Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.
Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.
Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.
Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perang Lodaya ( bagian 3 )
Empat perempuan muda dengan baju aneka warna ini langsung menganggukkan kepala mendengar teriakan keras Singhakerta. Keempatnya langsung mengibaskan tangannya ke arah Senopati Banyak Kulawu.
Shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg!!!
Puluhan jarum sebesar lidi dengan ujung berwarna hitam melesat cepat ke arah pimpinan tertinggi prajurit Lodaya itu. Suaranya nyaring membelah udara.
Senopati Banyak Kulawu tidak tinggal diam. Pimpinan tertinggi prajurit Lodaya ini cepat memutar pedang di tangannya, bersiap untuk menangkis serangan senjata rahasia dari empat gadis muda ini. Dengan cepat ia mengayunkan pedangnya untuk melindungi diri.
Thhrraaannggg thhrraaannggg thhrraaannggg!!!
Beberapa jarum beracun itu mental setelah terkena tebasan pedang Senopati Banyak Kulawu. Sebagian lagi berhasil dihindari dengan bergerak ke samping kanan.
Melihat serangan mereka bisa dihindari dengan mudah, gadis berbaju hijau muda mendengus keras sembari berteriak, " Saudari-saudari ku gunakan jurus gabungan kita, Jurus Hujan Jarum Kematian!! ".
Tiga perempuan lain langsung mengangguk cepat dan kembali merogoh balik baju mereka. Sela-sela jari mereka penuh dengan jarum beracun. Mereka langsung mengepung Senopati Banyak Kulawu dari empat sisi. Lalu dengan cepat, keempatnya dengan segera mengibaskan tangannya ke arah Senopati Banyak Kulawu.
Shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg...!
Puluhan jarum beracun dari keempat gadis berpakaian warna-warni itu melaju cepat ke arah sang pimpinan prajurit Lodaya. Meskipun kesal karena sama sekali tidak bisa membalas, Senopati Banyak Kulawu terus berupaya keras untuk bertahan menghadapi serangan gabungan empat perempuan yang dipimpin oleh Selasih, murid Dewi Upas.
Ya mereka berempat adalah anggota Tujuh Anak Racun selain Nyai Rampet yang merupakan murid tertua. Selain Selasih, yang memakai baju kuning adalah Kemuning, yang mengenakan baju biru adalah Widuri sedangkan yang memakai baju coklat adalah murid bungsu Dewi Upas yang bernama Lastri. Konon kabarnya, mereka adalah gadis gadis desa korban perdagangan manusia yang kemudian hari menjadi pendekar yang ditakuti.
Thrrraaaaaannnggg thraaakkkk!!!
Beberapa jarum beracun berhasil ditangkis oleh Senopati Banyak Kulawu, tetapi serangan musuh sama sekali tidak berhenti. Dia harus terus menghindar sambil menangkis serangan itu sebisa mungkin.
Tetapi karena lelah bergerak, kaki Senopati Banyak Kulawu tersandung akar dan itu membuat tubuhnya oleng. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Selasih yang segera melempar 4 jarum beracun nya ke arah pimpinan prajurit Lodaya itu.
Shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg shhrrriiiinggg..!!
Tak punya ruang untuk menghindar lagi, Senopati Banyak Kulawu berupaya agar selamat dengan memindahkan pedangnya ke tangan kiri sebagai senjata pertahanan. Tetapi tiba-tiba..
Bhhhuuuuuuummmmmmm!!!
Suara dentuman keras membuat bumi bergetar hebat yang menciptakan debu beterbangan ke udara, menghalangi pandangan mata semua orang. Saat yang rawan itu, sesosok bayangan biru gelap melesat cepat menyambar tubuh Senopati Banyak Kulawu sedikit menjauh dari arena pertarungan.
Ketika debu beterbangan menghilang tertiup angin, empat murid Dewi Upas mencari keberadaan Senopati Banyak Kulawu. Selasih melihat sosok berbaju biru gelap yang berdiri di samping Senopati Banyak Kapuk. Seketika ia teringat akan omongan Nyi Rampet tentang pendekar muda berilmu tinggi yang ia sebut sebagai Si Iblis Wulung.
