cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Setelah tiga hari berada di "surga" Sukabumi, kembali ke koridor Fakultas Ekonomi terasa seperti terjun bebas ke dalam air es. Jelita berjalan dengan langkah yang sedikit berbeda—lebih tenang, namun ada rasa was-was yang tersisa. Di lehernya, syal tipis melingkar rapi, menutupi "stempel" kepemilikan yang ditinggalkan Langit sebelum mereka turun gunung tadi pagi.
Langit baru saja menurunkannya di lobby dengan ciuman kening yang sangat lama. "Jangan nakal, jangan meleng, dan inget... lo punya gue," bisik Langit sebelum Porsche hitamnya menderu pergi menuju Jurusan Teknik untuk urusan skripsi.
Jelita menghela napas, mencoba fokus pada buku makronya. Namun, baru saja dia melewati pilar besar dekat taman fakultas, sebuah tangan kekar menarik tasnya pelan, menghentikan langkahnya seketika.
Aroma midnight musk itu lagi.
"Bolos tiga hari cuma buat ke bukit, Jee? Main lo jauh juga ya sekarang," suara berat Yayan terdengar tepat di belakang telinganya.
Jelita tersentak dan berbalik cepat. Yayan berdiri di sana, menyandar pada pilar dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung bangirnya. Jaket denimnya terbuka, memperlihatkan kaos hitam yang melekat sempurna di tubuhnya.
"Kak Yayan! Bisa nggak sih sehari aja nggak muncul kayak jailangkung?!" semprot Jelita, mencoba memasang tembok betonnya lagi.
Yayan justru melepas kacamata hitamnya, menatap Jelita dengan mata yang tajam namun ada binar kerinduan yang nggak bisa dia sembunyikan. Dia melangkah maju, memangkas jarak sampai Jelita terdesak ke pilar.
"Gimana gue nggak muncul, kalau tiap gue merem yang kelihatan cuma muka galak lo?" Yayan menyeringai. Tangannya terangkat, perlahan menyentuh syal yang melingkar di leher Jelita. "Panas-panas gini pake syal... lo lagi sakit, atau lagi nyembunyiin sesuatu dari gue?"
Jantung Jelita seolah berhenti. Dia menepis tangan Yayan kasar. "Bukan urusan lo! Minggir, gue ada kelas!"
Yayan nggak marah. Dia justru terkekeh. Dia tahu Jelita lagi bohong. Meskipun dia berandalan yang bisa aja maksa Jelita masuk ke mobilnya lagi, Yayan memilih diam di tempat. Dia menatap Jelita dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan memuja. Baginya, Jelita tetaplah gadis kecil yang suci dari masa SMP-nya—gadis yang ingin dia jaga, bukan dia hancurkan.
"Gue emang berandalan, Jee. Gue bisa aja bawa lo ke apartemen gue sekarang kalau gue mau," ucap Yayan rendah, wajahnya mendekat ke wajah Jelita. "Tapi gue nggak mau lo makin benci sama gue. Gue mau lo balik ke gue karena lo sadar, cuma gue yang bener-bener kenal siapa lo."
Jelita terdiam, lidahnya mendadak kelu. Kelembutan dalam nada bicara Yayan yang berandalan itu selalu berhasil membuat pertahanannya goyah sesaat.
"Gue... gue nggak akan pernah balik, Kak."
"Kita liat nanti," bisik Yayan.
Tiba-tiba, dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Yayan mencondongkan tubuhnya. Bukan ke bibir, tapi bibir hangatnya mendarat telak di pipi kanan Jelita. Sebuah ciuman singkat, lembut, namun penuh dengan perasaan yang tertahan selama tujuh tahun.
Cup!
Jelita membeku. Matanya membelalak sempurna. Rasa hangat bekas bibir Yayan tertinggal di sana, kontras dengan udara AC koridor yang dingin.
"Anggap aja itu bayaran karena lo udah bikin gue nunggu tiga hari tanpa kabar," ucap Yayan sambil mengacak rambut Jelita gemas—kebiasaan lamanya yang paling Jelita benci sekaligus rindukan.
"YAYAN! LO BENER-BENER KURANG AJAR!" teriak Jelita dengan wajah merah padam, tangannya refleks mengusap pipinya yang barusan dicium.
Yayan sudah melangkah mundur, berjalan menjauh sambil melambaikan tangan tanpa menoleh. "Belajar yang rajin, Tuan Putri! Jangan sampe rumus akuntansi lo bikin lo lupa kalau besok gue bakal gangguin lo lagi!"
Jelita berdiri mematung di koridor. Perasaannya campur aduk. Dia merasa berdosa pada Langit, merasa "kotor" karena membiarkan Yayan menciumnya, tapi di sisi lain... ada rasa hangat yang aneh.
Dia tidak tahu bahwa di balik pilar lain, Felicia kembali menyaksikan adegan itu dengan mulut menganga dan memegang dadanya sendiri.
"Gila... si Yayan bener-bener ya. Ciumannya cuma di pipi, tapi auranya kayak lagi ngelamar orang! Langit, maafin gue... tapi pria yang mirip kloningan lo ini bener-bener saingan yang berat!" gumam Felicia histeris.
Jelita segera berlari menuju kelas, kepalanya pening. Dia baru saja memberikan seluruh "masa depannya" pada Langit di Sukabumi, tapi "masa lalunya" baru saja mencuri satu ciuman yang terasa sangat... tulus.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