menghilang.
“Kalau itu terjadi…”
suaranya berubah dingin.
“Kalian tahu apa yang harus dilakukan.”
Hening.
Tak ada yang berani menjawab.
Sementara itu
Bima sampai di rumahnya.
Langkahnya pelan, namun pikirannya terus bekerja.
Ia berhenti di depan pintu.
“Dia tidak akan diam,” gumamnya pelan.
“Dia pasti punya rencana…”
Tangan Bima mengepal.
Lalu ia menoleh ke arah Andi, Bayu, dan Dimas.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
Tatapannya tajam.
“Kalau mereka memang akan keluar…”
lanjutnya,
“kita harus tahu lewat mana.”
Angin kembali berhembus.
Dan kali ini dua rencana sedang berjalan bersamaan.
Satu… untuk melarikan diri.
Dan satu lagi… untuk membongkar semuanya.
Siapa yang lebih cepat
akan menentukan akhir dari permainan ini.
Mereka tidak langsung kabur, mereka pergi tinggal di pondok bambu milik pak kades yang terbengkalai di hutan mambu.
Menunggu hingga para warga melupakan kejadian itu, lalu mereka bisa leluasa pergi ke kampung seberang.
Kalau Mereka pergi sekarang bima pasti memburu mereka dimanapun mereka berada.
Jadi mereka sengaja tinggal untuk menghilangkan jejak sesaat.
Bima kembali dengan aktivitasnya, melatih mereka semua.
dari tahap awal kuda-kuda di dalam air, hingga mereka bisa menangkap ikan dengan tangan kosong.
Dan lanjut ke tahap latihan berikutnya, hari terus berlalu.
Mereka melewati nya dengan latihan penuh.