NovelToon NovelToon
KASTURIA Kisah Abyad Dari Anhala

KASTURIA Kisah Abyad Dari Anhala

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:59.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mungka

Benua Kasturia yang damai berubah menjadi medan pertempuran tiada henti. Sudah 200 tahun lamanya benua Kasturia terpecah menjadi tiga kekuatan besar. Masing-masing kekuatan saling bertempur. Pengkhianatan, agresi, politik, semuanya adalah hal penting bagi setiap negara untuk tetap bertahan di zaman peperangan ini.

Abyad, pemuda jenius yang tumbuh di pedesaan yang berbatasan langsung dengan negara berkonflik, bertekad untuk membawa perdamaian ke tanah Kasturia. Bersama dua teman setianya, Basril dan Sabina, Abyad terjun ke dalam dunia dengan kebusukan yang abadi, yang dipenuhi intrik yang membingungkan. Apakah perdamaian yang dicita-citakan Abyad akan terwujud? Ikuti terus petualangan Abyad mengarungi pertempuran tiada henti.

NB : Sumber cover dari Google

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mungka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Bergerak Bersama

Tiga ekor kuda berlari kencang membelah kesunyian hutan. Abyad, Basril dan Sabina berada di atas punggungnya. Perjalanan mereka dari desa Padang Rumput tidak mendapatkan halangan sama sekali. Tidak ada lagi bandit hutan yang mengawasi dari balik dedaunan. Semuanya telah dihabisi melalui pertempuran desa Padang Rumput.

Ketiga orang itu sudah memacu kudanya sedari siang. Target mereka adalah untuk bisa sampai ke kastil Zyad sebelum hari mulai gelap.

Tidak butuh waktu lama, jalanan yang di penuhi hutan mulai menghilang. Hamparan perkebunan segera terlihat. Hijau sejauh mata memandang. Beberapa pekerja kebun terlihat sibuk bekerja. Perkebunan itu sangat luas. Di belakangnya, bukit-bukit gagah berdiri.

"Itu pasukan Ali Pasha." Abyad berseru sambil menunjuk ke arah depan. Dia segera memacu kudanya sedikit lebih kencang untuk menghampiri pasukan Ali Pasha yang terlihat.

"Selamat sore, Ali Pasha. Perjalanan kalian cukup lambat ya?" Abyad berkata setelah mensejajarkan kudanya dengan si pimpinan pasukan.

"Sore, Abyad, Basril, dan juga Sabina." Ali Pasha tersenyum ramah. "Tawanan ini memperlambat laju kami. Namun, aku juga tidak perlu terburu-buru."

Basril mengerutkan dahinya. "Bukannya kita harus segera sampai ke kastil Zyad, Ali Pasha?"

Ali Pasha tertawa. "Memang benar, tapi itu kemarin, Basril. Sekarang, pasukan utama sudah bergerak sedari pagi. Aku mendapatkan pesan dari kurir. Kita akan menyusul mereka langsung ke perbatasan."

Basril mengangguk mengerti. Wajar saja jika pasukan utama sudah bergerak, setiap detik sangatlah berharga. Dengan adanya pertempuran di laut Utara antara Kekaisaran Gastonia dan Kerajaan Havelar baru-baru ini, Kesultanan Ammariz memiliki kesempatan yang terbuka lebar.

"Apa kau tahu peta kekuatan lawan di kota Isla de Court yang akan kita serang, Ali Pasha?" Sabina kali ini bertanya. Dia memilih membuka pelindung kepalanya dan membiarkan angin membelai rambutnya. Beberapa pasukan Ali Pasha tercengang melihat kecantikan Sabina.

Ali Pasha sempat tertegun sejenak melihat kecantikan Sabina. Dia mendeham pelan. "Menurut hasil rapat para perwira beberapa waktu lalu, mata-mata kita telah mengkonfirmasi jumlah kekuatan yang akan kita hadapi. 15.000 tentara Kekaisaran Gastonia. Mereka semua adalah tentara veteran yang berpengalaman."

"Jumlah yang sangat besar." Abyad berkata. Dia tampak berpikir. "Bagaimana dengan pertahanan kota itu?"

"Kota Isla de Court adalah ibukota provinsi Raxonmesia, provinsi penghasil bahan tambang terpenting bagi Kekaisaran Gastonia. Jadi menurutku kota itu akan memiliki pertahanan yang sangat kuat. Kabarnya, kota itu dilindungi dengan 100 buah meriam berukuran sedang."

"A-apa?! 100 buah meriam? Itu jumlah yang sangat menakutkan." Basril berseru. Wajahnya berubah panik.

Ali Pasha tertawa lebar. "Kau benar, Basril. Jika kita memikirkan lebih lanjut, penyerangan ini sama saja seperti bunuh diri. Belum lagi akan adanya kemungkinan pasukan bantuan yang datang, pertempuran kali ini akan sangat sulit. Namun, jika kita bisa merebut kota Isla de Court, provinsi Raxonmesia sudah pasti akan berada dalam genggaman. Yang Mulia Sultan Sulayman sangat bersemangat mengenai penyerangan ini."

