Bagaiaman jika kamu harus menikah dengan orang yang mempunyai rasa trauma akan sebuah hubungan masa lalu yang masih menghantuinya? Begitu juga dengan Darin dan Arga yang terpaksa harus menikah karena keegoisan kedua orang tuanya. Arga yang meliliki trauma karena perceraian kedua orang tuanya, harus dipaksa hidup bahagia dengan Darin yang juga masih menyimpan rasa sakit hati karena ditinggal pergi Akaz.
Awal rumah tangga mereka diselimuti perdebatan, sampai akhirnya Arga mengetahui siapa sosok Darin sebenarnya yang membuat semua pandangannya selama ini berubah. Arga kembali merasakan getaran dalam hatinya, ia kembali merasakan bagaimana rasanya cemburu dan gundah. Namun Arga hanyalah lelaki yang mempunyai sifat cuek dan dingin, ia tidak tahu bagaimana caranya mengutarakan perasaannya. Hanya diam-diam Arga bisa mengutarakan perasaannya lewat tindakan kecil. Sampai akhirnya Arga berani mengungkapkan perasannya secara lantang karena ia tahu jika Darin adalah perempuan yang dicarinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Sial Arga
Meskipun kakinya belum bisa berjalan seperti biasa tapi Darin sudah jauh lebih baik dari kemarin. Ia bisa naik turun tangga meskipun berjalan sambil perlahan menuruni anak tangga. Semua bibi-bibi dari Arga melarang Darin untuk membantu memasak di dapur, namun Darin begitu keras kepala ingin sekali membantu mereka memasak.
Rasanya suasana di rumah ini tidak jauh berbeda dengan suasana di rumah Arga, begitu hangat dan penuh dengan kasih sayang. Bedanya di sini banyak perempuan dan anak kecil sementara di rumah Arga begitu banyak laki-laki, namun mereka mempunyai rasa cinta dan kasih sayang yang sangat besar. Sebagai rasa terimakasih kepada Arga, pagi ini Darin sengaja menyiapkan sarapan untuk suaminya karena semalam Arga sudah mengantarkan makan malam untuknya.
Secangkir kopi panas dan bubur buatan Darin dibuatnya dengan sepenuh rasa, senyumnya tida terhenti setiap kali ia mengaduk bubur buatannya sendiri sampai tercium menggoda rasa. Setelah selesai Darin membawa sarapan untuk Arga ke kamar, karena sepertinya Arga tidak akan turun untuk sarapan bersama. Semalam bahu Arga kembali terasa sangat sakit dan ia susah untuk tidur. Beberapa kali Arga terbangun dari tidurnya dan terus mengompres bahunya yang terasa sakit.
Ditatapnya wajah Arga yang masih tertidur pulas, senyum ringan Darin terlukis sangat indah saat ia menatap Arga. Entah mengapa Darin merasa senang dengan perlakuan Arga semalam. Namun senyum Darin hilang saat ia melihat Arga yang baru saja terbangun dari tidurnya. Wajah Darin terlihat sangat gugup entah harus bersikap bagaimana saat Arga bangun.
"Kamu sudah bangun?" tanya Arga yang sadar dari tidurnya dan melihat Darin sudah berdiri menatapnya.
"Ah, iya," jawab Darin sedikit gugup menjawab pertanyaan Arga.
"Aku mau mandi dulu, lalu sarapan." Arga menyingkapkan selimut dan mencoba bangun dari tidurnya berjalan menuju kamar mandi.
"Sarapanmu sudah aku siapkan," kata Darin memberitahu Arga yang hendak berdiri.
Baru kali ini Arga mendengar seseorang yang sudah menyiapkan sarapan untuknya selain Zein. Dulu Zein yang sering menyiapkan sarapan untuk Arga karena Arga adalah adik satu-satunya yang sangat sulit untuk diajak sarapan. Ia selalu mengabaikan jam makannya, maka dari itu Zein selalu menyiapkan sarapan untuknya agar Arga mau makan dan kadang Zein membuatkan bekal makan siang untuk Arga dibawa ke kantor.
"Terimakasih, aku mandi dulu," pamit Arga yang masih belum sepenuhnya sadar berjalan ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Arga keluar dari kamar mandi menghampiri Darin yang sedang memainkan ponsel miliknya di atas tempat tidur.
"Kamu bikin apa untuk aku?" tanya Arga melihat menu sarapan yang dibuatkan oleh Darin untuknya.
