sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
6 bulan aku di rumah guru busi , tidak sekalipun aku bisa menang melawannya . Aku pernah mengalahkan kopong bertinju juga mengalahkan salonga bertarung pistol . Tapi Aku tidak pernah bisa mengalahkan guru puisi bertarung pedang bahkan dengan mata guru busi yang tertutup .
Di penghujung bulan ke-6 , Frans tiba di Tokyo untuk menjemputku . Itu berarti masa berlatihku dengan guru busi telah selesai .
"Samurai adalah perjalanan hidup , tidak pernah soal Berapa lama kau berlatih , kau sudah menggenapkan seluruh teknik yang kumiliki dan seluruh jurus yang aku punya . Sisanya , akan kau sempurnakan sendiri bersama perjalanan hidupmu " guru puisi menjamukan minuman teh di dalam terakhir di malam terakhir .
Aku menunduk , ada banyak sekali yang tidak kuasai . Bukan hanya mengalahkan guru busi bermain pedang dengan mata tertutup tapi juga melempar shuriken di gulita malam. Dan puncak dari kemampuan guru busi ku ketahui saat aku bertarung dengannya di dojo , satu lawan satu . Aku menggerakkan kemampuan terbaikku hingga mampu membuatnya terdesak . Namun saat hampir tidak ada kemungkinan bisa lolos dan sisa beton pedang tubuhnya menghilang begitu saja . Aku tidak akan mempercayainya jika tidak melihatnya sendiri dan sebelum aku menyadari Di mana dia berada Katanya sudah menempel di Leherku . Guru puisi tersenyum menatapku . Pertarungan Usai . Untuk kesekian kalinya aku gagal .
Itu jurus paling masyhur milik seorang Ninja sekaligus Samurai sejati . Menghilang .
"aku tahu , kau tetap penasaran tentang banyak hal ,:Tapi saat kau tiba pada titik itu maka kau akan mengerti dengan sendirinya . Itu perjalanan yang tidak mudah . Kau harus mengalahkan banyak hal . Bukan musuh-musuhmu tapi diri sendiri menaklukkan monster yang ada di dirimu . Sejatinya , dalam hidup ini tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain dan itu sama sekali tidak perlu . Kita cukup mengalahkan diri sendi , egoisme. Ketidakpedulian . Ambisi . Rasa takut . Pertanyaan . Keraguan . Sekali kau bisa menang dalam pertempuran itu maka pertempuran lainnya akan mudah saja ."
"Aku sedang tidak melatihmu , bisa menjawab pertanyaanmu . Sekarang saatnya kau berlatih diri sendiri dan menemukan jawaban dari dirimu sendiri . Hanya seorang Samurai sejati yang bisa tiba pada titik itu . Di titik ketika kau seolah bisa keluar dari tubuhmu sendiri berdiri menatap refleks dirimu seperti sedang menatap cermin . Kau seperti bisa menyentuhnya , tersenyum takzim , menyaksikan betapa jernihnya kehidupan . Saat itu terjadi Kau telah pulang . Pulang pada Hakikat kehidupan , pulang , memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan "
Aku mengangguk . Aku sama sekali tidak mengerti kalimat guru puisi tapi aku bisa merasakan betapa hikmatnya acara jamuan minum teh itu seperti kembali ke abad-abad sebelumnya .
Esok pagi , guru puisi mengantarku dan Frans ke bandara . Yuki dan Kiko ikut serta . Si kembar asik bermain di pojok paling belakang , mengajakku main tebak-tebakan , dan melemparkan tepung ke kepalaku Jika Aku gagal menjawab .
Tahun-tahun berlalu . Saat guru busi meninggal aku sempat melayat ke Tokyo . Bertahun-tahun kemudian aku juga bertemu lagi dengan Yuki dan Kiko . Mereka bukan lagi remaja tanggung , melainkan sudah menjadi Ninja terbaik dengan profesi yang sangat ganjil , Ani yakni pencuri kelas dunia yang bergerak seperti turis Jepang . Pun bertahun-tahun telah lewat , Tapi aku tidak pernah bisa menyentuh titik yang dijelaskan oleh guru busi .definisi menjadi Samurai sejati .
...****************...
Satu semester kemudian tidak hanya satu aku sekaligus mengambil master kedua . Aku kuliah secara paralel kali ini di bidang matematika terapan . Aku punya banyak waktu. Tidak ada pekerjaan tukang pukul. Aku bisa menghabiskan seluruh hari untuk belajar dan memanfaatkan setiap waktu lengang. Itu tahun tahun yang berjalan cepat. Frans hanya menemaniku dua Minggu, dan setelah memastikan aku baik baik saja, Frans kembali ke ibu kota. Tauke punya pekerjaan lain untuknya.
