NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - Kupu-Kupu

"Aku mencoba menyangkal, bilang ini cuma sesaat. Tapi kenapa kehadirannya terasa seperti jawaban atas sesuatu yang lama hilang dari diriku?"

...***...

Setibanya di taman, mereka langsung turun motor dan mencari bangku yang sunyi. Tempat itu dihiasi bunga-bunga berwarna-warni di tepi jalan, dan danau kecil di tengahnya memantulkan cahaya matahari sore yang menjadi keemasan.

Rayna duduk terlebih dahulu, masih memegang jinjingan yang udah agak dingin tapi masih terasa hangat di tangan. Dia menatap Ben yang seolah-olah sedang menenangkan diri, lalu buka suara, "Mau cerita apa nih? Kayanya serius banget deh."

Ben tersenyum pelan, menggeleng. "Buru-buru amat. Minum dulu tuh kopinya, masih ada sisa hangatnya. Rotinya juga makan, jangan sampe keburu gak enak."

"Emm oke oke"

Rayna membuka jinjingan itu dengan hati-hati, mengambil cawan kopi dan menyeruput perlahan, lalu memegang roti keju dan memakannya.

"Enak.. makasih ya." Suaranya lembut, diselingi senyum yang merangkul wajahnya.

Ben memperhatikan setiap kunyahan Rayna dengan penuh perhatian, mata tidak terlepas dari wajahnya. Lalu dia menghembus nafas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk bercerita.

"Ray, gimana kalau gue part time?"

"Hah? Part time? Maksudnya?" Matanya membesar sedikit, bibir yang masih penuh roti terhenti sejenak.

"Tadi siang gue kan ikut David ke kafe itu, sekalian nongkrong. Kebetulan dia part time disana, gue liat-liat kaynya gue tertarik buat ikutan juga." Suaranya agak ragu, mata dia tetap menatap Rayna sambil menunggu tanggapan.

"Emm.. ttapii.. kenapa? maksud gue kenapa lo tiba-tiba mau part time?" Suaranya sedikit ragu, jari-jari dia mengelus-elus pinggiran cawan kopi yang sudah kosong.

"Gue pengen punya duit sendiri, Ray. Biar gue bisa cabut dari rumah itu." Suaranya tiba-tiba jadi pendek dan tegas, mata dia menunduk ke lantai, seolah tak berani melihat wajah Rayna.

"Gak usah aneh-aneh deh Ben, gak semudah itu loh." Suaranya lembut tapi tegas, matanya menatap Ben dengan penuh perhatian yang menyentuh.

"Gue tau, tapi kalau gue gak mencoba, gue gak bakal bisa. Gue cape di pandang sebelah mata mulu... Mungkin dengan ini, mama gue bisa sedikit bangga sama gue." Suaranya mulai bergetar sedikit, tapi masih tegas. Mata dia akhirnya mengangkat, menatap Rayna dengan harapan yang tersembunyi.

Rayna menatap Ben dengan penuh kekhawatiran. Dalam hatinya, dia berkata: "Ternyata Ben masih tetap ingin dihargai sama mamanya, walaupun kemarin dia bersikeras pengen jadi dirinya sendiri yang berandalan itu."

"Gue ngerti sih Ben, tapi kan lo tau sebentar lagi kita ujian akhir. Dan setelah itu kita akan lulus, mungkin lo bisa mulai part time setelah lulus itu, sambil lanjut kuliah?"

Ben termenung sebentar, mata melayang ke arah danau yang sudah mulai gelap.

"iya sih lo bener... tapi gimana pandangan lo dengan gue mau part time?"

Rayna menghela nafas perlahan, jari-jari masih memegang cawan kopi yang sudah dingin. "Pandangan ... Gue ? Gue dukung banget sih, Ben. Sebab lo mau berusaha sendiri, punya tujuan yang jelas, itu udah hebat banget. Cuma gue cuma khawatir lo kesusahan, ada ujian lagi, nanti kehabisan energi." Dia menyentuh lengan Ben dengan lembut, mata penuh kehangatan. "Tapi kalau lo yakin dan bisa kelola waktunya, gue akan selalu dukung lo kok."

"Emm oke, thanks ya udah mau dengerin cerita gue." Senyum kecil muncul di wajahnya, sedikit lega seolah beban di dada berkurang. Dia mengangguk ke arah Rayna, mata dia melihat ke langit yang mulai terbenam penuh bintang.

"Santai aja, gue seneng denger lo cerita."

"Bisa aja nih bocah, tapi gue gak pernah denger lo cerita sama gue loh. Kayanya kehidupan lo manis banget ya?" Suaranya sedikit meragukan, mata dia menatap Rayna dengan rasa penasaran yang baru muncul.

"Eh.. engga gitu lah, cuma.. belum ada hal yang emang perlu gue ceritain ke lo." Rayna menggeleng perlahan, mata dia malah melirik ke arah bunga-bunga yang di tepi bangku, seolah menghindari tatapan Ben. Bibirnya sedikit memerah, seolah dia sedang berpikir apakah harus ngomong lebih banyak.