Terlihat secangkir kopi panas, segelas air putih dan bubur buatan Darin yang menggoda Arga utuk memakannya.
"Kopi untuk siapa?" tanya Arga saat Darin belum sempat menjawab pertanyaan Arga.
"Untukmu," jawab Darin yang terlihat sedikit gugup ketika Arga menatap dirinya begitu lekat.
"Aku nggak suka minum kopi dan nggak pernah sekalipun mengkonsumsinya," jawab Arga mengambil semangkuk bubur lalu berjalan ke arah sofa dan duduk untuk menikmati sarapannya.
Glek, Darin terdiam dan merasa sedikit malu saat ia tidak tahu apa yang tidak disukai oleh suaminya. Memang Darin belum sempat mencari tahu apa kesukaan Arga. Ia hanya bisa menebak-nebak dari apa yang dilihatnya di rumah keluarga Ardhi Bhakti.
"Maaf, aku nggak tahu," kata Darin dengan nada menyesal menatap Arga yang mulai menikmati sarapan paginya.
"Nggak apa," jawab Arga singkat yang begitu lahapnya menghabiskan sarapan pagi buatan Darin.
Jujur baru kali ini Arga merasakan bubur yang begitu lezat sekali, Zein yang sering membuatkan bubur untuknya tidak pernah membuatkan bubur yang begitu enak seperti buatan Darin.
"Buburnya enak, kamu pandai sekali memasak. Ini bubur apa?" tanya Arga yang bangkit dari duduknya dan menyimpan mangkuk di tempat semula lalu mengambil segelas air putih lalu meminumnya.
Hati Darin seperti terbang ke awan dan wajahnya memerah karena malu, baru kali ini ada yang memuji bubur buatannya karena itu adalah bubur kesukaan Rian. Mengapa hati Darin terasa sangat senang saat Arga memujinya. Membuat ia salah tingkah.
"Hanya nasi aku tambahkan bumbu rempah dan udang," jawab Darin yang hatinya sangat senang ketika Arga memujinya dan sanga menyukai bubur buatannya.
Glek, Arga menyemburkan air yang sedang diminum olehnya karena kaget apa yang baru saja Darin ucapkan. Tatapan wajahnya menatap istrinya begitu lekat. Apa ia tidak salah mendengar dengan ucapan Darin barusan. Dan Darin tidak kalah kaget saat melihat Arga mengeluarkan kembali air yang sudah diminumnya, sepertinya ucapan Darin telah membuat Arga terkejut.
"Undang kamu bilang?" tanya Arga dengan nada tegas menatap Darin begitu lekat, dan Darin hanya mengangguk perlahan dengan rasa sedikit gugup.
Sepertinya Darin telah melakukan kesalahan, ia bisa menebak dari ekspresi wajah Arga yang begitu kecewa saat mendengar bahan-bahan bubur buatannya. Darin melihat Arga begitu lemas dan seolah kecewa kepadanya, namun Arga tidak pernah memperlihatkan amarahnya kepada Darin.
"Apa ada yang salah?" tanya Darin yang lekas menghampiri Arga.
Arga tidak menjawab pertanyaan Darin dan ia segera memperhatikan kondisi tubuhnya terutama pada bagian tangan. Ia melihat lama kelamaan ada rona merah terdapat di tangannya yang lama kelamaan Arga merasakan gatal di seluruh tubuhnya.
"Sial. Mana gue nggak bawa antibiotik lagi," gumam Arga bicara sendiri dan tidak sengaja terdengar oleh Darin.
Darin tidak mengerti apa maksud dari ucapan Arga, yang ia tahu Arga mulai menggaruk tangan kanan dan kirinya secara bergantian seolah sedang merasakan gatal.
"Kamu kenapa?" tanya Darin terlihat mulai panik saat kulit tangan Arga mulai terlihat memerah.
"Tolong panggilkan dokter pribadi," pinta Arga yang sedang menahan rasa gatalnya di seluruh tubuh karena alergi udang yang sudah lama diderita olehnya.
Tanpa banyak bertanya lagi akhirnya Darin mengikuti perintah Arga untuk meminta bantuan orang rumah memanggilkan dokter pribadi. Darin baru tahu jika Arga memiliki alergi terhadap udang. Ia merasa bersalah melihat kondisi Arga yang baru saja ditangani oleh dokter pribadi keluarga Saskia.