'Orang itu mampu mengacaukan seluruh serangan gabungan dari kami berempat. Apakah ia yang dimaksud oleh Kangmbok Rampet? ', batin Selasih.
"Kemuning, Widuri, Lastri! Aku punya firasat buruk tentang pendekar berbaju wulung itu. Kita harus hati-hati! "
Mendengar omongan Selasih, 3 orang gadis muda itu langsung mengangguk mengerti. Diantara mereka berempat, Selasih diakui memiliki indra perasa yang sangat peka paling tinggi. Beberapa kali firasat Selasih menyelamatkan hidup mereka.
"Kita gunakan pedang dengan Racun Upas Geni, Kangmbok. Biar perwira Lodaya dan pendekar baju wulung itu tahu rasa", teriak Widuri sembari mencabut pedang di pinggangnya. Selasih mengangguk cepat dan Kemuning juga Lastri segera mencabut pedang mereka. Ujung bilah pedang mereka terdapat sedikit warna merah berbau harum. Ini adalah Racun Upas Geni, jenis racun paling mematikan dalam perguruan mereka.
Sekali hentakan, tubuh keempat gadis muda itu melesat ke arah Senopati Banyak Kulawu dan pendekar berbaju wulung yang tidak lain adalah Mahesa Sura. Mereka berempat langsung mengayunkan pedangnya ke arah dua orang itu. Selasih dan Kemuning menghadapi Senopati Banyak Kulawu sedangkan Lastri dan Widuri memburu Mahesa Sura. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.
Shhrrrreeeeeettt shhrrrreeeeeettt..
Thhrrriiiiinnnggg thhrrriiiiinnnggg!!
Kendati di keroyok oleh dua pendekar wanita sekaligus, Mahesa Sura tetap tenang. Menggunakan jurus jurus silat Ilmu Serigala Cakar Besi warisan dari Serigala Awu, Mahesa Sura begitu tangguh dalam bertarung. Sepuluh jurus berlalu, dia sudah berhasil merobek baju Lastri dan melukai tangan kiri Widuri.
Shhhrrraaaaaaaakkkkk dhhaaaaassshh!
Oooouuuuuuuggh..!!!!
Widuri terhuyung-huyung mundur usai tendangan keras Mahesa Sura telak menghantam perutnya. Melihat saudarinya hendak jatuh, Lastri cepat menghadang pergerakan nya.
"Kau baik-baik saja, Kangmbok? ", tanya Lastri sambil memperhatikan dengan seksama keadaan Widuri. Ada lelehan darah di sudut mulut gadis muda berbaju biru itu.
" Bajingan ini sangat hebat, serangan nya cepat dan kejam. Jika kita terlalu lama bertarung dengan nya, kita pasti akan kalah. Kita harus cepat ", ucap Widuri sambil meringis menahan sakit pada perutnya.
" Kita gunakan Ajian Tapak Wisa, Kangmbok. Dia pasti akan kalah dengan serangan gabungan kita. Ayo... "
Widuri mengangguk cepat mendengar ajakan Lastri. Keduanya segera bersiap untuk mengeluarkan Ajian Tapak Wisa. Mulut mereka berdua komat-kamit merapal mantra dan cahaya putih menyelimuti tangan kanan keduanya.
"Ajian Tapak Wisa tingkat satu? Siapa sebenarnya perempuan perempuan ini? Aku harus mencari tahu.. ", gumam Mahesa Sura segera.
Mahesa Sura segera menghela nafas dalam-dalam sebelum terpejam sesaat. Dia merapal mantra Ajian Langkah Iblis Angin, ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi yang diajarkan oleh Ki Kidang Basuki. Meskipun ia jarang menggunakan nya karena sudah ada Kotang Antakusuma warisan dari Nini Rengganis yang memudahkan pengguna nya untuk terbang, tetapi saat ini ia membutuhkan kecepatan yang lebih tinggi untuk menundukkan kedua gadis muda itu secepatnya.
