NovelToon NovelToon
Penjelajah Naga

Penjelajah Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kultivasi / Wuxia / Xianxia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: RubahPerak77

Hidup Xiao Chen berubah ketika sebuah kejadian misterius membuatnya terlempar ke jaman kerajaan, dengan berbekal sistem beladiri dan rasa ingin tahu ia mulai menjalani kehidupan barunya yang penuh dengan tantangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RubahPerak77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjalanan menuju Ibukota : Tersudut

Dengan satu tangan yang masih memegang pedang dengan erat, Xiao Feng mengalirkan seluruh tenaga dalam yang tersisa ke ujung bilahnya. Cahaya keemasan meledak dari pedang tersebut.

"Teknik Pedang Xiao, Menembus Langit...!!!"

CRAAAAKKKKK...!!!

Pedang Xiao Feng menusuk dada sang binatang neraka hingga tembus ke belakang, menghancurkan inti energinya dalam satu serangan fatal.

Sang binatang neraka melotot, darah hitam menyembur dari mulutnya sebelum akhirnya ia jatuh tumbang tak bernyawa.

Xiao Feng berdiri terengah-engah di atas mayat lawannya, darah hitam dan campuran cairan hijau menetes dari bahu kirinya. Dengan gerakan yang tenang namun memilukan, ia mengangkat pedangnya.

SREEEETTTT...!!!!

Xiao Feng memotong sendiri lengan kirinya yang telah membusuk total hingga ke pangkal bahu untuk mencegah racun merambat ke jantung.

​Dengan napas tersengal, Xiao Feng jatuh terduduk, wajahnya sangat pucat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Meskipun lengan kirinya telah hilang, Xiao Feng tetap memandang ke depan dengan tatapan tajam seorang pemenang.

​"Satu lagi... telah tumbang," gumamnya lemah, sebelum ia menyandarkan tubuhnya pada bongkahan batu, berusaha mengatur napas di tengah rasa sakit yang tak terbayangkan.

Xiao Feng menatap sekeliling, tumpukan mayat dari pihak lawan dan juga rombongan pengawal seolah menutupi keindahan alam di bukit rusuk naga.

Selain dirinya, Xiao Feng juga melihat bahwa tetua Ming berhasil menang melawan binatang naga. Namun nasib kurang berpihak pada tetua Wu. Beliau kehilangan nyawa dengan cara terpenggal.

Xiao Feng hendak bangkit, pendekar tua itu mencoba untuk memaksakan dirinya. Akan tetapi tangan yang menahan tubuhnya gemetar hebat.

Xiao Wu tiba-tiba saja datang tepat ketika ayahnya Xiao Feng hendak roboh. Putra sulungnya memapahnya untuk mundur karena saat ini rombongan pengawal hanya tinggal beberapa orang saja yang masih hidup. Sedangkan dari pihak lawan, binatang neraka masih berjumlah enam orang yang masih hidup, dan itu belum ditambah dengan para ninja yang jumlahnya masih ada puluhan orang.

"Tinggalkan aku, lekas temukan adikmu.. Dia pasti masih bersama dengan tuan putri.. Uhuukkk... Wu'er jangan lupakan misi kita..!!!" Bisik Xiao Feng di dekat telinga anak sulungnya Xiao Wu.

"Diamlah..!!!" Jawab Xiao Wu ketus, sambil menghunuskan pedangnya yang sudah retak di sana sini.

"Tidak perlu memikirkan tuan putri, aku yakin saat ini ketua sedang bersenang-senang dengannya.. Atau bahkan mungkin, sudah membunuhnya.. Hahahahaha.."

Salah satu bintang neraka mencoba untuk memprovokasi dan melemahkan mental lawannya.

"Jika tuan putri meninggal, maka klan kami juga akan binasa..!!! Jadi tak ada artinya kami masih hidup saat ini..!!!" Seru salah seorang pendekar muda yang berasal dari klan Ming.

"Itu benar, saat kami menerima tugas pengawalan ini, kami sadar bahwa tidak boleh ada yang namanya kegagalan..!!!" pungkas yang lainnya.

"Kalau begitu, maka dengan senang hati aku akan mengantar kalian menemui raja neraka..Hahahaha.."

"Semuanya seranggg...!!!!"

Dengan satu komando, orang-orang berpakaian ninja dan juga keenam binatang neraka segera melesat kedepan dengan niat membunuh yang kuat.