Selain sekolah, aku tetap berlatih secara mandiri dengan jadwal rutin. Apartemen yang disewa Mansur untukku luas, sehingga aku bisa mengubah salah satu ruangannya sebagai tempat berlatih pedang . Bosan berlatih pedang, aku berlatih shuriken, bosan berlatih shuriken, aku berlari mengelilingi stadion selelah mungkin.
Aku punya lebih banyak teman saat kuliah di luar negeri, lebih leluasa bergaul, tapi seluruh hidupku tetap misterius. Tidak ada yang tahu menahu siapa keluargaku, dari mana asal dana untuk sekolahku, namun itu terungkap sedikit, sedikit.... Sekali saat ada atlet lomba lari berkunjung ke kampus ku. Sang pemegang rekor lari cepat dunia. Itu hal yang lazim, memang ada banyak pesohor yang memberikan ceramah di sini. Mulai dari pekerja seni terkenal, atlet, pengusaha, aktivisi sosial, hingga presiden. Atlet itu bicara di depan ratusan mahasiswa tenteng kerja keras, latihan, dan semua prestasi yang dia peroleh. Tiba di akhir sesi, dia bergurau menantang seluruh aula kampus, siapa yang berani mengajaknya lomba lari. Jika menang, dia akan memberikan sepuluh dolar. Seluruh aula dipenuhi oleh tawa. itu hanya lelucon penutup, tidak ada yang serius menanggapi.
Aku seharusnya juga cukup tertawa dan melupakannya, namun aku teringat dengan latihan yang kopong ajarkan padaku. Latihan lari bolak balik saat itu, dia bilang jika aku bisa menyaingi atlet dunia sekaligus. Aku melangkah cepat meninggalkan aula dan mencegat atlet itu ditengah kerumunan mahasiswa yang meminta tanda tangan. Aku berdiri di hadapannya.
"aku menantangmu lomba lari." aku berkata datar.
Atlet itu diam, kemudian tertawa "itu hanya gurauan, bukan tawaran serius."
Aku menatap atlet yang tingginya sejengkal dariku. "aku serius. Aku bisa mengalahkanmu lari seratus meter."
"bagaimana kau akan mengalahkan ku? ayolah" atlet itu kembali tertawa,
"coba saja. Di stadion kampus. Kau akan melihatnya."
"sorry, aku tidak punya waktu melayanimu." atlet itu melangkah.
"hei! Apakah kau khawatir kalah bertanding lari denganku? Dan kehilangan sepuluh dolar? Bukankah kau sendiri yang menantang seluruh ratusan mahasiswa untuk bertanding melawanmu? Anggap saja aku sedang mempraktekkan semua yang kau bicarakan, tentang kerja keras, disiplin dan latihan" aku mendesak, tersenyum tipis.
"baiklah. Kau tentukan tempat dan waktunya. Aku akan bertanding lari denganmu." aku telah berhasil mencungkil egonya.
Malamnya, aku bertanding lari dengan pemegang rekor dunia itu. Hanya dengan aba aba suara dari penonton - tanpa letusan pistol, malam itu aku mengalahkannya pada tiga kali kesempatan.
Kesempatan pertama, dia tertinggal satu meter di belakangku.
Wajahnya berubah "itu hanya kebetulan. Aku terlalu menganggap pertandingan ini main main. Satu kali lagi."
Atlet itu melemaskan tubuhnya, kali ini lebih serius. Belasan penonton yang ada di sekitar kami menonton lebih semangat lagi. Atmosfer kompetisi mulai terasa pekat di langit langit stadion
Kesempatan kedua, kami nyaris finish bersamaan, tapi aku lebih dulu beberapa senti
Wajah atlet itu merah padam.
"sekali lagi."
Aku mengangguk. Tidak masalah. aku memberikan waktu untuk atlet itu melakukan pemanasan. aku berdiri menunggu di atas lintasan lari.
Kesempatan ketiga, seratus meter, aku tetap menang tipis.
Atlet itu tersengal. Sambil mengusap wajahnya, ia menatapku tidak percaya.
"bagaimana kau melakukannya?" dia bertanya.
"persis seperti yang kau bilang, kerja keras, disiplin dan latihan."
Atlet itu mengusap wajahnya. Tidak bisa berkomentar lagi. Dia melangkah meninggalkanku.
"Hei, kau berutang sepuluh dolar." aku berseru
Tidak banyak yang tahu kejadian itu. Tapi aku tahu, atlet itu tidak akan pernah melupakannya, untuk pertama kalinya dia kalah dalam pertandingan amatir.