Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
Kirana sedang duduk di kursi rotan tidak jauh dari kolam renang sembari memandangi bintang, mulutnya mengunyah pelan CIKI yang ia bawa dari dapur, setelah drama buka puasa bersama bayi besar nya ia memutuskan untuk menyendiri, mencari ketenangan. Tanpa ia sadari Dewa berjalan mengendap, mendekat kearah Ana, dan dengan secepat kilat ia mengangkat tubuh Ana dengan mudah, membuat Ana berteriak histeris.
“Aaa... Mas Dewa turun kan aku!” teriaknya ketakutan.
“Enak saja, kau seenak nya ngumpet disini, aku tadi nyuruh kau apa pendek.” ucap Dewa ketus, Ana yang panik memegangi kaos depan Dewa agar tidak terjatuh.
“Mas Dewa gak nyuruh apa-apa, makanya aku pergi.” jawab Ana cepat.
“Makanya kalau punya telinga dipake, aku nyuruh kamu ambili buku dibawah, masa gak denger,” ucap Dewa yang masih mengendong tubuh Ana Ala bridal style.
“Ya udah, kalau gitu aku ambili, turun kan.” perintah Ana, sembari mendongak memandang kearah Dewa, Dewa tersenyum smrik.
“Enak saja, kau harus dapat hukuman, ya itu masuk kedalam kolam renang, kan enak malam-malam seger,” Ana yang mendengar ucapan Dewa langsung menggeleng ribut.
“Jangan mas, aku gak bisa berenang,” pinta Ana, yang kini malah mengalungkan tangannya dileher Dewa erat, takut diceburkan ke kolam, karena ia benar-benar tidak bisa berenang, dan juga mempunyai trauma.
“Jangan bohong kamu, masa hari gini gak bisa berenang.” ucap Dewa sinis, dan otaknya langsung berpikir cepat, secepat kilat menyambar.
“Benar mas, aku gak bisa berenang, sumpah, suer tak kewer-kewer bisa mati aku, jangan ya mas, plis.” mohon Ana yang sudah ketakutan, Dewa tersenyum penuh kemenangan.
“Kalau gitu, jadi pacar aku “ ucap Dewa dengan enteng nya.
“Ha?!” teriak Ana terkejut.
“Gak usah terkejut gitu mukanya gak ada lucunya,” ucap Dewa mesem. Ana menyentuh dahi Dewa sejenak.
“Mas Dewa sehat?” tanya Ana polos, sumpah mati ia terkejut, walau itu hanya candaan, karena membayangkan saja tidak, apa lagi berpikir untuk jadi pacar majikan laknat nya.
“Sehatlah, mau gak loe, atau gue ceburin nih,” ucap Dewa semakin berdiri dipinggir kolam dan mencondongkan tubuhnya, Ana reflek kembali berteriak.
“Aaaa.. jangan mas, nego dulu,” teriak Ana dengan nafas kebang kempis karena takut. Dewa kembali menegakkan tubuhnya.
“Ok, nego apa?” tanya Dewa santai.
“Turunkan dulu mas.” pinta Ana, dan mendapat gelengan dari Dewa.
“No, nanti loe ingkar, udah cepat ngomong aja.” ucap Dewa tegas.
“Aneh mas, ngapain aku jadi pacar mas Dewa, kita gak saling suka lho ini, bukan kah mas Dewa gak mau punya pacar pendek, trus kenapa sekarang mau jadi pacar, aneh tahu mas, lagian aku bingung pacar itu seperti apa,” tanya Ana tanpa jeda, karena ia benar-benar bingung, konsep pacar Tuh seperti apa, soalnya tidak pernah sama sekali ia pacaran, dekat dengan cowok pun tidak, emak nya selalu bilang, untuk tidak berpacaran, bisa bahaya, jadi Ana takut, kalau berbahaya. Dewa menatap Ana cengo.
“Ya intinya kamu jadi pacar aku gitu aja, kan kamu yang bikin aku jadi jomblo jadi kamu harus tanggung jawab, kalau gak mau aku ceburin kamu,” ancam Dewa kembali. Ana yang polos pun akhirnya mengangguk, takut diceburkan, bisa mati dia karena tidak bisa berenang.
“Jawab jangan ngangguk doang,” ucap Dewa yang masih kurang puas.