"Jangan menyerah, semuanya bertahan..!!!" Tetua Ming mencoba untuk mengobarkan semangat para pendekar dan juga prajurit yang masih tersisa.

Benturan antar senjata tak terelakkan, karena kalah jumlah, para pengawal yang tersisa dipaksa untuk bertahan mundur. Namun semakin lama pertempuran terjadi, rasa putus asa makin menguasai para pengawal yang tersisa.

Hingga diantara mereka ada yang sengaja terbunuh, melihat hal tersebut Xiao Wu makin murka.

"Dengan mental yang kalian tunjukkan saat ini, kalian bahkan tidak pantas disebut seorang pendekar kasta bawah..!!!"

Xiao Wu berteriak frustasi, dan itu wajar karena saat ini kondisinya sangat tersudut. Sekujur badannya penuh luka, staminanya sudah hampir habis, bahkan tenaga dalamnya sudah tidak bersisa. Dan itu masih ditambah ia harus menjaga ayahnya.

"Hehehe... Jika mau membenci, maka benci lah dirimu sendiri yang lemah..!!!"

Salah satu dari binatang neraka mendekatinya dengan pedang yang terhunus. Xiao Wu memasang kuda-kuda bertahan, namun tangannya sudah gemetar, pedangnya hancur.

Rahang Xiao Wu mengeras, ia sudah pasrah dan berpikir bahwa disinilah ia akan tewas. Akan tetapi di detik terakhir, sesaat sebelum pedang lawannya menebas batang lehernya, sebuah pisau berkilatan melesat dengan kecepatan yang luar biasa.

TRAAAAAANNNNGGGGGG...

Pedang dari binatang neraka terlepas dari genggamannya, Xiao Wu selamat dan keadaan mulai berbalik. ratusan prajurit khusus yang diutus oleh sang kaisar tiba tepat pada waktunya.

Xiao Wu jatuh terduduk, pedangnya telah terlepas dari genggamannya. Penglihatannya pun mulai buram dan berbayang, tapi ia masih bisa melihat saat binatang neraka dipukul mundur. Dengan senyum yang sedikit terkembang, tubuhnya jatuh ditanah, tak bergerak.

Xiao Feng memeriksa nadi anak sulungnya, masih terasa meskipun samar. Ia membuang napas secara kasar, tubuh tuanya ia dudukkan tepat di samping tubuh Xiao Wu, menanti pertolongan dari sekelompok orang yang baru saja datang.

*****"

Di kedalaman hutan, tuan putri masih berlari bersama kedua pelayan pribadinya. Gaun yang tadinya anggun dan bersih, kini sudah robek di sana sini dan dipenuhi lumpur.

"Kita berhenti dulu, aku sudah tak sanggup untuk berlari lagi.."

Tuan putri menghentikan langkahnya dan berpegangan pada sebatang pohon, napasnya terengah-engah dan wajahnya memerah karena kekurangan oksigen.

"Maaf tuan putri, kita harus terus berlari karena saat ini kita belumlah aman.." Tutur salah satu pelayannya yang di amini oleh pelayan lainnya.

"Tapi aku benar-benar sudah tidak punya tenaga untuk menggerakkan kakiku.."

"HAHAHAHAHAHA... TIDAK ADA GUNANYA KALIAN KABUR DARIKU..!!!"

Tiba-tiba saja ketiganya mendengar sebuah suara menggema di udara, lalu sepersekian detik setelahnya udara terasa begitu dingin, oksigen seakan tersedot hingga untuk bernapas dan bergerak saja terasa begitu berat.

"Kau lindungi tuan putri, aku akan menghadapi bajingan itu.." Salah satu pelayan mencabut pedangnya daj menatap tajam ke arah dimana Kuang Mo baru saja mendarat dengan elegan.

"Rupanya disini juga masih ada kecoak pengganggu..!!"

Kuang Mo melesat dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata lawannya, hingga dalam sekali kedip, ia sudah berada di dalam jangkauan untuk melepaskan serangan.

SLAAAASSSSHHHHH..

Serangan itu terjadi begitu cepat, hingga si pelayan bahkan tidak menyangka bahwa kepalanya telah terpisah dari tubuhnya.

"TIDAAAAAKKKKKK..."

Putri Qiong Hua histeris tatkala melihat salah satu pelayan nya yang selama ini setia menemaninya harus kehilangan nyawa dengan cara yang begitu brutal.

"Tidak perlu berteriak begitu, giliranmu juga akan segera tiba.." Kuang Mo mendesis sambil menjilati darah yang tersisa di ujung jarinya.

