Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.
Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.
"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?
Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kilasan Masa Lalu
"Sudah siap?"
Shena mengangguk sendu sebagai bentuk jawaban untuk Harry. Wajahnya nampak kalut dan pucat, seakan hati dan mulutnya memiliki keinginan yang bertolak belakang. Gadis itu sadar betul bahwa ia tidak mungkin mundur sekarang, ini sudah menjadi keputusannya dan ia siap menerima setiap konsekuensi yang akan diterimanya kelak.
Biarlah kehancuran ini terus berbalut kesemuan, seperti jarum yang terus menusuk sanubarinya kian dalam. Biarlah luka ini ia tanggung sendiri, bersama langkah kaki yang kian jauh meninggalkan segala kenangan-kenangannya.
Tanpa menoleh lagi ke belakang, Shena dan Harry berjalan memasuki mobil dan meninggalkan area resto. Menerobos guyuran air hujan yang seakan sengaja menghantar kepergian dua insan.
"Kamu baik-baik aja?" Harry berupaya memecah keheningan, setelah menyadari gadis di sampingnya ini terus memandang ke atas sana, seolah langit berwarna hitam pekat itu lebih menarik untuk Shena ketimbang jalanan Ibu Kota. Padahal sejak tadi ia sudah berusaha memanggil-manggil namanya, akan tetapi ia tak juga mendapat tanggapan.
"Hem, aku baik-baik aja," sahut Shena tanpa mengalihkan pandangannya. Hatinya bagai teriris sembilu, rasa sakit dan sesak kian menguasai relung hati, tetapi sekuat tenaga ia menyembunyikan bulir bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Tak seperti curah hujan di luar sana yang kian lebat membasahi kota. Haruskah Shena juga melakukan hal yang sama? Menumpahkan segalanya di sini, di depan Harry?
"Aku akan berusaha melakukan yang terbaik, Na. Bagaimanapun caranya, kamu harus kubuat nyaman dan bahagia di sisiku," ujar Harry menenangkan.
"Mungkin sebelum itu terjadi, kamu akan lebih dulu bosan, menyerah, kemudian ninggalin aku, Ry."
Harry tersenyum tenang mendengar keraguan Shena akan kesungguhannya. "Apa itu harapanmu?" tanya laki-laki berkemeja kuning langsat itu sembari membagi fokusnya dengan kemudi.
"Berharap apa?"
"Itu tadi."
"Apa, aku belum bilang apa-apa."
Kali ini Harry benar-benar mengalihkan pandangannya pada Shena, sambil memasang senyum yang entah mengapa hari itu tampak lebih menawan. Lalu berkata, "Kamu berharap aku pergi ninggalin kamu."
"Ck, mana mung ...."
Tiiiiiiiiiiin! Tiiiiiiin!
Brak!
Kejadian tersebut terjadi begitu cepat, baik Shena mau pun Harry sama sekali tidak mengetahuinya dengan pasti bagaimana dan apa penyebab tragedi kecelakaan nahas kala itu menimpa keduanya.
Mobil yang dikendarai Harry saat itu ringsek di bagian depan, tak jauh berbeda dengan beberapa kendaraan di depan mereka. Suasana langsung kacau dan menegangkan, diwarnai suara jeritan dan juga sirine dari mobil ambulans mengisi udara, mereka datang untuk mengevakuasi para korban.
Shena bahkan tak sempat menyelesaikan kalimatnya, ia langsung tak sadarkan diri dengan kondisi yang mengkhawatirkan, begitu pula Harry. Laki-laki tampan dan baik hati itu meninggal di tempat dengan kondisi tubuhnya yang sangat mengenaskan.
...*...
...*...
Zoe mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, tak peduli pada apa pun dan yang ada di kepalanya hanya dipenuhi oleh kecemasan terhadap Shena.
Jarak dari taman apartemen ke rumahnya lumayan dekat, ia hanya perlu mengemudi kurang lebih sekitar 20 menit saja. Akan tetapi, entah mengapa kali ini terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Ia bahkan sampai harus beberapa kali membunyikan klakson di lampu merah sehingga menciptakan kebisingan dan juga memicu amarah para pengendara lain.
Tiiiiiiin!
"Menyingkirlah!" pekik Zoe sambil sesekali menjulurkan kepalanya keluar jendela.