“Iya, iya jadi pacar mas Dewa, cuma jadi pacar kan, gak bahaya kan, aku gak akan mati kan kalau pacaran?” tanya Ana polos, membuat Dewa setengah mati menahan tawa mendengar pertanyaan Ana.
“Gak lah, ingat hanya kita berdua yang tahu, jadi jangan ngomong sama siapapun,” peringat Dewa.
“Iya, sekarang turunin aku,” pinta Ana, Dewa mengangguk, dan hendak membawa Ana menjauh namun naas kaki nya terpeleset.
Byuuur!!
Mereka berdua malah terjatuh masuk kedalam kolam, Ana berteriak panik, tubuhnya seketika lemas, Dewa yang melihat itu langsung dengan sigap meraih tubuh Ana dalam pelukannya.
“Tenang, loe gak papa, ada gue,” ucap Dewa.
“Mas...” suara itu lemah dan mata Ana kembali tertutup, trauma itu muncul membuatnya tidak bisa bergerak, Dewa yang melihat itu, sekuat tenaga tidak panik, membopong tubuh Ana keluar dari kolam, ia langsung berteriak memanggil bik Sum. Teriakan itu membuat seisi rumah geger, bik Sum berlari cepat.
“Lho, nak Dewa, apa yang terjadi dengan kalian, non Ana kenapa?!” tanya bik Sum panik.
“Ikut saja bik, ganti baju Ana, mba Wati tolong panggilkan dokter segera.” perintah Dewa. Membawa lari tubuh Ana dalam gendongannya menaiki tangga menuju kamar, diikuti bik Sum. Dewa langsung merebahkan tubuh Ana, diatas ranjang.
“Nak Dewa, ganti baju dulu nanti sakit biar bibik yang urus sama Ida,” ucap bik Sum, Dewa hanya mengangguk dan keluar kamar tidak mungkin juga dia disana. Bik Sum pun dibantu Ida Menganti baju Ana dengan cepat, bahkan mengeringkan rambut Ana dengan hairdryer, pintu diketuk.
“Masuk, sudah selesai.” ucap bik Sum, dan Dewa langsung masuk.
“Belum sadar bik?” tanya Dewa penuh penyesalan.
“Belum, kok bisa basah semua to nak Dewa?” tanya bik Sum ingin tahu.
“Gak sengaja terpeleset dan masuk kedalam kolam, Ana gak bisa berenang, tapi Dewa juga bingung kenapa sampai pingsan,” jawab Dewa yang duduk di pinggir ranjang.
“Mungkin non Ana shock tuan muda, atau juga punya trauma, jadi pingsan.” sahut Ida memberi gambaran, Dewa mengangguk mengerti, mungkin benar apa yang dikatakan Ida, dan semua adalah salahnya. Pintu kembali diketuk dan mba Wati bersama perempuan paruh baya melangkah masuk, dokter itu mengernyit kan alisnya melihat Dewa yang duduk dengan keadaan baik-baik saja .
“Lho, kamu sehat gini Wa, apa yang mau diperiksa?” tanya wanita itu heran.
“Bukan aku dok, nih cewek pingsan.” tunjuk Dewa, dokter itu semakin menautkan alisnya, sejak kapan dirumah itu ada gadis muda.
“Jangan bengong, cepat periksa, ia baru saja tenggelam.” ucap Dewa lagi dan menyingkir memberi ruang kepada dokter wanita itu agar leluasa memeriksa, dokter itu langsung bergegas mendekat, memeriksa dengan teliti, ia menghela nafas setelahnya.
“Dia pingsan karena trauma, tubuhnya lemas bukan karena air yang masuk, air kolam belum sempat masuk sampai paru-parunya, jadi kita tunggu sampai sadar, kalau ia baik-baik saja tidak perlu kerumah sakit, namun tetap harus melakukan pengobatan, untuk menghilangkan traumanya. Kalau dibiarkan, trauma akan sangat berbahaya, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, tidak mungkin ia akan terus menghindar dari kolam renang.” jelas dokter itu serius. Dan mereka pun mendengar kan dengan seksama, tidak menyangka Ana yang ceria dan begitu kuat ternyata mempunyai trauma terhadap kolam renang, pantas saja ia tidak pernah mendekat ke kolam renang, selama tinggal disana, ternyata Ana mempunyai trauma.
Selamat menjalankan ibadah puasa untuk para pembaca novel ini semoga suka dengan cerita nya. 😁
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