Abyad tertegun. Dia sedang memikirkan segala kemungkinan. Yang dia tahu, kota Isla de Court berada di sebuah dataran luas. Sungai Ilke mengapit kota itu dari dua sisi. Sungai yang terkenal sangat lebar itu adalah sungai penghasil emas. Delapan kilometer dari kota Isla de Court, terdapat perbukitan yang merupakan tambang besi terbesar di Kekaisaran Gastonia. Besi-besi murni yang berhasil ditambang akan diubah menjadi persenjataan serta alat-alat berat yang akan sangat berguna untuk kampanye militer. Besi-besi dari pertambangan itu juga sangat terkenal dengan kualitasnya yang sangat bagus. Satu kilogram besi bisa dihargai dengan jumlah yang sangat menggiurkan.

Ali Pasha menengadah ke atas. Dia bisa melihat awan yang bergumpal-gumpal di angkasa. "Yang jelas, kita harus mempercayakan semuanya kepada Jenderal Mustafa Pasha. Aku sangat yakin beliau sudah membuat rencana yang sangat matang."

"Jika perkiraanku tidak salah, penyerangan ini akan berubah menjadi sebuah pengepungan yang akan memakan waktu sampai 2 bulan lamanya." Abyad tiba-tiba berkata. Tangan kanannya sedang membelai telinganya.

"Eh, dari mana kau bisa berpikiran seperti itu, Abyad?" Ali Pasha menoleh ke arah Abyad dengan wajah tidak percaya.

Abyad mengangkat bahu. "Aku hanya memperkirakan saja. Jika tentara di kota Isla de Court memilih untuk keluar dan bertempur, durasi peperangan ini tidak akan lama. Namun, jika mereka memilih bertahan, posisi kita yang tidak diuntungkan. Kenapa tidak diuntungkan? Jawabannya sederhana. Dengan adanya pertahanan yang kuat dari kota Isla de Court, ditambah dengan banyaknya jumlah meriam yang mereka miliki, otomatis mereka akan terus bertahan. Mereka akan lebih memanfaatkan keunggulan mereka dengan adanya meriam. Bayangkan saja, dari pada kita bertempur dan berhadap-hadapan, lebih baik kita terus menembakkan meriam dari atas benteng pertahanan. Aku yakin itulah yang akan dipikirkan oleh pemimpin pasukan Kekaisaran Gastonia di kota Isla de Court."

Sabina mengangguk setuju. Jawaban dari Abyad sama dengan yang sedang dia pikirkan. Pasukan Kesultanan Ammariz benar-benar akan kalah telak apabila hanya mengandalkan jumlah yang banyak. Menyerbu secara langsung juga berarti bunuh diri.

"Ali Pasha, pasukan utama juga membawa meriam, bukan?" Basril bertanya.

Ali Pasha menggeleng pelan. "Kita memang membawa meriam, 60 buah meriam penghancur. Masalahnya, setelah apa yang Abyad sampaikan barusan, kekuatan 60 meriam penghancur yang kita bawa jadi tidak ada apa-apanya. Amunisi kita juga terbatas. Berbanding terbalik dengan amunisi di kota Isla de Court yang tidak terbatas."

"Sialan! Apakah kita akan kalah?" Basril menggerutu. Dia tiba-tiba merasa kesal.

"Aku tidak bilang kita akan kalah, Basril. Aku hanya menyampaikan kondisi terburuk." Abyad berkata santai.

Mata Basril melebar. "Kau pasti punya rencana, Abyad, bukan begitu?"

Abyad tertawa. Dia juga menggeleng cepat. "Walaupun aku mempunyai rencana, aku tidak memiliki wewenang untuk menyampaikannya. Perwira-perwira tinggi pasti sudah menyusun rencana yang lebih hebat. Lagian, kita ke sana hanya sebagai pasukan bantuan dari kastil Ajjar. Hanya itu, Basril."

Basril mencibirkan bibirnya karena kesal. Ali Pasha tertawa melihat tingkah mereka berdua.

Hari sudah mulai gelap. Rombongan pasukan yang menuju kastil Zyad sudah hampir sampai. Tinggal beberapa jam lagi menara-menara kastil akan segera terlihat. Mereka akan membawa para bandit hutan untuk dimasukkan ke dalam penjara, lantas di pagi buta akan segera pergi menyusul pasukan utama.

"Sepertinya kita harus menambah sedikit kecepatan. Kalau kita sampai terlalu malam, waktu kita untuk beristirahat hanya sedikit. Belum lagi kalian bertiga harus mengganti zirah. Lihatlah, pakaian pelindung kalian sudah koyak." Ali Pasha berkata sambil menunjuk pakaian Abyad, Basril, dan juga Sabina.

Mereka bertiga sama-sama mengangguk. Ali Pasha segera berseru untuk menambah kecepatan. Pasukan Kesultanan Ammariz mulai bergerak lebih cepat menuju kastil Zyad.

1
rajes salam lubis
lanjutkan thor
tetap semangat dong
rajes salam lubis
abas pamannya widura
rajes salam lubis
tetap semangat
rajes salam lubis
mantap mantap mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
kirim kopi ah
tetap semangat thor
rajes salam lubis
kereeennn
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
keren
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
rajes salam lubis
ok mantap
rajes salam lubis
mantap abyad,macam detektif
rajes salam lubis
truss semangat
rajes salam lubis
mantap mantap
rajes salam lubis
lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!