"Sabar, dong, woy! Mau ke mana, sih, buru-buru amat?" sentak si pemilik mobil yang berada tepat di depan mobil Zoe.
"Pengen boker kali, tuh, orang!" Pengendarai lain menimpali.
"Udah kecepirit kayaknya!"
"Bau, dong, ha-ha-ha!"
"Berisik, kalian semua!" Si pengendara motor gede di samping Zoe ikut bersuara.
Sialan! Zoe benar-benar sudah kehilangan kesabaran. Ia menutup kaca jendela mobilnya rapat-rapat, tak lagi menampakkan wajahnya keluar seperti tadi. Untungnya, lampu sudah berubah hijau, para pengendara pun kembali menjalankan kendaraannya, begitu juga Zoe.
Sekilas, Laki-laki bertubuh atletis itu teringat pada masa lalu. Ketika ia menyamar sebagai ibu-ibu hamil dan mengelabui para pengendara yang saat itu juga memakinya karena tak sabaran meminta jalan.
Kabar Shena yang akan dijadikan pengantin pengganti untuk Elios menjadi pemicu hal gila itu dilakukannya. Zoe mendadak kehilangan kewarasannya dan berakhir melakukan cara tersebut agar bisa lolos dari kemacetan dan sampai di tempat berlangsungnya acara lebih cepat, kemudian menggagalkan proses pernikahan paksa tersebut.
Kegilaannya kala itu nyatanya berujung sia-sia, sebab Shena batal dijadikan mempelai pengganti karena sudah ada gadis lain menggantikan si pengantin asli yang kabur.
"Tapi aku gak nyesel, Na. Kalaupun kejadian itu harus terulang lagi, pastinya akan kulakukan hal yang sama. Bahkan bila perlu jauh lebih gila dari sebelumnya. Selama aku bisa memastikan kamu tetap di genggamanku." Zoe berbicara pada dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah, Zoe segera melesat memasuki rumah dan langsung disambut oleh kegaduhan dari para penghuni rumah. Terdengar isak tangis yang berpadu dengan keriuhan para orang tua, salah satunya teriakan histeris dari Davina, kakak kedua Shena.
"Sedari awal aku udah gak setuju adikku dipindahkan, tapi kalian bersikukuh dan akhirnya begini jadinya!"
"Kumohon tenangkan dulu dirimu, Dav!" Zoe yang sedang menapaki tangga pun seketika menghentikan langkahnya. Suara bariton itu ialah milik Natteo. Mereka ..., tidak, sejak kapan mereka ada di sini? Apa yang terjadi?
Tanpa berlama-lama lagi, Zoe melanjutkan kembali langkahnya dan langsung menuju ruangan Shena. Ia bahkan tidak menghiraukan panggilan dari Natteo yang terdengar seperti akan menelannya hidup-hidup.
"Sayang, aku di sini, tolong bertahanlah!" Zoe terus membisikkan itu di dalam hatinya. Bermaksud dapat pula menenangkan dirinya sendiri. Sungguh, kakinya kini mulai gemetar saat netranya menangkap sosok Dokter Andrew tengah berjalan keluar dari ruangan Shena, diikuti oleh ayah dan juga ibunya.
Satu tangan Zoe terangkat lemah, menolak sapaan ketiga orang tersebut dan berlalu begitu saja memasuki ruangan sang istri. Jantungnya kian berdegup kencang, kedua tangannya mengepal tanpa ia sadari.
"Sayang," panggil Zoe. Kedua matanya tiba-tiba memanas, napasnya menderu dan sesak kian mendera kala pasokan udara seolah menipis di ruangan ini.
Tubuhnya benar-benar sudah lemas, tak mampu lagi ia menopangnya dengan kedua kaki yang gemetar. Laki-laki itu tersungkur, berlutut di samping ranjang sang istri. Meski begitu, Zoe tetap berusaha meraih tangan pucat itu, menyentuhnya, kemudian menggenggamnya dengan sangat erat.
"Aku ..., aku sangat merindukanmu," ucap Zoe tersendat-sendat, "terima kasih ..., terima kasih sudah kembali."
Tangis Zoe pecah saat itu juga, saat genggaman tangannya secara perlahan berbalas dan mengalirkan kehangatan yang seketika menembus hatinya yang selama ini sempat membeku.
Terima kasih, Tuhan.
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
Ya namanya bener sih