"Tuan putri kumohon larilah dari sini, jangan pernah menoleh kebelakang. Aku akan menahannya selama mungkin.."

"Ta..Tapi..??"

Ketika dua orang itu sedang berdebat, Kuang Mo mendekat tanpa suara. Hingga ketika jarak diantara mereka tersisa sekitar sepuluh langkah, sang pelayan sadar dan langsung mengeluarkan teknik terkuatnya.

"Teknik Terlarang, Bangau Menghempas Bumi..!!!"

Dalam sekejap saja, gravitasi di sekitar Kuang Mo menjadi begitu berat berkali kali lipat. Bahkan untuk ukuran seorang pendekar suci.

"Kumohon yang mulia, PERGILAHHHH...!!!!" Teriak sang pelayan yang frustasi.

Tuan putri Qiong Hua menutup matanya, kemudian berlari sekuat tenaga meninggalkan pelayannya sendirian menjemput maut.

"Ciiihhhh.. Memang kau pikir berapa lama lagi kau bisa menahanku.."

Kuang Mo mulai nampak serius, luapan tenaga dalamnya membuat sang pelayan berteriak frustasi.

"Aaaaarrrgggghhhh..."

Dari lubang hidung, mulut dan telinga pelayan mulai mengalir darah. Rupanya ia telah membakar dantiannya supaya seluruh tenaganya meluap.

Kuang Mo yang menyadari hal ini, tak menahan kemampuannya lagi. Dengan sebuah gerakan kilat ia mencekik leher si pelayan.

"Apa kau berniat bunuh diri dengan meledakkan diri??"

Kuang Mo nampak geram, hingga cekikannya mematahkan batang tenggorokan si pelayan. Membuatnya meninggal dengan rasa sakit yang teramat sangat.

"Arrrggghhhh...." Sang pelayang menghembuskan napas terakhirnya dengan mata terbelalak dan lidah menjulur keluar.

"Cihhh.." Kuang Mo bahkan sempat meludahi jasad si pelayan sebelum akhirnya pergi dari tempat itu.

"Hahh... Hahhh... Haaahhhh.." Putri Qiong Hua menekan dadanya yang terasa panas. Ia sudah berlari sedari tadi dan belum beristirahat sama sekali, hal yang tentunya begitu berat bagi seorang gadis yang sejak kecil selalu dimanja dan diberikan apapun yang ia inginkan.

"Akhirnya tertangkap kau putri..!!!"

Kuang Mo menarik rambut putri Qiong Hua dengan kasar hingga menyebabkan putri Qiong Hua terjatuh kebelakang.

"Aaaaaccchhhh..." Putri Qiong Hua berteriak kesakitan, bahkan sampai merintih saat Kuang Mo menarik paksa dirinya.

"Arrrgggghhh..." Dengan menggunakan tenaga dalamnya, Kuang Mo mencekik putri Qiong Hua tanpa menyentuh secara langsung. (seperti telekinesis)

Tubuh putri Qiong Hua terangkat sedikit dari tanah, kedua tangannya seolah sedang menahan sesuatu yang tak kasat mata.

Kuang Mo mendekat ke putri, hingga jarak mereka hanya sejengkal. "Aroma tubuhmu yang wangi, wajahmu yang cantik dan kulitmu yang sangat putih mulus benar-benar membuatku hampir kehilangan akal sehat. Apa kau tahu, saat ini aku benar-benar ingin merasakan kehangatan tubuh polosmu.."

BREEEETTTTT....

Dengan kasar Kuang Mo merobek gaun putri Qiong Hua, hingga hanya menyisakan baju dalam yang berwarna putih.

Hingga ketika tangan yang sudah berkerut karena usia senja itu hendak mulai membuka kancing baju dalam putri, sebuah cengkraman tangan yang begitu kuat, menghalangi niatnya.

1
y@y@
⭐👍🏾💥👍🏾⭐
y@y@
👍🏿⭐👍🏻⭐👍🏿
y@y@
🌟👍🏿💥👍🏿🌟
y@y@
👍🏼💥👍🏿💥👍🏼
y@y@
🌟👍🏾👍🏻👍🏾🌟
y@y@
👍🏿🌟👍🏻🌟👍🏿
Ayu Ayunitasari
lanjutkan..😍😍
Ayu Ayunitasari
sungguh kerenn..
Ayu Ayunitasari
kerennn😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!