Begitu Ajian Tapak Wisa selesai dirapal, Widuri dan Lastri bersiap untuk menyerang. Tetapi belum sempat mereka bergerak, Mahesa Sura muncul di depan Widuri yang dengan cepat mengayunkan cakar tangannya.
Shhrraaaaaaaaaakkkkk...
Aaaarrrrrrrrrggggghhhh!!!
Widuri hanya bisa menjerit keras kala cakar tajam Mahesa Sura merobek dada hingga ke perutnya. Darah segar membuncah keluar, menyembur ke segala arah.
Sedangkan usai mengoyak tubuh Widuri, Mahesa Sura langsung memutar tubuhnya dengan cepat dan melayangkan tendangan keras ke perut Lastri. Perempuan berbaju coklat itu langsung terhuyung-huyung ke belakang. Belum sempat ia menyadari apa yang terjadi, Mahesa Sura sudah mencengkeram lehernya dan membanting tubuh gadis muda itu ke tanah dengan keras.
Bhhuuuugggghhh...
Hhhuuuuuugggghh!!!
Lengguh tertahan terdengar dari mulut Lastri. Rasa sakit langsung menyerang punggungnya yang beradu dengan tanah. Dari ekor matanya, ia melihat Widuri kelojotan meregang nyawa sebelum diam untuk selama-lamanya.
"Kalau tak ingin bernasib sama seperti kawan mu, katakan siapa orang yang mengajari mu Ajian Tapak Wisa tadi?! "
Meskipun terdengar berat dan sedikit lirih, tetapi suara Mahesa Sura ibarat suara malaikat maut di telinga Lastri. Jelas terlihat bahwa ia kini sedang dalam masalah besar. Sedikit saja kekeliruan, ia pasti mati.
"K-kami mu-- murid De.. Dewi Upas dari Lembah Seribu Bunga di Kertabhumi. Su-sudah takut kan? Le-lepaskan aku sek-sekarang juga.. ", ucap Lastri dengan nada mengancam.
Jelas bahwa ia ingin mengancam Mahesa Sura dengan menggunakan nama besar Dewi Upas dan Padepokan Lembah Seribu Bunga. Tetapi ia salah perhitungan.
Mendengar nama Dewi Upas disebutkan, mata Mahesa Sura justru melotot lebar. Ia langsung terbayang penderitaan gurunya Nini Rengganis di Lembah Embun Upas yang terletak di kaki Gunung Kampud selama puluhan tahun akibat ulah perempuan pengkhianat itu. Darah Mahesa Sura langsung mendidih seketika.
"Kau tidak berada dalam posisi yang bisa mengancam ku sekarang!! ", geram Mahesa Sura sambil meremas batang leher Lastri.
Kreeeeeeekkkkk!!!!
Kepala perempuan muda berbaju coklat itu langsung terkulai seketika usai Mahesa Sura mematahkan lehernya. Usai menghabisi nyawa Lastri, Mahesa Sura langsung melompat ke arah Senopati Banyak Kulawu yang masih menghadapi serangan Kemuning dan Selasih.
Segera Mahesa Sura mengayunkan cakar tangannya yang berkuku tajam dan sekuat besi ke arah pedang Selasih yang hendak menebas punggung Senopati Banyak Kulawu.
Thhrraaannggg..!!!
Selasih yang kaget dengan serangan mendadak ini langsung melompat mundur. Dia menoleh ke arah adik seperguruan nya Lastri dan Widuri yang kini terkapar tak bernyawa. Kini ia tahu bahwa sosok lelaki muda berwajah tampan yang sepertinya tak pernah tersenyum inilah yang dimaksud oleh Nyi Rampet tempo hari.
"Jadi kau Si Iblis Wulung..?! "
Bukan lagi menunggu waktu berbuka 🤭
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
SMG upnya jgn di tunda trs