"Cerita aja kali, gue juga gak akan ngebocorin ke orang-orang."

"Bukan gitu.. nanti kalau ada hal yang mau gue ceritain, bakal langsung gue ceritain ke lo kok."

"Yakin?"

"Iyaaa.. udah ah, lo malah gitu ihh sebel," Rayna menggodok bahu Ben dengan ringan, senyumnya mulai pulih lagi. Dia lalu berdiri, menggendong jinjingan yang sudah kosong. "Udah sore banget, yuk pulang.."

"Pulang sendiri?"

"Hah?"

"Ya lo pulang aja jalan, gue masih betah disini."

"Ihh Ben," Rayna mencubit lengan Ben dan menariknya bangun. "Ayo pulangggg," katanya sedikit kesal.

"Ehh.. eh.. iyaa iyaa, bentar ah jangan cubit-cubit gitu, sakit!" Ben mengusap lengan yang dicubitnya sambil tersenggak-senggak berdiri, tapi senyum kecil tetap nongol di wajahnya.

Ben dan Rayna pun pulang, sampai dirumah Rayna, dia turun dari motor.

"Gak mau mampir dulu?" tanya Ben.

"Engga, gue mau langsung balik aja," jawab Rayna.

"Oke."

"Kiss dulu dong."

"Apaan sih, mulai deh!"

"Hahaha, canda. Yaudah gue balik dulu ya, dadah cantikku, kesayangku," kata Ben sambil cengengesan.

Rayna hanya tersenyum dan melambaikan tangannya, kemudian dia masuk rumah. Tak terlihat keberadaan mamanya, jadi dia langsung masuk kamar.

Saat di kamar, Rayna terbayang wajah Ben saat ia mengatakan itu. Rayna tersenyum sendirian, ada perasaan aneh di dalam dirinya, seperti ada kupu-kupu beterbangan di dadanya.

Sesaat kemudian ia tersadar dan berkata, "Ih, ngapain sih gue senyum-senyum mikirin dia. Engga, engga, udah ah, mending gue tidur."

Rayna beranjak ke tempat tidur, berbaring, dan menarik selimut. Lalu ia mengambil ponselnya, terlihat ada notifikasi pesan dari Ben.

"Selamat tidur, jangan kangen ya, gue besok dateng lagi kok"

Rayna langsung tersenyum kembali. "Lo tuh selalu bisa bikin gue senyum, Ben," gumamnya.

Kemudian ia mengetik pesan untuk membalas: "Iya, lo hati-hati dijalan ya dan jangan tidur terlalu malem juga"

Setelah mengirim pesan, Rayna meletakkan ponsel di mejanya dan menutup mata. Tapi kupu-kupu di dadanya masih tidak berhenti bergerak, setiap kali dia ingat kata-kata "cantikku, kesayanganku" dari Ben, pipinya langsung memerah.

Tak lama, bunyi notifikasi lagi terdengar. Dia buru-buru ambil ponselnya,

"Iya makasih cintaku, gue pasti hati-hati. Besok gue ada sesuatu buat lo."

Rayna menggigit bibirnya sambil tersenyum lebar. "Cintaku...?" gumamnya dalam hati.

Dia hendak membalas pesan itu, tapi tiba-tiba ia merasa malu dan akhirnya ia abaikan.

Setelah meletakkan kembali ponselnya, Rayna tarik selimut sampai ke hidungnya, mata masih terbuka melihat langit gelap melalui jendela.

Ben selalu ada di saat dia butuh, selalu bikin dia ketawa meskipun sedih. Tapi baru-baru ini, rasanya jadi beda. Seperti ada sesuatu yang tumbuh perlahan di dalam hatinya, yang bikin dia senyum cuma karena mendengar suaranya.

"Aduh, ini kenapa ya..." gumamnya pelan, lalu perlahan-lahan menutup mata, dengan senyum yang masih nempel di wajahnya.

Malam itu, dia tidur dengan mimpi yang indah, tentang dia dan Ben, jalan-jalan bersama sambil makan cemilan favoritnya.

Bersambung...

1
kim elly
horang kaya dia
kim elly
terus kalo jadian kenapa masalah buat lo
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
🦋RosseRoo🦋
julid amat jadi temen, tp terlalu kepo juga bikin kesel tau. 😅
Nuri_cha
jangan seterluka itu Rayna. karena di sana, belum tentu Vando menjaga cinta kalian
Nuri_cha
elah... inget Vando Mulu. dia aja gak inget sama kamu. kalau inget mah, dia pasti ngehub kamu. ini udh berbulan2 kan, gak ada effort sama sekali dari si vando. lupain aja lah
Nuri_cha
Rayna masih merasa kurang nyaman sama kamu, Ben. kasih dia waktu dulu ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!