"Aku minta maaf. Aku nggak tahu kalau kamu alergi udang," kata Darin ketika dokter selesai memeriksa dan memberikan antibiotik untuk Arga.
Dengan wajah terlihat kesal dan dingin Arga mencoba bersikap baik kepada Darin. Arga melihat jika Darin begitu merasa bersalah akibat perbuatannya, namun Arga rasanya semakin kesal karena Darin selalu membuat masalah dan tidak jarang membuat Arga merasa terluka. Apalagi hari ini Arga harus membuka bajunya karena masih merasakan panas dan gatal di seluruh tubuhnya meskipun sudah diberikan obat.
"Mulai besok jagan pernah sok tahu membuatkan sesuatu untukku. Biarkan orang rumah yang melakukannya, lagipula jangan pernah bersikap menjadi istri sungguhan untukku. Ingat kita hanya berpura-pura!" tegas Arga dengan nada lembut namun membuat Darin begitu sedih dan terluka akan ucapan Arga.
Glek, rasanya Darin sulit untuk menelan ludahnya. Hatinya terasa sakit dan napasnya mulai sesak dengan sikap sinis dan dingin Arga. Setiap kali Arga memasang sikap sinis dan dinginnya membuat Darin terasa sedih.
"Jangan jadikan aku beban dalam hidupmu, aku hanya menjalankan tugas sebagai suamimu dan kamu jangan pernah melakukan tugas sebagai seorang istri untukku. Paham!" tambah Arga lagi yang membuat Darin menetaskan air matanya saat ia menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
"Paham. Maafkan aku," kata Darin dengan suara terdengar lirih menyembunyikan kesedihannya di hadapan Arga.
"Keluarlah, aku mau istirahat," usir Arga secara halus membuat Darin semakin bersedih.
Sekuat tenaga Darin pergi dari kamar agar tangisnya tidak pecah di hadapan Arga. Mengapa ucapan Arga sangat menyakitkan hatinya, padahal kemarin-kemarin sikap sinis dan dingin Arga tidak mengganggunya, tapi kali ini terasa berbeda.
"Arga memang nggak suka kopi, dan dia alergi udang. Harusnya lo tanya orang rumah sarapan buat Arga, mereka udah paham kok." suara Alex terdengar di ujung telepon sana ketika Darin memutuskan untuk menelepon Alex.
Siapa lagi yang bisa Darin ajak bicara saat ini selain Alex. Ia menceritakan semua kejadian yang menimpa Arga pagi ini. Cerita Darin berhasil membuat Alex kaget dan terkejut. Pasti kakaknya sedang menahan rasa gatal dan sakit saat ini.
"Gue cuman mau membuatkan sarapan buat dia, tapi malah kayak gini." Darin terlihat sedih dan menangis saat menelepon Alex.
"Makanya mulai sekarang lo harus cari tahu kebiasaan Arga, biar nggak ada kejadian kayak gini lagi."
"Iya, Lex. Gue merasa bersalah sama dia."
"Jangan nangis lagi, ini bukan salah lo sepenuhnya. Dan lo juga harus tahu kalau bahu sebelah kanan Arga itu suka keram dan kesakitan tiba-tiba karena pernah mengalami kecelakaan dan membuat bahunya nggak bisa digerakkan. Maka dari itu dokter melarang dia buat mengangkat atau bekerja yang berat, karena takut cidera lagi. Tahun kemarin dia baru selesai dioperasi."
Bagai disambar petir disiang hari saat Darin mendengarnya. Apa tadi Alex bilang? Jika bahu sebelah kanan suaminya pernah mengalami kecelakaan dan itu juga alasannya mengapa semalam Arga mersa kesakitan pada bahunya? Kabar dari Alex membuat Darin seolah berhenti untuk bernapas sesaat. Mengapa ia baru tahu sekarang.
Darin ingat sudah berapa kali dirinya memukul bahu Arga sebelah kanan, dan sudah berapa kali juga bahu Arga terluka karena ulahnya. Apalagi kemarin saat Darin jatuh dari pohon, Arga menangkapnya dan jatuh di bawah tubuhnya.
"Dokter mendiagnosa Arga mengalami robekan labral posterior pada bahu kanannya. Maka dari itu Arga nggak pernah bekerja berat dan selalu merasa sakit jika bahunya kumat," tambah Alex lagi terus menjelaskan kondisi Arga yang membuat Darin terdiam seribu bahasa.