Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memantau Perselingkuhan
Tisha menutup pintu kamarnya. Begitu langkahnya menyentuh lantai, seluruh energi yang ia tahan sejak tadi seperti hilang begitu saja.
Ia menjatuhkan diri ke ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.
“Hari-hariku di sini terasa berat sekali.” gumamnya lelah.
Setelah beberapa detik, ia membalikkan tubuh. Wajahnya tenggelam kedalam bantal. Barulah ia menyadari samar-samar aroma parfum maskulin Willie masih menempel disana.
Wangi itu entah mengapa membuatnya menjadi lebih tenang. Tisha memejamkan mata. Lalu bibirnya perlahan membentuk lengkungan kecil.
“Semangat Tisha, anggap saja dia anak TK dengan badan besar.” bisiknya lirih pada dirinya sendiri.
Ia tertawa antara pasrah dan geli sendiri membayangkan sikap Willie yang kekanak-kanakan.
Sementara itu, di ruang kerjanya. Willie sedang menatap layar laptop, mencoba fokus membaca laporan terakhir hari itu.
Ponselnya berdering, dahinya mengernyit. Itu dari Rendra, temannya yang bekerja sebagai supervisor bandara.
Ia langsung mengangkat. “Ren, ada apa?”
“Wil...pejabat yang dulu kau beritahu itu, Ia barusan memesan tiket business class ke luar negeri malam ini.”
Willie spontan berdiri dari kursinya.
“Kemana? Jam berapa?”
“Dua jam lagi ke Thailand. Dan dari informasi akun reservasinya, dia tidak pergi sendirian. Ada seorang wanita muda bersamanya. Kau tahu maksudnya kan?”
Willie mengepalkan tangannya namun ia segera menenangkan amarahnya.
“Ren, tolong kau siapkan tiket untukku. Penerbangan yang sama.” pinta Willie.
“Oke, kursi yang jauh atau?" tanya Rendra.
“Tidak.” Willie memotong cepat.
“Buat kursiku sedekat mungkin dengan kursinya."
Rendra bertanya dengan serius. “Wil, kau mau apa?”
“Ada sesuatu yang harus kupastikan,” jawab Willie datar.
“Baiklah. Aku atur. Kau harus cepat, check in tutup satu jam lagi.” ujar Rendra.
“Terima kasih, Ren. Kirim informasi tiketnya lewat pesan.”
Setelah telepon itu ditutup. Willie pun segera bersiap-siap.
Willie masuk ke kamar Alia, ia ingin melihat anaknya sebelum berangkat. Begitu ia membuka pintu, ia melihat Tisha ikut tertidur di samping Alia, seolah sengaja memasang tubuhnya sebagai pagar kecil agar anak itu merasa aman.
"Sepertinya Alia merengek minta ditemeni tidur." batinnya sambil menarik napas pelan.
Willie berdiri di sisi ranjang, memandangi putrinya. Ada sedikit keraguan yang menahan langkahnya, namun ada bagian lain tak bisa lagi membuatnya menunda.
Ia harus mencari celah sekecil apa pun untuk membalaskan perjuangan mendiang istrinya.
Ia mendekat ke samping Alia, membungkuk, dan mengusap rambut Alia, lalu mengecup kening mungil itu.
“Papa pergi sebentar ya, Nak,” bisiknya dekat telinga putrinya.
Alia hanya menggeliat kecil, sepertinya ia masih tenggelam dalam mimpi.
Pandangan Willie selanjutnya berpindah pada Tisha. Gadis itu tertidur dengan kerudung yang sedikit miring, beberapa helai rambutnya keluar menyentuh pipi.
Willie tersenyum tipis. “Hei, gadis keras kepala, maaf aku terus membebanimu.” bisiknya lagi.
Ia mengulurkan tangan, mengusap kepala Tisha perlahan dan menatapnya beberapa saat. Ia berani melakukan seperti ini hanya saat gadis itu tak sadar.
“Baik-baik ya saat ku tinggal sebentar,” lirihnya.
Sebelum menutup pintu, Willie menoleh sekali lagi. Pandangannya melekat pada keduanya.
Ia keluar dan memanggil Ratih.
“Bi, saya berangkat dulu untuk beberapa hari. Kalau ada apa-apa, segera hubungi saya.”
Ratih menunduk hormat. “Baik, Tuan.”
Sesampainya Willie di bandara, matanya langsung sibuk melirik ke seluruh tempat. Ia bergegas untuk check In.
Saat ia masuk melewati pintu pemeriksaan, Ternyata pejabat itu berjalan tak jauh didepannya.
Pejabat itu memasuki area tunggu khusus business class dengan langkah ringan. Di sampingnya, seorang gadis muda dengan menggandeng lengannya dan tertawa kecil, manja, dan jelas bukan istrinya.
Mereka berdua terlihat seperti pasangan yang hendak berlibur singkat, bukan seperti seorang pejabat negara yang melindungi anaknya usai menghamili seorang siswi tak berdaya.
Rendra, yang mengawasi dari kejauhan melalui monitor CCTV bandara, mendecakkan lidah.
“Tsk, Berlagak dinas ke luar negeri, padahal cuma mau bersenang-senang,” gumamnya.
Beberapa saat, terdengar pengumuman boarding menuju Thailand menggema di ruang tunggu.
Lelaki paruh baya itu terlihat sibuk menggandeng erat wanita simpanannya. Willie melirik ke arah pejabat itu, diam-diam mengambil foto mereka
Tatapan Willie meruncing. "Begitu santai seolah hidupmu tanpa beban," batinnya.
Ia bangkit dari kursinya, mempercepat langkahnya mengikuti pasangan itu dengan ritme yang sengaja ia buat tak mencolok.
Willie yang memakai topi dan masker hitam, ikut masuk ke antrean boarding, sedikit di belakang mereka seperti bayangan tak diundang.
Sesampainya di dalam kabin business class, Willie langsung mengetahui posisinya. Willie duduk beberapa meter di depan pasangan itu. Jaraknya pas, cukup untuk mengawasi dan tidak mencurigakan.
Di dalam kabin itu tampak sepi. Sepertinya pejabat itu sudah hafal dengan penerbangan yang cocok untuk melancarkan aksi perselingkuhannya.
Begitu pesawat mulai lepas landas, ia bersandar, lalu melirik sekilas ke belakang.
Pasangan beda usia itu sibuk bermesraan, tangan si wanita melingkar manja di lengan pejabat tersebut. Mereka tertawa senang seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Ketika tanda sabuk pengaman dicabut, Willie mengenggam ponselnya. Ia menyalakan kamera, lalu menyelipkan ponsel itu ke saku kemejanya.
Willie bangkit perlahan. Ia melangkah santai menuju bagian belakang, pura-pura mencari sesuatu.
Baru dua langkah ia mendekat, seorang pramugari menahan jalannya dengan senyum sopan.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Uhm… maaf, toilet di mana ya?”
“Oh, di sisi kanan, Pak,” jawab pramugari sambil menunjuk.
“Terima kasih.” Willie menunduk singkat.
Willie sengaja memiringkan sedikit tubuhnya dan menggeser langkah, sehingga ia lewat tepat di depan pasangan itu.
Hanya sepersekian detik, namun cukup untuk menangkap visual yang ia perlukan kemesraan yang akan mematahkan topeng moral pejabat itu.
Ia berjalan ke arah toilet tanpa menoleh lagi, wajahnya datar. Namun sorot matanya tajam, penuh perhitungan.
Sesampainya di dalam toilet, Willie merogoh ponsel di saku kemejanya. Ia segera memutar video yang sempat terekam tadi. Wajah pejabat itu dan tangan mereka yang saling bertaut, tawa si wanita, semuanya terekam jelas.
“Bagus,” gumam Willie puas.
Tanpa menunda, ia langsung membagikan video itu ke Google Drive, memastikan file tersebut tersimpan ganda dan tidak akan hilang meski sesuatu terjadi pada ponselnya.
Sinyal di pesawat lambat, tapi cukup untuk mengunggah potongan bukti pertama.
Begitu proses selesai, Willie menghembuskan napas lega. Namun sebelum keluar, ia menekan tombol record sekali lagi.
Kamera kembali menyala tanpa kilat, hanya perekam senyap yang siap menangkap apa pun.
“Siapa tahu kelakuanmu lebih busuk dari yang kuduga,” desis Willie pelan.
Ia membuka pintu toilet dan melangkah keluar dengan ekspresi datar. Gerakannya santai, namun seluruh indranya tetap siaga.
Ia kembali ke kursinya terus berjaga, menunggu kesempatan berikutnya.